Lalu lintas Selat Hormuz mulai meningkat, tetapi masih dibatasi. Iran membahas rencana mengenakan tarif setelah masa negosiasi 60 hari berakhir.
23 Jun 2026 22:33 WIB · Internasional
AP Photo/Amirhosein Khorgooi
TEHERAN, SELASA — Lalu lintas kapal di Selat Hormuz meningkat ke level tertinggi sejak perang Timur Tengah pecah pada akhir Februari 2026. Namun, pembukaan masih dibatasi. Pada saat bersamaan, Presiden Iran Masoud Pezeshkian bertolak ke Pakistan untuk membahas penyelesaian permanen perang dengan Amerika Serikat.
Kenaikan lalu lintas itu menjadi tanda awal normalisasi jalur energi paling vital dunia. Namun, lalu lintas Hormuz belum kembali sebanyak seperti sebelum perang.
Berdasarkan data perusahaan pelacak maritim Kpler, sedikitnya 37 kapal pengangkut komoditas melintasi Selat Hormuz pada Senin (22/6/2026) waktu setempat atau Selasa waktu Indonesia. Lima kapal tanker gas alam cair (LNG) kosong termasuk di antara kapal yang melintasi Hormuz hari itu.
Penyedia data pelayaran AXSMarine mencatat jumlah lebih besar, yakni 42 pelayaran kapal niaga, termasuk kapal peti kemas, pada hari yang sama. Angka itu menjadi yang tertinggi sejak perang dimulai, tetapi hanya sekitar 30 persen dari jumlah normal.
”Ini mungkin salah satu tanda paling jelas adanya normalisasi tentatif dalam lalu lintas sejauh ini,” kata Mihail Todorov dari AXSMarine.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/10/b178cd46e1116b1b6bebc4ad6cd858e1-Iran_War_Strait_of_Hormuz.jpg)
Dikutip dari media Iran, Fars, sumber militer Iran mengatakan, sejumlah kapal diizinkan melintas setiap hari di bawah koordinasi Angkatan Laut Garda Revolusi Iran. Jumlah kapal yang diberi izin berubah setiap hari, bergantung pada kondisi.
Sumber itu mengatakan, sebelumnya tidak ada izin transit karena tindakan permusuhan oleh Israel dan dugaan pelanggaran AS terhadap perjanjian gencatan senjata.
Sebelum kesepakatan AS-Iran pada 14 Juni 2026, kurang dari 10 kapal pengangkut komoditas melewati Hormuz setiap hari. Selat itu ditutup Iran pada 1 Maret 2026 sebagai balasan atas serangan AS dan Israel terhadap Iran.
Ini mungkin salah satu tanda paling jelas adanya normalisasi tentatif dalam lalu lintas sejauh ini.
Sejak 15 Juni 2026, rata-rata kapal pengangkut komoditas yang melintas naik menjadi 21 kapal per hari. Dalam lima hari terakhir, rata-ratanya mencapai 27 kapal per hari.
Presiden AS Donald Trump juga menyoroti pulihnya aliran minyak. Dalam unggahan di media sosial Truth Social, Trump menyebut 19 juta barel minyak keluar dari Selat Hormuz dalam sehari. Aliran minyak itu akan menurunkan harga minyak.
Sementara itu, Washington telah melonggarkan sementara sanksi terhadap Iran. AS menyatakan akan mengizinkan Iran memproduksi, menjual, dan mengirim minyak mentah serta produk terkait hingga 21 Agustus 2026.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/06/23/17d6cfa1-12ae-453c-a176-1ee875d55e6c.jpg)
Iran tetap memegang kendali penuh atas pembukaan terbatas Selat Hormuz. Kapal-kapal mulai kembali melintas, tetapi kelancaran, izin, dan potensi tarif transit kini menjadi salah satu kartu tawar utama dalam negosiasi damai 60 hari dengan AS.
Pejabat perunding Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengatakan, pengelolaan selat itu tidak akan kembali ke pola lama. ”Selat Hormuz tidak akan pernah kembali ke kondisi sebelum perang dan akan diadministrasikan oleh Republik Islam Iran sesuai dengan hukum internasional,” kata Ghalibaf, menurut laporan media Pemerintah Iran.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/23/0113be689bdbc169ee2a1edd95a99281-wires_photo_1_.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/11/49e37a0ac7c985c1671fd2376daf423b-20260311_GKT_AFP_Hormuz_Oil.png)
Selama ini, Selat Hormuz menjadi jalur pelayaran internasional yang dilintasi kapal niaga berdasarkan hak lintas transit. Kapal minyak, LNG, dan kargo lain tidak perlu izin harian ataupun membayar pungutan hanya karena melintas.
Namun, pola ini direncanakan akan diubah. Teheran tengah membahas pengelolaan baru bersama Oman. Pembahasan ini mencakup rencana adanya pungutan di Selat Hormuz. Pungutan merupakan tarif layanan navigasi, keamanan, keselamatan, lingkungan, dan asuransi setelah masa negosiasi 60 hari berakhir.
Dalam pernyataan bersama setelah pertemuan di Muscat, Oman dan Iran sepakat melanjutkan pembahasan tentang masa depan administrasi navigasi di selat itu. Kedua negara akan membentuk kelompok kerja bersama yang melibatkan kementerian luar negeri masing-masing.
Iran dan Oman juga menyatakan akan berkonsultasi dengan negara-negara pantai lain serta pihak terkait. Keduanya menegaskan komitmen untuk menjamin lintas aman melalui Hormuz sesuai hukum internasional sembari menekankan kedaulatan atas perairan teritorial masing-masing.
Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian tiba di Islamabad, Selasa. Ia diagendakan bertemu para pejabat Pakistan yang menjadi mediator pembicaraan menuju penyelesaian permanen perang Iran-AS.
Presiden Pakistan Asif Ali Zardari, Perdana Menteri Shehbaz Sharif, dan sejumlah pejabat senior menyambut Pezeshkian di tengah pengamanan ketat.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi juga mendampingi Pezeshkian. Ini menjadi kunjungan luar negeri pertama Presiden Iran sejak AS dan Israel melancarkan perang terhadap Iran pada 28 Februari 2026.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/23/2bc42e5aa8057146c9df6aebdb61eb1e-Pakistan_Iran_US_1_.jpeg)
Kunjungan itu berlangsung setelah perundingan tingkat tinggi AS-Iran di Swiss pada Senin. Tim teknis kedua pihak kini membahas rincian kesepakatan.
Iran mengatakan, pembicaraan di Swiss menghasilkan kelompok-kelompok perundingan khusus, antara lain soal pelonggaran sanksi, isu nuklir, rekonstruksi, dan pemantauan.
Kazem Gharibabadi, wakil menteri luar negeri yang memimpin pembicaraan teknis Iran, mengungkapkan, kedua pihak juga membentuk mekanisme kontak khusus. Mekanisme ini khusus terkait pergerakan kapal di Hormuz serta konflik di Lebanon antara Israel dan Hizbullah.
Sebelum berangkat ke Pakistan, Pezeshkian mengingatkan, kesepakatan hanya dapat berjalan jika semua pihak mematuhi kewajiban masing-masing. ”Efektivitas perundingan bergantung pada komitmen penuh terhadap kewajiban yang telah disepakati dan pelaksanaannya secara tepat,” katanya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/23/e86ca9c042dc32a577bcd6a8432c49a4-Pakistan_Iran_US_2_.jpeg)
Namun, masih ada perbedaan dalam pengelolaan nuklir Iran. Wakil Presiden AS JD Vance menyatakan, perundingan di Swiss menghasilkan kesepakatan untuk membuka akses Badan Energi Atom Internasional (IAEA) ke situs nuklir Iran yang dibom AS tahun lalu.
Akan tetapi, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei membantah ada jadwal kunjungan IAEA ke lokasi tersebut.
IAEA belum menanggapi permintaan komentar. Badan itu masuk-keluar Iran sejak perang 12 hari antara Israel dan Iran pada 2025, tetapi belum mendapat akses ke situs pengayaan yang dibom AS.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/23/1b8a312f5c74762d0d272385217b783a-wires_photo.jpg)
Situasi Lebanon pun masih bisa menjadi ganjalan. Pasalnya, Israel masih terus melancarkan serangan. Setelah dua hari tenang menyusul gencatan senjata Sabtu lalu, kekerasan kembali pecah di Lebanon selatan.
Tentara Israel dilaporkan menembak hingga menewaskan dua orang. Eskalasi baru di Lebanon dapat mengganggu pembicaraan besar AS-Iran karena Teheran menuntut gencatan senjata penuh di Lebanon sebagai bagian dari kesepakatan komprehensif. (Reuters/AFP/AP)
Penulis:
Irene SarwindaningrumEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti