Sengketa Thailand Vs Kamboja, ASEAN di Mana?

Seperti api dalam sekam, jika tak terselesaikan—atau setidaknya dikelola—sengketa Thailand-Kamboja bisa membesar menjadi konflik militer. ASEAN harus turun tangan.

18 Jun 2025 07:10 WIB · Tajuk Rencana

Oleh REDAKSI

Mekanisme bilateral gagal meredakan sengketa perbatasan antara Kamboja dan Thailand. ASEAN, organisasi kawasan yang menaungi mereka, saatnya turun tangan.

Sudah tiga pekan ini Kamboja dan Thailand, dua negara anggota Perhimpunan Bangsa-bangsa Asia Tenggara (ASEAN), bersitegang. Pemicunya persoalan lama, yakni isu perbatasan kedua negara. Sejumlah upaya ditempuh, termasuk berunding melalui Komite Bersama Kamboja-Thailand (JBC) tentang Penetapan Batas Tanah, tetapi tak membuahkan hasil.

Bahkan, seperti diberitakan, Senin (16/6/2025), tokoh dari kedua negara saling melontarkan ancaman. Presiden Senat Kamboja Hun Sen menyatakan melarang impor buah dan sayuran dari Thailand jika Bangkok tak membuka semua pos pemeriksaan di perbatasan kedua negara. Ia  mengimbau seluruh warga Kamboja di Thailand pulang kampung agar tak terkena diskriminasi (Kompas, 17/6/2025).

Presiden Senat Kamboja Hun Sen dalam kongres bersama antara Senate dan Majelis Nasional di Phnom Penh, Kamboja, Senin (2/6/2025).

Perdana Menteri Thailand Paetongtarn Shinawatra menyebut tidak akan menoleransi misinformasi, seperti isu penutupan pos perbatasan. Ia juga tidak terima, negaranya digertak dengan ancaman-ancaman. Sebelumnya, Kamboja melarang pemutaran film-film Thailand di negaranya dan mengancam akan menghentikan pembelian listrik, internet, dan produk Thailand lainnya.

Gagal menyelesaikan secara bilateral melalui perundingan JBC di Phnom Penh, 14-15 Juni lalu, Kamboja membawa kasus ini ke Mahkamah Internasional (ICJ). Thailand menolak dan menyatakan tak akan menerima putusan ICJ. Bangkok tetap ingin penyelesaian bilateral.

Hawa permusuhan dua negara bertetangga ini memanas sejak meletus insiden 28 Mei lalu. Saat itu, tentara Kamboja dan Thailand baku tembak di area sengketa di perbatasan kedua negara, menewaskan seorang tentara Kamboja. Insiden ini pun menyalakan kembali bara lama sengketa perbatasan.

This handout photo from the Royal Thai Government taken and released on June 11, 2025 shows Thailand's Prime Minister Paetongtarn Shinawatra inspecting a bunker during a visit to Kap Choeng District in Surin Province near the border with Cambodia. Thailand and Cambodia on June 8 reached an agreement to reposition their troops in a disputed border area where a Cambodian soldier was killed last month in a military clash, both sides announced. (Photo by Handout / ROYAL THAI  GOVERNMENT / AFP) / RESTRICTED TO EDITORIAL USE - MANDATORY CREDIT "AFP PHOTO / ROYAL THAI GOVERNMENT" - NO MARKETING NO ADVERTISING CAMPAIGNS - DISTRIBUTED AS A SERVICE TO CLIENTS

Sudah lama Kamboja dan Thailand berselisih soal perbatasan darat mereka sepanjang 800 kilometer. Kedua negara berpegang pada peta perbatasan versi masing-masing. Kamboja berpatokan pada  peta berskala 1 : 200.000, mengacu Perjanjian Perancis-Siam  1904 dan 1907.  Thailand berpegang pada peta berskala 1 : 50.000, menggunakan Proyeksi Mercator yang dikembangkan dengan bantuan teknis AS (The Nation, 16/6/2025).

Perbedaan skala tersebut berakibat pada perbedaan kedua negara dalam menetapkan garis perbatasan darat mereka. Sebelum tahun ini, setidaknya tiga kali (tahun 2003, 2008, dan 2011-2013) sengketa itu meletus menjadi api permusuhan terbuka, menewaskan hingga puluhan orang.

Seperti api dalam sekam, jika tak terselesaikan—atau setidaknya dikelola—sengketa ini bisa membesar menjadi konflik militer. 

Cambodia-Thailand-Border Dispute

Namun, sudah sedemikian kritis situasinya, belum terlihat langkah ASEAN untuk turun tangan menjembatani perselisihan Kamboja-Thailand. ASEAN  benar-benar impoten, tulis Thitinan Pongsudhirak, profesor ilmu politik dari Universitas Chulalongkorn, Thailand (Bangkok Post, 13/6/2025).

Kalangan luar pun cemas dengan situasi Kamboja-Thailand. Keith B Richburg, kolumnis The Washington Post (17/6/2025), sampai menyentil: saat Kamboja dan Thailand menyatakan tak mau berperang, layak bertanya: di mana ASEAN saat ini?


Kerabat Kerja

Penulis:

REDAKSI
 | 

Editor:

Muhammad Samsul Hadi, Marcellus Hernowo