Lonjakan biaya menonton langsung Piala Dunia terasa mencekik sebagian penggemar. Tiket laga, misalnya, bernilai ratusan juta rupiah. Beragam siasat pun dilakukan.
09 Jun 2026 08:30 WIB · Olahraga
AP/Ashley Landis
Hampir setahun lalu, publik sepak bola Tanah Air sempat dibawa terbang tinggi, hampir mencapai puncak euforia. Tim nasional sepak bola Indonesia berjarak cukup dekat dengan Piala Dunia 2026 yang dihelat di Kanada, Amerika Serikat, dan Meksiko.
Pencinta sepak bola Indonesia sudah membayangkan akan datang langsung ke arena Piala Dunia 2026 dan mendukung negara sendiri. Sebagian pendukung dalam negeri dan diaspora Indonesia telah mengambil ancang-ancang memadati tribune stadion di negara penyelenggara.
Namun, apa daya, Indonesia gagal lolos. ”Seandainya timnas (Indonesia) lolos Piala Dunia, saya pasti akan bela-belain beli tiket walaupun itu mahal,” ujar Arpan Ramadhani (41), WNI yang berdomisili di Houston, Texas, Amerika Serikat.
Pada akhirnya, warga Indonesia hanya kembali menjadi pendukung tim-tim tradisional, seperti Argentina, Portugal, Brasil, Inggris, hingga Belanda. Namun, harga tiket pesawat ataupun laga yang melambung tinggi menciutkan nyali untuk menonton langsung di AS, Kanada, dan Meksiko. Apalagi, Piala Dunia kali ini berlangsung di tengah dinamika global yang sangat kompleks, khususnya di AS.
Berdasarkan laman resmi FIFA per 25 Mei 2026, harga tiket terendah di babak grup terpantau pada kisaran 201-1.792 dolar AS (Rp 3,5 juta-Rp 31,8 juta). Pada babak gugur, harga tiket semakin melambung. Bahkan, untuk laga final, harga tiket berkisar 8.786-43.482 dolar AS (Rp 156 juta-Rp 773 juta).
Maka, motivasi menonton langsung laga juga berubah. Penonton bersiasat, mencari yang terjangkau. Bagi Arpan, misalnya, yang penting minimal bisa sekali berdiri di tribune dan larut dalam euforia pesta sepak bola paling akbar sejagat itu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/05/29/f4676223-8344-4f89-9f38-071a7fe95001.jpg)
Maka, Arpan memilih opsi menonton laga tim-tim non-unggulan, salah satunya Arab Saudi melawan tim debutan, Tanjung Verde, yang berlangsung di Stadion NRG, Houston. Ia membeli dua tiket untuk dirinya dan anaknya yang berusia 10 tahun. Dua tiket seharga 500 dolar AS atau setara Rp 8,8 juta itu dibelinya pada April 2026.
Dengan harga sebesar itu, ia hanya bisa menyaksikan di salah satu kategori termurah, yakni tribune paling atas di Stadion NRG yang berkapasitas 71.000 tempat duduk ini. ”Kemarin saya sempat cek lagi, tiketnya sudah mencapai 400-an dolar AS. Walaupun pandangannya cukup jauh ke lapangan, yang penting ikut merasakan euforia yang langka ini,” kata Arpan yang sudah setahun tinggal di Houston.
Sejatinya, Stadion NRG yang hanya berjarak sekitar 24 kilometer dari tempat tinggal Arpan menjadi arena sejumlah negara kuat, salah satunya Portugal yang diperkuat Cristiano Ronaldo. Namun, dengan sejumlah pertimbangan, Arpan hanya memilih menonton satu laga.
”Harga tiket laga Portugal dengan posisi tribune yang sama itu sudah di atas 1.000 dolar AS. Mendingan nonton di layar kaca,” ujarnya.
Padahal, bagi sejumlah penggemar, Piala Dunia 2026 spesial karena kemungkinan menjadi panggung akbar terakhir dua megabintang dunia, yakni Ronaldo dan Lionel Messi. Tak pelak, Yori Sodanango (40), imam Gereja Katolik yang telah 10 tahun tinggal di AS, berencana menonton laga Portugal menghadapi Republik Demokratik Kongo di Stadion NRG.
”Saya sudah janjian dengan pastor dari Kongo yang ingin melihat negaranya dan menyaksikan Piala Dunia terakhir Ronaldo,” ujar Yori.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/22/2f512df2e6b08baf7939c26245f75bdf-WhatsApp_Image_2026_04_22_at_10.19.50.jpeg)
Namun, Yori dan rekannya itu mengurungkan niat mereka. Salah satu alasannya, tiket untuk duduk di stadion dengan tribune empat lantai itu terlampau mahal. Harga tiket termurah untuk laga itu adalah 683 dolar AS atau Rp 12 juta.
Biaya transportasi dari Phoenix menuju Houston pun tak murah sebagai imbas kenaikan harga minyak mentah dunia menyusul penutupan Selat Hormuz akibat perang di Iran. Harga tiket pesawat bisa menembus 300-400 dolar AS.
Biasanya, kata Yori, harga tiket itu hanya berkisar 150-200 dolar AS. ”Tiket pesawat dan nonton itu terlalu mahal. Kalau saya tabung itu terus buat pulang kampung, bisa dipakai makan satu kampung di Kupang,” ujar Yori, asal Nusa Tenggara Timur.
Keputusan serupa diambil Erik Maiseni (26), mahasiswa asal Papua Tengah yang sedang kuliah di Seattle, Washington, AS. Erik sempat antusias ingin menonton langsung, setidaknya satu pertandingan di Stadion Lumen Field, Seattle. Apalagi, selama empat tahun tinggal di AS, Erik juga beberapa kali menonton pertandingan liga lokal.
Pasangan itu telah berutang beberapa ribu dolar AS untuk membiayai kunjungan mereka selama sebulan di AS.
Namun, Erik merasa harga tiket untuk satu laga fase grup Piala Dunia 2026 tak terjangkau oleh dirinya. ”Saya cek harganya di atas 500 dolar AS. Itu terlalu mahal. Dulu, kalau saya nonton Seattle Sounders, dengan 100-150 dolar AS sudah bisa duduk di tribune,” katanya.
Yafi Fayruz (36), diaspora Indonesia di Los Angeles, California, bahkan membatalkan tiket yang telah dibelinya pada Maret 2026, yaitu laga Belgia versus Iran di Stadion SoFi, Los Angeles. Ia menyesal telah membeli tiket seharga 700 dolar AS (Rp 12,4 juta) itu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/05/29/21d04660-b9d0-4b06-a008-8a0953d77b72.jpg)
Ia merasa kantong penonton sengaja dikuras. ”Teman-teman yang suka bola malah bilang mendingan nonton di bar. Saya juga bisa membayangkan, jalanan akan sangat macet nanti menuju stadion,” ujarnya.
Tidak hanya diaspora Indonesia, lonjakan harga tiket laga ataupun transportasi memusingkan penggemar dari negara peserta yang ingin menjadi saksi sejarah Piala Dunia di Amerika Utara dan Tengah itu. Namun, bagi suporter fanatik, ”mendang-mending” tidak ada dalam kamus mereka untuk mendukung tim kesayangan mereka berlaga.
Mengutip laporan dari The Athletic, sejumlah penggemar Argentina rela melakukan apa pun demi menonton Piala Dunia kali ini. Apalagi, edisi 2026 bakal menjadi ”tarian terakhir” megabintang pujaan mereka, Messi.
Sejumlah suporter Argentina telah menguatkan tekad datang langsung ke Amerika meskipun ekonomi domestik kurang baik. Pendapatan bulanan rata-rata untuk pekerja terdaftar di sana adalah sekitar 1.200 dolar AS atau Rp 21 juta. Hampir setengah dari tenaga kerja di Argentina bekerja di sektor informal dengan gaji yang lebih kecil.
Namun, Matias Celestino (43), warga Argentina, tetap nekat mendukung langsung Messi di Amerika. Baginya, menonton langsung Argentina di stadion bak ritual yang tidak boleh dilewatkan. Tak satu pun dari 18 laga Argentina pada babak kualifikasi dilewatkannya.
Di Amerika, ia bahkan akan membawa drum kesayangannya beserta istri dan anaknya. Harga tiket laga Argentina di fase grup yang berkisar 644-1.026 dolar AS (Rp 11,4 juta-Rp 18,2 juta) bukan halangan baginya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/11/22/c1840536-4241-401b-be68-0fb426e26e38.jpg)
Istrinya, Micaela, berencana berhenti dari pekerjaan mengajar demi pergi ke Piala Dunia. Pasangan itu telah berutang beberapa ribu dolar AS untuk membiayai kunjungan mereka selama sebulan di AS.
Celestino sudah menggunakan batas maksimal beberapa kartu kredit, mengadakan undian, dan meminta bantuan teman serta tetangga. Ia menunggu untuk membeli tiket dengan harapan harga turun saat mendekati hari pertandingan
Alejandro Solnicki (41), suporter Argentina yang juga pekerja kasino, bersiasat untuk menekan biaya. Alih-alih membeli tiket pesawat ke AS, dia akan menempuh perjalanan panjang lewat darat selama lima hari sebelum tiba di Missouri untuk laga pertama Argentina.
Penghematan juga akan dilakukan dalam pemilihan akomodasi selama di Amerika. Langkah itu telah ia lakukan saat mendukung Argentina di kualifikasi. Pada laga di Kolombia, ia berbagi kamar hotel dengan 10 orang lainnya. ”Kami semua tidur sambil duduk,” ucapnya.
Bagi para fanatik, biaya bukanlah halangan untuk mendukung tim kesayangan. Biaya tinggi masih bisa diatasi dengan beragam siasat. ”Kami mengeluarkan apa pun yang diperlukan. Kami tidak menggunakan rasionalitas,” ungkap Solnicki penuh rasa bangga.
Penulis:
Nasrun KatingkaEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase