BINA DAMAI

Sikap Saling Tidak Percaya Mengemuka Menjelang Negosiasi AS-Iran

Pengalaman dikhianati, pelanggaran atas kesepakatan, serta serangan pada mitra dekat menjadi ganjalan. Ditambah sensitivitas isu yang dibahas, negosiasi bakal alot.

11 Apr 2026 17:36 WIB · Internasional

AFP/FAROOQ NAEEM

Oleh Bonifasius Josie Susilo H

ISLAMABAD, SABTU — Mata dunia kini tertuju ke Islamabad, Pakistan. Menyusul kehadiran tim negosiator Iran, Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance, Sabtu (11/4/2026), tiba di Islamabad, Paksitan. Ia akan memimpin tim negosiator AS.

Sehari sebelumnya, tim negosiator Iran dipimpin Ketua Parlemen Mohammad Baqer Ghalibaf tiba di Islamabad pada Jumat malam. Ghalibaf didampingi Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi. Dimediasi oleh Pakistan sebagai tuan rumah, AS dan Iran akan mencari solusi untuk menghentikan perang yang telah berminggu-minggu berlangsung di wilayah Teluk.

Baik Ghalibaf maupun Vance disambut hangat oleh Panglima Angkatan Bersenjata Pakistan Jenderal Besar Asim Munir. Munir, yang memiliki hubungan pribadi dengan Presiden AS Donald Trump, menyambut Vance di Pangkalan Udara Nur Khan. Kehangatan dan rasa hormat yang diungkapkan oleh Munir merefleksikan harapan Pakistan pada keberhasilan negosiasi itu. Islamabad ingin proses itu dapat menemukan solusi sekaligus menghentikan pertempuran AS-Israel melawan Iran secara permanen.

TOPSHOT - This handout photograph taken and released by Pakistan's Ministry of Foreign Affairs on April 11, 2026 shows Pakistan's Foreign Minister Ishaq Dar (2nd R) and Army Chief Syed Asim Munir (2nd L) walking with Iran's Foreign Minister Abbas Araghchi (centre L) and Iran�s Parliament Speaker Mohammad Bagher Ghalibaf (centre R) upon their arrival at Nur Khan air base in Rawalpindi, near Islamabad.  (Photo by HANDOUT / Pakistan's Ministry of Foreign Affairs / AFP) / -----EDITORS NOTE --- RESTRICTED TO EDITORIAL USE - MANDATORY CREDIT "AFP PHOTO / Pakistan's Ministry of Foreign Affairs " - NO MARKETING - NO ADVERTISING CAMPAIGNS - DISTRIBUTED AS A SERVICE TO CLIENTS
TOPSHOT - US Vice President JD Vance (C) walks with Pakistan's Chief of Defence Forces and Chief of Army Staff Field Marshall Asim Munir (L) and Pakistani Deputy Prime Minister and Foreign Minister Mohammad Ishaq Dar after arriving for talks with Iranian officials in Islamabad on April 11, 2026. (Photo by Jacquelyn MARTIN / POOL / AFP)

Meski tim negosiator AS-Iran telah berada di Islamabad, belum diketahui kapan pertemuan kedua pihak akan digelar. Saat berita kedatangan Vance mengemuka, delegasi Teheran dikabarkan tengah dalam perjalanan menuju kantor Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif. Mereka dijadwalkan menggelar pertemuan pada pukul 13.00 waktu Islamabad atau pukul 15.00 waktu Jakarta.

Penuh ketidakpastian

Merujuk harapan Munir, situasi jelang perundingan justru memperlihatkan nuansa yang cenderung negatif. Ketika negosiator AS dan Iran terbang menuju Pakistan, Israel kembali menghujani Lebanon dengan bom. Fakta itu mempertebal perbedaan siknifikan pada isu-isu kunci yang ”memasung” kedua pihak bertikai.

Teheran, misalnya, berkeras bahwa pembicaraan formal hanya dapat dimulai setelah Washington memberikan komitmen tentang gencatan senjata di Lebanon. Sementara Israel dan AS menegaskan, isu Lebanon bukan bagian dari gencatan senjata Iran-AS.

Kemudian, Iran menginginkan AS mengakhiri sanksi atas Iran dan membuka blokir aset Iran. Namun, Washington sejauh ini hanya mengindikasikan pelonggaran sanksi dengan konsesi Iran mengakhiri program nuklir dan rudalnya.

Infografik Selat Hormuz yang Strategis

Isu lain yang juga sensitif adalah perkara Selat Hormuz di mana Iran menginginkan pengakuan atas otoritas Teheran terhadap selat itu. Iran juga berniat memberlakukan pungutan atas biaya transit dan mengendalikan lalu lintas selat. Terhadap proposal itu, Washington tegas-tegas menginginkan agar Selat Hormuz dibuka tanpa batasan apa pun, dan tidak ada pungutan ”tol”.

Perkara yang tak kalah sulit dan rumit adalah Iran berkeras ingin memperkaya uranium untuk pemenuhan energi. Namun, hal itu telah ditolak oleh Washington. Presiden AS Donald Trump berkeras hal itu tidak dapat dinegosiasikan.

AS dan Israel ingin kemampuan dan pengembangan rudal balistik Iran dikurangi secara drastis. Adapun Teheran menegaskan, pengembangan rudal balistik adalah hak Iran dan hal itu tidak dapat dinegosiasikan.

Situasi kian pelik lantaran sensitivitas isu berkelindan dengan sikap saling tidak percaya antara kedua pihak bertikai. ”Pengalaman kami dalam bernegosiasi dengan Amerika selalu diwarnai kegagalan dan janji-janji yang dilanggar,” kata Ghalibaf, Jumat lalu.

Hal senada juga diungkapkan Araghchi saat melakukan pembicaraan via telepon dengan mitranya, Menlu Jerman Johann Wadephul. Menurut laporan Kantor Berita Tasnim, kepada Wadephul, Araghchi mengatakan bahwa Iran memasuki negosiasi dengan ketidakpercayaan penuh karena pelanggaran komitmen dan pengkhianatan berulang kali oleh Amerika Serikat.

Terpisah, juru bicara Pemerintah Iran, Fatemeh Mohajerani dalam siaran di televisi Iran mengibaratkan, saat negosiasi berlangsung, telunjuk siap di ujung pelatuk. "Kami akan bernegosiasi dengan siap siaga," kata Mohajerani. "Meskipun kami terbuka untuk berdialog, kami juga sepenuhnya menyadari kurangnya kepercayaan, oleh karena itu, tim diplomatik Iran memasuki proses ini dengan sangat hati-hati."

Nuansa serupa juga mengemuka dari AS. Sebelum meninggalkan AS menuju Pakistan, Vance mengatakan, jika Iran bersedia bernegosiasi dengan itikad baik, AS bersedia menyambutnya dengan tangan terbuka. ”Tetapi, jika mereka akan mencoba mempermainkan kami, mereka akan menemukan bahwa tim negosiasi tidak begitu responsif,” kata Vance.

Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif tak menampik rumitnya situasi itu. Ia mengatakan, pembicaraan yang digelar bakal tidak mudah. ”Tahap yang lebih sulit menanti di depan,” kata Sharif. ”Ini adalah tahap yang, dalam bahasa Inggris, disebut setara dengan berhasil atau gagal,” katanya menambahkan.

Meski diwarnai kerumitan, Menlu Pakistan Ishaq Dar mencoba optimistis. Ia berharap kedua pihak bertikai dapat menggelar pembicaraan yang konstruktif. Dar juga menegaskan kesediaan Pakistan memfasilitasi upaya untuk mencari solusi permanen dan berkelanjutan atas perang di Teluk.

Merujuk sumber yang dikutip Kantor Berita AFP, Pakistan dikabarkan telah membentuk tim spesialis untuk memfasilitasi kedua pihak dalam negosiasi tentang navigasi, nuklir, dan masalah-masalah penting lainnya. Selain itu, proses negosiasi akan dipantau secara ketat oleh mediator dari Mesir dan Turki. China dalam koordinasi Pakistan juga disebut-sebut turut ”mendukung” upaya itu.

Terkait keterlibatan China, Trump telah mengonfirmasinya. China, ungkap Trump, membantu mendorong Iran menuju meja perundingan.

(AP/AFP/Reuters)


Kerabat Kerja

Penulis:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra