Semifinal Sepak Bola Putri, Kami Datang Lagi!

Setelah 21 tahun, timnas sepak bola putri Indonesia akhirnya kembali ke semifinal SEA Games. ”Garuda Pertiwi” lolos bersama tuan rumah Thailand.

11 Des 2025 10:22 WIB · Olahraga

PSSI

Oleh Rebiyyah Salasah dari Bangkok, Thailand

BANGKOK, KOMPAS — Timnas sepak bola putri Indonesia akhirnya tak hanya kembali tampil di SEA Games, tetapi juga menembus semifinal lagi. Kekalahan telak dari Thailand tetap harus jadi bahan evaluasi sepak bola putri Indonesia secara keseluruhan, tetapi saat ini waktunya menyiapkan diri maksimal demi pengalaman baru di SEA Games Thailand 2025.

Timnas sepak bola putri memastikan tiket ke semifinal SEA Games Thailand 2025 setelah Singapura takluk 0-2 kepada Thailand, Rabu (10/12/2025). Dengan hasil itu, Indonesia dan Singapura sama-sama kalah dari tuan rumah. Namun, ”Garuda Pertiwi” lebih unggul atas Singapura karena mengalahkan mereka pada Minggu (7/12/2025).

Bermain di Stadion Institute of Physical Education Chonburi Campus, Chonburi, timnas putri menaklukkan Singapura dengan skor 3-1. Kemenangan ini tercipta setelah Garuda Pertiwi mampu membalikkan keunggulan lewat gol Isa Warps (menit ke-31), Claudia Scheunemann (menit ke-62), dan Aulia Al Mabruroh (menit ke-90+1).

Di atas kertas, Indonesia memang unggul atas Singapura. Pada pertemuan sebelumnya di Piala AFF 2024, timnas putri menang 3-0. Hasil ini melengkapi lima pertemuan lain yang juga selalu dimenangi Indonesia.

Timnas sepak bola putri Indonesia menghadapi Singapura pada laga babak grup SEA Games Thailand 2025 di Stadion Institute of Physical Education Chonburi Campus, Chonburi, Minggu (7/12/2025).

Kemenangan atas Singapura lantas mengantarkan Indonesia menempati posisi kedua Grup A dengan torehan tiga poin. Hanya juara dan runner-up dari dua grup yang berhak ke empat besar.

Adapun lawan Indonesia di semifinal adalah juara Grup B yang dihuni Myanmar, Vietnam, Filipina, dan Malaysia. Anggota Grup B masih harus menyelesaikan satu pertandingan lagi untuk memastikan klasemen akhir dan kelolosan ke semifinal.

”SEA Games tahun ini terasa berbeda dari edisi sebelumnya. Kalau dulu, jujur saja, target pribadi saya hanya ingin bisa lolos dari fase grup. Namun, kali ini targetnya lebih tinggi, saya ingin pulang membawa medali,” kata bek timnas, Zahra Muzdalifah, kepada Kita Garuda.

Bagi timnas putri, SEA Games Thailand 2025 memang istimewa. Di pesta olahraga se-Asia Tenggara edisi ke-33 ini, timnas putri tampil untuk pertama kali sejak absen dalam dua edisi sebelumnya. Pada SEA Kamboja 2023 dan SEA Games Vietnam 2021, Garuda Pertiwi mundur dari turnamen.

Pemain timnas sepak bola putri Indonesia, Marsela Awi, menguasai bola saat menghadapi Singapura pada laga babak grup SEA Games Thailand 2025 di Stadion Institute of Physical Education Chonburi Campus, Chonburi, Minggu (7/12/2025).

Zahra menjadi bagian dari timnas putri ketika timnas putri terakhir kali tampil di SEA Games pada edisi Filipina 2019. Saat itu, timnas putri terhenti pada babak grup setelah kalah saing dari dua raksasa sepak bola putri Asia Tenggara, Vietnam dan Thailand, di Grup B. Indonesia pulang tanpa poin dan mencatatkan selisih minus 10 gol.

Dengan kelolosan ke semifinal di Thailand 2025, Indonesia melampaui perjalanan di Filipina 2019. Meski bergabung dengan tuan rumah di Grup A, Indonesia diuntungkan dengan mundurnya Kamboja yang membuat penghuni grup hanya terdiri atas tiga tim. Berbeda dengan tim putra, berkurangnya peserta tak membuat hasil undian fase grup direvisi.

Semifinal adalah pencapaian tertinggi timnas putri sebelumnya. Namun, pencapaian itu sudah berlalu lebih dari dua dekade, tepatnya saat SEA Games edisi Kuala Lumpur, Malaysia, 2001.

Jarak waktu yang terbentang cukup jauh, terutama bagi pemain-pemain muda yang kini menghuni timnas, seperti Claudia Scheunemann (16).

Maka, semifinal SEA Games akan menjadi pengalaman baru bagi para pemain timnas putri. Garuda Pertiwi harus fokus menyiapkan diri agar mendapatkan pengalaman baik di pencapaian baru ini.

Para pemain timnas sepak bola putri Indonesia merayakan gol ke gawang Singapura pada laga babak grup SEA Games Thailand 2025 di Stadion Institute of Physical Education Chonburi Campus, Chonburi, Minggu (7/12/2025).

Apalagi, SEA Games adalah ajang pembuktian bahwa timnas putri layak dikirim untuk bersaing di pesta olahraga regional. Selama ini, timnas putri tak pernah rutin diikutkan SEA Games meskipun ajang ini tidak mensyaratkan kualifikasi. Artinya, siapa pun sebenarnya bisa ikut serta tergantung pada keputusan setiap negara.

Setelah pada edisi Filipina 2005 jadi juru kunci, Indonesia tak dikirim lagi ke SEA Games selama empat edisi beruntun. Padahal, di Filipina, hanya ada satu grup yang diisi lima tim. Indonesia takluk kepada Myanmar, Vietnam, Thailand, dan Filipina yang memang mulai mengembangkan sepak bola putrinya.

Indonesia baru tampil lagi di Filipina 2019 meski setelah itu juga kembali absen. Terhitung sejak sepak bola putri dipertandingkan di SEA Games pada 1985, Garuda Pertiwi baru lima kali berpartisipasi.

Evaluasi keseluruhan

Di sisi lain, pelatih timnas putri, Akira Higashiyama, memasang target tinggi yang cenderung tidak realistis. ”Jika kami melewati fase grup, target kami adalah memenangi SEA Games,” ujarnya.

Target tidak realistis itu tergambar dari bagaimana Indonesia masih kesulitan menghadapi Thailand, yang sebenarnya sedang menunjukkan penurunan performa dan dalam kondisi terluka setelah gagal menembus Piala Asia 2026. Pada laga pertama SEA Games Thailand 2025, tanggal 4 Desember lalu, jurang disparitas dengan Thailand sangat terlihat.

Indonesia menelan kekalahan telak 0-8. Empat bulan lalu, Indonesia juga kalah dari Thailand di Kejuaraan ASEAN Putri 2025 dengan skor 0-7.

Pemain timnas sepak bola putri Indonesia, Aulia Al Mabruroh, menguasai bola saat menghadapi Singapura pada laga babak grup SEA Games Thailand 2025 di Stadion Institute of Physical Education Chonburi Campus, Chonburi, Minggu (7/12/2025).

Pemain timnas putri, Nafeeza Ayasha Nori, mengatakan, laga melawan Thailand benar-benar jadi sorotan utama dalam persiapan. Nyaris setiap hari mereka diajak menganalisis pertandingan-pertandingan Thailand. Alasannya, mereka ingin setidaknya bisa mengimbangi permainan tuan rumah.

Namun, tim ”Gajah Betina” mempertegas perbedaan level dengan Indonesia. Mereka masih menjadi salah satu raksasa sepak bola putri di Asia Tenggara.

Ketika Indonesia masih ”merangkak” di Asia Tenggara, Thailand sudah berlari hingga Piala Dunia. Mereka pernah mencicipi tampil di Piala Dunia Putri 2015 dan 2019. 

Kekalahan dari Thailand pun harus menjadi evaluasi keseluruhan, tidak hanya bagi timnas, tetapi juga sepak bola putri Indonesia. Kekalahan telak dan terus berulang menguak problem mendasar perkembangan sepak bola putri di Tanah Air, termasuk minimnya kompetisi.

Thailand menjelma menjadi salah satu raksasa Asia Tenggara tak lepas dari kehadiran kompetisi yang rutin. Sejak 2008, Thailand memiliki Thai Women’s League yang rutin digelar sejak 2008. Kompetisi berformat liga semiprofesional ini bahkan terdiri atas dua tingkatan,Thai Women League 1 dan Thai Women League 2.

Pemain timnas sepak bola putri Indonesia, Gea Yumanda, menguasai bola saat menghadapi Singapura pada laga babak grup SEA Games Thailand 2025 di Stadion Institute of Physical Education Chonburi Campus, Chonburi, Minggu (7/12/2025).

Di Asia Tenggara, hanya Indonesia dan Brunei Darussalam yang tak punya liga sepak bola putri saat ini. Kamboja dan Laos, yang beberapa tahun lalu masih belum dianggap sebagai ancaman, bahkan sudah konsisten menggulirkan liga. Begitu juga dengan Timor Leste yang akan meluncurkan liga pada Agustus 2025.  


Kerabat Kerja

Penulis:

Rebiyyah Salasah dari Bangkok, Thailand
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nanik Dwiastuti