PARIWISATA

Semua Mata Menyorot Amerika, Gonjang-ganjing di Balik Piala Dunia 2026

AS dengan sederet kontroversinya diperkirakan mengurangi animo dalam menikmati Piala Dunia secara langsung. Turnamen ini semestinya jadi ajang perdamaian dunia.

04 Apr 2026 07:13 WIB · Ekonomi & Bisnis

AFP

Oleh Yosepha Debrina Ratih Pusparisa

Kurang dari 100 hari, Piala Dunia 2026 akan segera dimulai. Perhelatan besar yang dinantikan masyarakat dunia itu akan berlangsung pada 11 Juni hingga 19 Juli 2026. Ajang persahabatan dan perdamaian itu telah lama dinantikan.

Kali ini, tuan rumah berasal dari tiga negara di Amerika Utara, yakni Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat. Pertandingan-pertandingan itu akan dilaksanakan di 16 kota. Luasnya cakupan pelaksanaan Piala Dunia yang diadakan tiap empat tahun ini tentu akan menarik banyak wisatawan dari berbagai belahan dunia.

Megaturnamen sepak bola ini diperkirakan bakal menarik sekitar 1,2 juta pengunjung internasional. Beberapa di antaranya meliputi para penonton dan pendamping-pendampingnya yang tak bertiket, perwakilan tim nasional, serta panitia pertandingan, seperti dikutip Tourism Economics dalam CBS News.

Kick off Piala Dunia 2026 akan jatuh pada 12 Juni 2026 di Los Angeles. Sebanyak 78 pertandingan akan tersebar di 11 kota di AS, dengan tambahan 26 permainan juga akan berlangsung di Meksiko dan Kanada. Laga final akan dilaksanakan di MetLife Stadium di East Rutherford, New Jersey, pada 19 Juli 2026.

Acara pamungkas yang dinanti-nanti warga dunia ini bakal menguntungkan para tuan rumah, khususnya AS, yang mengalami kemerosotan jumlah kunjungan pada 2025. Tahun lalu, jumlah kunjungan internasional turun 6,3 persen. Namun, jumlahnya diproyeksikan tumbuh 3,7 persen pada tahun ini, sebagian digerakkan Piala Dunia.

Pekerja membawa ember di Stadion Azteca saat renovasi menjelang Piala Dunia 2026, di Kota Meksiko, Kamis (26/3/2026).

Dalam laporan FIFA, sekitar 6,5 juta orang diperkirakan hadir ke Piala Dunia 2026. Pengeluaran berkaitan dengan turnamen diproyeksikan mencapai 13,9 miliar dolar AS, setara Rp 236,5 triliun dengan kurs Rp 17.015 per dolar AS. Hal itu meliputi penanaman modal, biaya tuan rumah, anggaran FIFA, dan perkiraan pengeluaran turis.

”Dampak global secara ekonomi dan sosial. Untuk ekonomi, dampak finansial langsung dan tidak langsung didapat dari pariwisata dan pengeluaran berkaitan dengan acara. Untuk sosial, nilai moneter dari kontribusi nonfinansial, termasuk hal menguntungkan dan merugikan,” demikian tertulis dalam laporan.

Pemasukan kotor yang disebut sebagai dampak ekonomi utama diperkirakan mencetak 80,1 miliar dolar AS atau Rp 1.362,9 triliun. Piala Dunia 2026 ini akan mencetak pertumbuhan ekonomi (GDP) hingga 40,9 miliar dolar AS, setara Rp 695,9 triliun.

”Proyeksi pariwisata dalam Piala Dunia 2026 begitu menjanjikan. Gelombang pengunjung akan menghasilkan miliaran dolar AS dalam aktivitas ekonomi, menguntungkan bidang pelayanan, transportasi, dan sektor retail,” seperti tertulis dalam laporan FIFA.

Dari helatan besar ini, 62 persen keuntungan disumbang sektor pariwisata. Keuntungan lain merupakan kontribusi dari aspek olahraga (32 persen) dan hiburan (6 persen).

Infografik Undian Babak Penyisihan Piala Dunia 2026

Batu sandungan

Melansir Forbes, Presiden FIFA Gianni Infantino mengatakan berulang kali bahwa tiket Piala Dunia cepat terjual habis. Permintaan terus bertambah dari jumlah tiket yang ditawarkan. Namun, pernyataan itu dibantah dengan kemungkinan-kemungkinan lain, mempertimbangkan sederet dinamika yang terjadi.

”Mereka menjual tiket-tiket lebih awal bagi pelanggan domestik. Hal ini meninggalkan pertanyaan besar mengenai pengunjung internasional. Aspek ini penting dipikirkan karena tiap pengunjung internasional menghabiskan sekitar empat kali lipat dibandingkan pengeluaran perorangan turis AS,” ujar profesor di University of Central Florida’s Rosen College of Hospitality Management, Alan Fyall.

Pada saat bersamaan, Departemen Luar Negeri memiliki sistem prioritas untuk mempercepat aplikasi visa bagi para penggemar sepak bola yang telah mengantongi tiket. Kondisi ini tentu berpotensi menomorduakan banyaknya permohonan visa para pengunjung internasional, apalagi pengurusan visa AS terkenal panjang dan rumit.

Secara historis, banyak penggemar sepak bola tanpa tiket tetap pergi ke tuan rumah Piala Dunia. Upaya ini dilakukan demi menikmati festival penggemar sepak bola dan merasakan atmosfer kemenangan ketika tim favoritnya menang pada babak-babak pertama.

”Saya akan terkejut jika ada lonjakan jumlah penggemar sepak bola dari luar negeri saat menit-menit terakhir. Tidak mudah untuk bisa ke lokasi turnamen pada saat-saat terakhir, apalagi dalam kondisi seperti sekarang ini,” tutur Fyall.

Workers renovate the Azteca Stadium during a press tour ahead of the 2026 World Cup, in Mexico City, Thursday, March 26, 2026. (AP Photo/Marco Ugarte)

Kekhawatiran lain juga diutarakan CEO Asosiasi Perjalanan AS Geoff Freeman. Ia menekankan, ”Negara Paman Sam” merupakan satu-satunya negara besar di dunia dengan penyusutan tren perjalanan pada 2025. Situasi itu menimbulkan tanda tanya apakah pemerintah akan bersikeras menetapkan kebijakan yang menekan pariwisata, seperti biaya visa baru.

Tiap pengunjung internasional dikenai biaya 100 dolar AS atau Rp 1,7 juta untuk masuk taman nasional. Ada pula kebijakan bea cukai dan perlindungan perbatasan AS yang mengharuskan wisatawan internasional menunjukkan riwayat media sosialnya.

Isu-isu itu belum mewakili semua masalah yang sebenarnya menghambat AS. Para pengunjung internasional juga ditekan dengan kebijakan-kebijakan rumit saat berhadapan dengan pihak imigrasi, diskriminasi terhadap paspor-paspor kelompok LGBTQ+, penjagaan ketat batas antarnegara, serta fluktuasi mata uang, seperti tertulis dalam Euro News.

Pemerintah AS juga melarang perjalanan dari sejumlah negara, termasuk empat negara yang lolos kualifikasi Piala Dunia, yakni Iran, Senegal, Pantai Gading, dan Haiti. Pihaknya juga mengenakan ”pungutan resmi” senilai 250 dolar AS atau Rp 4,3 juta untuk turis-turis non-imigran dan visa bisnis.

Dalam laporan firma analitik pelayanan CoStar dan Tourism Economics, permintaan penginapan di AS selama Juni-Juli diperkirakan hanya tumbuh tipis. Peningkatan pendapatan per kamar yang tersedia (RevPAR) hanya tumbuh 1,7 persen secara tahunan. Angka itu sekitar seperempat dari peningkatan keseluruhan yang diterima AS saat terakhir menjadi tuan rumah Piala Dunia pada 1994.

Presiden Donald Trump berdiri di atas panggung di samping Piala Dunia FIFA setelah menerima Hadiah Perdamaian FIFA selama pengundian untuk Piala Dunia sepak bola 2026 di Kennedy Center di Washington, 5 Desember 2025.

Hingga awal Februari, menurut data Cirium, pemesanan tiket pesawat dengan tujuan kota-kota penyelenggara turnamen justru menyusut pada Juni mendatang. Tingkat pemesanan di Eropa turun 5 persen dibandingkan tahun lalu, begitu pula Asia yang mencatatkan penurunan 3,6 persen. Hanya Amerika Selatan yang menunjukkan kenaikan 0,2 persen.

Ketegangan di Timur Tengah

Ketegangan yang memanas di Timur Tengah antara AS-Israel dan Iran diperkirakan menurunkan animo penggemar sepak bola untuk menikmati turnamen secara langsung. Kondisi ini memperparah ragam skenario optimisme yang disusun.

Profesor di University of Central Florida’s Rosen College of Hospitality Management, Alan Fyall, mengemukakan, momen perang Iran sungguh menantang bagi pariwisata. Ketidakpastian merupakan hal buruk bagi sektor tersebut. Pariwisata bergantung pada stabilitas dan keselamatan, seperti dikutip dari Forbes.

Mengutip 7News, Juru Bicara Aplikasi Going Travel Katy Nastro mengatakan, dinamika perjalanan ke lokasi-lokasi tuan rumah Piala Dunia 2026 tampaknya tidak semenggairahkan yang dinanti.

”Piala Dunia ini, meskipun merupakan acara yang menggembirakan dan banyak negara menantikannya, tampaknya jumlah perjalanannya tidak seperti yang kami antisipasi. Jika tekanan ini makin bertambah, akan makin sulit bagi kota-kota tuan rumah untuk mengisi kursi-kursi yang telah disiapkan bagi para wisatawan mancanegara,” tutur Nastro.

Trofi Piala Dunia dipamerkan di New York, Kamis (16/6/2022) setelah FIFA mengumumkan 16 kota penyelenggara Piala Dunia 2026 yang berada di tiga negara yaitu Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. ***The FIFA World Cup trophy is displayed during an event in New York after an announcement related to the staging of the FIFA World Cup 2026, on June 16, 2022. - Mexico City's iconic Azteca Stadium and the Los Angeles Rams' multi-billion-dollar SoFi Stadium were among 16 venues named on June 16 to stage games at the 2026 World Cup being held in the United States, Canada and Mexico. (Photo by Yuki IWAMURA / AFP)

Meski saat ini dinilai terlalu dini untuk melihat seberapa besar dampaknya, para pelaku industri telah bersiap. Maskapai-maskapai telah menambah jumlah penerbangan. Banyak hotel telah menyiapkan diri akan hadirnya kerumunan. Sementara pelaku usaha transportasi sudah bersigap untuk menyambut penggemar. 

Ketegangan geopolitik dan kondisi internal AS memang bakal berpengaruh pada animo masyarakat menikmati Piala Dunia 2026. Jika situasi tidak segera membaik, maka skenario optimisme berisiko jadi isapan jempol belaka.

Bukan tidak mungkin, segala upaya yang disiapkan sejak jauh hari tidak berjalan optimal karena kurangnya kerendahan hati untuk menyambut dan memeriahkan Piala Dunia 2026. Ajang sepak bola semestinya menyatukan semua orang sekaligus menjadi ajang persatuan dan perdamaian.


Kerabat Kerja

Penulis:

Yosepha Debrina Ratih Pusparisa
 | 

Editor:

Muhammad Fajar Marta
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nanik Dwiastuti