Apa yang bisa Anda pelajari dari artikel ini?
- Apakah Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei sudah menyiapkan pengganti?
- Bagaimana struktur kekuasaan di Iran?
- Apa yang akan dilakukan Iran sepeninggal Khamenei?
- Bagaimana perjalanan Khamenei menjadi Pemimpin Tertinggi Iran?
Apakah Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei sudah menyiapkan pengganti?
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei terbunuh dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel, Sabtu (28/2/2026). Kantor berita resmi Iran, IRNA, mengumumkan masa berkabung selama 40 hari di seluruh negeri.
Sebelum serangan AS-Israel, Khamenei telah berulang kali menegaskan, kematiannya hanya perkara waktu dan tidak akan melemahkan pemerintahan Iran.
Ia disebut telah mempersiapkan negara untuk perang panjang dan suksesi kepemimpinan sebagai konsekuensi dari perang. Empat lapis penerus disiapkan Khamenei. Setiap calon penerus diminta menyiapkan calon penerus berikutnya.
Nama-nama yang ada dalam daftar calon penerus antara lain mantan Panglima Garda Revolusi Iran (IRGC) Mayor Jenderal Yahya Rahim Safav; Ketua DPR Iran yang juga mantan perwira IRGC, Brigadir Jenderal (Purn) Mohammad Bagher Ghalibaf; serta pensiunan perwira IRGC, Brigjen (Purn) Ali Larijani, yang kini menjadi Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi. Ia praktis menjalankan kebijakan harian Iran.
Dalam garis keturunan Khamenei juga terdapat sosok yang cukup berpengaruh, yaitu putra keduanya, Mojtaba Khamenei. Ia memiliki hubungan dekat dengan IRGC. Mojtaba bertugas di angkatan bersenjata selama perang Iran-Irak dan disebut memiliki pengaruh di balik layar sebagai penjaga kekuasaan ayahnya.
Tokoh berpengaruh lain adalah imam shalat Jumat Teheran, Ahmad Khatami. Ia termasuk dalam Dewan Penjaga Iran yang beranggotakan 12 orang. Khatami dikenal sebagai sosok yang setia kepada Khamenei.
Bagaimana struktur kekuasaan di Iran?
Di Iran, posisi pemimpin tertinggi sangat strategis dan sentral. Dengan menganut konsep dan sistem politik vilayat-e fakih, negara itu menempatkan wali el-fakih sebagai pemimpin tertinggi. Wali el-fakih atau pemimpin spiritual ini yang dijabat Khamenei, penerus pemimpin Revolusi 1979, Ayatollah Ruhollah Khomeini.
Seperti namanya, pemimpin tertinggi di Iran memegang jabatan puncak. Ia menjadi panglima tertinggi (commander-in-chief) angkatan bersenjata. Ia juga penentu arah kebijakan luar negeri, yang secara umum bercirikan konfrontasi dengan AS dan Israel.
Berdasarkan Konstitusi Iran, posisi pemimpin tertinggi ditunjuk oleh Majelis Pakar, lembaga beranggotakan 88 ulama yang bertugas memberi nasihat kepada pemimpin tertinggi. Mereka juga secara teoretis bisa mencopot jabatan pemimpin tertinggi. Para anggota Majelis Pakar dipilih melalui pemilu.
Selain Majelis Pakar, ada kelompok pengawas lain yang beranggotakan para ulama dan hakim yang menjadi mitra dekat Khamenei. Kelompok ini memegang kendali dan veto atas undang-undang serta menjadi penentu siapa saja yang bisa diangkat sebagai kandidat pemimpin tertinggi.
Majelis Pakar dapat memilih pengganti Khamenei dalam satu sesi atau beberapa pertemuan. Proses seleksi dapat memakan waktu satu hari atau berhari-hari. Akan tetapi, majelis ini mungkin saja telah memilih pengganti Khamenei sehingga bisa segera mengumumkannya.
Sampai pengumuman pengganti Khamenei, kekuasaan konstitusional dari Pemimpin Tertinggi Iran dijalankan oleh dewan beranggotakan tiga orang. Dewan itu terdiri dari presiden, ketua parlemen, dan kepala peradilan dari Dewan Penjaga.
Apa yang akan dilakukan Iran sepeninggal Khamenei?
IRGC menegaskan, bakal ada pembalasan ”paling ganas dalam sejarah” terhadap Israel dan AS menyusul gugurnya Khamenei. Serangan AS dan Israel itu juga menewaskan tujuh pejabat senior Iran di bidang keamanan dan pertahanan. Salah satunya adalah Komandan IRGC Jenderal Mohammad Pakpour.
Setelah Khamenei terbunuh, penggantinya masih sulit diprediksi. Apalagi, serangan AS-Israel juga menewaskan sejumlah tokoh senior dan petinggi IRGC. Dalam praktiknya, pilihan kemungkinan akan dibuat oleh tokoh-tokoh senior Iran dan kemudian disetujui oleh Majelis Ahli.
Di Iran, banyak orang turun ke jalan di kota-kota di seluruh Iran sebagai tanggapan atas berita kematian Khamenei. Mereka membawa bendera Iran dan poster Khamenei sambil menyuarakan kesedihan. Di Teheran, ratusan warga berkumpul di Lapangan Inkilap untuk berduka dan mengecam AS-Israel.
”Bertentangan dengan klaim bahwa Khamenei bersembunyi di bawah tanah, ia sedang menjalankan tugasnya, berada di tengah masyarakat,” tulis media Iran.
Sementara media Israel, Ynetnews, melaporkan, Israel masih mengincar sejumlah pejabat pemerintahan Iran lainnya, termasuk Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Ali Larijani.
Bagaimana perjalanan Khamenei menjadi Pemimpin Tertinggi Iran?
Ali Khamenei lahir pada 19 April 1939 di Mashhad yang terletak di timur laut Iran. Ia anak kedua dari Javad Khamenei, pemimpin terkemuka Muslim yang hidup dalam kesederhanaan. Keluarganya pertama kali menetap di Tabriz, sebelah barat laut Iran, sebelum pindah ke Mashhad.
Dilansir dari Al Jazeera, Khamenei memulai studinya pada usia empat tahun untuk belajar alfabet dan Al Quran di maktab, sekolah tingkat pertama.
Ia kemudian melanjutkan pendidikannya ke sekolah teologi di Mashhad. Khamenei mempelajari logika, filsafat, dan yurisprudensi Islam selama lima tahun di sekolah agama Soleiman Khan dan Nawwab. Setelah itu, ia menempuh pendidikan tingkat lanjut yang disebut darse kharij dengan ulama dan pengajar terkemuka, seperti Ayatollah Milani.
Pada tahun-tahun berikutnya, ia melanjutkan studi di pusat-pusat pendidikan tinggi Syiah yang lebih bergengsi di Najaf dan Qom. Di kota Qom, ia belajar dan menjalin hubungan dekat dengan sejumlah ulama besar, termasuk Ayatollah Ruhollah Khomeini. Kala itu, Khomeini populer di kalangan pelajar muda karena sikapnya yang menentang Shah Mohammad Reza Pahlavi.
Pahlavi digulingkan dalam Revolusi Iran pada 1979. Khomeini kemudian mendirikan Republik Islam Iran. Ia memimpin negara itu hingga akhir hayatnya pada 1989. Setelah Khomeini wafat, Khamenei ditunjuk oleh Majelis Ahli sebagai penggantinya. Sejak saat itu, ia menjadi Pemimpin Tertinggi Iran. Sebelumnya, ia menjadi salah satu pemimpin Iran selama perang melawan Irak pada 1980-an.
Apa yang bisa Anda pelajari dari artikel ini?
- Apakah Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei sudah menyiapkan pengganti?
- Bagaimana struktur kekuasaan di Iran?
- Apa yang akan dilakukan Iran sepeninggal Khamenei?
- Bagaimana perjalanan Khamenei menjadi Pemimpin Tertinggi Iran?
Apakah Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei sudah menyiapkan pengganti?
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei terbunuh dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel, Sabtu (28/2/2026). Kantor berita resmi Iran, IRNA, mengumumkan masa berkabung selama 40 hari di seluruh negeri.
Sebelum serangan AS-Israel, Khamenei telah berulang kali menegaskan, kematiannya hanya perkara waktu dan tidak akan melemahkan pemerintahan Iran.
Ia disebut telah mempersiapkan negara untuk perang panjang dan suksesi kepemimpinan sebagai konsekuensi dari perang. Empat lapis penerus disiapkan Khamenei. Setiap calon penerus diminta menyiapkan calon penerus berikutnya.
Nama-nama yang ada dalam daftar calon penerus antara lain mantan Panglima Garda Revolusi Iran (IRGC) Mayor Jenderal Yahya Rahim Safav; Ketua DPR Iran yang juga mantan perwira IRGC, Brigadir Jenderal (Purn) Mohammad Bagher Ghalibaf; serta pensiunan perwira IRGC, Brigjen (Purn) Ali Larijani, yang kini menjadi Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi. Ia praktis menjalankan kebijakan harian Iran.
Dalam garis keturunan Khamenei juga terdapat sosok yang cukup berpengaruh, yaitu putra keduanya, Mojtaba Khamenei. Ia memiliki hubungan dekat dengan IRGC. Mojtaba bertugas di angkatan bersenjata selama perang Iran-Irak dan disebut memiliki pengaruh di balik layar sebagai penjaga kekuasaan ayahnya.
Tokoh berpengaruh lain adalah imam shalat Jumat Teheran, Ahmad Khatami. Ia termasuk dalam Dewan Penjaga Iran yang beranggotakan 12 orang. Khatami dikenal sebagai sosok yang setia kepada Khamenei.
Bagaimana struktur kekuasaan di Iran?
Di Iran, posisi pemimpin tertinggi sangat strategis dan sentral. Dengan menganut konsep dan sistem politik vilayat-e fakih, negara itu menempatkan wali el-fakih sebagai pemimpin tertinggi. Wali el-fakih atau pemimpin spiritual ini yang dijabat Khamenei, penerus pemimpin Revolusi 1979, Ayatollah Ruhollah Khomeini.
Seperti namanya, pemimpin tertinggi di Iran memegang jabatan puncak. Ia menjadi panglima tertinggi (commander-in-chief) angkatan bersenjata. Ia juga penentu arah kebijakan luar negeri, yang secara umum bercirikan konfrontasi dengan AS dan Israel.
Berdasarkan Konstitusi Iran, posisi pemimpin tertinggi ditunjuk oleh Majelis Pakar, lembaga beranggotakan 88 ulama yang bertugas memberi nasihat kepada pemimpin tertinggi. Mereka juga secara teoretis bisa mencopot jabatan pemimpin tertinggi. Para anggota Majelis Pakar dipilih melalui pemilu.
Selain Majelis Pakar, ada kelompok pengawas lain yang beranggotakan para ulama dan hakim yang menjadi mitra dekat Khamenei. Kelompok ini memegang kendali dan veto atas undang-undang serta menjadi penentu siapa saja yang bisa diangkat sebagai kandidat pemimpin tertinggi.
Majelis Pakar dapat memilih pengganti Khamenei dalam satu sesi atau beberapa pertemuan. Proses seleksi dapat memakan waktu satu hari atau berhari-hari. Akan tetapi, majelis ini mungkin saja telah memilih pengganti Khamenei sehingga bisa segera mengumumkannya.
Sampai pengumuman pengganti Khamenei, kekuasaan konstitusional dari Pemimpin Tertinggi Iran dijalankan oleh dewan beranggotakan tiga orang. Dewan itu terdiri dari presiden, ketua parlemen, dan kepala peradilan dari Dewan Penjaga.
Apa yang akan dilakukan Iran sepeninggal Khamenei?
IRGC menegaskan, bakal ada pembalasan ”paling ganas dalam sejarah” terhadap Israel dan AS menyusul gugurnya Khamenei. Serangan AS dan Israel itu juga menewaskan tujuh pejabat senior Iran di bidang keamanan dan pertahanan. Salah satunya adalah Komandan IRGC Jenderal Mohammad Pakpour.
Setelah Khamenei terbunuh, penggantinya masih sulit diprediksi. Apalagi, serangan AS-Israel juga menewaskan sejumlah tokoh senior dan petinggi IRGC. Dalam praktiknya, pilihan kemungkinan akan dibuat oleh tokoh-tokoh senior Iran dan kemudian disetujui oleh Majelis Ahli.
Di Iran, banyak orang turun ke jalan di kota-kota di seluruh Iran sebagai tanggapan atas berita kematian Khamenei. Mereka membawa bendera Iran dan poster Khamenei sambil menyuarakan kesedihan. Di Teheran, ratusan warga berkumpul di Lapangan Inkilap untuk berduka dan mengecam AS-Israel.
”Bertentangan dengan klaim bahwa Khamenei bersembunyi di bawah tanah, ia sedang menjalankan tugasnya, berada di tengah masyarakat,” tulis media Iran.
Sementara media Israel, Ynetnews, melaporkan, Israel masih mengincar sejumlah pejabat pemerintahan Iran lainnya, termasuk Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Ali Larijani.
Bagaimana perjalanan Khamenei menjadi Pemimpin Tertinggi Iran?
Ali Khamenei lahir pada 19 April 1939 di Mashhad yang terletak di timur laut Iran. Ia anak kedua dari Javad Khamenei, pemimpin terkemuka Muslim yang hidup dalam kesederhanaan. Keluarganya pertama kali menetap di Tabriz, sebelah barat laut Iran, sebelum pindah ke Mashhad.
Dilansir dari Al Jazeera, Khamenei memulai studinya pada usia empat tahun untuk belajar alfabet dan Al Quran di maktab, sekolah tingkat pertama.
Ia kemudian melanjutkan pendidikannya ke sekolah teologi di Mashhad. Khamenei mempelajari logika, filsafat, dan yurisprudensi Islam selama lima tahun di sekolah agama Soleiman Khan dan Nawwab. Setelah itu, ia menempuh pendidikan tingkat lanjut yang disebut darse kharij dengan ulama dan pengajar terkemuka, seperti Ayatollah Milani.
Pada tahun-tahun berikutnya, ia melanjutkan studi di pusat-pusat pendidikan tinggi Syiah yang lebih bergengsi di Najaf dan Qom. Di kota Qom, ia belajar dan menjalin hubungan dekat dengan sejumlah ulama besar, termasuk Ayatollah Ruhollah Khomeini. Kala itu, Khomeini populer di kalangan pelajar muda karena sikapnya yang menentang Shah Mohammad Reza Pahlavi.
Pahlavi digulingkan dalam Revolusi Iran pada 1979. Khomeini kemudian mendirikan Republik Islam Iran. Ia memimpin negara itu hingga akhir hayatnya pada 1989. Setelah Khomeini wafat, Khamenei ditunjuk oleh Majelis Ahli sebagai penggantinya. Sejak saat itu, ia menjadi Pemimpin Tertinggi Iran. Sebelumnya, ia menjadi salah satu pemimpin Iran selama perang melawan Irak pada 1980-an.