Kompas.id Brief
KECELAKAAN KAPAL

Mengapa Karamnya KMP Virgo Meninggalkan Sejumlah Kejanggalan?

”Kompas” menemukan sejumlah jejak janggal dalam riwayat Kapal Motor Penumpang (KMP) Virgo Transport 8. Sejumlah faktor diduga menjadi penyebab karamnya kapal itu.

19 Sep 2026 08:00 WIB · Ekonomi & Bisnis

ANTARA FOTO

Oleh Pandu Wiyoga, R Albertus Krisna Pratama P., Aditya Diveranta

Apa yang Anda pelajari dari artikel ini?

1. Mengapa tragedi tenggelamnya KMP Virgo Transport 8 merupakan persoalan amat serius?

2. Bagaimana riwayat KMP Virgo Transport 8 sebelum dibeli perusahaan Indonesia?

3. Apa saja yang diubah oleh perusahaan operator ketika kapal itu dioperasikan di Indonesia?

4. Mengapa modifikasi kapal adalah hal yang berisiko?

5. Apa yang harus segera dibenahi?

1. Mengapa tragedi tenggelamnya KMP Virgo Transport 8 merupakan persoalan amat serius?

copy title

Karamnya KMP Virgo yang mengangkut 243 penumpang bukanlah tragedi kemanusiaan pertama yang memilukan. Catatan Kompas merekam sejumlah rentetan kecelakaan kapal yang merenggut ratusan nyawa. Dunia bahkan sudah lama menyorot tingginya tingkat fatalitas kecelakaan kapal di Indonesia. Namun, kecelakaan hanya berakhir sebagai statistik belaka, tanpa pembenahan signifikan.

Indonesia sejak bertahun-tahun lalu termasuk negara dengan tingkat fatalitas tertinggi di dunia untuk pelayaran. Merujuk laporan ”Insight Report on Safety in The Passenger Ferry Industry”, pada 2002-2016, setidaknya terdapat 163 kecelakaan feri yang tercatat, memakan korban lebih dari 17.000 jiwa. Sebanyak 25 persen kejadian diidentifikasi di Bangladesh, disusul Indonesia (16 persen), Filipina (11 persen), dan China (6 persen).

Serupa dengan data tersebut, tingkat kematian akibat kecelakaan feri di Indonesia pun tinggi. Setelah Filipina dan Bangladesh, setidaknya 6.480 jiwa dilaporkan meninggal dalam kecelakaan kapal pada 1966-2017 di Indonesia.

2. Bagaimana riwayat KMP Virgo Transport 8 sebelum dibeli perusahaan Indonesia?

copy title

Pelacakan digital Kompas menemukan, KMP Virgo adalah kapal bekas asal Jepang yang sebelumnya bernama Feri Kurushima. Sejak dibangun pada 1987, kapal jenis roll-on/roll-off (roro) itu digunakan melayani rute Kokura-Matsuyama yang berjarak sekitar 180 kilometer (km). Sementara KMP Virgo melayani rute Surabaya-Banjarmasin sejauh sekitar 490 km, melintasi Laut Jawa.

Saat masih melayani rute Kokura-Matsuyama, feri Kurushima memiliki sister ship atau kembaran, yakni Feri Hayatomo 2. Dua kapal itu selesai dibangun pada 1987. Penelusuran Kompas menemukan, Feri Hayatomo 2 telah dicacah menjadi besi tua di Chittagong, Bangladesh, September 2024.

Sejumlah portal pelacakan AIS (Automatic Identification System) mencatat riwayat perubahan bendera Feri Kurushima dari Jepang menjadi Mongolia setidaknya sejak Juni 2025. Kemudian, kapal tersebut baru tercatat memakai berbendera Indonesia sejak April 2026.

Melansir The Diplomat, bendera Mongolia telah marak digunakan sebagai flag of convenience sejak 2003. Istilah itu digunakan untuk menyebut praktik meregistrasi kapal di negara yang berbeda dengan perusahaan pemilik kapal.

Praktik itu samar secara hukum dan rawan dimanfaatkan untuk menyamarkan berbagai tindakan ilegal di laut. Selain Mongolia, kapal-kapal gelap juga kerap menggunakan bendera Liberia, Kepulauan Marshall, dan Panama sebagai flag of convenience. Lebih dari satu per tiga kapal niaga dunia menggunakan berlayar menggunakan bendera negara-negara itu.

3. Apa saja yang berubah ketika kapal itu dioperasikan di Indonesia?

copy title

Pelacakan Kompas lewat citra satelit di Google Earth Pro dan Sentinel-2 L2A menemukan, pada Maret 2025 KMP Virgo berlayar dari Jepang menuju Batam, Kepulauan Riau. Kapal itu sandar di dermaga galangan kapal KTU Shipyard, Batam, hingga awal 2026.

Saat KMP Virgo mulai beroperasi rute Surabaya-Banjarmasin Juli 2026 tampak ada modifikasi penambahan dua pintu rampa yang digunakan untuk menaikkan dan menurunkan kendaraan di bagian kanan kapal.

Guru Besar Bidang Risiko Logistik Maritim Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya, Saut Gurning, menduga, modifikasi KMP Virgo tak hanya meliputi penambahan pintu rampa, bisa jadi ada modifikasi lain yang berdampak mengubah titik berat kapal. ”Soalnya kami yang berkecimpung di dunia perkapalan masih bertanya-tanya mengapa kapal itu miring lalu terbalik sedemikian cepat seperti kesaksian penumpang,” tuturnya.

4. Mengapa modifikasi kapal adalah hal yang berisiko?

copy title

Peristiwa yang mirip dengan karamnya KMP Virgo adalah tragedi tenggelamnya feri Sewol di Korea Selatan pada 2014. Sebanyak 304 orang tewas dari jumlah total penumpang 476 orang. Mayoritas korban tewas adalah siswa sekolah.

Serupa dengan feri Kurushima, MV Sewol adalah kapal bekas produksi Jepang buatan 1994 yang kemudian dibeli operator feri di Korsel. Kapal itu kemudian dimodifikasi dengan mengurangi tangki penyeimbang untuk menambah ruang kargo dan kabin penumpang.

Modifikasi membuat kapal tidak stabil dan kurang responsif saat bermanuver saat menghadapi arus kuat. Feri Sewol akhirnya miring dan terbalik saat pelayaran rutin dari Pelabuhan Incheon ke pulau wisata Jeju.

Setelah peristiwa itu, Perdana Menteri Korsel Selatan Chung Hong-won mengundurkan diri. Nakhoda dihukum penjara seumur hidup dan 14 awak kapal dijatuhi hukuman sampai belasan tahun. Adapun pemilik perusahaan yang ditemukan meninggal saat masih buron.

5. Apa yang harus segera dibenahi?

copy title

Sederet kecelakaan kapal yang terjadi dalam waktu berdekatan, setidaknya sebulan terakhir, menjadi alarm keras agar pembenahan signifikan segera dilakukan. Peristiwa naas ini tampak sulit dihindari karena lemahnya sistem pelayaran.

Setelah Kapal Motor Penumpang (KMP) Virgo Transport 8 terbalik di Laut Jawa pada Minggu (13/9/2026) dini hari, kapal tunda atau tugboat tenggelam di Perairan Bawen, Senin (14/9/2026). Sebulan sebelumnya, KMP Putri Yasmin terbakar di perairan Bali serta KMP Mutiara Sentosa II mengalami kejadian serupa di perairan Pulau Sapudi, Sumenep, Jawa Timur.

DPR mendesak pembenahan sistem pelayaran nasional serta tindak lanjut dari serangkaian kecelakaan kapal. Mereka menagih janji Kementerian Perhubungan untuk menegakkan aturan tanpa pandang bulu, apalagi sebuah operator kapal tercatat memiliki rekam jejak buruk dengan sedikitnya enam kecelakaan dalam 10 tahun terakhir.


Kerabat Kerja

Penulis:

Pandu Wiyoga, R Albertus Krisna Pratama P., Aditya Diveranta
 | 

Editor:

Andy Riza Hidayat
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase