OPERASI PENCARIAN

Selain dari Badan Kapal, Korban KMP Virgo juga Ditemukan di Perairan Kalteng

Pencarian korban KMP Virgo Transport 8 yang terbalik di Laut Jawa terus berlanjut. Tim telah menemukan 186 orang dari 243 orang yang berada dalam manifes.

01 Okt 2026 19:47 WIB · Nasional

BASARNAS

Oleh Defri Werdiono

Operasi pencarian korban Kapal Motor Penumpang (KMP) Virgo Transport 8 yang terbalik di perairan Laut Jawa, 13 September 2026, sampai kini terus berlanjut. Jumlah korban yang ditemukan juga terus bertambah.

Hingga hari ke-18 pencarian, Rabu (30/9/2026), tim pencarian dan pertolongan (SAR) gabungan telah menemukan 186 orang dari 243 orang yang berada dalam manifes. Dari jumlah tersebut, 108 orang selamat dan 78 meninggal. Adapun sisa korban yang masih dalam pencarian sebanyak 57 orang.

Selain ditemukan dari dalam bangkai kapal, sejumlah korban KMP Virgo Transport 8 juga ditemukan di permukaan air. Bahkan, lokasi penemuan korban sampai jauh ke wilayah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat.

Sebagaimana hasil operasi pencarian dan pertolongan pada hari ke-18, tim SAR gabungan menemukan empat jenazah. Dari empat jasad itu, satu jenazah ditemukan di Pantai Lunci, Kabupaten Sukamara, Kalteng, dan tiga lainnya dievakuasi dari Sungai Teruntum di Kabupaten Seruyan, masih di Kalteng.

Tim SAR gabungan mengevakuasi jenazah korban dari badan KMP Virgo Transport 8 yang terbalik di Laut Jawa, Kamis (24/9/2026). Jenazah para korban kemudian dibawa ke Banjarmasin, Kalimantan Selatan, untuk diidentifikasi.

Selain korban, tim SAR juga menemukan sekoci (life craft) yang telah memasuki wilayah Natal Kuini, Kabupaten Ketapang, Kalbar. Lokasi penemuan berjarak 7 mil laut dari Kabupaten Sukamara. ”Adapun dari hasil penyelaman hari ini (Rabu) nihil,” ujar Kepala Kantor SAR Banjarmasin I Putu Sudayana dalam konferensi pers di Pelabuhan Trisakti, Banjarmasin, Rabu malam.

Tak hanya pencarian pada hari ke-18, pada pencarian beberapa hari sebelumnya jenazah korban juga ditemukan, salah satunya di wilayah pesisir Kabupaten Seruyan, Kalteng.

Kantor SAR Banjarmasin, menurut Sudayana, telah berkoordinasi dengan kantor SAR di wilayah lain, seperti Kalteng, Kalbar, bahkan sampai Jawa Timur dan Jawa Tengah. Selain itu, e-broadcast juga masih aktif diterima oleh kapal-kapal yang berlayar di sekitar lokasi peristiwa tenggelamnya KMP Virgo Transport 8.

”Dengan begitu, bila melihat ada korban terapung, mereka bisa segera menginformasikan kepada kami,” kata Sudayana.

Menurut Sudayana, pencarian di dalam kompartemen kapal yang aman sudah dilakukan. Kondisi bagian dalam kapal pun mulai kemasukan lumpur dari dasar laut. Kondisi itu tentu saja memengaruhi jarak pandang.

Selain itu, tingkat kemiringan badan kapal juga bertambah. Di titik tertentu terpantau ada rembesan bahan kimia sehingga membahayakan tim penyelam.

”Di dalam kapal juga banyak benda tajam yang membahayakan tim. Kompresor yang berisiko, bisa membahayakan keselamatan tim. Faktor safety yang jadi pertimbangan utama pencarian korban bawah air,” ujar Sudayana yang tidak merekomendasikan untuk pencarian di bawah badan kapal karena berisiko.

Oleh karena itu, Sudayana juga kembali menyinggung pentingnya dilakukan operasi pengangkatan badan kapal (salvage). Pemilik kapal dan pihak asuransi diharapkan segera melakukan pengangkatan. Dengan pengangkatan badan kapal kemudian membalikkannya, potensi ditemukan korban lebih banyak memungkinkan terjadi. ”Minimal peralatan datang dulu,” ucapnya.

Tim SAR gabungan mengevakuasi sejumlah jenazah dari badan KMP Virgo Transport 8 yang terbalik di Laut Jawa, Kamis (24/9/2026). Jenazah para korban kemudian dibawa ke Banjarmasin, Kalimantan Selatan, untuk diidentifikasi.

Sebelumnya, terkait salvage, Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas 1 Banjarmasin Heri Purwanto mengatakan, pihaknya bersama Basarnas terus mendorong pihak Virgo untuk segera melaksanakan pengangkatan. Menurut Heri, Kementerian Perhubungan juga sudah menyampaikan teguran keras kepada pihak asuransi. Begitu pula KSOP telah memberikan teguran kedua kepada pemilik kapal untuk segera melaksanakan salvage.

Berdasarkan informasi terakhir, kata Heri, pihak asuransi yang diwakili oleh Protection and Indemnity (P&I) tengah menunjuk mitra pelaksana salvage. Ada dua kandidat mitra dari luar negeri, yakni dari Amerika Serikat dan Inggris, meski pihak pemilik mendorong agar yang ditunjuk dari lokal saja guna mempercepat pelaksanaan.

Adapun P&I, lanjut Heri, sepertinya lebih memilih menunjuk mitra dari luar karena pertimbangan dari sisi peralatan. Baik mitra dari AS maupun Inggris sudah dipastikan bahwa peralatannya telah berada di Singapura, yakni berupa crane 3.000 ton dan 5.000 ton. Sementara untuk pelaksanaan salvage nantinya ada partner lokal.

”Partner lokalnya kalau enggak salah dari PT Jasalindo. Kebetulan Jasalindo dari awal sudah mengawal kegiatan ini dan sudah memberikan data kondisi foto kapal pertama kali didapat dari teman-teman Jasalindo melalui ROV (remotely operated vehicle)-nya. Jadi, kemungkinan partner lokalnya akan ditunjuk Jasalindo,” ucapnya. 

Jika mitra pelaksana salvage telah ditunjuk, mitra lokal akan masuk dulu ke lokasi kapal. Mereka akan melakukan mitigasi kondisi kapal sambil menunggu perlengkapan tiba. Harapannya, menurut Heri, kurang dari satu minggu, seluruh perlengkapan salvage sudah siap digunakan, seperti yang dijanjikan pemilik kapal kepada Kementerian Perhubungan.


Kerabat Kerja

Penulis:

Defri Werdiono
 | 

Editor:

Harry Susilo
 | 

Penyelaras Bahasa:

Amin Iskandar