AS dan Iran kembali saling serang, dampaknya harga minyak dunia kembali melonjak dan harga saham teknologi anjlok.
14 Jul 2026 11:32 WIB · Internasional
Getty Images via AFP
NEW YORK, SENIN — Lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz kembali melambat ke level terendah dalam dua bulan terakhir. Kapal-kapal niaga kembali menjadi sasaran serangan. Kementerian Pertahanan Uni Emirat Arab (UEA), Selasa (14/7/2026), mengecam Iran setelah dua kapal tanker minyaknya, Mombasa dan Al Bahiyah, dihantam rudal jelajah Iran ketika berlayar di Selat Hormuz.
Kondisi terakhir Selat Hormuz memaksa operator kapal mengurangi aktivitas pelayaran dan meningkatkan langkah pengamanan dan mendorong harga minyak dunia melonjak sembilan persen ke level tertinggi dalam satu bulan. Harga minyak mentah Brent ditutup melonjak 7,29 dolar AS atau 9,59 persen menjadi 83,30 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate AS naik 6,73 dolar AS atau 9,42 persen menjadi 78,14 dolar AS per barel.
Data pelacakan kapal, Senin menunjukkan jumlah kapal tanker minyak dan gas yang melintasi Selat Hormuz turun ke level terendah sejak 25 Mei 2026. Berdasarkan data perusahaan intelijen pelayaran, Kpler, hanya enam kapal tanker yang terpantau melintasi selat pada, Minggu. Ini jumlah terendah dalam lima pekan terakhir.
Namun, sejumlah perusahaan pelayaran mengakui jumlah sebenarnya kemungkinan lebih banyak karena semakin banyak kapal yang mematikan sistem pelacakan otomatisnya ketika memasuki selat. Ini untuk mengurangi risiko menjadi sasaran serangan.
Dari citra satelit, 11 Juli 2026, terlihat ada tiga pasang kapal tanker yang mentransfer minyak antarkapal di lepas pantai Oman. Cara ini memungkinkan minyak dipindahkan ke kapal lain yang menunggu tanpa seluruh armada harus melintas selat.
Sejak konflik kembali pecah pada 28 Februari, praktik ini semakin sering dilakukan untuk mempercepat distribusi minyak, sekaligus mengurangi paparan kapal terhadap ancaman di Selat Hormuz. Namun, para pelaku industri memperingatkan risiko akan meningkat tajam jika konflik tak kunjung selesai.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/28/cffc877d299203f412a33d6db81ab1c4-Peta_Pelayaran_hormuz.jpeg)
Pialang kapal Gibson menyatakan penutupan selat dalam waktu panjang akan menekan pasar energi dunia. Perusahaan minyak dunia yang terus menyusut dalam beberapa bulan terakhir membuat pasar kian rentan terhadap gangguan pasokan.
Kekhawatiran itu meningkat setelah kapal-kapal niaga kembali diserang. Kementerian Pertahanan Uni Emirat Arab (UEA), Selasa (14/7/2026), mengecam Iran setelah dua kapal tanker minyaknya, Mombasa dan Al Bahiyah, dihantam rudal jelajah Iran ketika berlayar di Selat Hormuz. Satu awak kapal berkewarganegaraan India tewas dan delapan awak terluka (enam warga India dan dua Ukraina).
UEA menegaskan punyak hak untuk membalas. Pada hari yang sama, Badan Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) juga menyebutkan ada kapal tanker lain terkena proyektil di perairan Oman.
Ketegangan di Selat Hormuz meningkat setelah Presiden AS Donald Trump, Senin, mengumumkan pemberlakuan kembali blokade maritim mulai 14 Juli 2026 terhadap seluruh garis pantai Iran, termasuk pelabuhan, terminal minyak, dan seluruh kapal yang berlayar tanpa memandang benderanya.
AS akan memastikan Selat Hormuz tetap terbuka dan perlindungan AS tidak akan diberikan gratis. Trump mengatakan AS kemungkinan akan mengambil alih pengelolaan Selat Hormuz dan mengenakan pungutan 20 persen terhadap seluruh kargo sebagai kompensasi atas perlindungan AS.
Ini yang membuat Iran marah. Iran menegaskan AS tidak berhak menentukan masa depan Selat Hormuz dan AS tidak akan diizinkan mencampuri pengelolaan jalur pelayaran internasional itu. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengejek ancaman Trump untuk mengenakan pungutan terhadap kapal yang melintasi selat.
Usulan pungutan AS itu juga ditolak Perserikatan Bangsa-Bangsa karena tidak ada dasar hukum untuk mengenakan biaya wajib bagi kapal yang memakai jalur pelayaran internasional.
Begitu konflik di Selat Hormuz memanas lagi, pasar energi dunia juga terguncang. Lonjakan harga minyak dipicu oleh pengumuman blokade maritim baru AS karena itu kemudian membuat dunia kembali khawatir dengan distribusi minyak melalui selat itu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/11/cddf43c3c8459d57f8e85ba3cbcc28bd-AFP_99VK9KE_1.standard_136628077.jpg)
Departemen Energi AS melaporkan cadangan minyak strategis (SPR) kembali menyusut sekitar tiga juta barel menjadi 316,5 juta barel pada pekan lalu. Ini level terendah sejak April 1983. Pemerintah AS kemudian melepaskan total 172 juta barel minyak dari cadangan strategis.
Sementara di Timur Tengah, selama masa gencatan senjata sementara, Iran sempat meningkatkan ekspor minyaknya sehingga pasokan minyak Iran yang disimpan di laut bertambah. Namun, penjualannya lebih lambat karena kilang-kilang independen di China mulai beralih membeli minyak mentah yang lebih murah dari Irak, UEA, dan Qatar.
Di sisi lain, Abu Dhabi National Oil Company menetapkan harga jual resmi minyak mentah Murban untuk pengiriman Agustus sebesar 80,01 dolar AS per barel, turun dibandingkan harga bulan sebelumnya yang mencapai 101,48 dolar AS per barel.
Menghadapi meningkatnya risiko di Selat Hormuz, sejumlah negara produsen minyak mempercepat pencarian jalur alternatif. Goldman Sachs memperkirakan perluasan jaringan pipa di Timur Tengah akan mampu mengalihkan 60 persen ekspor minyak Teluk yang sebelumnya lewat Selat Hormuz.
Dengan skenario itu, kapasitas pipa yang menghindari Selat Hormuz diperkirakan bertambah 3,8 juta barel per hari pada akhir 2027 dan meningkat jadi 7,3 juta barel per hari pada akhir 2028. Kapasitas efektif jalur pipa alternatif diperkirakan melampaui 14 juta barel per hari. Namun, hingga infrastruktur itu benar-benar tersedia, Selat Hormuz akan tetap jadi titik paling rawan dalam rantai pasok energi dunia.
Gelber & Associates mengatakan, kombinasi pemberlakuan kembali pembatasan lalu lintas maritim Iran, aksi saling serang antara AS dan Iran, dan menurunnya jumlah kapal yang melintasi Selat Hormuz meningkatkan kekhawatiran akan ketersediaan pasokan energi dalam jangka pendek.
Analis UBS, Giovanni Staunovo, mengatakan, perhatian pasar kini tertuju pada jumlah kapal tanker yang masih berani memasuki Selat Hormuz. Analis Lipow Oil Associates, Andy Lipow, juga menilai pasar kini tidak hanya mencemaskan pasokan minyak, tetapi juga ketidakjelasan mengenai siapa yang akan mengendalikan keamanan pelayaran.
Selain harga minyak, ketegangan AS-Iran juga memicu aksi penghindaran risiko di pasar keuangan dunia. Analis Interactive Brothers, Jose Torres, mengatakan, situasi terbaru ini meningkatkan keraguan terhadap prospek gencatan senjata jangka panjang. Di Wall Street, indeks S&P 500 ditutup turun 0,8 persen menjadi 7.515,34. Indeks Dow Jones Industrial Average melemah 138,37 poin atau 0,3 persen menjadi 52,498,64.
Adapun Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi merosot 408,43 poin atau sekitar 1,6 persen menjadi 25.873,18. Aksi jual terutama terjadi pada saham-saham perusahaan semikonduktor yang sebelumnya menikmati ritel berkat ledakan investasi kecerdasan buatan (AI).
Micron Technology turun 4,4 persen setelah sepanjang tahun ini melonjak 243 persen. Nvidia, yang kini menjadi perusahaan dengan kapitalisasi pasar terbesar di Wall Street, melemah 3,5 persen. Saham AMD dan Marvell masing-masing turun empat persen.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/09/bf8f0fe0cf8d0e3d969642ab47598b88-nvidia_dgx_spark_and_nvidia_dgx_station.jpg)
Kenaikan tajam saham-saham AS sebelumnya didorong lonjakan permintaan terhadap memori komputer dan komponen komputasi. Namun, investor khawatir dengan valuasi perusahaan-perusahaan itu telah meningkat terlalu tinggi dan permintaan terhadap teknologi AS tidak akan bertahan jika implementasinya tidak menguntungkan.
Indeks Kospi Korea Selatan juga anjlok 8,9 persen. Saham SK Hynix merosot 15,4 persen. Penurunan ini menjadi penurunan harian terbesar sejak saham perusahaan itu mulai diperdagangkan pada 1997. Rivalnya, Samsung Electronics, juga kehilangan 10 persen pada penutupan perdagangan, Senin.
”Pasar Korsel kini dipandang sebagai barometer utama sentimen terhadap industri chip dunia sehingga ketika terjadi penurunan di Korsel, efeknya bisa menjalar ke seluruh dunia,” kata Direktur Riset XTB, Kathleen Brooks. (REUTERS/AFP/AP)
Penulis:
Luki AuliaEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Rosdiana Sitompul