Setelah Longsor, Kini Banjir Bandang Mengintai Banjarnegara

Kondisi geologi membuat ancaman longsor susulan masih mengintai warga Desa Pandanarum, Banjarnegara, dan risiko banjir bandang kini meningkat secara signifikan.

23 Nov 2025 11:00 WIB · Lingkungan

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO

Oleh Pradipta Pandu Mustika

Selama satu bulan terakhir, bencana hidrometerologi silih berganti menghampiri beberapa daerah di Indonesia. Faktor cuaca ekstrem, seperti hujan intesitas tinggi disertai petir dan angin kencang, serta minimnya upaya kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana, memicu kerusakan bangunan hingga menelan korban jiwa.

Salah satu bencana hidrometerologi, yakni longsor, hingga menelan korban jiwa terjadi di Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, Kamis (13/11/2025). Selama lebih dari sepekan upaya pencarian dan pertolongan, tim gabungan mencatat jumlah korban meninggal akibat longsor ini mencapai 20 orang dan 3 orang lainnya masih hilang.

Tiga hari setelah kejadian ini, longsor kembali terjadi di wilayah selatan Jawa, tepatnya di Desa Pandanarum, Kabupaten Banjarnegara, Minggu (16/11/2025). Berdasarkan data terakhir dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga Sabtu (23/11/2025), sebanyak 12 orang dinyatakan meninggal dan 16 orang lainnya masih hilang.

Longsor di Banjarnegara ini menjadi perhatian karena dapat memicu efek domino bencana lainnya. Tim Geologi Disaster Emergency Response Unit dari Universitas Gadjah Mada (DERU UGM) bahkan menyoroti adanya ancaman banjir bandang akibat terbentuknya bendung tanah setelah kejadian longsor di Desa Pandanarum tersebut.

Warga dibantu sukarelawan menyelamatkan barang mereka dari lokasi bencana tanah longsor di Dusun Situkung, Desa Pandanarum, Kecamatan Pandanarum, Banjarnegara, Jawa Tengah, Rabu (19/11/2025). Pada hari itu total korban meninggal yang sudah ditemukan  menjadi 3 orang dan 25 warga lainnya masih dalam pencarian.

Tanda-tanda ancaman banjir bandang ini diketahui setelah Tim DERU UGM bersama tim Kodim serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menemukan beberapa rekahan baru yang terus bergerak. Kemudian ditemukan juga sumber mata air berdebit besar hingga 0,2 meter per detik di puncak bukit lokasi longsor di Desa Pandanarum.

Kedua temuan ini menandakan bahwa tubuh lereng tengah mengalami kejenuhan air ekstrem yang dapat memicu pergerakan massa tanah secara tiba-tiba.

Pakar geologi UGM Dwikorita Karnawati mengemukakan, aliran air dari sumber mata air baru tersebut berpotensi terakumulasi di balik material longsor lama, membentuk kolam alami yang sewaktu-waktu bisa jebol. Ancaman longsor susulan pun masih mengintai warga Desa Pandanarum dan risiko banjir bandang kini meningkat secara signifikan.

Rekahan baru yang muncul mempercepat infiltrasi air hujan ke dalam massa tanah pada lereng. Ketika tekanan air pori meningkat, material yang sebelumnya stabil dapat terdorong turun dan menutup alur sungai kecil di bawahnya.

Infografik Peta Lokasi Longsor di Kecamatan Pandanarum, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah.

Kondisi ini merupakan skenario klasik terbentuknya bendung tanah yang rentan jebol. Apabila dinding bendung tersebut tidak mampu menahan volume air yang terus bertambah, pelepasan tiba-tiba bisa mengakibatkan arus bandang berkecepatan tinggi menuju permukiman di zona bawahnya.

”Jika bendungan tanah itu jebol, alirannya tidak hanya membawa lumpur, tetapi juga seluruh material longsoran yang sebelumnya,” ujar Dwikorita dalam keterangannya, Minggu (23/11/2025).

Dampak lebih luas

Dwikorita memperkirakan dampak dari bencana susulan bisa jauh lebih luas dan kuat dibandingkan longsor awal jika terjadi kondisi tersebut. Sebab, kondisi ini juga dipicu oleh desakan air kolam seluas lapangan sepak bola dengan kedalaman sekitar 1,5 meter.

Bahaya ini diperparah oleh keberadaan lapisan lempung biru yang miring ke arah luar lereng yang ditemukan di bawah zona rekahan. Lapisan ini mengandung mineral lempung, seperti montmorillonite, smectite, dan illite, yang sangat sensitif untuk mengembang apabila terkena air.

Saat kering, lapisan tersebut dapat berubah sekeras batu. Akan tetapi, ketika kondisi jenuh air, dapat berubah menjadi material mirip pasta gigi yang sangat licin.

”Lempung biru ini dalam terminologi geologi disebut serpih, membuat tumpukan tanah di atasnya mudah bergerak dan mempercepat terjadinya longsor berulang. Begitu jenuh air, kekuatan lempung tersebut hilang drastis,” kata Dwikorita.

Tim SAR gabungan dan warga Sukarelawan mendatangi lokasi longsor di Dusun Situkung, Desa Pandanarum, Kecamatan Pandanarum, Banjarnegara, Jawa Tengah, Selasa (18/11/2025). Akses warga dan relawan menuju titik utama lokasi bencana dibatasi karena pergerakan tanah masih terus terjadi dan berisiko. Longsor yang terjadi pada 16 November 2025 mengakibatkan  2 warga meninggal dunia, sekitar 27 warga masih dalam pencarian, dan sedikitnya 823 jiwa mengungsi . 

Kompas/Ferganata Indra Riatmoko

Keberadaan lapisan lempung biru inilah yang menjadi penyebab gerakan tanah di Pandanarum tidak berhenti, bahkan terus bertambah, meski longsor besar telah terjadi. Kombinasi antara rekahan baru, mata air berdebit besar, dan lapisan lempung biru juga menjadikan kondisi lereng sangat labil.

Melihat situasi ini, Tim Geologi UGM menilai, prioritas utama saat ini adalah mencegah bertambahnya volume air di balik material longsor. Langkah darurat seperti pembuatan sudetan pada tumpukan endapan longsor sebagai drainase sementara sangat penting untuk mengurangi tekanan air dan mencegah risiko jebolnya bendung tanah.

Dwikorita juga meminta masyarakat tidak beraktivitas di dasar tebing, bantaran sungai kecil, lembah sempit, ataupun jalur aliran air yang berpotensi menjadi lintasan banjir bandang. Dengan curah hujan tinggi beberapa hari terakhir dan tingginya debit aliran mata air pada lereng mahkota longsoran, tekanan air pori di dalam lereng diperkirakan terus meningkat.

”Keselamatan harus lebih diutamakan. Menghindarlah dari area bawah lereng dan segera laporkan jika muncul rekahan baru atau aliran air yang tidak biasa. Bahaya di Pandanarum bukan hanya longsor, tetapi juga kemungkinan banjir bandang yang dapat terjadi mendadak,” ungkapnya.

Solusi darurat dan mitigasi

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Priatin Hadi Wijaya menuturkan, longsor di Banjarnegara diperparah oleh keberadaan lapisan napal-lepmuing dari formasi halang. Sejak dulu, kondisi ini dikenal sebagai bidang gelincir beberapa longsor besar di wilayah tersebut.

”Jadi, karakteristik geologi lokal sangat berperan sehingga meski lokasi berbeda, pola longsor berulang tetap terjadi dari tahun ke tahun. Kami sudah sampaikan pentingnya mitigasi yang sangat intensif di Banjarnegara dan Cilacap karena wilayah dengan kategori gerakan tanah tinggi meluas di dua kabupaten tersebut,” katanya.

Berkaca dari kondisi kejadian longsor di Banjarnegara dan Cilacap, Hadi menekankan pentingnya melakukan solusi jangka pendek untuk keadaan darurat dan jangka panjang sebagai upaya mitigasi. Untuk jangka pendek, upaya yang dilakukan ialah dengan pengungsian segera dari zona rawan karena potensi longsor susulan di dua lokasi tersebut masih tinggi.

Kemudian, pencarian korban harus dilakukan dengan memperhatikan kondisi cuaca mengingat tanah masih sangat labil. Di sisi lain, perlu juga melakukan penutupan sementara area berisiko tinggi di sekitar lereng curam agar tidak ada akses dari masyarakat.

Adapun untuk solusi jangka panjang, lakukan penetapan dan pengendalian pemanfaatan ruang di zona rawan longsor. Paralel dengan hal itu, perlu ada monitoring lereng berbasis curah hujan, terutama di desa-desa pada formasi halang.

Selain itu, diperlukan juga pemasangan rambu rawan longsor di area permukiman dekat tebing atau lembah sungai. Mitigasi terakhir yang juga penting ialah mengedukasi masyarakat mengenai tanda-tanda awal longsor, seperti retakan tanah, mata air baru, atau suara gemuruh, sehingga dapat mencegah adanya korban jiwa saat terjadi bencana.


Kerabat Kerja

Penulis:

Pradipta Pandu Mustika
 | 

Editor:

Ichwan Susanto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji