Efek Buruk Perang Tarif Mengantar China-AS Duduk Berunding di Swiss

Sikap itu menjadi langkah maju untuk menyelamatkan perekonomian global. Isu fentanil juga akan dibicarakan.

11 Mei 2025 08:00 WIB · Internasional

Oleh Mahdi Muhammad

WASHINGTON, SABTU — Akhir pekan ini dunia mengamati situasi yang terjadi di Geneva, Swiss, lokasi delegasi Amerika Serikat dan China bertemu. Mereka hendak mencari jalan keluar dari perang dagang yang dipandang merugikan AS-China dan dunia. Tebersit niat Presiden Amerika Serikat Donald Trump menurunkan tarif impor barang asal China hingga 80 persen. Namun, langkah itu dirasa belum cukup mengatasi potensi stagnasi ekonomi global.

”Tarif 80 persen kepada China tampaknya tepat! China harus membuka pasarnya bagi AS. Itu akan sangat baik bagi mereka!!! Pasar tertutup tidak lagi berfungsi!!!” tulis Trump dalam unggahan media sosial, Jumat (9/5/2025) malam, sehari sebelum pertemuan dimulai (Kompas.id, 10 Mei 2025). Meski begitu, Trump mengatakan, dirinya juga tidak berharap bahwa kesepakatan akan terjadi dalam waktu yang sangat singkat.

Sejumlah anggota delegasi China berjalan menuju Kantor Utusan Tetap Swiss untuk PBB di Geneva, Swiss, Sabtu (10/5/2025), yang menjadi lokasi perundingan dagang dengan Pemerintah Amerika Serikat.

Wu Xinbo, Direktur Pusat Studi Amerika Universitas Fudan, Shanghai, mengatakan, Beijing akan mengambil pendekatan yang sangat hati-hati. Pemerintah China, kata penasihat Menteri Luar Negeri China Wang Yi itu, menetapkan ekspektasi yang lebih rendah pada pertemuan ini.

China pun melihatnya lebih sebagai eksplorasi dibandingkan dengan menghasilkan proses tawar-menawar secara langsung. Utusan Presiden Xi Jinping dalam negosiasi itu, kata Wu, akan mengukur keseriusan lawan bicara mereka untuk mencari terobosan.

Melansir laporan Bloomberg, gabungan produk domestik bruto keduanya sebesar 46 triliun dollar AS akan terpukul jika negosiasi gagal. Bloomberg Economics memperkirakan kebijakan tarif Trump yang memicu pembalasan dari China telah menghapus 90 persen perdagangan bilateral yang nilainya mencapai 700 miliar dollar AS.

Wu mengatakan akan sama-sama menguntungkan jika tarif China diturunkan hingga 20 persen. ”Jika kita dapat kembali ke tahap itu, saya pikir itu akan menjadi kemajuan besar dalam menuju negosiasi yang lebih konstruktif,” kata Wu.

Di sisi lain, Menteri Ekonomi Swiss Guy Parmelin yang bertemu delegasi kedua negara mengatakan, pertemuan itu sendiri sudah merupakan sebuah keberhasilan. ”Jika peta jalan dapat muncul dan mereka memutuskan untuk melanjutkan diskusi, itu akan menurunkan ketegangan,” katanya.

Dia mengatakan, meski secara resmi negosiasi diumumkan akan berlangsung hingga Minggu (11/5/2025), negosiasi bisa berlanjut hingga hari Senin.

Faktor pendorong

Mengacu laporan Bloomberg, kebijakan Trump tentu telah mengganggu perekonomian domestik China. Akan tetapi, pada saat yang sama, ancaman terhadap perekonomian dan situasi domestik politik AS juga sangat besar. Situasi itulah yang mendorong Washington berdialog dengan Beijing.

Beberapa pekan lalu, sejumlah pengusaha dan asosiasi industri retail telah bertemu Trump dan para pembantunya di Gedung Putih. Mereka mengingatkan potensi kekurangan stok sejumlah barang kebutuhan hidup. Hal itu akan menimbulkan efek pada sektor lainnya, mulai dari ketenagakerjaan hingga logistik. Federal Reserve atau Bank Sentral AS telah mengeluarkan peringatan tentang potensi meningkatnya ketidakpastian akibat kebijakan tarif yang ditetapkan Trump.

Infografik halaman 1 Kebijakan Tarif Donald Trump

”Kami mulai melihat dampak sebenarnya dari tarif Presiden Trump pada rantai pasok,” kata Jonathan Gold, Wakil Presiden Federasi Ritel Bidang Kebijakan Rantai Pasok dan Bea Cukai, dilansir New York Times. ”Pada akhirnya, tarif ini akan memengaruhi konsumen dalam bentuk harga yang lebih tinggi dan ketersediaan yang lebih sedikit di rak-rak toko.”

Tidak hanya bagi China dan AS, konsekuensi dari perang dagang yang dipimpin AS berdampak ke seluruh dunia. Organisasi Perdagangan Dunia memangkas perkiraannya untuk perdagangan barang tahun ini.

Hal serupa membuat Dana Moneter Internasional menurunkan ekspektasi pertumbuhannya tahun ini dan tahun 2026. IMF juga memperingatkan potensi perburukan jika perang dagang ini tidak dikelola dan dicarikan jalan keluarnya.

Tekanan tak hanya dirasakan dari sisi perekonomian. Hasil jajak pendapat sejumlah lembaga memperlihatkan tingkat kepuasan kinerja 100 hari pemerintahan Trump sangat rendah. Laporan CNN menyebut tingkat persetujuan rakyat AS terhadap Trump adalah 41 persen, terendah untuk semua presiden AS yang baru terpilih sejak setidaknya masa pemerintahan Dwight Eisenhower.

Bahkan, menurut jajak pendapat yang dilakukan NPR dan PBS bekerja sama dengan lembaga survei Marist, kini dua kali lipat warga AS menyatakan pemerintahan Presiden Trump pantas mendapat nilai F daripada A dalam mengelola pemerintahan dan kebijakannya.

Masalah fentanil

Selain soal tarif, salah satu hal yang dipandang menentukan keberhasilan negosiasi ini adalah masalah fentanil. Merujuk laporan The Wall Street Journal, selain mengutus Wakil Perdana Menteri He Lifeng, Presiden Xi juga dilaporkan mengirim Menteri Keamanan Publik dan pemimpin senior di dalam Dewan Negara Wang Xiaohong untuk berunding dengan Menkeu AS Scott Bessent dan Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer. Dimasukkannya Wang dalam delegasi China menandakan pentingnya persoalan fentanil dalam hubungan kedua negara.

Pemerintahan Trump berulang kali menuding ekspor fentanil yang tidak terkendali telah membuat AS dalam krisis penggunaan narkoba. AS mendesak Beijing untuk mengambil tindakan yang lebih drastis untuk menghentikan produksi dan ekspor bahan kimia yang digunakan untuk membuat fentanil.

Foto pada 6 Mei 2025 memperlihatkan sejumlah wajah individu yang ditangkap oleh Kantor Kejaksaan Agung Amerika Serikat pascaoperasi penyelundupan obat-obatan terlarang, termasuk di dalamnya fentanil.

”Kehadiran Wang berarti satu hal: fentanil tidak hanya ada di atas meja, tetapi juga bagian penting dalam pembicaraan perdagangan AS-China pada tahap ini,” kata Yun Sun, Direktur Program China Stimson Center, sebuah lembaga pemikir di Washington. ”Seberapa bersedia China untuk bekerja sama akan menggambarkan betapa bersemangatnya mereka membuat kesepakatan perdagangan.”

Para pembantu Trump telah mengirimkan pesan agar Beijing menjatuhkan hukuman yang berat kepada para produsen bahan kimia prekursor fentanil. Mereka terindikasi menjualnya ke jaringan produsen di Meksiko dan sejumlah negara lain. Setelah itu, produk fentanil yang dihasilkan diselundupkan ke AS.

Yang diinginkan Trump dan para pembantunya saat ini adalah tindakan tegas Beijing terhadap produsen dan penjual  bahan kimia yang melayani perdagangan ilegal tersebut. Mereka memasarkan barang dagangan mereka secara terbuka secara daring.

”Mulailah memasukkan orang-orang besar dan penting ke balik jeruji besi sebagai sinyal bagi semua industri atau pasar gelap,” kata salah satu pejabat pemerintah AS. ”Kami belum melihat itu.” (REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Mahdi Muhammad
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji