Unggul Jauh, Liverpool Dijagokan Juara Liga Inggris?
Kans Liverpool menjuarai Liga Inggris melesat hingga 69,5 persen setelah unggul delapan poin di puncak. Namun, sejarah berkata, keunggulan telak itu bukan jaminan.
1. Tatap Manchester City, Liverpool berpeluang memperlebar jarak di puncak?
2. Apakah City masih punya kans juara setelah menelan lima kekalahan beruntun?
3. Sempat ”mati suri”, asa Arsenal menjadi juara telah kembali?
4. Masih perlu adaptasi, mengapa Manchester United jangan terlalu berharap tinggi pada Ruben Amorim?
Liga Inggris hingga pekan ke-12 menyingkap anomali. Liverpool, yang kurang diunggulkan pada awal musim ini, justru melesat menjadi favorit juara. Mereka meninggalkan jauh barisan pesaingnya, seperti Manchester City dan Arsenal, di puncak klasemen. Liverpool unggul 8 poin di puncak.
Pada Agustus 2024, menjelang bergulirnya Liga Inggris musim 2024-2025, peluang ”Si Merah” menjuarai Liga Inggris disebut Opta hanya 5,1 persen atau meningkat 1,6 persen jika dibandingkan dengan awal musim lalu. Per Senin (25/11/2024), bak emiten yang mengalami bullish, kans Liverpool juara meroket menjadi 69,5 persen. Untuk pertama kali, mereka diunggulkan juara.
Liverpool tidak butuh waktu lama untuk beradaptasi dengan manajer barunya, Arne Slot. Kebijakan Slot, yang memilih stabilitas dan mempertahankan mayoritas pemain ataupun sistem permainan warisan pendahulunya, Juergen Klopp, berbuah positif. Si Merah tampil konsisten sejauh ini.
Pemain lama, seperti Mohamed Salah, pun cepat menyetel dan mampu kembali ke bentuk permainan terbaiknya seperti di awal era Klopp. Ia telah menyumbang total 10 gol dari 12 laga, hanya kalah dari Erling Haaland (Manchester City) yang memuncaki daftar pencetak gol tersubur dengan 12 gol.
Koleksi 31 poin dari 12 laga adalah capaian awal terbaik Liverpool sejak musim 2019-2020. Saat itu, mereka mengemas 34 poin dari 12 laga awal. Kebetulan pula, saat itu, Liverpool terakhir kali menjuarai Liga Primer Inggris dengan mematahkan dominasi City. Pada saat itu, Si Merah mengumpulkan total 99 poin, unggul 18 poin atas City di peringkat kedua.
Maka, dengan tren itu, besar kemungkinan Liverpool menjadi juara pada musim ini. Namun, perlu pula diketahui, grafik positif di awal musim bukanlah jaminan juara. Faktor cedera, kelelahan, kedalaman skuad, dan masalah mental bisa membalikkan tren itu, kapan saja. Hal itu dibuktikan Arsenal.
Dua musim lalu, Arsenal juga tancap gas di fase awal. Serupa Liverpool saat ini, mereka juga mengemas 31 poin dari 12 laga awal Liga Inggris. Namun, tragisnya, di akhir musim, mereka justru finis kedua. Mereka terpaut lima poin dari City yang kembali menjadi juara pada saat itu.
Persaingan musim ini berpotensi menyimpan dinamika serupa, mengingat perjalanan masih jauh, yaitu menyisakan 26 pekan laga, di Liga Inggris.
Tatap Manchester City, Liverpool berpeluang memperlebar jarak di puncak?
Konsistensi adalah salah satu keunggulan kunci Liverpool pada musim ini. Meskipun tidak lagi memperagakan gaya permainan heavy metal nan atraktif, Liverpool pandai mendulang poin dalam situasi apa pun. Seperti saat melawan Southampton, akhir pekan lalu, Liverpool sempat tersengat dan tertinggal oleh tuan rumah.
Namun, terlepas dari blunder-blunder Southampton, mereka mampu bangkit dan menang, 3-2, pada laga itu. Hal itu menunjukkan kuatnya karakter dan mentalitas mereka, dua hal yang biasanya identik dengan tim-tim juara. Mereka pun berlari sendirian di puncak.
”Sebuah perasaan luar biasa bisa memiliki keunggulan besar di klasemen, tetapi ini baru permulaan musim. Kami harus mempertahankan hasil ini dan kami tidak perlu memikirkan tim lain,” kata Dominik Szoboszlai, pemain Liverpool, kepada Sky Sports.
Kemenangan itu kian menambah kepercayaan diri Liverpool menatap duel besar, yaitu head to head versus rival terberatnya, City. Kedua tim kandidat juara itu akan berduel pada Minggu (1/12/2024) di Stadion Anfield.
Dalam delapan tahun, kami tidak pernah mengalami situasi seperti ini. Sekarang kami harus menerima dan mengakhiri (tren kekalahan) dengan memenangi pertandingan selanjutnya. (Pep Guardiola)
Duel ini sangat krusial bagi Liverpool untuk kian menjauh di puncak sekaligus memberikan pernyataan bahwa mereka kandidat favorit juara pada musim ini. Peluang mereka menang sangatlah besar, apalagi City kini tengah terpuruk dan mengalami krisis pemain.
Apakah City masih punya kans juara setelah menelan lima kekalahan beruntun?
Ambisi Manchester City memperpanjang rekor, yaitu lima gelar juara beruntun Liga Primer Inggris, dihadapkan pada realitas pahit. Mereka menelan tiga kekalahan beruntun di Liga Inggris, terakhir dipermalukan 0-4 oleh Tottenham Hotspur di Stadion Etihad, Manchester. Laga itu bahkan menjadi lima kekalahan beruntun City, jika melihat semua kompetisi yang diikutinya.
Situasi itu sangat asing bagi City pada era Pep Guardiola. Untuk pertama kali, mereka dihadapkan pada rekor-rekor buruk. City menjadi juara bertahan Liga Inggris pertama yang menelan lima kekalahan beruntun di berbagai kompetisi sejak Chelsea pada 1956. Hal itu mereka alami sejak cederanya gelandang jangkar mereka sekaligus pemain terbaik sejagat, Rodri.
Seiring rentetan hasil buruk, peluang City mempertahankan gelar juara pun ikut ”amblas”. Mereka hanya mengemas 23 poin dari 12 laga. Peluang mereka menjadi juara, mengacu hasil prediksi superkomputer Opta terbaru, hanya 23,3 persen atau peringkat kedua. Padahal, Agustus lalu, probabilitas mereka berjaya adalah 82,2 persen.
Guardiola kesulitan mencari pengganti sepadan Rodri yang diyakini tak bisa bermain hingga akhir musim ini. Tanpa Rodri—yang menjadi otak permainan sekaligus pelindung pertahanan—City kehilangan keseimbangan. Total 14 gol mereka derita dalam lima laga terakhir. Sebaliknya, mereka hanya membuat 4 gol di periode itu.
”Dalam delapan tahun, kami tidak pernah mengalami situasi seperti ini. Sekarang kami harus menerima dan mengakhiri (tren kekalahan) dengan memenangi pertandingan selanjutnya,” ujar Guardiola.
Meskipun demikian, City tidak bisa serta-merta dikesampingkan dalam perburuan juara. City berkali-kali menunjukkan, mereka mampu bangkit dan mencuri gelar setelah sempat tertatih-tatih pada awal musim. Pada musim 2021-2022, mereka bahkan hanya mengumpulkan 19 poin dari 12 laga. Namun, pada akhir musim, mereka menjadi juara dengan margin 12 poin dari Manchester United di peringkat kedua.
Sempat ”mati suri”, asa Arsenal menjadi juara telah kembali?
Terpuruknya Manchester City sebetulnya membuka peluang Arsenal mengejar gelar juara yang terlepas dari genggaman dalam dua musim terakhir. Namun, realitasnya, mereka ikut-ikutan menuai serangkaian hasil negatif sehingga kini bercokol di peringkat keempat Liga Inggris dengan koleksi 22 poin dari 12 laga.
Arsenal seperti kehilangan jati dirinya pada awal musim ini, terutama ketika pemain kreatif Martin Odeegard absen. Ia tidak bisa bermain dalam tujuh laga Arsenal sejauh ini di Liga Inggris. Namun, kembalinya Odegaard memberikan angin segar.
Arsenal kembali ke jalur kemenangan, bahkan menang telak 3-0, menghadapi Nottingham Forest pada akhir pekan lalu. Odegaard menjadi nyawa permainan Arsenal. Berkat dia, para penyerang, seperti Bukayo Saka, dimanjakan operan dan asis matang. Di Arsenal, belum ada pemain lain yang mampu menjadi fasilitator dan pembuka ruang seperti Odegaard.
”Bukan kebetulan. Tim ini mengalir dengan cara berbeda saat dia (Odegaard) bermain,” kata Manajer Arsenal Mikel Arteta.
Menyusul kemenangan atas Forest dan kembalinya Odegaard, probabilitas Arsenal menjadi juara sedikit naik dibandingkan dengan pekan lalu. Menurut Opta, peluang ”Si Meriam” juara ialah 6,5 persen atau yang tertinggi ketiga setelah Liverpool (69,5 persen) dan Manchester City (23,3 persen).
Menurut pemain Liga Inggris era 1980-an, Pat Nevin, peluang Arsenal menjadi juara masih sangat terbuka seiring hadirnya Odegaard dan Saka. ”Mereka (Odegaard dan Saka) melebihi siapa pun di laga ini (versus Forest). Sangat menyenangkan untuk ditonton. Sepertinya Arsenal telah kembali,” ujarnya kepada BBC Sport.
Masih perlu adaptasi, Mengapa Manchester United jangan terlalu berharap tinggi kepada Ruben Amorim?
Raksasa Inggris, Manchester United, memulai era bersama manajer barunya, Ruben Amorim, Senin (25/11/2024) dini hari WIB. Ia digadang-gadang sebagai penerus manajer tersukses MU, Sir Alex Ferguson, mengingat sepak terjangnya yang menawan di Liga Portugal.
Namun, menangani ”Setan Merah” nyatanya tidaklah semudah Sporting Lisabon di Portugal. Amorim menandai debutnya di Inggris dengan hasil imbang, 1-1, atas tim promosi sekaligus penghuni zona degradasi, Ipswich Town.
Meskipun gagal memberikan kemenangan pada debutnya, capaian Amorim itu lebih baik dari dua pendahulunya asal Belanda, yaitu Erik ten Hag dan Louis van Gaal. Debut Ten Hag dan Van Gaal di MU kompak diwarnai kekalahan.
Hasil imbang atas tuan rumah Ipswich menunjukkan, MU masih perlu beradaptasi dengan Amorim. Sistem permainannya dengan para pendahulunya sangatlah berbeda. Amorim menyukai dan konsisten dengan pakem permainan ofensif yang bertumpu pada tiga bek tengah dan empat gelandang. Pola itu sangatlah asing di MU.
Amorim bahkan membongkar-pasang pemainnya, antara lain, dengan menurunkan Marcus Rashford sebagai penyerang tengah. Padahal, sudah sangat lama Rashford tidak bermain di posisi ujung tombak serangan. Terakhir kali ia bermain sebagai penyerang tengah adalah saat MU melawan Chelsea di Stamford Bridge, 5 April lalu.
Apa yang bisa Anda pelajari dari artikel ini?
1. Tatap Manchester City, Liverpool berpeluang memperlebar jarak di puncak?
2. Apakah City masih punya kans juara setelah menelan lima kekalahan beruntun?
3. Sempat ”mati suri”, asa Arsenal menjadi juara telah kembali?
4. Masih perlu adaptasi, mengapa Manchester United jangan terlalu berharap tinggi pada Ruben Amorim?
Liga Inggris hingga pekan ke-12 menyingkap anomali. Liverpool, yang kurang diunggulkan pada awal musim ini, justru melesat menjadi favorit juara. Mereka meninggalkan jauh barisan pesaingnya, seperti Manchester City dan Arsenal, di puncak klasemen. Liverpool unggul 8 poin di puncak.
Pada Agustus 2024, menjelang bergulirnya Liga Inggris musim 2024-2025, peluang ”Si Merah” menjuarai Liga Inggris disebut Opta hanya 5,1 persen atau meningkat 1,6 persen jika dibandingkan dengan awal musim lalu. Per Senin (25/11/2024), bak emiten yang mengalami bullish, kans Liverpool juara meroket menjadi 69,5 persen. Untuk pertama kali, mereka diunggulkan juara.
Liverpool tidak butuh waktu lama untuk beradaptasi dengan manajer barunya, Arne Slot. Kebijakan Slot, yang memilih stabilitas dan mempertahankan mayoritas pemain ataupun sistem permainan warisan pendahulunya, Juergen Klopp, berbuah positif. Si Merah tampil konsisten sejauh ini.
Pemain lama, seperti Mohamed Salah, pun cepat menyetel dan mampu kembali ke bentuk permainan terbaiknya seperti di awal era Klopp. Ia telah menyumbang total 10 gol dari 12 laga, hanya kalah dari Erling Haaland (Manchester City) yang memuncaki daftar pencetak gol tersubur dengan 12 gol.
Koleksi 31 poin dari 12 laga adalah capaian awal terbaik Liverpool sejak musim 2019-2020. Saat itu, mereka mengemas 34 poin dari 12 laga awal. Kebetulan pula, saat itu, Liverpool terakhir kali menjuarai Liga Primer Inggris dengan mematahkan dominasi City. Pada saat itu, Si Merah mengumpulkan total 99 poin, unggul 18 poin atas City di peringkat kedua.
Maka, dengan tren itu, besar kemungkinan Liverpool menjadi juara pada musim ini. Namun, perlu pula diketahui, grafik positif di awal musim bukanlah jaminan juara. Faktor cedera, kelelahan, kedalaman skuad, dan masalah mental bisa membalikkan tren itu, kapan saja. Hal itu dibuktikan Arsenal.
Dua musim lalu, Arsenal juga tancap gas di fase awal. Serupa Liverpool saat ini, mereka juga mengemas 31 poin dari 12 laga awal Liga Inggris. Namun, tragisnya, di akhir musim, mereka justru finis kedua. Mereka terpaut lima poin dari City yang kembali menjadi juara pada saat itu.
Persaingan musim ini berpotensi menyimpan dinamika serupa, mengingat perjalanan masih jauh, yaitu menyisakan 26 pekan laga, di Liga Inggris.
Tatap Manchester City, Liverpool berpeluang memperlebar jarak di puncak?
Konsistensi adalah salah satu keunggulan kunci Liverpool pada musim ini. Meskipun tidak lagi memperagakan gaya permainan heavy metal nan atraktif, Liverpool pandai mendulang poin dalam situasi apa pun. Seperti saat melawan Southampton, akhir pekan lalu, Liverpool sempat tersengat dan tertinggal oleh tuan rumah.
Namun, terlepas dari blunder-blunder Southampton, mereka mampu bangkit dan menang, 3-2, pada laga itu. Hal itu menunjukkan kuatnya karakter dan mentalitas mereka, dua hal yang biasanya identik dengan tim-tim juara. Mereka pun berlari sendirian di puncak.
”Sebuah perasaan luar biasa bisa memiliki keunggulan besar di klasemen, tetapi ini baru permulaan musim. Kami harus mempertahankan hasil ini dan kami tidak perlu memikirkan tim lain,” kata Dominik Szoboszlai, pemain Liverpool, kepada Sky Sports.
Kemenangan itu kian menambah kepercayaan diri Liverpool menatap duel besar, yaitu head to head versus rival terberatnya, City. Kedua tim kandidat juara itu akan berduel pada Minggu (1/12/2024) di Stadion Anfield.
Dalam delapan tahun, kami tidak pernah mengalami situasi seperti ini. Sekarang kami harus menerima dan mengakhiri (tren kekalahan) dengan memenangi pertandingan selanjutnya. (Pep Guardiola)
Duel ini sangat krusial bagi Liverpool untuk kian menjauh di puncak sekaligus memberikan pernyataan bahwa mereka kandidat favorit juara pada musim ini. Peluang mereka menang sangatlah besar, apalagi City kini tengah terpuruk dan mengalami krisis pemain.
Apakah City masih punya kans juara setelah menelan lima kekalahan beruntun?
Ambisi Manchester City memperpanjang rekor, yaitu lima gelar juara beruntun Liga Primer Inggris, dihadapkan pada realitas pahit. Mereka menelan tiga kekalahan beruntun di Liga Inggris, terakhir dipermalukan 0-4 oleh Tottenham Hotspur di Stadion Etihad, Manchester. Laga itu bahkan menjadi lima kekalahan beruntun City, jika melihat semua kompetisi yang diikutinya.
Situasi itu sangat asing bagi City pada era Pep Guardiola. Untuk pertama kali, mereka dihadapkan pada rekor-rekor buruk. City menjadi juara bertahan Liga Inggris pertama yang menelan lima kekalahan beruntun di berbagai kompetisi sejak Chelsea pada 1956. Hal itu mereka alami sejak cederanya gelandang jangkar mereka sekaligus pemain terbaik sejagat, Rodri.
Seiring rentetan hasil buruk, peluang City mempertahankan gelar juara pun ikut ”amblas”. Mereka hanya mengemas 23 poin dari 12 laga. Peluang mereka menjadi juara, mengacu hasil prediksi superkomputer Opta terbaru, hanya 23,3 persen atau peringkat kedua. Padahal, Agustus lalu, probabilitas mereka berjaya adalah 82,2 persen.
Guardiola kesulitan mencari pengganti sepadan Rodri yang diyakini tak bisa bermain hingga akhir musim ini. Tanpa Rodri—yang menjadi otak permainan sekaligus pelindung pertahanan—City kehilangan keseimbangan. Total 14 gol mereka derita dalam lima laga terakhir. Sebaliknya, mereka hanya membuat 4 gol di periode itu.
”Dalam delapan tahun, kami tidak pernah mengalami situasi seperti ini. Sekarang kami harus menerima dan mengakhiri (tren kekalahan) dengan memenangi pertandingan selanjutnya,” ujar Guardiola.
Meskipun demikian, City tidak bisa serta-merta dikesampingkan dalam perburuan juara. City berkali-kali menunjukkan, mereka mampu bangkit dan mencuri gelar setelah sempat tertatih-tatih pada awal musim. Pada musim 2021-2022, mereka bahkan hanya mengumpulkan 19 poin dari 12 laga. Namun, pada akhir musim, mereka menjadi juara dengan margin 12 poin dari Manchester United di peringkat kedua.
Sempat ”mati suri”, asa Arsenal menjadi juara telah kembali?
Terpuruknya Manchester City sebetulnya membuka peluang Arsenal mengejar gelar juara yang terlepas dari genggaman dalam dua musim terakhir. Namun, realitasnya, mereka ikut-ikutan menuai serangkaian hasil negatif sehingga kini bercokol di peringkat keempat Liga Inggris dengan koleksi 22 poin dari 12 laga.
Arsenal seperti kehilangan jati dirinya pada awal musim ini, terutama ketika pemain kreatif Martin Odeegard absen. Ia tidak bisa bermain dalam tujuh laga Arsenal sejauh ini di Liga Inggris. Namun, kembalinya Odegaard memberikan angin segar.
Arsenal kembali ke jalur kemenangan, bahkan menang telak 3-0, menghadapi Nottingham Forest pada akhir pekan lalu. Odegaard menjadi nyawa permainan Arsenal. Berkat dia, para penyerang, seperti Bukayo Saka, dimanjakan operan dan asis matang. Di Arsenal, belum ada pemain lain yang mampu menjadi fasilitator dan pembuka ruang seperti Odegaard.
”Bukan kebetulan. Tim ini mengalir dengan cara berbeda saat dia (Odegaard) bermain,” kata Manajer Arsenal Mikel Arteta.
Menyusul kemenangan atas Forest dan kembalinya Odegaard, probabilitas Arsenal menjadi juara sedikit naik dibandingkan dengan pekan lalu. Menurut Opta, peluang ”Si Meriam” juara ialah 6,5 persen atau yang tertinggi ketiga setelah Liverpool (69,5 persen) dan Manchester City (23,3 persen).
Menurut pemain Liga Inggris era 1980-an, Pat Nevin, peluang Arsenal menjadi juara masih sangat terbuka seiring hadirnya Odegaard dan Saka. ”Mereka (Odegaard dan Saka) melebihi siapa pun di laga ini (versus Forest). Sangat menyenangkan untuk ditonton. Sepertinya Arsenal telah kembali,” ujarnya kepada BBC Sport.
Masih perlu adaptasi, Mengapa Manchester United jangan terlalu berharap tinggi kepada Ruben Amorim?
Raksasa Inggris, Manchester United, memulai era bersama manajer barunya, Ruben Amorim, Senin (25/11/2024) dini hari WIB. Ia digadang-gadang sebagai penerus manajer tersukses MU, Sir Alex Ferguson, mengingat sepak terjangnya yang menawan di Liga Portugal.
Namun, menangani ”Setan Merah” nyatanya tidaklah semudah Sporting Lisabon di Portugal. Amorim menandai debutnya di Inggris dengan hasil imbang, 1-1, atas tim promosi sekaligus penghuni zona degradasi, Ipswich Town.
Meskipun gagal memberikan kemenangan pada debutnya, capaian Amorim itu lebih baik dari dua pendahulunya asal Belanda, yaitu Erik ten Hag dan Louis van Gaal. Debut Ten Hag dan Van Gaal di MU kompak diwarnai kekalahan.
Hasil imbang atas tuan rumah Ipswich menunjukkan, MU masih perlu beradaptasi dengan Amorim. Sistem permainannya dengan para pendahulunya sangatlah berbeda. Amorim menyukai dan konsisten dengan pakem permainan ofensif yang bertumpu pada tiga bek tengah dan empat gelandang. Pola itu sangatlah asing di MU.
Amorim bahkan membongkar-pasang pemainnya, antara lain, dengan menurunkan Marcus Rashford sebagai penyerang tengah. Padahal, sudah sangat lama Rashford tidak bermain di posisi ujung tombak serangan. Terakhir kali ia bermain sebagai penyerang tengah adalah saat MU melawan Chelsea di Stamford Bridge, 5 April lalu.