Perang tarif berdampak pada situasi otomotif global. Di pasar, saling sikut dan perang harga tak bisa dihindari, termasuk di negara berkembang.
26 Apr 2025 17:37 WIB · Internasional
Dua pekan terakhir, para pelaku dunia otomotif seolah rehat sejenak. Mereka ”menyisih” dari hiruk pikuk kontroversi kebijakan tarif Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang memicu perang dagang dan kepanikan global.
Pekan lalu, New York menjadi tuan rumah pameran produk otomotif New York Auto Show. Pekan ini, giliran Shanghai menjadi tuan rumah pameran sejenis.
Di Pusat Konvensi Javits, New York, produsen otomotif mencoba menampilkan produk-produk barunya untuk menggairahkan pasar. Subaru, contohnya, mengeluarkan desain SUV Outback terbarunya setelah enam tahun terakhir bertahan dengan wajah lama.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/26/43fe4fd2989ca1f4dd7219fee3ddff21-063_2209983668.jpg)
Begitu juga dengan Nissan. Setelah terguncang akibat pembatalan merger dengan Honda, mereka mencoba peruntungan dengan menyegarkan Nissan Pathfinder dan sejumlah model yang diproduksi di AS. Sejalan dengan moto Presiden Trump, Make America Great Again, Nissan mencoba peruntungannya.
Di Shanghai, situasi hampir mirip terjadi. Diikuti hampir 1.000 peserta pameran, produsen mobil asing bersemangat memperlihatkan bahwa mereka tak tertinggal terlalu jauh dibandingkan dengan kompetitornya asal China, terutama dalam produksi kendaraan listrik.
Jeff Walters, kepala penjualan Subaru di AS, sempat tersenyum lebar ketika berbicara mengenai penyegaran penampilan Outback. Namun, senyumnya memudar ketika pertanyaan yang muncul bukan tentang produknya, melainkan pertanyaan soal tarif. Tidak hanya dari jurnalis, tapi juga dari calon konsumen.
CEO BMW Group Jerman, Oliver Zipse, di Shanghai, mengakui situasi sekarang tak mudah bagi mereka. Produsen otomotif global menghadapi tantangan besar. Bagi BMW, pasar terbuka adalah jawaban dan bukan sebaliknya. ”Di BMW, kami akan terus mengadvokasi pasar terbuka,” kata Zipse.
Banyak analis menilai perang tarif yang dicetuskan Trump membuat situasi menjadi lebih kompleks. Baik bagi para pebisnis, produsen otomotif, maupun calon konsumen. Tidak hanya di Amerika Serikat, tapi juga global.
Situasi pasar otomotif saat ini tengah limbung karena pertarungan teknologi, khususnya di antara negara-negara produsen. Amerika Serikat, China, Jepang, dan Korea Selatan serta negara-negara Eropa adalah pusat-pusat produksi otomotif yang kini tengah bertarung satu sama lain untuk memenangi pasar.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/26/58ceab6a02d01bacc64c0cdcf5ea5b21-000_43AP3WL.jpg)
Pertarungan terutama dalam bidang teknologi kendaraan listrik dan peranti lunak yang digunakan dalam teknologi ADAS atau advanced driver-assistance system, sistem bantuan pengemudi tingkat lanjut. Ujung teknologi ini nantinya adalah kendaraan otonom atau swakemudi.
Dengan dukungan Pemerintah China, produsen otomotif China tidak hanya mampu menguasai teknologi otomotif terdepan, tetapi juga berhasil mengepung pasar potensial. Di Eropa, para pebisnis otomotif China menguasai banyak perusahaan otomotif terkemuka dan menjadikannya jangkar untuk pasar produk-produknya.
Di wilayah Amerika Utara, mereka berhasil membangun pusat-pusat produksi dan memasarkan produknya untuk kawasan tersebut hingga ke Afrika. Di Asia, mereka memusatkan produksi di Asia Tenggara, seperti di Thailand, Malaysia, dan Indonesia. Sentra produksi di Asia Tenggara ini juga untuk menjangkau pasar potensial seperti Australia.
Di AS, kebijakan tarif Trump yang semula dikatakan bisa mendorong pertumbuhan atau kembalinya industri manufaktur, termasuk otomotif, kini diragukan efektivitasnya. Bahkan, dipandang lebih berdampak negatif bagi perekonomian dan kehidupan warga AS.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/11/1a1cd213fe07db495d6809c883aca697-000_39XL4CE.jpg)
Goldman Sachs memerkirakan penjualan kendaraan bermotor akan turun signifikan, sebesar 1 juta unit, dari perkiraan 16,25 juta unit menjadi hanya 15,4 juta unit. Proyeksi pada tahun berikutnya juga sama, menurun, menjadi hanya 15,25 juta unit.
Goldman Sachs juga menurunkan perkiraan produksi mobil global tahun ini dari 90,4 juta unit menjadi 88,7 juta unit. Produksi global untuk tahun 2026 dipangkas menjadi 90,7 juta unit dari sebelumnya 92,6 juta.
Penurunan tidak terlepas dari naiknya harga kendaraan pascatarif baru. Dilansir dari laman The New York Times, mengutip data firma konsultan Anderson Economic Group, tarif bisa menaikkan harga mobil baru, bergantung pada modelnya.
Untuk jenis sedan kecil atau crossover, kenaikan bisa berkisar 2.500-4.500 dollar AS. Untuk SUV, diperkirakan kebijakan tarif Trump bisa mendorong kenaikan harga 10.000-12.000 dollar AS. Adapun untuk kendaraan listrik jenis SUV, kenaikan bisa melebihi angka 15.000 dollar AS.
Kenaikan terbesar bisa dirasakan para peminat mobil mewah asal Asia dan Eropa. Diperkirakan kenaikannya bisa mencapai 20.000 dollar AS, bahkan lebih. ”Ini situasi yang gila bagi calon konsumen, dan bahkan lebih sulit bagi produsen,” kata Patrick Anderson, bos firma Anderson, dilansir dari New York Times.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/07/12/d24380e6-9a20-4d6a-bba8-0fa04f587d95_jpg.jpg)
Tingginya harga kendaraan hampir pasti akan membuat calon konsumen berpikir beberapa kali untuk membeli mobil baru. Tak hanya karena potensi kenaikan harga mobil, tetapi juga karena perusahaan pembiayaan pun menaikkan tagihan bulanan kepada calon konsumen. Sam Abuelsamid, Wakil Presiden Telemetry, mengatakan, potensi penurunan penjualan bisa menggoyahkan produsen otomotif, termasuk potensi pemutusan hubungan kerja.
”Dengan penjualan yang menurun, Anda akan mengalami PHK,” kata Abuelsamid. ”Bahkan jika sebagian produksi dialihkan ke AS, itu tidak akan cukup untuk mengimbangi hilangnya lapangan kerja akibat biaya yang lebih tinggi dan penjualan yang lebih rendah.”
Untuk saat ini, pasar tidaklah ramah. Sebagai gambaran, angka penjualan dua merek asal Jepang, Honda dan Nissan, hingga Maret 2025 turun 34 persen dan 28 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.
Begitu juga dengan Tesla dan Volkswagen. Angka penjualan kedua merek tersebut turun 22 persen dan enam persen pada kuartal pertama.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/26/c4ee80b8909e70c5b6e53085e329509f-000_436V4JN.jpg)
Seretnya penjualan di China mendorong produsen otomotif untuk melempar produknya ke luar. Pasar Amerika Latin, Eropa timur, Timur Tengah, Asia Tenggara, Australia, dan Oseania menjadi tujuan banyak produsen otomotif, termasuk produsen asal China. Tahun lalu, China mengekspor 6,4 juta kendaraan penumpang, lebih dari 50 persen di atas Jepang yang berada di peringkat kedua, menurut konsultan AlixPartners.
President of Great Wall Motor (GMW) International Parker Shi kepada jurnalis Harian Kompas Herlambang Jaluardi yang mewawancarainya di Shanghai, China, Kamis (24/4/2025), mengatakan, kebijakan tarif Trump tidak serta-merta merugikan produsen otomotif China. Bahkan sebaliknya, Shi menyebut keputusan itu membuat produsen China tumbuh semakin pesat, terutama karena mereka menyasar pasar di negara atau kawasan lain. Tidak menggantungkan diri pada AS.
”Perang harga cenderung kompetisi yang tidak menyenangkan. Kami ingin menjaga relasi dengan mitra di luar negeri, seperti anggota Uni Eropa. Begitu juga dengan wilayah lain, seperti Kazakhstan,” katanya. Ekspansi bisnis, dalam kacamata Shi, mendorong tumbuhnya perekonomian di negara tujuan.
”Kami berusaha turut menghidupkan perekonomian lokal di negara tempat kami hadir dengan membuka rantai penjualan, menyediakan lapangan kerja. Kami ingin bersaing dalam hal nilai seperti ini, bukan persaingan harga,” kata Parker.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/16/7fdcb58e046401f7d802ed3a7d138190-IMG_0717.JPG)
Serbuan produk luar ke pasar otomotif sebuah negara mau tidak mau membuat produsen lokal waspada. Di tengah situasi yang tak mudah, persaingan makin ketat, bahkan bisa saling sikut. Indonesia pun tak ketinggalan diterpa tantangan itu.
”Kita harus hati-hati. Mungkin akan senggol-senggolan karena daya beli belum terbentuk dengan baik. Semoga minat mengetahui produk dan teknologi otomotif terbaru bisa menjadi magnet calon konsumen. Tidak hanya di Jakarta, tapi juga Indonesia, bahkan di kawasan,” kata Ketua Umum Gaikindo Yohannes Nangoi di Jakarta, pekan lalu.
Nangoi menyebutkan, industri otomotif Indonesia masih positif. Gaikindo pada tahun ini menetapkan target penjualan di angka sekitar 900.000 unit. Yohannes berharap pasar otomotif tidak terganggu akibat produk asing yang membanjir dan pasar produsen lokal terpotong.
Sekretaris Jenderal Gaikindo Kukuh S Kumara mengusulkan agar biaya-biaya tambahan yang muncul dan memberatkan produsen dan konsumen dipangkas. Kukuh juga mengusulkan agar pajak yang membebani dipangkas karena dinilai terlalu tinggi.
”Bisa enggak pajak diolah lagi sehingga enggak terlalu tinggi agar calon konsumen juga mendapat keringanan. Pembelian naik, volume juga akan naik,” katanya. (AFP/REUTERS)
Penulis:
Mahdi Muhammad, Herlambang JaluardiEditor:
Nur HidayatiPenyelaras Bahasa:
Nur Adji