Perundingan di Sharm El Sheikh diharapkan menjadi bagian dari solusi politik yang adil bagi rakyat Palestina. Perang mengerikan di Gaza diharapkan segera berakhir.
10 Okt 2025 11:59 WIB · Kolom
Pada hari Selasa (7/10/2025), perang Gaza genap berusia dua tahun. Perang Gaza yang meletus mulai 7 Oktober 2023 itu, meninggalkan kenangan kelam, baik bagi Palestina maupun Israel. Perang tersebut menjadi fase sejarah paling berdarah dalam sepanjang sejarah konflik Arab-Israel terhitung sejak pascaperjanjian Balfour tahun 1917.
Baik Israel maupun Palestina sama-sama membayar harga sangat mahal akibat perang Gaza. Palestina tentu membayar harga jauh lebih mahal akibat perang Gaza itu.
Ketika Presiden Amerika Serikat, Donald Trump secara mengejutkan meluncurkan proposal damai di Gaza pada hari Senin (29/9/2025), baik Palestina maupun Israel harus menangkapnya sebagai peluang terakhir dalam upaya mengakhiri perang di Jalur Gaza. Tidak ada pilihan lain bagi Israel dan Palestina, khususnya Hamas, kecuali menerima dan sekaligus menyukseskan proposal damai itu.
Itulah tanggung jawab kemanusian, yang menggiring mereka berunding di kota pantai Sharm El Sheikh, Mesir, untuk mengakhiri perang Gaza. Kini, perhatian dan sekaligus harapan dunia tentu tertuju pada kota Sharm El Sheikh, sebagai kota yang mengukir sejarah bisa menutup lembaran gerakan genosida di Jalur Gaza yang paling tragis pasca-Perang Dunia II.
Dunia tampak sudah bertekad bahwa kota Sharm El Sheikh tidak boleh gagal. Tidak hanya Mesir dan Qatar sebagai mediator perundingan, Turki, AS dan Uni Emirat Arab (UEA) ikut terlibat dalam perundingan di kota Sharm El Sheikh.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/09/4cd64555de6d3a30f34df8d0263a2a9e-EGYPT_ISRAEL_PALESTINIAN_CONFLICT_DIPLOMACY_133209912.jpg)
Dari pihak AS, selain utusan khusus Presiden Trump untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, menantu Presiden Trump, Jared Kushner, juga terlibat langsung dalam perundingan di kota Sharm El Sheikh. Apa yang terlihat di kota Sharm El Sheikh dengan keterlibatan penuh banyak pihak dalam perundingan itu, menunjukkan bahwa dunia tidak mampu lagi memikul beban penderitaan warga Gaza yang sudah berlangsung dua tahun.
Apa yang menimpa lebih dari 2,4 juta warga Jalur Gaza selama dua tahun ini adalah aksi genosida, pelaparan dan pembersihan etnis. Sudah hampir 70.000 warga Gaza tewas, dan 150.000 lainnya luka-luka. Belum terhitung warga Gaza yang dinyatakan hilang.
Sekitar 90 persen infrastruktur dan bangunan di Jalur Gaza telah hancur. Jalur Gaza pun sudah tidak layak huni. Diperkirakan, kerugian Jalur Gaza akibat perang dua tahun ini mencapai minimal 60 miliar dollar AS.
Kehancuran total Jalur Gaza itu, akibat Israel menjatuhkan sebanyak 200.000 ton bahan peledak ke berbagai target di Jalur Gaza. Di Jalur Gaza, setiap hari terdapat 77 anak yatim dan 29 janda baru, serta 16 ibu hamil yang keguguran. Secara persentase, korban tewas di Jalur Gaza terdiri dari 31 persen anak kecil, 20 persen perempuan, 35 persen lelaki, dan 15 persen lansia.
Selain itu, menurut laporan PBB, ada 450 warga Gaza dan 154 anak kecil yang tewas akibat kelaparan. Dilaporkan juga, ada 2.356 warga Gaza yang tewas dan 17.244 yang luka-luka ketika mengantre mengambil bantuan pangan.
Israel telah menghancurkan pula 38 rumah sakit, 96 klinik, dan 197 ambulans. Kerugian dari hancurnya semua rumah sakit dan ambulans itu mencapai 5 miliar dollar AS.
Israel juga menghancurkan secara total 165 gedung sekolah dan universitas, serta menghancurkan secara parsial 392 gedung sekolah. Kerugian akibat kehancuran infrastruktur dan sarana pendidikan itu mencapai 35 miliar dollar AS.
Israel menghancurkan pula secara total 835 masjid, dan menghancurkan secara parsial 180 masjid, serta menghancurkan secara total 3 gereja. Sebanyak 40 kompleks kuburan umum juga menjadi sasaran pengeboman Israel. Israel juga menghancurkan 94 persen lahan pertanian dan 1.223 sumur untuk pengairan pertanian di Jalur Gaza.
Israel telah membunuh pula 254 wartawan di Jalur Gaza. Setiap tiga hari, Israel membunuh 1 wartawan dan Israel setiap 6 jam menyerang wartawan. Jumlah wartawan yang tewas dalam perang Gaza merupakan yang terbanyak dalam semua peristiwa perang sejak Perang Dunia II.
Harga sangat mahal yang dibayar rakyat Palestina selama dua tahun perang Gaza itu. Nestapa itu menggugah dan menggerakkan nurani dunia. Masyarakat internasional pun kini melihat isu Palestina bukan isu politik semata, tetapi lebih sebagai isu kemanusiaan.
Isu kemanusiaan tersebut menjadi energi utama aksi unjuk rasa pro-Palestina dan anti-Israel yang merambah berbagai kota besar di Eropa, AS, hingga Australia. Warga memadati jalan-jalan utama London, Paris, Madrid, Sydney, Toronto, New York dan Los Angeles demi menyuarakan dukungan mereka pada warga Palestina.
Menurut laporan Pusat Informasi Palestina Eropa (EPAL), tercatat lebih dari 45.000 pengunjuk rasa pro-Palestina di 800 kota di 25 negara Eropa selama dua tahun perang Gaza. Pada 5 Oktober 2025, diperkirakan ada 250.000 orang menggelar unjuk rasa pro-Palestina di Belanda. Aksi itu merupakan yang terbesar di Eropa.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/10/05/4150beae-56db-4337-82e1-b499d06113f1_jpg.jpg)
Krisis kemanusiaan di Gaza dan dukungan warga tersebut turut memicu negara-negara Eropa berbondong-bondong mengakui Palestina sebagai negara. Pada Mei 2024, Spanyol, Irlandia dan Norwegia mengakui Palestina sebagai negara. Pada Juni 2024, Slovenia juga mengakui Palestina sebagai negara. Pada Septermber 2025, Inggris, Kanada, Australia, Portugal, Malta, Monako, Luksemburg dan Belgia turut menyusul mengakui Palestina sebagai negara.
Kini tercatat sudah 157 negara dari 193 negara anggota PBB, atau sekitar 81 persen masyarakat internasional telah mengakui Palestina sebagai negara. Setahun lalu, dalam sidang Majelis Umum PBB yang digelar pada Mei 2024 dengan dukungan 143 suara, dunia juga mendukung permintaan Palestina menjadi anggota penuh PBB. Mereka juga meminta Dewan Keamanan PBB mempertimbangkan permintaan Palestina itu.
Saat ini, demi menegaskan dukungan dunia pada Palestina, para aktivis pro-Palestina dari berbagai negara menggerakkan armada Global Sumud Flotilla. Armada itu terdiri dari 45 kapal. Mereka berniat menembus blokade Gaza.
Namun, Israel mencegat armada tersebut pada hari Rabu pekan lalu. Israel menahan dan mendeportasi semua aktivis yang turut dalam armada itu. Meskipun terhenti, misi mereka telah memperkuat dukungan dunia pada Palestina.
Kini semua menunggu hasil perundingan di Sharm El Sheikh untuk mengakhiri perang Gaza yang sangat mengerikan itu. Perundingan itu diharapkan menjadi bagian dari solusi politik yang adil bagi rakyat Palestina.
Musthafa Abd. Rahman, wartawan Kompas 1991-2022
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2023/03/05/83f4c4d2-1830-4f50-9519-d163d4e0e786.jpg)
Penulis:
Musthafa Abd. RahmanEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase