Setelah Iran-Israel, Trump Beralih ke Kongo-Rwanda

Rwanda dan Kongo menandatangani perjanjian damai di Gedung Putih.

28 Jun 2025 09:21 WIB · Internasional

Oleh Ignatius Danu Kusworo

Menyusul kesepakatan damai antara Israel dan Iran, dua negara tetangga yang juga sedang berperang, Republik Demokratik Kongo dan Rwanda akhirnya menandatangani kesepakatan damai yang difasilitasi Amerika Serikat. 

Kesepakatan ini diharapkan membantu mengakhiri pertempuran mematikan yang telah terjadi puluhan tahun di Kongo timur yang diyakini bermotif perebutan lahan yang mengandung mineral dalam jumlah besar.

Dalam unggahan di media sosialnya, 27 Juni 2025, pukul 21.09 malam waktu Washington, Trump mengatakan bahwa dirinya senang bisa mengatur pertemuan sekaligus penandatanganan perjanjian. Perjanjian itu diharapkan menghentikan pertumpahan darah dan kematian brutal di antara dua negara, Kongo dan Rwanda. 

Warga berjalan melewati kendaraan PBB yang dibakar, di Goma, Republik Demokratik Kongo, pada 1 November 2022. Kerumunan yang marah di Kongo timur telah membakar kendaraan PBB karena frustrasi meningkat atas kemajuan pemberontak M23.

”Ini adalah Hari yang Hebat bagi Afrika,” puji Trump.

Trump mengatakan, kesepakatan itu memberi Amerika Serikat ”banyak hak atas mineral” dari Kongo. Pemerintahannya telah berupaya untuk mendapatkan akses ke mineral yang menjadi kunci bagi sebagian besar teknologi dunia dan berupaya untuk melawan China.

Dalam foto yang dirilis AP, tampak Presiden Donald Trump mengangkat dokumen yang telah ditandatangani untuk diserahkan kepada Menteri Luar Negeri Kongo Therese Kayikwamba Wagner dan Menteri Luar Negeri Rwanda Olivier Nduhungirehe, dan disaksikan Wakil Presiden JD Vance dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio di Ruang Oval Gedung Putih di Washington. 

Presiden Donald Trump memegang dokumen yang telah ditandatangani untuk diberikan kepada Menteri Luar Negeri Kongo Therese Kayikwamba Wagner dan Menteri Luar Negeri Rwanda Olivier Nduhungirehe, disaksikan Wakil Presiden JD Vance dan Sekretaris Negara Marco Rubio menonton, Jumat, 27 Juni 2025, di Kantor Oval di Gedung Putih di Washington.

Kongo, negara di Afrika tengah, telah terkoyak oleh konflik. Ada lebih dari 100 kelompok bersenjata di negara ini. Yang paling menonjol adalah kelompok pemberontak M23, yang didukung oleh negara tetangga Rwanda.  

Dengan 7 juta orang mengungsi di Kongo, PBB menyebutnya sebagai ”salah satu krisis kemanusiaan yang paling berkepanjangan, rumit dan serius di bumi”. 

Pada 1994, Rwanda telah menjadi perhatian dunia ketika terjadi genosida akibat pembunuhan massal oleh kelompok etnis Hutu di Rwanda terhadap suku minoritas Tutsi yang dimulai pada 6 April 1994.

Penduduk melarikan diri dari pertempuran antara pasukan pemerintah dan pemberontak M23 berjalan menuju Goma, Republik Demokratik Kongo, Selasa, 15 November 2022. Kekerasan oleh kelompok bersenjata di Kongo timur telah menyebabkan krisis diplomatik antara Kongo dan Rwanda,. Kedua negara tetangga saling menuduh mendukung kelompok bersenjata yang bermusuhan.
Mantan milisi bekerja di tambang darurat untuk menggali emas di kota Ika Barrier, Republik Demokratik Kongo, 22 April 2006. Kongo timur telah dilanda konflik selama bertahun-tahun. Kelompok M23 adalah salah satu dari lebih dari 100 kelompok bersenjata yang berlomba-lomba untuk mendapatkan pijakan di daerah kaya mineral dekat perbatasan dengan Rwanda.
Seorang pria memasuki salah satu terowongan yang digali dengan sekop di tambang Shinkolobwe Cobalt, 35 kilometer dari kota Likasi, di tenggara, Republik Demokratik Kongo, 10 April 2004.
Anak-anak pengungsi Rwanda berebut kacang polong yang tercecer di pusat distribusi makanan di kamp pengungsi Kibumbu dekat Goma, Zaire, sekarang Kongo, 13 Agustus 1994.
Pemberontak M23 mengawal ratusan tentara bayaran Romania yang tertangkap ke penyeberangan perbatasan ke Rwanda di Goma, Republik Demokratik Kongo, Rabu, 29 Januari 2025.
Pemberontak M23 mengawal tentara bayaran Romania ke penyeberangan perbatasan ke Rwanda di Goma, Republik Demokratik Kongo, Rabu, 29 Januari 2025.

Rwanda adalah negara di Afrika timur yang mayoritas penduduknya berasal dari kelompok etnis Hutu. Dalam konflik antaretnik yang berlangsung selama 100 hari ini, sebanyak 800.000 orang, yang sebagian besar orang Tutsi, menjadi korban pembunuhan massal. Genosida Rwanda, yang bermula di Kigali, terus menyebar dengan sangat brutal ke seluruh negeri.

”Perjanjian yang diinisiasi Amerika kali ini melibatkan ketentuan tentang penghormatan terhadap integritas teritorial, larangan permusuhan serta pelepasan, pelucutan senjata, dan integrasi bersyarat kelompok bersenjata nonnegara,” kata Wakil Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS Tommy Pigott kepada wartawan pada hari Kamis.

Kongo berharap AS akan memberikan dukungan keamanan yang dibutuhkan untuk melawan pemberontak dan mungkin membuat mereka mundur dari kota-kota utama Goma dan Bukavu, dan dari seluruh wilayah Rwanda. Diperkirakan ada sekitar 4.000 tentara yang dimiliki para pemberontak. Rwanda mengatakan bahwa mereka mempertahankan kepentingan teritorialnya dan tidak mendukung M23.

Dalam foto file 27 Juli 1994 ini, seorang anak Hutu Rwanda mati-matian mencoba membangunkan ibunya dari tidur yang sakit di kamp Munigi, di luar Goma, Zaire.

Namun, pemberontak M23 telah mengisyaratkan bahwa kesepakatan itu tidak akan mengikat mereka. Kelompok pemberontak tersebut tidak terlibat secara langsung dalam kesepakatan damai yang direncanakan meskipun telah menjadi bagian dari perundingan damai lainnya yang sedang berlangsung. Banyak pihak memperkirakan kesepakatan damai kemungkinan tidak akan mengakhiri konflik dengan cepat.

Di Provinsi Kivu Utara di Kongo, yang paling parah dilanda pertempuran, sebagian orang meyakini kesepakatan damai akan membantu menyelesaikan kekerasan, tetapi mereka juga memperingatkan bahwa keadilan harus tetap ditegakkan agar perdamaian abadi dapat terwujud.

Seorang penukar mata uang menunggu pelanggan di pusat kota Goma, Republik Demokratik Kongo, Kamis (27/2/2025), satu bulan setelah pemberontak M23 yang didukung Rwanda merebut kota tersebut.
Pemberontak M23 mengawal tentara pemerintah dan polisi yang menyerah ke lokasi yang dirahasiakan di Goma, Republik Demokratik Kongo, Kamis, 30 Januari 2025.
Pemberontak M23 memasuki pusat kota terbesar kedua Kongo timur, Bukavu, dan mengambil alih kantor administrasi Provinsi Kivu Selatan, Minggu, 16 Februari 2025.
Pengungsi Rwanda yang tinggal di Kongo timur sejak genosida Rwanda 1994 dipulangkan dengan bus dari Goma, Republik Demokratik Kongo, 17 Mei 2025.
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio (tengah) menyaksikan Menteri Luar Negeri Rwanda Olivier Nduhungirehe (kiri) dan Menteri Luar Negeri Republik Demokratik Kongo Therese Kayikwamba Wagner (kanan) menandatangani perjanjian damai di Departemen Luar Negeri, Jumat (27/6/2025), di Washington, AS.

”Saya tidak yakin kita bisa memercayai Amerika 100 persen,” kata Hope Muhinuka, seorang aktivis dari provinsi tersebut. ”Kita harus memanfaatkan semua yang kita miliki saat ini sebagai peluang,” katanya lagi.

Konflik yang telah berlangsung puluhan tahun meningkat pada bulan Januari ketika pemberontak M23 maju dan merebut kota strategis Kongo, Goma, diikuti oleh kota Bukavu pada bulan Februari lalu.

Ribuan pengungsi Rwanda menunggu untuk mendapatkan makanan di kamp Mugunga dekat Goma, Republik Demokratik Kongo, yang kemudian dikenal sebagai Zaire, pada tanggal 27 Juli 1994.

M23 adalah satu dari sekitar 100 faksi bersenjata yang bersaing untuk menguasai Kongo timur yang kaya akan tambang mineral. Kongo menuduh Rwanda mendukung pemberontak M23. Pakar PBB menguatkan kabar ini dan mengatakan bahwa sekitar 4.000 tentara dari Rwanda telah bergabung dengan kelompok M23.

Setelah berhasil mendamaikan Israel-Iran, akankan Trump berhasil meredakan konflik Kongo-Rwanda? (AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Ignatius Danu Kusworo
 | 

Editor:

Heru Sri Kumoro
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji