Potret suasana Idul Fitri di Gaza yang jatuh pada Minggu, 30 Maret 2025.
31 Mar 2025 13:37 WIB · Foto
Ribuan penduduk Palestina, terutama yang berada di Gaza, merayakan Idul Fitri dengan cara yang jauh dari sederhana. Keputusan Israel menghentikan pengiriman bantuan sejak awal Maret membuat warga menderita kelaparan. Antrean anak-anak dan orang dewasa untuk mendapatkan bantuan makanan terlihat setiap hari, pun di saat mereka harus berpuasa.
Makanan istimewa yang biasa mereka hidangkan dan santap bersama-sama untuk menandai berakhirnya 30 hari berpuasa, seperti tahun-tahun yang lalu, kali ini tidak bisa mereka rasakan.
Ratusan warga di Gaza, Minggu (30/3/2025), terlihat duduk berjajar dengan barisan yang teratur dan rapi di tanah yang dikelilingi puing-puing bangunan yang hancur. Mereka melaksanakan shalat Id bersama-sama.
Mereka memanfaatkan sepetak tanah yang luput dari gempuran Israel sebagai tempat melaksanakan shalat Id. Beberapa dari mereka terlihat mencari tempat di sela-sela bangunan yang hancur.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/31/aa4cf6e8-73d7-41b1-88ba-095b5686de12_jpg.jpg)
Beberapa bocah terlihat khusyuk mengikuti shalat, sebagian yang lain asyik bermain dengan bocah-bocah sebaya. Anak-anak ini terlihat ceria di tengah suasana Gaza yang berduka.
Seperti halnya tradisi di Indonesia, warga Palestina bergegas mengunjungi makam untuk berdoa, mendoakan kerabat mereka yang lebih dulu meninggal, seusai shalat Id. Sebagian dari mereka yang tinggal di tenda-tenda pengungsian menyempatkan diri pulang ke rumah yang hanya tinggal puing.
Idul Fitri ini juga diwarnai serangan Israel di beberapa tempat. Beberapa serangan udara pada Minggu dini hari menghantam tenda dan rumah saat warga Palestina merayakan hari raya Idul Fitri yang menandai berakhirnya bulan puasa Ramadhan. Setidaknya 35 orang tewas di kota-kota selatan Rafah dan Khan Younis.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/31/c5bc120e-d8b5-479a-9463-4f8d7c06f3ba_jpg.jpg)
Serangan ke Gaza dan kota-kota lain di wilayah Palestina ini dilakukan untuk meningkatkan tekanan agar Hamas membebaskan 59 sandera yang tersisa. Perang terbuka antara Isarel dan Hamas mulai pecah pada 7 Oktober 2023. Kala itu, Hamas berhasil merangsek, masuk ke Israel, menewaskan ribuan warga dan tentara serta menyandera 159 warga Israel.
Dalam gencatan senjata tahap pertama yang berlangsung pada 19 Januari 2025 sampai 1 Maret 2025, telah terjadi pertukaran sandera Hamas dengan ribuan sandera Israel. Setidaknya Hamas telah menukar 33 sandera, baik yang hidup maupun dalam kondisi meninggal, ditukar dengan ribuan sandera Israel.
Kedua belah pihak masih memiliki sandera yang ditahan di daerah masing-masing. Unjuk rasa, baik ditujukan kepada Hamas oleh warga Palestina maupun unjuk rasa warga Israel kepada pemerintah untuk mengakhiri perang dan melanjutkan pembebasan sandera, terus dilakukan. Namun, kedua pihak bertikai masih berkeras dengan putusan masing-masing.
Situasi ini membuat Idul Fitri di Gaza tampak suram. Orang tua dan kaum remaja waswas terhadap serangan Israel yang bisa kapan saja menimpa mereka. Hanya anak-anak yang tampaknya masih bisa bergembira, berlarian, dan bercanda dengan teman-teman sebayanya. Selamat Lebaran dari Gaza….
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Demitrius Wisnu WidiantoroPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra