Haiti punya segalanya, kecuali kemampuan mencetak gol. Skotlandia, yang punya kemampuan itu, pun jadi pemilik perayaan akhir penantian panjang di Piala Dunia.
14 Jun 2026 12:39 WIB · Olahraga
AFP/FRANCK FIFE
BOSTON, MINGGU — Kunci pertandingan sepak bola adalah mencetak gol. Haiti punya segalanya, mulai dari kebanggaan dan harapan dari masyarakat yang bergejolak, hingga kemampuan fisik dan penguasaan bola di lapangan. Namun, pada akhirnya Skotlandia yang jadi pemenangnya karena bisa mencetak gol.
Skotlandia menaklukkan Haiti, 1-0, pada laga Grup C Piala Dunia 2026 di Stadion Boston, Massachusetts, AS, Minggu (14/6/2026) pagi WIB. Gol semata wayang John McGinn pada menit ke-28 menyempurnakan kebahagiaan Skotlandia yang kembali ke Piala Dunia setelah 28 tahun. Peluang mereka melaju ke babak gugur pun terbuka.
”Kami mungkin sedikit membuat para pendukung kecewa. Semua orang mengatakan itu adalah pertandingan yang harus dimenangkan. Kami memenangi pertandingan,” kata Pelatih Skotlandia Steve Clarke kepada Radio BBC.
”Secara defensif, kami luar biasa. Kami mungkin bisa sedikit lebih baik dalam penguasaan bola, tetapi siapa peduli?” ujarnya lagi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/14/2951cafd9ace7973ecba0f2b63de06f6-wires_photo_9.jpg)
Saat peluit akhir dibunyikan, para pendukung Skotlandia tampak tak menunjukkan kekecewaan itu. Mereka justru bersama-sama merayakan kemenangan dengan lagu perayaan khas mereka ”Yes Sir, I Can Boogie” karya grup disko Spanyol tahun 1970-an, Baccara.
Kemenangan atas Haiti mengakhiri penantian Skotlandia selama 36 tahun. Skotlandia terakhir kali meraih kemenangan di laga Piala Dunia pada 1990 ketika menaklukkan Swedia 2-1.
Seperti yang dikatakan Clarke, hasil pertandingan itu bukanlah kemenangan yang ”cantik”. Skotlandia bukan tim yang mendominasi pertandingan atau lebih banyak menciptakan peluang.
Haiti, dengan penguasaan bola 47 persen, mampu melepaskan total 15 tembakan. Masalahnya, hanya dua tembakan yang mengarah ke gawang. Jumlah itu sama dengan tembakan tepat sasaran Skotlandia dari total tembakan 9 upaya yang dilakukan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/14/9531ae1e16b0f0c577c8746d5a2254e7-1000242333.jpg)
Haiti datang dengan kebanggaan, harapan, dan tekad besar. Mereka kembali ke Piala Dunia setelah terakhir kali tampil di ajang itu pada 1974. Masyarakat Haiti tak perlu lagi mendukung Brasil seperti pada edisi-edisi sebelumnya karena kali ini sudah punya tim sendiri untuk dibanggakan.
Penampilan di lapangan yang cenderung sangat fisik juga jadi kekuatan Haiti. Para pemain ”Les Grenadiers” mampu membangun serangan hingga ke tepi kotak penalti Skotlandia. Namun, penyelesaian akhir selalu jadi kendala.
Tendangan yang menghasilkan bola melebar dari gawang, umpan silang yang tidak menemukan penerimanya, hingga bola yang membentur benteng kokoh lawan, berakhir tanpa hasil untuk Haiti.
Malah, Skotlandia yang bisa memecah kebuntuan lewat serangan yang dimulai dari sisi kanan. John McGinn menyambar bola muntah setelah penyelamatan gemilang kiper Haiti, Johny Placide. Bola mengalami defleksi sebelum akhirnya masuk ke gawang.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/14/e7244dfd0c1dd8e81573f89130e75b12-Haiti_v_Scotland__Group_C_FIFA_World_Cup_2026.jpg)
Lima menit menjelang laga berakhir waktu normal, Frantzdy Pierrot berpeluang menyamakan skor. Pierrot melepaskan sundulan di depan gawang, tetapi hasilnya melenceng.
Pierrot kembali melepaskan tembakan sambil terjatuh pada menit keempat waktu tambahan babak kedua, Namun, tembakannya berhasil diselamatkan oleh kiper Angus Gunn.
”Bukan gol terbaikku, tetapi siapa peduli? Ini kemenangan yang sudah lama kami nantikan. Kami telah melalui banyak kesedihan sebagai sebuah negara. Satu generasi pendukung belum pernah melihat ini,” kata McGinn.
Skotlandia tampil terakhir kali di Piala Dunia pada 1998. Penampilan terakhir itu mengecewakan karena mereka tersingkir di fase grup untuk kedelapan kali beruntun. Sejak abad baru, ”Tartan Army” selalu gagal menembus babak utama Piala Dunia.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/14/8abe1fafbcb09fb6cfeaf4d1ed85f110-063_2281451072.jpg)
Dengan tiga poin dari laga kontra Haiti, Skotlandia membuka peluang melaju ke babak selanjutnya. Andy Robertson dan kawan-kawan kini memimpin klasemen sementara setelah Brasil dan Maroko bermain imbang 1-1.
Di bawah format turnamen FIFA yang diperluas, tiga poin dan selisih gol yang layak di akhir babak penyisihan grup akan menawarkan peluang bagus untuk lolos ke babak gugur.
Meskipun kalah, Pelatih Haiti Sebastien Migne tetap bangga dengan anak-anak asuhannya. Selain memberi perlawanan sengit, kata Migne, timnya mampu mengatasi tantangan di lapangan.
”Ketika kita tahu dari mana kita berasal, kita mampu mengatasi tantangan, tetapi itu membuat kita semakin frustrasi karena kita sedikit kurang beruntung,” katanya.
Migne mengatakan, timnya harus tetap tangguh seperti saat kualifikasi Piala Dunia. Haiti harus menunggu hingga pertandingan terakhir melawan Nikaragua untuk memastikan diri lolos ke Piala Dunia. (REUTERS)
Penulis:
Rebiyyah SalasahEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan