Sebagian fasilitas pengayaan uranium Iran di Natanz, Fordow, dan Isfahan rusak diserang Israel. Namun, belum ada tanda-tanda kontaminasi radioaktif.
14 Jun 2025 08:30 WIB · Internasional
DUBAI, SABTU — Fasilitas pengayaan uranium milik Iran di Natanz, Fordow, dan Isfahan rusak. Namun, belum ada tanda-tanda kontaminasi radioaktif atau kimia di luar lokasi Natanz.
Fasilitas itu merupakan sebagian sasaran serangan Israel ke Iran sepanjang Jumat (13/6/2025). Sejumlah kota Iran diserang Israel dengan ratusan bom dan pesawat buatan Amerika Serikat.
Di fasilitas-fasilitas itu, Iran memperkaya uranium U-235 hingga ke aras 60 persen. Aras itu masih di bawah kebutuhan untuk memproduksi bom nuklir.
Israel mengerahkan pesawat tempur dan pesawat nirawak untuk menyerang Iran. Pesawat-pesawat nirawak diselundupkan ke Iran berbulan-bulan sebelum serangan.
Kepala Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) Rafael Grossi kepada Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa, Jumat, mengatakan tingkat radiasi di luar Natanz tidak berubah dan masih normal. ”Serangan itu merusak beberapa bagian Natanz dan masih diselidiki tingkat kerusakannya. Namun, jenis kontaminasi radioaktif yang ada di dalam fasilitas tersebut, terutama partikel alfa, dapat dikelola dengan tindakan perlindungan yang tepat,” tulis Grossi di platform X.
Otoritas Iran menyebutkan, fasilitas nuklir di Fordow dan Isfahan juga rusak akibat serangan Israel. Di Fordow ada pabrik pengayaan bahan bakar dan di Isfahan ada pabrik pembuatan pelat bahan bakar, pabrik pembuatan bahan bakar, dan fasilitas konversi uranium.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/14/ac004e0befdecd0ed841103b1f563277-wires_photo_39.jpg)
Juru bicara militer Israel, Effie Defrin, mengatakan, militer Israel bekerja sesuai dengan rencana serangan bertahap dan operasi ini mungkin akan berlangsung lama. ”Area bawah tanah Natanz rusak. Area ini berisi aula pengayaan bertingkat dengan sentrifus, ruang listrik, dan infrastruktur pendukung tambahan,” sebut militer Israel.
Iran memperkaya uranium hingga kemurnian 60 persen. Untuk bisa dijadikan senjata, uranium harus diperkaya melebihi 90 persen.
Iran memakai Natanz dan Fordow untuk pengayaan itu. Sebagian fasilitas di Natanz di atas permukaan tanah. Sementara fasilitas di Fordow dibangun jauh di bawah permukaan tanah keras berbatu.
Fasilitas Fordow mampu memproduksi lebih banyak dibandingkan Natanz. Berbagai pihak tidak yakin Amerika Serikat-Israel bisa menyerang fasilitas pengayaan di Fordow.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi meminta ada pertemuan DK PBB dan mengatakan Israel sudah melewati batas. Israel melanggar kedaulatan Iran. Komunitas internasional tidak boleh membiarkan kejahatan perang Israel.
Iran, kata Araghchi, menegaskan kembali haknya yang melekat untuk membela diri sebagaimana diabadikan dalam Pasal 51 Piagam PBB. Iran menanggapi dengan tegas dan proporsional terhadap tindakan yang melanggar hukum dan pengecut dari Israel.
Wakil Tetap Israel untuk PBB Danny Danon mengatakan, Israel akan terus berupaya menghancurkan kekuatan nuklir Iran sampai ancamannya hilang. Tidak peduli akan sampai kapan.
”Tujuan operasi kami sangat jelas, yakni untuk memastikan Iran tidak akan memiliki kemampuan nuklir dan menghentikan operasi rudal balistik. Saya akan menjelaskan dan saya berharap Dewan Keamanan mengerti,” ujarnya.
Presiden AS Donald Trump mengaku tidak jelas tahu apakah Iran masih memiliki kekuatan nuklir setelah serangan Israel. Namun, para ahli meyakini kerusakan pada fasilitas nuklir Iran tampaknya sejauh ini tak terlalu parah.
Ahli nuklir di Institut Sains dan Keamanan Internasional, David Albright, mengakui bahwa serangan Israel yang pertama memang mengejutkan. Sebab, serangan itu membunuh para pemimpin, menyasar ilmuwan nuklir, sistem pertahanan udara, dan kemampuan untuk membalas. Namun, tidak ada bukti bahwa fasilitas nuklir Iran hancur.
Status stok uranium yang diperkaya Iran, kata Albright, juga tidak diketahui. Bisa jadi Israel menghindari serangan besar di lokasi nuklir karena khawatir akan membahayakan petugas IAEA yang berada di sana. Albright menyebutkan, ada ribuan sentrifugal di pabrik bawah tanah di Natanz dan memutus pasokan listrik akan mengaktifkan sistem baterai cadangan.
Ia menduga, Iran kemungkinan mematikan sentrifugal di lokasi bawah tanah secara terkendali. ”Baterai bisa bertahan cukup lama. Akan tetapi, pada akhirnya akan habis dan jika sentrifugal berputar ke bawah dengan cara yang tidak terkendali, banyak yang akan rusak,” ujarnya.
Para ahli militer dan nuklir mengatakan, bahkan dengan kekuatan senjata yang besar, aksi militer mungkin hanya akan menghambat sementara program nuklir Iran. Ahli nonproliferasi di Middlebury Institute of International Studies, Jeffrey Lewis, menyebut kerusakan di Natanz tampak ”sedang”.
Ia memperkirakan Israel menghancurkan sebagian komponen dan fasilitas di Natanz, seperti beberapa bangunan pendukung yang terkait dengan pasokan listrik. Sementara tempat pengayaan bawah tanah serta fasilitas bawah tanah besar di dekat pegunungan tidak tampak rusak.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/14/4616f38d722553fc8f7b1bcbd9a42af8-wires_photo_44.jpg)
Tidak jelas kerusakan apa yang terjadi di fasilitas nuklir utama Fordow. ”Israel mungkin tidak memiliki persenjataan untuk menghancurkan Fordow tanpa dukungan militer Amerika,” kata Mark Dubowitz, kepala lembaga kajian Foundation for Defense of Democracies, dalam sebuah podcast.
AS lebih siap daripada Israel untuk menghancurkan target tersebut dengan AS punya bom penghancur bunker, Massive Ordnance Penetrator, yang beratnya sampai 14 ton. Menurut Dubowitz, jika Iran memutuskan untuk tidak menegosiasikan kesepakatan nuklir, AS dapat menggunakan pesawat pengebom B-2 tersebut untuk menghancurkan Fordow.
Sementara itu, menurut analis strategis di kelompok riset CAN Corp, Decker Eveleth, tujuan serangan Israel secara keseluruhan masih belum jelas. ”Mereka mungkin berhasil membongkar komando dan kendali Iran, menghancurkan angkatan udara, dan menyerang berbagai target yang terkait dengan program rudal Iran. Namun, jika tujuan utama mereka adalah pencegahan terjadinya serangan nuklir, dapatkah mereka menghancurkan infrastruktur nuklir Iran yang cukup untuk benar-benar mencegah hal itu terjadi?” ujarnya. (REUTERS/AFP/AP)
Penulis:
Luki AuliaEditor:
Kris MadaPenyelaras Bahasa:
Priskilia Bintang Cornelia Sitompul