Hari Perempuan Internasional dirayakan dengan berbagai macam cara di seluruh dunia.
09 Mar 2026 09:29 WIB · Internasional
AP/Channi Anand
”Kami bangun pukul enam untuk menunggu truk air. Setelah itu, kami pergi ke dapur amal dan mengantre,” kata Wisal Badawi. Saat itu, ia sedang bersama perempuan-perempuan lain yang membawa jeriken dan panci kosong sambil menunggu makanan dan air. ”Perempuan Palestina sedang menderita,” tambahnya.
Di India, seorang perempuan menggendong dua cucunya saat bekerja di pabrik batu bata di pinggiran Jammu, India, Minggu (8/3/2026). Mendorong gerobak berisi tanah liat, menempatkan tanah liat basah pada cetakan kayu, serta menumpuk yang sudah kering menjadi rutinitas harian perempuan di sentra pembuatan batu bata itu.
Di belahan lain, jutaan perempuan di seluruh penjuru dunia berpawai di kota-kota besar masing-masing. Sekitar 20.000 orang menghadiri peringatan Hari Perempuan Internasional di Berlin, Jerman. Jumlah ini dua kali lipat dari yang diperkirakan polisi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/09/0804bad1-de84-45af-8da4-519b6299567f.jpg)
Sementara di Korea Utara, ratusan perempuan menari di sebuah lapangan di Distrik Moranbong, Pyongyang. Mengenakan baju khas negara itu, mereka bergembira, menari dan bernyanyi. Bermacam cara dilakukan untuk memperingati Hari Perempuan Internasional yang jatuh setiap tanggal 8 Maret.
Setelah diakui secara resmi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tahun 1977, Hari Perempuan Internasional menjadi salah satu cara berjuang kaum perempuan. Menyerukan upah yang setara, hak reproduksi, pendidikan, dan keadilan menjadi tema besar setiap tahun.
Protes sering kali bersifat politis, bahkan kadang disertai kekerasan. Namun, semua seruan dan cara itu akan bermuara di hal yang sama, meningkatkan hak-hak perempuan sebagai pekerja. Peringatan ke-115 pada tahun 2026 kali ini mengambil tema ”Memberi untuk Mendapatkan Manfaat”. Para aktivis hak-hak perempuan meneriakkan slogan-slogan selama pawai di sejumlah negara.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/09/8a9b1f8a-cf06-4927-b5cb-ecb1d25978e6.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/09/17dc9d40-8b54-40cd-9d66-d4306f74b578.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/09/19c50424-50a3-4b3d-9f7c-489cb1813cb4.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/09/8a157027-994a-4381-addd-bce1543df3bc.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/09/316c7244-6aaa-4442-a13c-ef6e240559de.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/09/8b765b33-5b9e-4712-9d88-fe0c4a2237f5.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/09/3b299140-c892-4890-afd0-e6cc663210dd.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/09/92280f77-a921-43d2-9c70-1fb78206c44f.jpg)
Hari Perempuan Internasional di Madrid, Spanyol, Minggu (8/3/2026). (AP/MANU FERNANDEZ)
Hari Perempuan Internasional di Distrik Moranbong, Pyongyang, Korea Utara Minggu (8/3/2026). (AP/JON CHOL JIN)
Hari Perempuan Internasional, di Istanbul, Turki, Minggu (8/3/2026). (AP/EMRAH GUREL)
Hari Perempuan Internasional di pantai Copacabana, di Rio de Janeiro, Minggu (8/3/2026). (AP/SILVIA IZQUIERDO)
Hari Perempuan Internasional di Paris, Minggu (8/3/2026). (AP/THIBAULT CAMUS)
Hari Perempuan Internasional di Santiago pada Minggu (8/3/2026). (AFP/RODRIGO ARANGUA)
Hari Perempuan Internasional di Seoul, Korea Selatan, Sabtu (7/3/2026). (AP/AHN YOUNG-JOON)
Hari Perempuan Internasional di Bordeaux, Perancis, Minggu (8/3/2026). (AFP/ROMAIN PERROCHEAU)
Gagasan Hari Perempuan diyakini berasal dari Amerika Serikat dengan Partai Sosialis Amerika pada tahun 1909. Namun, seorang feminis Jerman-lah yang mendorong peringatan global dalam konferensi internasional perempuan sosialis yang diadakan pada tahun 1910 di Kopenhagen, Denmark.
Tahun berikutnya, berbagai acara di seluruh Eropa diadakan untuk memperingati hari tersebut. Selama Perang Dunia I, perempuan menggunakannya untuk memprotes konflik bersenjata yang berlangsung dari tahun 1914 hingga 1918.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/09/b2ab99da-1558-4ed9-afa0-803b93feab39.jpg)
Hari Perempuan Internasional diperingati pada tanggal 8 Maret setelah protes besar-besaran di Rusia yang dimulai pada 23 Februari 1917. Protes itu menyebabkan negara itu akhirnya menarik diri dari perang.
PBB mulai memperingati hari libur ini pada tahun 1975 sebagai Tahun Perempuan Internasional dan Majelis Umum secara resmi mengakui hari tersebut dua tahun kemudian.
Hari Perempuan Internasional adalah perayaan dan seruan untuk bertindak. Ini ditandai dengan demonstrasi, pawai, dan banyak hal lain yang dilakukan perempuan di seluruh dunia. Ada pula yang memaknai dengan beberapa perayaan pencapaian ekonomi, sosial, dan politik perempuan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/09/be2181b3-8f10-4994-9703-f4c3999402e9.jpg)
Sementara yang lain mendesak pemerintah untuk menjamin upah yang setara, akses terhadap perawatan kesehatan, keadilan bagi korban kekerasan berbasis jender, dan pendidikan bagi anak perempuan. Hari Perempuan Internasional juga menjadi hari libur resmi di lebih dari 20 negara, termasuk Afghanistan, Burkina Faso, Ukraina, dan Rusia, serta Kuba, satu-satunya di Benua Amerika. Di Amerika Serikat, bulan Maret dirayakan sebagai Bulan Sejarah Perempuan.
Di Brasil, pawai hari Minggu juga berfungsi sebagai seruan untuk melawan kekerasan berbasis jender. Ini dipicu kasus terbaru yang menggemparkan negara itu terkait dugaan pemerkosaan beramai-ramai terhadap seorang gadis berusia 17 tahun di Copacabana di lingkungan tepi pantai Rio de Janeiro.
Di Chile, puluhan ribu perempuan berunjuk rasa di Santiago dan kota-kota lain untuk menuntut hak-haknya. Sebuah peristiwa yang memiliki makna khusus tahun ini menjelang pelantikan kandidat sayap kanan Jose Antonio Kast, yang akan menjabat sebagai presiden, pada hari Rabu. Peristiwa ini menandai pergeseran paling nyata di negara itu sejak berakhirnya kediktatoran militer.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/09/923bd335-e220-40c1-8b5a-4a26e0d075de.jpg)
Di Spanyol, puluhan ribu perempuan turun ke jalan di kota-kota besar, menyerukan kesetaraan dan diakhirinya kekerasan terhadap perempuan. Mereka juga menyerukan untuk mengakhiri perang di Timur Tengah serta dukungan bagi perempuan yang tertindas di Afghanistan dan tempat lain.
”Perjuangan kita adalah bersama dengan para perempuan, baik Iran maupun Afghanistan. Dan kita akan memperjuangkan hak-hak kita, dan mereka juga perlu tahu bahwa kita mendukung mereka dari Afghanistan,” kata Khadija Amin, seorang jurnalis Afghanistan, dalam sebuah pawai di Madrid.
Para perempuan Palestina di kota Gaza mengenang kehidupan mereka sebelum perang. Kini, sebagian besar dari mereka menjalani kehidupan yang sangat berbeda di tenda-tenda. Mereka menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari untuk mencari kebutuhan dasar.
Sementara di Pakistan, polisi menahan beberapa aktivis hak-hak perempuan ketika mereka mencoba mengadakan unjuk rasa. Mereka menentang larangan pemerintah atas pertemuan publik, namun para tahanan kemudian dibebaskan.
Pakistan telah memberlakukan larangan unjuk rasa karena alasan keamanan di tengah meningkatnya kekerasan militan di negara tersebut. Dalam video yang beredar di media sosial, tampak beberapa aktivis duduk di dalam kendaraan polisi di Islamabad.
Aurat March, sebuah jaringan aktivis hak-hak perempuan, mengatakan bahwa para peserta telah menggunakan hak mereka untuk berdemonstrasi secara damai. ”Kami mengutuk penangkapan para peserta dan penyelenggara Aurat March.” (AP/AFP)
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Demitrius Wisnu WidiantoroPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti