Tampil Pantang Menyerah, Indonesia Terhenti di Semifinal Piala Sudirman

Tim bulu tangkis Indonesia memberi perlawanan maksimal ke Korea Selatan dalam semifinal Piala Sudirman. Namun, Indonesia kalah 2-3.

03 Mei 2025 22:29 WIB · Olahraga

Oleh Yulia Sapthiani

XIAMEN, SABTU — Perjalanan Indonesia dalam kejuaraan Piala Sudirman dihentikan Korea Selatan di semifinal. Di tengah merosotnya prestasi bulu tangkis Indonesia pada level dunia, setidaknya dalam 1,5 tahun terakhir, semifinal menjadi hasil terbaik yang realistis.

Indonesia kalah dari Korea Selatan dengan skor 2-3 pada semifinal yang berlangsung di Fenghuang Gymnasium, Xiamen, China, Sabtu (3/5/2025). Poin bagi Indonesia didapat oleh Alwi Farhan dan Muhammad Shohibul Fikri/Bagas Maulana dari tunggal dan ganda putra. Adapun Korea Selatan memenangi ganda campuran, tunggal putri, dan ganda putri.

Pada semifinal lain, tuan rumah tak terhenti untuk kembali ke final. Kemenangan atas Jepang, 3-0, mengantarkan China ke final untuk ke-16 kali dari 19 penyelenggaraan Piala Sudirman sejak 1989 di Jakarta. Adapun pertemuan China dan Korea Selatan, pada Minggu (4/5/2025), mengulang final Piala Sudirman 2023 yang dimenangi China dengan skor 3-0.

Semifinal pada Piala Sudirman 2025 menjadi yang pertama bagi Indonesia sejak kejuaraan di Nanning 2019. Setelah itu, Jonatan Christie dan kawan-kawan selalu tersisih di perempat final.

Posisi empat besar ini cukup realistis mengingat Indonesia tertinggal dalam persaingan turnamen BWF World Tour. Dari delapan turnamen Super 300, 500, 750, dan 1000 yang telah berlangsung pada 2025, pemain Indonesia hanya meraih satu gelar juara, yaitu dari ganda putri, Siti Fadia Silva Ramadhanti/Lanny Tria Mayasari, pada turnamen Thailand Masters Super 300.

Indonesia kalah bersaing dengan pemain-pemain Korea Selatan yang sudah mengoleksi 11 gelar juara, empat di antaranya dari turnamen level tinggi, Malaysia Terbuka dan All England Super 1000. China mendapat delapan gelar juara, Jepang dan Thailand dengan lima gelar, dan Denmark dengan tiga gelar juara.

Tunggal putra Indonesia, Alwi Farhan, merayakan kemenangan atas wakil Korea Selatan, Cho Geon-yeop, pada pertandingan semifinal Piala Sudirman di Xiamen, China, Sabtru (3/5/2025). Indonesia gagal ke final setelah kalah dengan skor 2-3.

Persaingan dalam rangkaian BWF World Tour pun tergambar di Xiamen selama sepekan terakhir. Sebagai kejuaraan beregu campuran, Piala Sudirman menggambarkan kekuatan setiap negara dari semua nomor.

Melawan Korea Selatan, kelemahan Indonesia pun terlihat. Tim ”Merah Putih” kehilangan poin dari ganda campuran, tunggal putri, dan ganda putri.

Dalam daftar peringkat dunia, Korea Selatan sebenarnya hanya menempatkan pemain tunggal dan ganda putri pada peringkat sepuluh besar dunia. Meski demikian, negara ini mempunyai pemain-pemain ganda putra dan campuran yang sulit dikalahkan walaupun berganti pasangan. Kelemahan Korea Selatan hanya ada pada tunggal putra.

Seo Seung-jae merupakan salah satu yang terbaik di antara pemain ganda Korea Selatan. Dia menjadi juara dunia 2023 dalam dua nomor, yaitu ganda putra bersama Kang Min-hyuk dan bersama Chae Yu-jung di ganda campuran.

Selepas berpisah dengan Kang mulai November 2024, Seo tetap menjadi kompetitor tangguh pada nomor ganda putra yang menjadi fokusnya setelah Olimpiade Paris 2024. Pada 2025, dia menjuarai empat turnamen, di antaranya dari Malaysia Terbuka dan All England bersama Kim Won-ho.

Pada Piala Sudirman, Seo juga diandalkan di ganda campuran dan dia kembali bermain bersama Chae. Duet ini diturunkan pada pertandingan-pertandingan penting, yaitu saat melawan Taiwan pada penentuan juara grup, Denmark (perempat final), dan Indonesia (semifinal).

Putri Kusuma Wardani kalah dari An Se-young di Xiamen, China, Sabtu (3/5/2025), dalam semifinal Piala Sudirman Indonesia melawan Korea Selatan. Putri kalah dengan skor 18-21, 12-21.

Seo/Chae selalu menang, termasuk saat melawan Dejan Ferdinansyah/Siti Fadia Silva Ramadhanti yang menjadi pembuka semifinal Indonesia-Korea Selatan. Kemenangan diraih dengan skor 21-10, 21-15.

Semula, ganda campuran menjadi salah satu nomor yang diandalkan Indonesia untuk meraih angka. Seperti dikatakan Ketua Bidang Pembinaan dan Prestasi PP PBSI Eng Hian, sebelum semifinal berlangsung, pemilihan Dejan/Fadia didasarkan pada kebutuhan dan strategi tim.

”Kami menghitung di mana kekuatan Indonesia dan Korea Selatan. Kami melihat, kekuatan Korea ada pada tunggal dan ganda putri, jadi, kami mengandalkan tiga nomor lain,” tutur Eng Hian.

Dengan perhitungan memiliki peluang menang pada ganda campuran, tunggal putra, dan ganda putra, Indonesia mendaftarkan Fadia pada nomor ganda campuran dan putri. Ketika seorang atlet bermain pada dua nomor ganda, urutan pertandingan biasanya dimulai dengan ganda campuran dan diakhiri dengan ganda putra atau putri.

Order of play (urutan pertandingan) tersedia dalam tujuh pilihan seperti yang tertera dalam statuta BWF. Referee turnamen menentukan format yang digunakan pada setiap pertandingan untuk menghindari adanya atlet yang bermain dalam dua pertandingan beruntun atau bermain ganda lebih dulu sebelum tunggal. Referee juga memilih urutan agar atlet yang bermain dalam dua nomor memiliki waktu istirahat, minimal 30 menit di antara dua pertandingannya.

Urutan yang digunakan, kebetulan, sesuai dengan harapan Indonesia, yaitu ganda campuran, tunggal putra, tunggal putri, ganda putra, dan ganda putri. Akan tetapi, ketika kekuatan pemain kalah dari lawan, hasilnya tak sesuai harapan. Indonesia tak bisa memenangi ganda campuran.

Dejan Ferdinansyah/Siti Fadia Silva Ramadhanti tampil pada partai pertama semifinal Piala Sudirman antara Indonesia dan Korea Selatan di Xiamen, China, Sabtu (3/5/2025). Dejan/Fadia kalah dan Indonesia tertinggal 0-1.

Menurunkan Dejan sebenarnya berisiko karena dia baru diturunkan pada semifinal sehingga tak merasakan atmosfer pertandingan sebelumnya. Duet Dejan/Fadia juga belum berlangsung lama. Mereka baru tampil dalam lima turnamen pada tahun ini.

Akan tetapi, ganda campuran tak memiliki pilihan lain. Rinov Rivaldy/Gloria Emanuelle Widjaja dua kali kalah. Rehan Naufal Kusharjanto/Gloria pun tak bisa menyumbangkan angka. Rinov menang saat berpasangan dengan Pitha Haningtyas Mentari ketika melawan Inggris, tetapi performa mereka tak meyakinkan.

Dejan mengatakan, kemampuan individu Seo dan Chae sangat bagus meski mereka lama tak berpasangan. ”Mereka sudah punya pola sendiri dan itu menjadi modal mereka. Kami mencoba menerapkan pola permainan kami, yaitu menyerang, tetapi tidak mendapat celah yang cukup untuk mendapat poin,” komentar Dejan.

Daya juang tinggi

Apa yang dialami Dejan berbeda dengan ganda putra, Muhammad Shohibul Fikri/Bagas Maulana. Mereka bermain saat Indonesia tertinggal 1-2 setelah mendapat kemenangan dari Alwi dan kehilangan poin dari Putri Kusuma Wardani. Alwi menang atas Cho Geonyeop 16-21, 21-8, 21-8, diikuti kekalahan Putri dari pemain nomor satu dunia, An Se-young.

Meski Fikri bermain bersama Daniel Marthin dalam dua pertandingan, baru kali ini dia berduet dengan Bagas pada Piala Sudirman. Dalam turnamen individu, Fikri pun bersama Daniel dan Bagas bersama Leo Rolly Carnando sejak Agustus 2024.

Namun, Fikri/Bagas pernah berpasangan selama enam tahun, sejak 2018 sehingga tak butuh waktu lama untuk membangun pola permainan. Mereka ”memperpanjang napas” Indonesia setelah mengalahkan Seo/Kim 21-18, 13-21, 25-23.

Ganda putra Indonesia Muhammad Shohibul Fikri/Bagas Maulana saat bertanding melawan wakil Korsel Seo Seung-jae/Kim Won-ho pada semifinal Piala Sudirman di Xiamen, China, Sabtu (3/5/2025).

Pertandingan ini menyajikan ketegangan bagi kedua tim, terutama pada gim ketiga. Seo/Kim memperoleh peluang menang lebih dulu saat mendapat match point 20-19, tetapi, Fikri/Bagas menggagalkannya berkat daya juang mereka dan dukungan rekan-rekan satu tim yang tak henti memberi semangat sambil bernyanyi dan menabuh drum. Pasangan Indonesia juara All England 2023 itu berbalik unggul dengan mendapat match point dan memenangi pertandingan pada match point ketiga.

”Mereka bukan lawan yang mudah, tangguh sekali, tapi kami fokus pada diri kami sedniri. Di belakang, tim mendukung dengan cara luar biasa, jadi kami lebih bersemangat memberikan yang terbaik,” kata Fikri.

Tak hanya bagi rekan-rekan mereka yang duduk di tribune tim, atmosfer ketegangan juga terasa di lapangan pemanasan, tempat pemain ganda putri melakukan pemanasan. Fadia dan Amalia Cahaya Pratiwi serta Lee So-hee/Baek Ha-na menyaksikan penampilan teman mereka dari TV.

Kedua pasangan itu akhirnya mendapat kesempatan bermain dalam laga yang menjadi penentu bagi kedua tim. Setelah kehilangan gim pertama dengan mudah, Fadia/Amalia bangkit dan membuat pertandingan berjalan tiga gim meski akhirnya kalah 10-21, 21-18, 15-21.

Kerja keras Amalia/Fadia dan tangis Fadia saat menghampiri tim, setelah bertanding selama satu jam 31 menit, setidaknya memperlihatkan bahwa mereka telah berjuang maksimal untuk Merah Putih.

Hasil Indonesia-Korea Selatan 2-3

Ganda campuran

Dejan Ferdinansyah/Siti Fadia Silva Ramadhanti—Seo Seung-jae/Chae Yu-jung: 10-21, 15-21

Tunggal putra

Alwi Farhan—Cho Geonyeop: 16-21, 21-8, 21-8

Tunggal putri

Putri Kusuma Wardani—An Se-young: 18-21, 12-21

Ganda putra

Muhammad Shohibul Fikri/Bagas Maulana—Seo Seung-jae/Kim Won-ho: 21-18, 13-21, 25-23

Ganda putri

Amalia Cahaya Pratiwi/Siti Fadia Silva Ramadhanti—Lee So-hee/Baek Ha-na: 10-21, 21-18, 15-21


Kerabat Kerja

Penulis:

Yulia Sapthiani
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Rosdiana Sitompul