Rwanda dan Kongo menandatangani perjanjian damai di Gedung Putih.
28 Jun 2025 09:21 WIB · Internasional
Menyusul kesepakatan damai antara Israel dan Iran, dua negara tetangga yang juga sedang berperang, Republik Demokratik Kongo dan Rwanda akhirnya menandatangani kesepakatan damai yang difasilitasi Amerika Serikat.
Kesepakatan ini diharapkan membantu mengakhiri pertempuran mematikan yang telah terjadi puluhan tahun di Kongo timur yang diyakini bermotif perebutan lahan yang mengandung mineral dalam jumlah besar.
Dalam unggahan di media sosialnya, 27 Juni 2025, pukul 21.09 malam waktu Washington, Trump mengatakan bahwa dirinya senang bisa mengatur pertemuan sekaligus penandatanganan perjanjian. Perjanjian itu diharapkan menghentikan pertumpahan darah dan kematian brutal di antara dua negara, Kongo dan Rwanda.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/28/b6a688d9-fded-4eda-82ca-0ebd45c13b97_jpg.jpg)
”Ini adalah Hari yang Hebat bagi Afrika,” puji Trump.
Trump mengatakan, kesepakatan itu memberi Amerika Serikat ”banyak hak atas mineral” dari Kongo. Pemerintahannya telah berupaya untuk mendapatkan akses ke mineral yang menjadi kunci bagi sebagian besar teknologi dunia dan berupaya untuk melawan China.
Dalam foto yang dirilis AP, tampak Presiden Donald Trump mengangkat dokumen yang telah ditandatangani untuk diserahkan kepada Menteri Luar Negeri Kongo Therese Kayikwamba Wagner dan Menteri Luar Negeri Rwanda Olivier Nduhungirehe, dan disaksikan Wakil Presiden JD Vance dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio di Ruang Oval Gedung Putih di Washington.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/28/0d25f35e-2676-4f6b-8af2-7ea054c32604_jpg.jpg)
Kongo, negara di Afrika tengah, telah terkoyak oleh konflik. Ada lebih dari 100 kelompok bersenjata di negara ini. Yang paling menonjol adalah kelompok pemberontak M23, yang didukung oleh negara tetangga Rwanda.
Dengan 7 juta orang mengungsi di Kongo, PBB menyebutnya sebagai ”salah satu krisis kemanusiaan yang paling berkepanjangan, rumit dan serius di bumi”.
Pada 1994, Rwanda telah menjadi perhatian dunia ketika terjadi genosida akibat pembunuhan massal oleh kelompok etnis Hutu di Rwanda terhadap suku minoritas Tutsi yang dimulai pada 6 April 1994.
Rwanda adalah negara di Afrika timur yang mayoritas penduduknya berasal dari kelompok etnis Hutu. Dalam konflik antaretnik yang berlangsung selama 100 hari ini, sebanyak 800.000 orang, yang sebagian besar orang Tutsi, menjadi korban pembunuhan massal. Genosida Rwanda, yang bermula di Kigali, terus menyebar dengan sangat brutal ke seluruh negeri.
”Perjanjian yang diinisiasi Amerika kali ini melibatkan ketentuan tentang penghormatan terhadap integritas teritorial, larangan permusuhan serta pelepasan, pelucutan senjata, dan integrasi bersyarat kelompok bersenjata nonnegara,” kata Wakil Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS Tommy Pigott kepada wartawan pada hari Kamis.
Kongo berharap AS akan memberikan dukungan keamanan yang dibutuhkan untuk melawan pemberontak dan mungkin membuat mereka mundur dari kota-kota utama Goma dan Bukavu, dan dari seluruh wilayah Rwanda. Diperkirakan ada sekitar 4.000 tentara yang dimiliki para pemberontak. Rwanda mengatakan bahwa mereka mempertahankan kepentingan teritorialnya dan tidak mendukung M23.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/28/e9c33079-b325-47c1-a35f-15e8170fd28f_jpg.jpg)
Namun, pemberontak M23 telah mengisyaratkan bahwa kesepakatan itu tidak akan mengikat mereka. Kelompok pemberontak tersebut tidak terlibat secara langsung dalam kesepakatan damai yang direncanakan meskipun telah menjadi bagian dari perundingan damai lainnya yang sedang berlangsung. Banyak pihak memperkirakan kesepakatan damai kemungkinan tidak akan mengakhiri konflik dengan cepat.
Di Provinsi Kivu Utara di Kongo, yang paling parah dilanda pertempuran, sebagian orang meyakini kesepakatan damai akan membantu menyelesaikan kekerasan, tetapi mereka juga memperingatkan bahwa keadilan harus tetap ditegakkan agar perdamaian abadi dapat terwujud.
”Saya tidak yakin kita bisa memercayai Amerika 100 persen,” kata Hope Muhinuka, seorang aktivis dari provinsi tersebut. ”Kita harus memanfaatkan semua yang kita miliki saat ini sebagai peluang,” katanya lagi.
Konflik yang telah berlangsung puluhan tahun meningkat pada bulan Januari ketika pemberontak M23 maju dan merebut kota strategis Kongo, Goma, diikuti oleh kota Bukavu pada bulan Februari lalu.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/28/cf15249b-65a9-462a-9413-7bee6df9a1b2_jpg.jpg)
M23 adalah satu dari sekitar 100 faksi bersenjata yang bersaing untuk menguasai Kongo timur yang kaya akan tambang mineral. Kongo menuduh Rwanda mendukung pemberontak M23. Pakar PBB menguatkan kabar ini dan mengatakan bahwa sekitar 4.000 tentara dari Rwanda telah bergabung dengan kelompok M23.
Setelah berhasil mendamaikan Israel-Iran, akankan Trump berhasil meredakan konflik Kongo-Rwanda? (AP)
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Heru Sri KumoroPenyelaras Bahasa:
Nur Adji