Israel menggencarkan serangan ke Lebanon selatan guna mencaplok sebagian wilayah itu. Warga sipil jadi korban. Sejumlah negara mengecam keras upaya aneksasi ini.
25 Mar 2026 19:14 WIB · Internasional
AFP/Odd ANDERSEN
BEIRUT, RABU – Sejumlah negara mengecam keras rencana Israel menduduki wilayah Lebanon selatan. Militer Israel memperluas serangan darat ke kawasan itu sejak pekan lalu. Serangan Israel telah menewaskan lebih dari 1.000 orang di Lebanon dan memaksa lebih dari 1 juta warga mengungsi.
Pasukan Israel memasuki wilayah itu dengan dalih untuk menyasar benteng-benteng utama Hizbullah. Israel juga telah mengeluarkan peringatan evakuasi besar-besaran di kawasan Lebanon selatan hingga 40 kilometer dari perbatasannya.
Pemerintah Kanada mengecam keras tindakan Israel tersebut. Kementerian Luar Negeri Kanada mendesak semua pihak untuk melindungi warga sipil, menahan diri dari serangan terhadap infrastruktur, petugas kesehatan, dan pasukan penjaga perdamaian, serta bertindak sesuai dengan hukum internasional.
”Kedaulatan dan integritas teritorial Lebanon tidak boleh dilanggar. Serangan Hizbullah terhadap Israel harus dihentikan dan mereka harus melucuti senjata,” tulis pernyataan kementerian itu di platform media sosial X, Selasa (24/3/2026).
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/17/89d586962b56098d0033967934861d02-ISRAEL_LEBANON_IRAN_US_WAR_136977297.jpg)
Perancis juga mengecam keras tindakan agresif Israel. Menteri Luar Negeri Perancis Jean-Noel Barrot mengatakan, Israel harus menahan diri dari rencana menduduki Lebanon selatan. Ia memperingatkan, langkah tersebut akan berdampak buruk pada warga sipil.
”Kami mendesak otoritas Israel untuk menahan diri dari operasi darat semacam itu yang akan memiliki konsekuensi kemanusiaan yang besar dan akan memperburuk situasi negara yang sudah buruk,” ucapnya.
Konflik Israel dan Hizbullah kembali memanas sejak Israel dan Amerika Serikat menyerang Iran pada 28 Februari lalu. Serangan itu menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. Perang yang telah berlangsung lebih dari tiga pekan ini menelan lebih dari 1.400 korban jiwa di Iran.
Israel berambisi mencamplok wilayah Lebanon hingga Sungai Litani. Sungai ini berjarak sekitar 30 kilometer dari perbatasan Israel. Ambisi aneksasi itu tergambar dari pernyataan pejabat Israel untuk mengubah perbatasan Israel yang lebih luas.
Dua hari setelah kejadian itu, Hizbullah yang didukung Iran menembakkan roket ke Israel. Hizbullah mengakui serangan tersebut sebagai balasan atas kematian Ali Khamenei. Serangan menargetkan situs militer Israel. Israel membalasnya dengan melancarkan serangan udara ke Lebanon yang masih berlangsung hingga saat ini.
Kritik senada disampaikan Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez. Di hadapan majelis rendah Parlemen Spanyol, Sanchez menyatakan sikap pemerintahannya terhadap konflik di Timur Tengah yang dipicu oleh serangan gabungan AS dan Israel ke Iran.
”Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berupaya menimbulkan tingkat kerusakan dan kehancuran yang sama di Lebanon seperti yang telah dilakukan pasukan Israel di Jalur Gaza,” ucapnya.
Dalam kesempatan itu, Sanchez juga menyampaikan pandangannya tentang kepemimpinan Iran saat ini. Menurut dia, Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, lebih keras daripada pendahulunya. Mojtaba merupakan putra kedua Ali Khamenei.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/13/7ae39594-348d-470f-94c3-16a9232caaef.jpg)
”Mojtaba Khamenei adalah seorang tiran yang sama diktatornya dan bahkan lebih haus darah daripada ayahnya,” kata Sanchez.
Sebelumnya, Turki juga telah mengecam keras perluasan serangan Israel ke Lebanon. Serangan itu dianggap dapat menyebabkan bencana kemanusiaan baru di kawasan Timur Tengah. Sejumlah kendaraan militer Israel bergerak maju di dekat kota-kota perbatasan selatan Yaroun dan Maroun al-Ras.
Padahal, selama ini, kawasan Lebanon selatan sudah sangat mengkhawatirkan karena ancaman keselamatan yang memaksa banyak warga mengungsi. ”Operasi darat Israel di Lebanon semakin memperburuk ketidakstabilan di kawasan tersebut,” tulis pernyataan Kementerian Luar Negeri Turki.
Israel berambisi mencaplok wilayah Lebanon hingga Sungai Litani. Sungai ini berjarak sekitar 30 kilometer dari perbatasan Israel. Ambisi aneksasi itu tergambar dari pernyataan pejabat Israel untuk mengubah perbatasan Israel yang lebih luas.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/17/243f7e6b40f87f9da25e4a9286566b98-LEBANON_IRAN_US_ISRAEL_WAR_136974165.jpg)
”Saya katakan di sini dengan tegas, di setiap ruangan dan dalam setiap diskusi juga, perbatasan Israel yang baru haruslah Litani,” kata Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich, dilansir dari Al Jazeera.
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, juga menyatakan militer negaranya akan mengendalikan zona keamanan hingga Sungai Litani. Ia mengimbau warga Lebanon yang mengungsi untuk tidak kembali ke rumah mereka di selatan sungai tersebut hingga situasi terkendali.
Serangan Israel ke kawasan tersebut belum mereda. Kantor berita Lebanon, National News Agency, Rabu, melaporkan, pesawat tempur Israel melancarkan serangan udara yang menargetkan sebuah bangunan di kota Tyre, Lebanon selatan. Serangan lainnya menargetkan kota Khirbet Selm, Ma’raka, dan Al-Shaitiyeh.
Tiga serangan udara Israel juga menghantam Jembatan Qasmiyeh di Lebanon selatan. Presiden Lebanon Joseph Aoun menyebut serangan itu sebagai pendahuluan invasi darat oleh Israel. (REUTERS)
Penulis:
Tatang Mulyana SinagaEditor:
Nur HidayatiPenyelaras Bahasa:
Priskilia Bintang Cornelia Sitompul