Kompas.id Brief

Siapa Saja Pimpinan Danantara dan Bagaimana Respons Pasar?

Presiden Prabowo Subianto baru saja meresmikan BPI Danantara. Bagaimana kelanjutan lembaga investasi yang akan mengelola aset hampir Rp 15.000 triliun itu?

25 Feb 2025 09:44 WIB · Ekonomi

Oleh Dimas Waraditya Nugraha

Apa yang anda pelajari dari artikel ini?

copy title
  1. Apa itu Danantara?
  2. Siapa saja unsur pimpinannya?
  3. Bagaimana respons pasar sejauh ini?
  4. Bagaimana struktur relasi di antara pimpinannya?

1. Apa itu Danantara?

copy title

Lembaga Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara dibentuk berdasarkan perubahan ketiga atas Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Revisi terhadap UU No 19/2003 telah disetujui menjadi undang-undang dalam rapat paripurna DPR, Selasa (4/2/2025).

Presiden Prabowo Subianto meresmikan Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (24/2/2025). Pada World Governments Summit 2025 di Dubai, Uni Emirat Arab, Kamis (13/2/2025), Presiden menyatakan, Danantara adalah lembaga investasi kekayaan negara (sovereign wealth fund) Indonesia.

Tugasnya adalah mengelola semua aset badan usaha milik negara (BUMN), termasuk dividen yang selama ini menjadi penerimaan negara bukan pajak dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Dana yang dikelola mencapai lebih dari 900 miliar dollar AS atau sekitar Rp 14.674 triliun. Dengan aset sebesar ini, Danantara bakal menjadi sovereign wealth fund keempat terbesar di dunia. Kapitalisasi asetnya jauh lebih besar dibandingkan Temasek (Singapura) atau Khazanah (Malaysia) yang sering dijadikan acuan.

Sekadar untuk memberikan perspektif, anggaran belanja negara Indonesia pada 2025 sekitar Rp 3.000 triliun. Sementara produk domestik bruto (PDB) pada 2024 lebih kurang Rp 23.000 triliun.

2. Siapa saja unsur pimpinannya?

copy title

BP Danantara akan digawangi tiga sosok. Mereka adalah Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan P Roeslani sebagai Chief Executive Officer (CEO) Danantara, Wakil Menteri BUMN Dony Oskaria sebagai Chief Operating Officer (COO) Danantara, dan Wakil Direktur PT Toba Bara Sejahtera (TBS) Energi Utama Tbk Pandu Patria Sjahrir sebagai Chief Investment Officer (CIO) Danantara.

Rosan pernah menjabat sebagai Wakil Menteri BUMN (17 Juli-24 Oktober 2023) dan bertugas sebagai Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Koalisi Indonesia Maju yang mengusung Prabowo-Gibran.

Alumnus Oklahoma State University Amerika Serikat itu memulai karier bisnisnya dengan mendirikan perusahaan konsultasi keuangan bernama PT Republik Indonesia Funding atau Finance Indonesia bersama Sandiaga Salahuddin Uno pada 1997. Lima tahun berselang, perusahaan penasihat keuangan ini berganti nama menjadi Recapital Group.

Pandu adalah kemenakan dari Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Pandjaitan itu memiliki latar belakang sebagai profesional di sektor energi. Berdasarkan laman resmi PT TBS, Pandu memulai kariernya sebagai analis di Lehman Brothers (2001-2002), Principal di Byun & Co, Alternative Energy Fund Asia (2002-2005), serta Senior Analyst di Matlin & Patterson (2007-2010).

Pandu juga tercatat pernah menjadi Ketua Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) selama 2018-2021. Ia juga menduduki kursi Ketua Umum Dewan Pengurus Harian Asosiasi Fintech Indonesia atau Aftech (2021-2025), Komisaris Utama GoTo Financials (2021-2023), serta Komisaris PT Bursa Efek Indonesia (2020-2023). Serupa dengan Rosan yang tergabung dalam TKN Prabowo Gibran, Pandu dipercaya menjadi Wakil Bendahara TKN.

Sementara Dony, selain menduduki posisi Wakil Menteri BUMN, juga memegang posisi Wakil Komisaris Utama di PT Pertamina (Persero). Sebelumnya, Dony adalah Direktur Utama Injourney atau PT Aviasi Pariwisata Indonesia yang merupakan holding BUMN di sektor aviasi dan pariwisata.

Ia juga pernah menjabat sebagai Managing Director Bank Mega (2012-2014), Komisaris Garuda Indonesia (2014-2019), CEO AntaVaya (2014-2020), Presiden Direktor Trans Studio Mall (2014-2020), serta CEO Hospitality & Entertainment CT Corp (2018-2020).

3. Bagaimana respons pasar sejauh ini?

copy title

Peresmian BPI Danantara menjadi salah satu perhatian investor di pasar modal. Pasar berharap pembentukan Danantara tidak mengganggu operasionalisasi emiten BUMN. Pasar berharap pembentukan Danantara yang akan menaungi sejumlah BUMN tersebut akan terus memberikan keuntungan bagi investor saham.

Pilarmas Investindo Sekuritas menilai investor asing ikut memperhatikan agenda pemerintah terkait peresmian BPI Danantara. Agenda tersebut dinilai tidak menjadi katalis negatif bagi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang pada penutupan perdagangan Senin minus 0,78 persen dibandingkan penutupan perdagangan akhir pekan lalu ke level 6.749. Penurunan IHSG ini lebih dibebani aksi jual investor asing yang khawatir akan perlambatan ekonomi Amerika Serikat dan inflasi tinggi.

Menurut tim analis Pilarmas, pasar berharap pembentukan BPI Danantara akan memberikan kontribusi positif bagi ekonomi dalam negeri dan tidak terjadi distorsi pasar yang akan mendorong persaingan tidak sehat. Hal ini diharapkan sejalan dengan komitmen Presiden bahwa pengelolaan BPI Danantara bebas korupsi.

Dalam peluncuran di Istana Kepresidenan, Jakarta, Presiden Prabowo menyampaikan pidato yang menegaskan bahwa Danantara harus dikelola dengan sebaik-baiknya, sangat hati-hati, serta transparan. Oleh sebab itu, Danantara harus dapat diaudit setiap saat oleh siapa pun.

4. Bagaimana struktur relasi di antara pimpinannya?

copy title

Peneliti Institute For Development of Economics and Finance (Indef), Andry Satrio Nugroho, memandang adanya rangkap peran antaroperator sebagai regulator dalam struktur Danantara menjadi celah dalam pengawasan dan akuntabilitas dari lembaga ini.

”Jadi, dalam struktur Danantara saat ini, menteri akan mengawasi menteri. Menteri Investasi (Rosan Roeslani) dan Wakil Menteri BUMN selaku CEO dan COO Danantara akan diawasi Menteri BUMN (Erick Thohir) selaku Ketua Dewan Pengawas Danantara,” katanya.

Adanya rangkap peran dan jabatan, menurut Andry, akan memicu pertanyaan bagi pelaku pasar dan investor global terkait akuntabilitas Danantara. Sebab, fungsi pengawasan dan operasional akan berpotensi bias.

”Adanya Menteri BUMN sebagai pengawas dan Wakil Menteri BUMN sebagai kepala operasional, menurut saya, juga menjadi sentimen bahwa Kementerian BUMN tidak mau melepas (peran mereka) begitu saja ke Danantara,” kata Andry.


Kerabat Kerja

Penulis:

Dimas Waraditya Nugraha
 | 

Editor:

FX Laksana Agung Saputra
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari