Selat Bosphorus, Saat Kaki Berada di Dua Benua

Potret kehidupan di Selat Bosphorus, benteng air yang memisahkan Benua Asia dan Benua Eropa.

24 Jul 2026 10:40 WIB · Internasional

AP/Emrah Gurel

Oleh Ignatius Danu Kusworo

Matahari yang baru saja bersinar segera menyinari kesibukan pinggir Selat Bosphorus, di Istambul Turki, Rabu (17/6/2026). Fotografer Enes Khazam dan beberapa temannya telah bersiap di sudut terbaik untuk ditawarkan pada mereka yang ingin berfoto dengan latar belakang masjid Ortakoy dan jembatan Martir di Istanbul. Mereka sengaja bersiap sepagi mungkin, mencari golden hour, periode waktu setelah matahari terbit atau sebelum matahari terbenam yang menghasilkan cahaya hangat dan bayangan lembut. 

Durasi yang singkat, sekitar 20–40 menit setelah matahari terbit atau sebelum matahari terbenam, menuntut para fotografer sigap dan cekatan. Beberapa dibantu asisten yang bertugas merapikan pakaian atau mengarahkan gaya. Puluhan burung merpati juga dimanfaatkan para fotografer untuk mendapatkan foto sebaik dan seromantis mungkin. Langit yang masih berwarna biru, cahaya lampu kuning di sekitar masjid yang masih menyala, dan sinar matahari pagi yang masih lembut membuat tempat dan sudut favorit itu selalu dipenuhi antrean.

Seorang wanita membaca Al-Qur'an di sepanjang Selat Bosphorus saat matahari terbit di Istanbul, Turki, Kamis (2/7/2026).

AP/Emrah Gurel
Kru kapal Istanbul Metropolitan Lines melemparkan tali tambatan saat sebuah feri mendekati dermaga di sisi Eropa Selat Bosphorus di Istanbul, Turki, Rabu (17/6/2026).

AP/Emrah Gurel
Kapten Fatih Tirik mengarahkan kapal feri Istanbul Metropolitan Lines melewati Selat Bosphorus di Istanbul, Turki, Rabu (17/6/2026).

AP/Emrah Gurel

Beranjak siang, nelayan lokal dengan jaring tradisional ”dalyan” mulai lalu lalang dengan perahu motor. Sementara dari sisi pinggir, pemancing melempar umpan dan kail mereka. Karena mengubungkan dua laut, yakni Laut Hitam dan Laut Marmara, tentunya banyak sekali ikan yang berkumpul di sana. Perbedaan arus dan temperatur membuat ikan-ikan tersebut tertarik menuju Selat Bosporus. Hal itu dimanfaatkan betul oleh nelayan di sana. 

Jenis ikan pun berbeda-beda tergantung musimnya. Hal ini karena mereka bergantian bermigrasi dari Laut Hitam ke Laut Marmara. Selain tentunya ikan-ikan khas Turki. Beberapa nelayan juga terlihat memperbaiki jaring mereka di pinggiran selat.

<p>Nelayan Murat Sevilmis memperbaiki jaring ikan di tepi Selat Bosphorus di Istanbul, Turki, Rabu (24/7/2026). AP/Emrah Gurel</p><p>Erdem Sahin berenang di Selat Bosphorus, dengan latar belakang Menara Maiden, pada pagi hari di Istanbul, Turki, Kamis (2/7/2026).</p><p>(AP/Emrah Gurel)</p><p>Orang-orang memancing di Selat Bosphorus saat matahari terbit di Istanbul, Turki, Kamis (2/7/2026). (AP/Emrah Gurel)</p>

Nelayan Murat Sevilmis memperbaiki jaring ikan di tepi Selat Bosphorus di Istanbul, Turki, Rabu (24/7/2026). AP/Emrah Gurel

Erdem Sahin berenang di Selat Bosphorus, dengan latar belakang Menara Maiden, pada pagi hari di Istanbul, Turki, Kamis (2/7/2026).

(AP/Emrah Gurel)

Orang-orang memancing di Selat Bosphorus saat matahari terbit di Istanbul, Turki, Kamis (2/7/2026). (AP/Emrah Gurel)

Menjelang sore, beberapa musisi mulai bermunculan. Beberapa menampilkan kepiawaian mereka di darat, sebagian lagi mentas di atas kapal wisata yang lalu lalang di selat. Pedagang-pedagang makanan juga banyak menjajakan makanan sore sampai malam. Kerlip lampu dan keindahan senja menjadi daya tarik tersendiri bagi sebagian pengunjung.

Saat matahari terbenam di Istanbul, muncul pemandangan para komuter yang bergegas naik feri yang menyeberangi Selat Bosphorus, sementara banyak lainnya baru memulai hari kerja mereka di sepanjang jalur air. Selama berabad-abad, wisata, perdagangan, perjalanan, dan migrasi telah mengalir melalui Bosphorus, selat sepanjang 30 kilometer yang menghubungkan Laut Hitam dan Laut Marmara. Jalur air yang berkelok-kelok ini menjadi latar belakang rutinitas harian ribuan orang yang hidupnya dibentuk oleh perairannya.

Fotografer Enes Khazam bekerja selama sesi foto di tepi Selat Bosphorus, dengan masjid Ortakoy dan jembatan Martir di Istanbul, Turki, Jumat pagi (26/6/2026).

AP/Emrah Gurel
Seorang musisi memainkan gitar dan bernyanyi di feri penumpang di Selat Bosphorus di Istanbul, Turki, Rabu (17/7/2026).

AP/Emrah Gurel

Memisahkan Eropa dan Asia

Di Jakarta, tepatnya di area reklamasi Pantai Indah Kapuk (PIK), terdapat satu tempat favorit buat berswafoto. Tempat itu hanyalah sebuah garis, dengan tulisan Banten dan DKI Jakarta di setiap sisinya. Semantara di Sebatik, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, ada spot foto yang menampillkan sebuah rumah yang terbagi dua negara. Rumah ini sangat unik karena ruang tamunya berada di wilayah Indonesia, sedangkan dapurnya sudah masuk wilayah Malaysia.

Selat Bosphorus, dengan segala keindahan, juga berfungsi sebagai pemisah dua benua, yakni Benua Asia dan Eropa. Pepatah satu kaki di Asia dan satu di Eropa menjadi candaan mereka yang pernah mengunjungi tempat ini. 

<p>Pantulan di jendela, para komuter menyeberangi Selat Bosphorus dengan kapal feri pada akhir hari kerja di Istanbul, Turki, Senin (13/7/2026). (AP/Emrah Gurel)</p><p>Yuksel Baloglu bekerja pada restorasi benteng Rumeli Hisari, sebuah tengara di sepanjang Selat Bosphorus, di Istanbul, Turki, Jumat (26/6/2026). (AP/Emrah Gurel)</p><p>Nelayan menggunakan metode penangkapan ikan tradisional ”dalyan” dari jaring stasioner untuk menangkap ikan yang bermigrasi di Selat Bosphorus di Istanbul, Turki, Rabu (24/6/2026). (AP/Emrah Gurel)</p>

Pantulan di jendela, para komuter menyeberangi Selat Bosphorus dengan kapal feri pada akhir hari kerja di Istanbul, Turki, Senin (13/7/2026). (AP/Emrah Gurel)

Yuksel Baloglu bekerja pada restorasi benteng Rumeli Hisari, sebuah tengara di sepanjang Selat Bosphorus, di Istanbul, Turki, Jumat (26/6/2026). (AP/Emrah Gurel)

Nelayan menggunakan metode penangkapan ikan tradisional ”dalyan” dari jaring stasioner untuk menangkap ikan yang bermigrasi di Selat Bosphorus di Istanbul, Turki, Rabu (24/6/2026). (AP/Emrah Gurel)

Selat sepanjang 30 kilometer yang membelah kota Istanbul ini juga merupakan salah satu rute pelayaran paling sibuk sekaligus ikon wisata sejarah di dunia. Peningkatan ini terjadi sejak penandatanganan Montreux Convention tahun 1936 yang membuat kapal dagang bisa dengan bebas melewatinya, tetapi kapal perang tidak boleh melintas. 

Pada 1 Maret 2022, Turki menutup Selat Bosphorus dan Dardanella untuk semua kapal perang. Pertikaian antara Rusia dan Ukraina menjadi pertimbangan penutupan kala itu. ”Saya tidak bisa membayangkan hidup tanpa kapal,” kata kapten feri Fatih Tirik, yang telah bertahun-tahun mengarungi selat yang ramai itu. 

Menara Galata berdiri di Istanbul, Turki, di tepi Selat Bosphorus, Kamis (2/7/2026).

AP/Emrah Gurel
Seorang pria mendayung di Selat Bosphorus dekat jembatan Yavuz Sultan Selim setelah matahari terbenam di Istanbul, Turki, Kamis (18/6/2026).

AP/Emrah Gurel
Masjid Ortakoy dan jembatan Martir saat matahari terbit di sepanjang Selat Bosphorus di Istanbul, Turki, Jumat (26/6/2026).

AP/Emrah Gurel

Terdapat tiga jembatan dibangun melintasi Selat Bosphorus. Jembatan pertama, Bogazici, yang menghubungkan Beylerbeyi dan Ortakoy, selesai dibangun pada 1973. Jembatan kedua, Fatih Sultan Mehmed yang menghubungkan Anadolu Hisari dan Rumeli Hisari, selesai dibangun pada 1988. Dan jembatan ketiga, Yavuz Sultan Selim  yang menghubungkan Garipce dan Poyrazkoy, selesai dibangun pada tahun 2016. Ketiga jembatan ini menjadi ikon sekaligus penghias Selat Bosphorus. (AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Ignatius Danu Kusworo
 | 

Editor:

Yuniadhi Agung
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase