Kisah Shamm, bayi malanutrisi yang dievakuasi dari Gaza dan dirawat di Naples, Italia.
08 Sep 2025 09:32 WIB · Internasional
Sebuah foto seorang bayi berusia 23 bulan bernama Shamm Qudeih yang meringis dalam pelukan ibunya itu sungguh mengiris hati. Rambut kusut dan tulang rusuk menonjol dari dadanya membuat siapa pun yang melihat akan menghela napas. Foto itu diambil jurnalis lepas AP pada 9 Agustus 2025 di Rumah Sakit Nasser Khan Younis, Jalur Gaza, Palestina.
Saat itu Shamm digendong ibunya, Islam Qudeih, guna mendapatkan perawatan karena kekurangan gizi akut. Dokter mengatakan, Shamm mungkin memiliki kelainan genetik yang memengaruhi perkembangan otot dan tulang. Rumah sakit di Gaza tidak memiliki alat untuk menguji kondisi kesehatan Shamm.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/08/66339249-1670-4323-8a82-e7e250297aa2_jpg.jpg)
Belasan anak balita seusia Shamm, juga berada di rumah sakit yang sama. Berbulan-bulan mereka tidak mendapatkan makanan dan perawatan yang dibutuhkannya akibat blokade Israel. Blokade yang ditujukan untuk menekan kelompok militan Hamas agar membebaskan para sandera.
Empat hari setelah fotonya dirilis kantor berita AP, Shamm dan 30 anak-anak lain yang membutuhkan perawatan medis dievakuasi dari Gaza oleh Pemerintah Italia. Mereka tiba di Italia melalui tiga bandara yang berbeda. Dalam foto-foto kedatangan mereka, salah satunya memperlihatkan Shamm yang digendong ibunya turun dari pesawat Angkata Udara Italia.
Shamm tiba di Italia dengan kondisi kurus kering. Sejak saat itu ia dirawat di Rumah Sakit Anak Santobono Pausilipon di Naples, Italia. Karena kekurangan gizi akut yang diperparah dengan penyakit metabolik genetik, Shamm harus menjalani diet baru. Ia mendapatkan asupan gizi dari bubur khusus karena kondisinya.
Berat badan Shamm sekitar 4 kilogram saat tiba di Italia. Menurut Daniele de Brasi, dokter spesialis penyakit genetik pediatrik di Rumah Sakit Anak Santobono Pausilipon di Naples, Shamm berada dalam kondisi klinis yang serius dan menantang. Setelah hampir satu bulan dirawat, di ulang tahunnya kedua Shamm memiliki berat badan 5,5 kg. Ada kemajuan, tetapi angka itu masih setengah dari berat rata-rata anak seusianya.
Minggu ini, Shamm sudah bisa duduk tegak di ranjang rumah sakit. Rambut pirangnya yang halus diikat tinggi. Ia mengenakan kaus bertuliskan ”imut”. Matanya yang lebar berbinar-binar ketika kakak perempuan dan ibunya memanggil namanya dari seberang ruangan. Ia membalas panggilan dengan tersenyum.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/08/2d20d0c1-0a70-43ee-98d1-02390e9cc765_jpg.jpg)
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/08/8c79e193-e3fd-40cd-a0db-0ed978f85a1e_jpg.jpg)
Shamm lahir di Gaza, Palestina, sebelum Hamas menyerang Israel pada 7 Oktober 2023. Serangan yang menewaskan sekitar 1.200 warga sipil dan Hamas menyandera 251 orang itu dibalas Israel. Hingga pertempuran selama 23 bulan, serangan Israel telah menewaskan 64.000 warga Palestina. Israel juga memblokade bantuan ke Gaza. Tindakan Israel ini yang memperparah kondisi Shamm yang sejak lahir sudah menderita malanutrisi.
Sejak perang Hamas dan Israel, keluarga Islam Qudeih sudah 15 kali berpindah tempat tinggal dari satu tenda ke tenda lain. Islam, ibu Shamm, berjuang keras untuk mendapatkan perawatan medis yang tepat. Ia telah mengunjungi banyak rumah sakit dan klinik. Dokter mencurigai kondisi langka tersebut, tetapi tidak dapat mengujinya, apalagi mengobatinya dengan tepat. Terkadang dokter menawarkan antibiotik.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/08/f51a20f1-71b7-4ce5-8e48-7548a9b89422_jpg.jpg)
Untuk sementara waktu, dokter memberikan susu formula khusus. Namun, Shamm tidak mau meminumnya karena ia kehilangan kebiasaan minum susu setelah persediaan di Gaza langka. PBB bulan lalu telah memperingatkan bahwa kelaparan dan malanutrisi di Gaza berada pada tingkat tertinggi sejak perang dimulai. Hampir 12.000 anak balita ditemukan mengalami malanutrisi akut pada Juli.
Menurut Kementerian Luar Negeri Italia, Shamm merupakan salah satu dari 181 anak Palestina yang dirawat di Italia. Dari jumlah itu, sekitar sepertiganya telah tiba sejak Maret. Saat itu, Israel mengakhiri gencatan senjata dengan Hamas dan memberlakukan blokade selama 2,5 bulan terhadap semua impor, termasuk makanan dan obat-obatan.
Di Naples, Shamm kini dipasangi selang makanan di hidungnya untuk memastikan ia mendapatkan nutrisi yang tepat sepanjang malam. Dokter menargetkan selang tersebut akan dilepas dalam waktu sekitar satu bulan. Pada siang hari, ia bebas makan makanan padat, termasuk daging dan ikan. Salah satu makanan pokoknya adalah bubur yang kaya karbohidrat.
Saudara perempuan Shamm, Judi Qudeih, juga dibawa ke Italia. Judi yang berusia 10 tahun memiliki kondisi yang lebih baik. Namun, tim dokter memutuskan untuk sekalian merawat Judi karena berat badannya kurang dari 4 kilogram dari kondisi ideal di usianya. Saat ini berat badan Judi sudah naik 2 kg dan kesehatannya baik.
Di Rumah Sakit Nassar di kota Khan Younis, Gaza, Dagga memotret Shamm untuk terakhir kalinya pada 9 Agustus 2025. Dalam kunjungan itu, Shamm menangis kesakitan di ranjang rumah sakit. Lengan, kaki, dan tulang rusuknya tinggal tulang, perutnya membengkak.
Islam pernah bersekolah bersama Dagga dan mengingatnya dengan penuh kasih sayang. ”Dia selalu datang ke rumah sakit untuk menjenguk saya dan Shamm,” kenang Islam. Sampai hari keberangkatan mereka ke Italia, Dagga menunggu sampai anak tangga terakhir untuk mengucapkan selamat tinggal.
Setelah tiba di Italia, Islam mengetahui bahwa Dagga telah tewas dalam serangan yang menewaskan empat jurnalis lainnya. ”Saya sedih ketika mendengar dan mengetahui bahwa dia telah meninggal,” kata Islam. (AP)
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Demitrius Wisnu WidiantoroPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto