Senyum Liverpool, Kejatuhan Terdalam Pep Guardiola

Liverpool melaju kencang dalam perburuan gelar juara Liga Inggris. Pep Guardiola dan Manchester City yang biasanya menjadi penghalang kini tidak berdaya.

02 Des 2024 07:45 WIB · Olahraga

Oleh I Gusti Agung Bagus Angga Putra

LIVERPOOL, MINGGU — Perlawanan maksimal Pep Guardiola untuk membangkitkan Manchester City dari keterpurukan terbukti hanyalah ilusi semata. ”The Citizens” menyerah 0-2 dari tuan rumah Liverpool di Stadion Anfield, dalam laga yang berakhir pada Senin (2/12/2024) dini hari WIB.

Liverpool tersenyum puas, sementara Guardiola terjatuh sangat dalam setelah menelan enam kekalahan dan satu hasil imbang pada tujuh laga terakhir.

Manchester City tidak bisa terjatuh lebih dalam lagi, kecuali ke liang lahat. Penggambaran itu bisa mendeskripsikan ketidakberdayaan Guardiola mengembalikan City ke jalur kemenangan.

Tanpa kemenangan dalam tujuh laga terakhir, Guardiola mengusung misi bangkit di Anfield. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. City didikte habis-habisan oleh Arne Slot dan Liverpool.

Guardiola melakukan sedikit perubahan pada susunan pemain mula dalam formasi 4-3-3 untuk mengimbangi agresivitas Liverpool. Posisi bek kiri dipercayakan kepada Nathan Ake. Josko Gvardiol, yang membuat dua kesalahan pada dua laga sebelumnya, kali ini dibangkucadangkan.

Para pemain Liverpool merayakan gol mereka ke gawang Manchester City pada laga Liga Inggris di Stadion Anfield, Liverpool, Senin (2/11/2024) dini hari WIB. Liverpool menang, 2-0.

Guardiola memilih Ake sebagai bek kiri dengan pertimbangan kemampuan duel satu lawan satunya yang akan berguna untuk meredam Mohamed Salah.

Di samping itu, Matheus Nunes turut mendapatkan kesempatan tampil sejak awal. Akan tetapi, Guardiola menempatkan Nunes di sayap kiri, posisi yang biasanya diisi oleh Jack Grealish. Nunes berposisi asli sebagai gelandang tengah.

Penampilannya yang menawan di sayap kiri sebelum jeda internasional pada November menjadi pertimbangan Guardiola memainkannya di posisi itu kali ini. Sayangnya, Nunes kali ini tidak banyak membantu dalam upaya serangan City.

Meskipun melakukan sedikit perubahan, permasalahan City dalam mengantisipasi bola-bola vertikal belum bisa hilang. Hal itu terlihat dari betapa mudahnya Salah merangsek ke jantung pertahanan City setelah menerima umpan panjang dari area pertahanan Liverpool.

Quote

Saat Liverpool unggul dan City tidak berdaya membalas, para pendukung tuan rumah kian lantang menyindir Guardiola akan dipecat setelah kalah dari Liverpool.

Salah dengan jeli melihat pergerakan tanpa bola Cody Gakpo, lalu mengirim umpan terukur, yang dengan mudah dikonversi menjadi gol.

Penyerang Liverpool, Mohamed Salah (kedua kanan), mencetak gol lewat titik penalti ke gawang Manchester City pada laga Liga Inggris di Stadion Anfield, Liverpool, Senin (2/11/2024) dini hari WIB. Liverpool menang, 2-0.

”Kami berlatih dengan baik untuk selalu siap jika Anda menguasai bola. Saya memberi tahu Cody sebelum pertandingan, setiap kali saya menguasai bola dan ada peluang untuk mengoper bola kepadanya, saya pasti akan mengopernya. Saya memberinya beberapa bola musim ini, dia dan Lucho (Luis Diaz) juga. Kami melatih bola itu dalam latihan,” tutur Salah mengenai gol pertama Liverpool.

Pada saat Liverpool bermain dengan energi yang meledak-ledak, City justru tampil buruk. Para pemain City terlampau banyak memainkan umpan pendek di wilayah pertahanan mereka sendiri. Sudah begitu, operan-operan mereka pun sangat mudah direbut para pemain Liverpool.

Liverpool sukses mengunci para gelandang kreatif City, seperti Bernardo Silva dan Ilkay Guendogan. Dengan permainan menekan tinggi, para pemain Liverpool tidak membiarkan mereka leluasa dan nyaman dalam mengalirkan bola ke depan. Alhasil, City baru bisa melepaskan tembakan pertama ke gawang Liverpool pada menit ke-39.

”Sepanjang 15 hingga 20 menit pertama, mereka tak terbendung. Mereka memulai dengan sangat kuat. Kami mencoba bermain dengan banyak kontrol dan umpan, tetapi sulit untuk menahannya,” ucap Guardiola.

Dengan bermain menekan secara agresif itu pula, sejumlah peluang emas Liverpool tercipta. Dua di antaranya lewat kaki Salah. Hanya saja, pemain yang biasanya optimal dalam situasi satu lawan satu dengan kiper itu kali ini kurang tenang sehingga tembakannya meleset.

Penyerang Manchester City, Erling Haaland, mengontrol bola saat menghadapi Liverpool pada laga Liga Inggris di Stadion Anfield, Liverpool, Senin (2/11/2024) dini hari WIB. Liverpool menang, 2-0.

Namun, Salah tidak membuang peluang menggandakan keunggulan Liverpool melalui eksekusi penalti. Kiper City, Stefan Ortega, tidak bisa berbuat banyak menghentikan serbuan para pemain depan Liverpool yang sukses merebut bola saat City sedang membangun serangan dari belakang.

Ortega pun menjatuhkan Luis Diaz di dalam kotak penalti. Salah dengan tenang mengarahkan bola ke sudut kiri bawah gawang tanpa mampu dibendung Ortega.

Di sisi lain, gol itu membuat Salah menyamai pencapaian mantan penyerang Manchester United, Wayne Rooney. Mereka merupakan dua pemain di Liga Inggris yang mampu mencetak gol dan memberikan asis dalam satu laga sebanyak 36 kali.

Nyanyian pemecatan

Laga ini turut diwarnai nyanyian bernada sarkasme dari pendukung Liverpool kepada Guardiola. Saat Liverpool unggul dan City tidak berdaya membalas, para pendukung tuan rumah kian lantang menyindir lewat nyanyian bahwa Guardiola akan dipecat setelah kalah dari Liverpool.

Guardiola kemudian menanggapi nyanyian itu dengan berbalik badan dan mengacungkan enam jari. Pose enam jari itu diduga kuat sebagai jumlah gelar Liga Inggris yang dimenangkan Guardiola semasa menangani City.

Gestur Manajer Manchester City Pep Guardiola setelah diejek para pendukung Liverpool pada laga Liga Inggris di Stadion Anfield, Liverpool, Senin (2/11/2024) dini hari WIB. Liverpool menang, 2-0.

”Mungkin mereka benar. Mungkin, kami harus dipecat karena hasil yang kami dapatkan. Saya tidak menduganya di Anfield. Mereka tidak melakukannya saat kedudukan 1-0, tetapi saat kedudukan 2-0. Mungkin mereka seharusnya melakukannya di masa lalu, tidak sekarang. Sekarang, mereka memanfaatkannya,” ujar Guardiola dikutip dari Sky Sports.

Kota Manchester sejak lama merupakan musuh abadi bagi para penduduk Liverpool. Selain dengan MU, persaingan Liverpool dan City juga sangat sengit dalam beberapa waktu belakangan. City sangat mendominasi Liga Inggris sejak ditangani Guardiola. Dalam tujuh musim terakhir, hanya Liverpool yang bisa mengusik hegemoni City dengan satu gelar pada musim 2019-2020.

Oleh sebab itu, bisa dimengerti betapa puasnya para pendukung Liverpool bisa menyaksikan Guardiola dan City yang tangguh itu tidak berdaya di Anfield. City kalah dalam segala aspek. Kekalahan ini membuat mereka tercecer di peringkat lima, tertinggal 11 poin dari Liverpool di puncak klasemen.

City beserta Guardiola sudah terjatuh ke palung terdalam. Pada saat bersamaan, para pendukung Liverpool tersenyum puas menyaksikan kejatuhannya. (REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

I Gusti Agung Bagus Angga Putra
 | 

Editor:

Yulvianus Harjono
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra