Sempat Beroperasi Sehari, Jalur KA Kembali Ditutup akibat Banjir di Grobogan

Setidaknya 13 kereta api harus melewati jalur alternatif karena rel kembali terendam banjir. Padahal, sejumlah perjalanan sempat berangsur normal sehari sebelumnya.

25 Jan 2025 13:34 WIB · Ekonomi

Oleh Yosepha Debrina Ratih Pusparisa

JAKARTA, KOMPAS — Jalur kereta api di Kilometer 32+5/7 antara Stasiun Gubug dan Stasiun Karangjati, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, kembali ditutup. Curah hujan dengan intensitas tinggi menyebabkan luapan air dari Sungai Tuntang. Sebanyak 13 perjalanan KA dialihkan melalui jalur alternatif untuk menghindari area terdampak, padahal jalur utara ini baru saja dibuka kembali sehari sebelumnya.

Pada Jumat (24/1/2025), KAI telah berhasil mempercepat pemulihan jalur KA antara Stasiun Gubug dan Stasiun Karangjati. Satu jalur di bagian hulu petak lintas Semarang-Tawang-Cepu-Surabaya Pasar Turi telah dapat dilalui kereta api dengan kecepatan terbatas. Hingga pukul 19.00, seluruh perjalanan KA pada lintas tersebut telah berangsur normal.

Walakin, perjalanan kembali terganggu setelah banjir kembali melanda imbas hujan berintensitas tinggi. Luapan kembali terjadi pukul 22.25. Vice President Public Relations PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI Anne Purba mengatakan, luapan air yang menggenangi area jalur KA berisiko membahayakan perjalanan.

”Keselamatan adalah prioritas utama kami. Oleh karena itu, jalur tersebut kami tutup sementara untuk dilakukan penanganan intensif guna memulihkan kondisi secepat mungkin,” ujar Anne dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Sabtu (25/1/2025).

Tim tanggap darurat telah diturunkan. Ratusan petugas untuk memperbaiki prasarana yang dilengkapi alat berat serta material pendukung telah dikerahkan. Penanganan terus dilakukan agar operasional jalur dapat segera kembali normal.

Warga melihat kondisi rel kereta api yang teputus terkena banjir dari luapan Sungai Tuntang di Kecamatan Gubug, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, Selasa (21/1/2025). Intensitas hujan yang tinggi dalam beberapa hari ini menyebabkan bencana banjir dan longsor di sejumlah wilayah Jawa Tengah antara lain Grobogan, Kendal, dan Pekalongan. Kompas/P Raditya Mahendra Yasa 21-01-2025

Secara terpisah, Manajer Humas KAI Daerah Operasi (Daop) IV Semarang Franoto Wibowo mengatakan, luapan air mengikis rel kereta api dan tanah yang terendam. Proses perbaikan digarap secara intensif. Sembari menanti tuntasnya perbaikan, KAI memutuskan kembali merekayasa pola operasi. Rute perjalanan KA memutar melalui jalur Brumbung-Gundih-Gambringan serta jalur Brumbung-Solo-Surabaya.

Setidaknya terdapat empat pola operasi memutar yang diterapkan KAI. Setidaknya 13 KA harus melewati jalur alternatif tersebut.

Pertama, pola operasi memutar melewati Surabaya Pasar Turi-Surabaya Gubeng-Madiun-Solo Jebres-Brumbung-Semarang Tawang. Kereta relasi Surabaya-Jakarta melalui jalur ini, yakni Kertajaya (KA 219) serta Dharmawangsa (KA 131).

Kedua, rute KA melewati Gambringan-Gundih-Brumbung. Jalur ini dilalui KA Pandalungan (KA 77F) relasi Jember-Jakarta, KA Sembrani (KA 63) relasi Surabaya-Jakarta, KA Argo Bromo Anggrek (KA 3) relasi Surabaya-Jakarta, dan KA Blambangan Ekspres (KA 185B) relasi Ketapang-Jakarta.

Ketiga, pola operasi memutar akan diterapkan dengan rute Semarang TAwang-Brumbung-Gundih-Solo Jebres-Madiun-Surabaya Gubeng-Surabaya Pasar Turi. Enam KA akan melalui jalur ini, yaitu Jayabaya (KA 108) relasi Jakarta-Malang, Sembrani (KA 64) relasi Jakarta-Surabaya, Argo Bromo Anggrek (KA 4) relasi Jakarta-Surabaya, Gumarang (KA 130) relasi Jakarta-Surabaya, Pandalungan (KA 78F) relasi Jakarta-Jember, serta Sembrani Tambahan (KA 7010A) relasi Jakarta-Surabaya.

Keempat, pola serupa akan dilalui melewati Semarang Tawang-Brumbung-Gundih-Gambringan-Surabaya Pasar Turi. Hanya satu KA yang menempuh jalur alternatif ini, yaitu KA Harina (KA 126) relasi Bandung-Surabaya.

Sebelumnya, hujan deras melanda beberapa wilayah di Jawa Tengah sejak Senin (20/1/2025) petang. Imbasnya, sejumlah bencana tak terelakkan, seperti tanah longsor dan banjir. Sedikitnya 15 kabupaten/kota terendam air sehingga ribuan orang mengungsi dan belasan warga meninggal dunia (Kompas.id, 21/1/2025).

Warga dengan latar banjir yang menggenangi area persawahan di Kecamatan Gubug, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, Selasa (21/1/2025). Intensitas hujan yang tinggi dalam beberapa hari ini menyebabkan bencana banjir dan longsor di sejumlah wilayah Jawa Tengah antara lain Grobogan, Kendal, dan Pekalongan. Kompas/P Raditya Mahendra Yasa 21-01-2025

Kronologi kejadian

Dalam laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), terhambatnya jalur KA antara Stasiun Gubug dan Stasiun Karangjati disebabkan tingginya intensitas hujan di Kabupaten Grobogan. Luapan air hulu Sungai Tuntang pada Jumat (24/1/2025) memicu bencana susulan ini.

Luapan air Sungai Tuntang menyentuh tanggul bantalan rel kereta api sekitar pukul 21.00. Mulanya, aliran berupa rembesan air perlahan meningkat dengan arus makin deras pada pukul 22.00. Setelah itu, bantalan rel yang telah ditambal tidak mampu menahan derasnya arus air sehingga kembali ambles.

”Dengan kondisi tersebut, perjalanan KA untuk Jalur Jakarta-Surabaya wilayah utara kembali terkendala. KAI Daop IV Semarang kembali menutup jalur dan menerapkan rekayasa pola operasi,” tutur Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari, dikutip dari keterangan resmi.

Satuan tugas gabungan dari beragam lembaga dan organisasi, Abdul melanjutkan, dikerahkan untuk menangani bencana susulan ini. Beberapa di antaranya adalah Badan Penanggulangan Bencana Daerah, Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan, TNI, Polri, dan Palang Merah Indonesia.

Infografik peta lokasi rel terputus banjir di dekat Stasiun Gubug

Berdasarkan perkembangan terakhir, tingkat elevasi Bendung Glagapan telah menembus ambang batas. Pengatur debit air sungai Tuntang itu memiliki tingkat elevasi pada level 1970, dari ambang batas level tertinggi yakni 1905 per Sabtu pukul 00.00. Alhasil, statusnya dinyatakan awas.

“BPBD Kabupaten Grobogan telah memberikan instruksi kepada perangkat desa untuk segera melaksanakan evakuasi warga, termasuk hewan ternak atas banjir susulan tersebut. Beberapa wilayah pun kembali dilaporkan mulai dikepung banjir susulan,” ujar Abdul.

Kurang mitigasi

Banjir Grobogan kerap terjadi hampir saban tahun. Namun, pemerintah daerah (pemda) bersama para stakeholders lain belum dapat mengantisipasinya. Sebab, persoalan ini perlu dikaji secara komprehensif, mulai pemerintah kabupaten, provinsi, hingga pusat.

“Infrastruktur perkeretaapian memang tanggung jawabnya di pemerintah. KAI hanya operator sarana. Sebenarnya, dalam pemetaan masalah itu, kan, sudah jelas. Saya juga heran, sebenarnya ini bencana, kan, tiap tahun, mengapa pemerintah setempat tidak ada mitigasi?” ujar Direktur Eksekutif Institut Studi Transportasi Deddy Herlambang.

Padahal, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG juga telah memprediksi. Pihaknya telah memprediksi akan terjadi hujan lebat, sehingga mitigasi perlu dilakukan.

Wakil Ketua Forum Angkutan Jalan dan Kereta Api Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Deddy Herlambang seusai mengikuti konferensi pers Laporan Akhir Hasil Investigasi Kecelakaan Perkeretaapian di Gedung KNKT, Jakarta, Jumat (16/2/2024). Ia menyebut 60 persen sinyal kereta api di Indonesia masih bersistem mekanik. KOMPAS/YOSEPHA DEBRINA R PUSPARISA 16/2/2024

Sejak 2010, kawasan Grobogan kerap dilanda banjir. Hal itu dipicu pula karena tata guna lahan yang tidak sempurna, sehingga harus ditata ulang.

“Mungkin sungai-sungai di sana untuk drainasenya sudah dangkal. Itu, kan, harus dikeruk lagi, itu juga pekerjaan bupati. Kalau bupati tidak mampu, naik ke provinsi, sehingga Kementerian Pekerjaan Umum (PU) dapat membantu hingga eksekusi di lapangan,” kata Deddy.

Dinas PU dinilai turut bertanggung jawab atas banjir yang kerap terjadi. Irigasi kurang terurus, ketimbang jalan tol dan pembangunan bendungan atau waduk baru. Persoalan ini juga harus dikoordinasikan lintas sektoral antar kementerian/lembaga. Sebab, Kementerian Perhubungan, khususnya Direktorat Jenderal Perkeretaapian tidak mungkin mengurus seluruh aspek masalahnya.

“Kalau kita hanya mikir hanya soal rel ini terus, ya percuma. Ini sudah dibeton, tahun depan ya banjir lagi. Pada kawasan berisiko bencana, ketika pembangunan tidak diimbangi dengan penataan lahan atau irigasi yang baik ya sama saja. Tahun depan akan banjir lagi,” ujar Deddy.


Kerabat Kerja

Penulis:

Yosepha Debrina Ratih Pusparisa
 | 

Editor:

Muhammad Fajar Marta
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .