Setelah Piala Asia Futsal Kembali ke Jakarta…

Meskipun olahraga baru di Indonesia, futsal sudah berprestasi harum. Piala Asia 2026 adalah momentum ”Garuda” menancapkan diri sebagai kekuatan besar anyar di Asia.

28 Jan 2026 16:18 WIB · Olahraga

KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN

Oleh Muhammad Ikhsan Mahar

(Mungkin) tidak ada olahraga yang paling pesat pertumbuhannya di Indonesia sejak milenium baru selain futsal. Meskipun belum menghadirkan fanatisme serupa sepak bola, futsal telah jauh meninggalkan ”sang kakak”, baik dari sisi pembinaan maupun prestasi di ajang internasional.

Kota Jakarta perlu menunggu selama 24 tahun untuk kembali menyambut bintang-bintang futsal terbaik Asia mengejar supremasi turnamen kontinental, Piala Asia Futsal. Dalam durasi waktu itu pula menunjukkan adanya perkembangan signifikan futsal di Tanah Air.

Ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Asia 2002 menjadi titik awal futsal menyeruak di Indonesia. Berpartisipasi di Piala Asia Futsal edisi keempat itu, Indonesia belum memiliki pemain dan pelatih khusus untuk olahraga yang dimainkan lima lawan lima pemain itu.

Beberapa hari sebelum tampil di Piala Asia Futsal, Agustus 2002, Indonesia baru mengirim dua pelatih untuk mengikuti kursus pelatih futsal. Dua pelatih futsal Indonesia pertama berlisensi Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) adalah Sartono Anwar dan Suhatman Imam.

Kala itu, keduanya masih berstatus pelatih tim Liga Indonesia. Sartono mengasuh PSIS Semarang, sedangkan Suhatman merupakan pelatih Semen Padang.

Pemain timnas futsal Indonesia Dewa Rizki Amanda berhadapan dengan pemain Korea Selatan Kang Jukwang pada babak kualifikasi Grup A di Indonesia Arena, Jakarta, Selasa (27/1/2026). Timnas futsal Indonesia melumat Korea Selatan dengan skor telak 5-0.

KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK)
27-01-2026

Sartono pun tercatat sebagai pelatih perdana timnas futsal Indonesia di ajang resmi. Skuad ”Garuda” menandai partisipasi perdana di Piala Asia Futsal dengan kemenangan atas China, imbang kontra Kirgistan, serta tumbang dari Jepang dan Kuwait.

Selain juru taktik, Indonesia juga mengandalkan pemain-pemain sepak bola profesional untuk tampil di Piala Asia Futsal 2002. Mereka di antaranya Yeyen Tumena, Rahmad Afandi, Komang Adnyana, serta Stanley Mamuaya.

Raksasa Asia Tenggara

Kembalinya Piala Asia Futsal ke Indonesia pada 2026 atau edisi ke-18 menyajikan fakta bahwa futsal telah jauh berkembang. Sepak bola masih menanti gelar bergengsi dalam dua dekade terakhir, sedangkan timnas futsal telah membuktikan diri sebagai salah satu raksasa Asia Tenggara.

Di ajang Kejuaraan ASEAN dan SEA Games, hanya Indonesia yang mampu mengakhiri dominasi Thailand yang rutin tampil di Piala Dunia Futsal. Indonesia adalah tim yang mampu meraih Kejuaraan ASEAN pada edisi 2010 dan 2024, lalu mendapatkan emas SEA Games. Di luar prestasi Indonesia itu, Thailand yang tercatat sebagai kampiun.

Penghenti supremasi Thailand juga ditunjukkan klub-klub Indonesia pada Kejuaraan Futsal Klub AFF. Dalam sembilan edisi turnamen futsal klub-klub terbaik Asia Tenggara itu, klub Thailand meraih juara pada enam edisi. Adapun tiga edisi lainnya dimenangi tim Indonesia, termasuk pada dua edisi terakhir pada 2022 dan 2023.

Pemain timnas futsal Indonesia Dewa Rizki Amanda berhadapan dengan pemain Korea Selatan Kim Jooho pada babak kualifikasi Grup A di Indonesia Arena, Jakarta, Selasa (27/1/2026). Timnas futsal Indonesia melumat Korea Selatan dengan skor telak 5-0.

KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK)
27-01-2026

Capaian positif itu tidak lepas dari perkembangan Liga Futsal Profesional Indonesia. Kompetisi futsal Indonesia telah digagas sejak musim 2006–2007. Dimulai dengan hanya diikuti enam tim yang terpusat di Jakarta, Bandung dan Bogor (Jawa Barat), serta Yogyakarta, kini liga futsal profesional diikuti oleh 12 tim yang tersebar di pulau-pulau besar Indonesia dari Aceh sampai Papua.

Kontestan Liga Futsal Profesional Indonesia 2024–2025 berasal dari dua tim dari Sumatera, dua tim dari Kalimantan, sebuah tim masing-masing mewakili Pulau Sulawesi dan Papua, kemudian enam tim lainnya terdaftar bermarkas di Pulau Jawa dari Jakarta hingga Malang, Jawa Timur.

Asal kota-kota klub Liga Futsal Profesional Indonesia mewakili simpul-simpul pembinaan terbaik futsal di Tanah Air. Di Pulau Sumatera terdapat Aceh dan Padang (Sumatera Barat). Begitu pula Pangsuma asal Pontianak (Kalimantan Barat) dan Falange Banua dari Banjarmasin (Kalimantan Selatan) merepresentasikan demam futsal di dua kota itu.

Sulawesi memiliki Moncongbulo yang berasal dari Gowa (Sulawesi Selatan), lalu Black Steel Papua merupakan representasi sekaligus etalase bagi talenta futsal asal ”Bumi Cenderawasih”.

Pemain timnas futsal Indonesia Syauqi Saud berhadapan dengan pemain Korea Selatan Yoo Seung Mu pada babak kualifikasi Grup A di Indonesia Arena, Jakarta, Selasa (27/1/2026). Timnas futsal Indonesia melumat Korea Selatan dengan skor telak 5-0.

KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK)
27-01-2026

Sementara itu, dominasi Bintang Timur FC yang menjadi kampiun pada empat musim terakhir membuktikan Surabaya, Jawa Timur, menjadi ”pabrik” atlet futsal nasional. Tak heran, Bintang Timur mengirimkan tujuh pemain untuk skuad Garuda di Piala Asia Futsal 2026.

Kedalaman pemain yang kian merata dimaksimalkan pula oleh kehadiran pelatih bertangan dingin asal Spanyol, Hector Souto. Dua gelar tingkat regional, Kejuaraan Futsal ASEAN 2024 dan emas SEA Games 2025, adalah persembahan dari pelatih asing keenam timnas futsal Indonesia itu.

Animo suporter

Dengan kondisi itu, partisipasi di Piala Asia Futsal 2026 bukan lagi sekadar bukti eksistensi futsal Indonesia. Skuad Garuda memburu sejarah anyar untuk melaju lebih jauh dari babak perempat final edisi 2022.

Selain modal kualitas skuad dan pelatih berkualitas, Indonesia juga duduk dengan animo besar suporter. Sebanyak 6.360 pendukung hadir pada laga perdana Indonesia di Piala Asia Futsal 2026, Selasa (27/1/2026), yang berakhir dengan keunggulan 5-0 atas Korea Selatan. Keunggulan itu membuktikan pula peningkatan kekuatan tim Indonesia di level Asia.

Terakhir kali jumpa Korsel di Piala Asia Futsal 2003, Indonesia menderita kekalahan telak. Garuda tumbang 4-6 di Karaj, Iran.

”Saya berharap stadion terisi penuh pada laga berikutnya. Kami ingin dukungan besar datang karena pemain butuh dorongan dari suporter menghadapi laga-laga ketat selanjutnya,” tutur Souto seusai laga kontra Korsel.

Pemain timnas futsal Indonesia berhadapan dengan pemain Korea Selatan pada babak kualifikasi Grup A di Indonesia Arena, Jakarta, Selasa (27/1/2026). Timnas futsal Indonesia melumat Korea Selatan dengan skor telak 5-0.

KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK)
27-01-2026

Wajar Souto berharap tingkat keterisian tribune Indonesia Arena lebih semarak pada dua laga Grup A selanjutnya kontra Kirgistan (Kamis, 29 Januari) dan Irak (Sabtu, 31 Januari), sebab jumlah penonton di laga menghadapi Korsel hanya 39 persen dari total kapasitas 16.500 kursi.

Namun, Souto tak perlu khawatir sebab tiket laga pamungkas Grup A ketika Indonesia kontra Irak sudah terjual habis di laman penjualan tiket daring AFC.

Meskipun belum terisi penuh, Indonesia Arena telah menghadirkan atmosfer elektrik bagi timnas Indonesia. Sorakan dan tepuk tangan menghiasi performa skuad Garuda menghadapi Korsel.

Futsal pun sudah menjadi olahraga keluarga. Tidak hanya remaja dan anak-anak muda yang menonton, keluarga juga hadir langsung di tribune.

”Atmosfernya meriah. Permainan Indonesia juga enak ditonton dan yang terpenting kita menang,” ujar Vani (36) yang menonton bersama suami dan seorang putranya.

Pujian juga disampaikan kapten timnas futsal Korsel, Hwang Un. ”Penonton memberikan tekanan kepada kami. Ini adalah pengalaman berharga bagi kami bertanding di bawah dukungan tim tuan rumah yang sangat meriah,” kata Hwang.

Semoga Indonesia Arena bisa menjadi saksi hadirnya sejarah anyar bagi futsal Indonesia.


Kerabat Kerja

Penulis:

Muhammad Ikhsan Mahar
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Amin Iskandar