AC Milan masih belum tersentuh kekalahan lagi meski penampilannya tidak sempurna. Luka Modric jadi pahlawan menghadapi Pisa.
14 Feb 2026 09:21 WIB · Olahraga
AFP/PIERO CRUCIATTI
PISA, SABTU - Bayang-bayang ”kutukan” tim papan bawah masih mengintai AC Milan kendati berhasil mengatasi perlawanan penghuni zona degradasi, Pisa. Kemenangan susah payah itu menegaskan kembali peran sentral Luca Modric. AC Milan pun masih belum tersentuh kekalahan lagi.
AC Milan sebenarnya bisa saja menang tanpa drama jika melakoni laga di Stadion Romeo Anconetan, Pisa, Sabtu (14/2/2026), dengan mentalitas yang sama seperti ketika menghadapi tim peringkat lima besar. Namun, tim asuhan Massimiliano Allegri ini tampak memilih menyulitkan diri sendiri sebelum akhirnya menang 2-1 pada laga pekan ke-25 Liga Italia tersebut.
Hal itu terpampang dalam statistik. Tim tamu memang unggul secara penguasaan bola dengan 66 persen, tetapi secara serangan kalah efektif dari Pisa. Akurasi tembakan hanya 28 persen, berbanding 33 persen milik tuan rumah. Peluang besar via titik putih pun tak mampu dikonversi menjadi gol.
”Malam ini tidak mudah karena Pisa adalah tim yang tidak nyaman untuk dihadapi. Kami malah mengambil risiko. Pada akhirnya kami meraih tiga poin, tapi dari laga ini jelas menunjukkan kami harus meningkatkan performa,” tutur Allegri kepada DAZN.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/30/24e8385b2705601aaf63bac29a6e3345-1000035243.jpg)
Padahal, saat melawan pemuncak klasemen Inter Milan pada pekan ke-12, misalnya, AC Milan tampil lebih baik. Meski ada juga faktor gengsi derbi, paling tidak ”I Rossoneri” membawa mentalitas pemenang dengan serangan yang efektif sebesar 42 persen walau jumlah tembakan hanya 7 berbanding 20.
Masalahnya, tim-tim papan bawah seperti Pisa memang kerap menyulitkan Milan. Seperti ada kutukan yang membayangi Mike Maignan dan kawan-kawan ketika melawan tim yang di atas kertas sebenarnya lebih lemah dari mereka.
Saat bermain di kandang melawan Pisa pun, Milan cuma bisa membawa pulang satu poin setelah imbang 2-2. Alhasil, ketika bertandang ke markas Pisa, Milan hanya mampu meraih 15 poin dari total 11 laga melawan tim-tim paruh bawah klasemen.
Harapan Milan bermain lebih baik pada pertemuan kedua sebenarnya muncul selepas Ruben Loftus-Cheek mencetak gol lewat sundulan pada menit ke-39. Namun, gol itu tercipta setelah Loftus-Cheek ”dibangunkan” Allegri yang marah-marah dengan performanya.
Dilansir dari media Italia, Tuttomercatoweb, Allegri menilai, gelandang asal Inggris itu tidak aktif bergerak. Tidak cuma peluang untuk diri sendiri menjadi menipis, Loftus-Cheek juga kurang memberi suplai bola untuk jadi opsi rekan setimnya.
Allegri lantas meminta Loftus-Cheek untuk lebih berani menyerang dan melihat ruang kosong di kotak penalti layaknya seorang striker.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/07/28/e757236f-7343-4c1b-80ad-7a797f2eec53_jpg.jpg)
”Para pemain lain harus belajar dari Luka (Modric). Terlepas dari kualitas tekniknya yang luar biasa, dia terus berusaha dan mencoba untuk meraih kemenangan. Itu lebih karena karakter,” ujar Allegri.
Modric, yang dinobatkan sebagai Man of the Match, memang muncul sebagai penyelamat ketika Milan dalam kesusahan. Setelah eksekusi penalti Niclas Fulkrug gagal pada menit ke-56, Milan justru kebobolan oleh Felipe Loyola pada menit ke-71. Skor imbang kembali membayangi tim tamu.
Modric hadir untuk menjadi pembeda. Gelandang veteran ini merangsek ke kotak penalti lewat kerja sama dengan Samuele Ricci untuk memastikan Milan kembali unggul lima menit sebelum laga usai dalam waktu normal.
Gol kemenangan Modric membawanya mencatatkan diri sebagai pemain tertua ketiga yang mencetak gol di Serie A pada usia 40 tahun 157 hari. Modric bersanding dengan Alessandro Costacurta dan Zlatan Ibrahimovic.
Modric mengakui, timnya lengah pada babak kedua sehingga membuka jalan bagi Pisa untuk menyamakan kedudukan. Namun, mereka berhasil bangkit dengan bermain lebih menekan untuk bisa mencetak gol balasan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/29/74820a4f-9d69-440a-9e2d-e63d8370ff19_jpg.jpg)
”Ini penting bagi kami. Kami tidak boleh melewatkan kemenangan hari ini karena kami tahu poin-poin ini sangat penting untuk tetap bersaing memperebutkan gelar liga, dan kami berhasil melakukannya,” kata Modric.
Kemenangan, yang dibayar mahal dengan kartu merah Adrien Rabiot menjelang akhir laga, ini mengantarkan Milan tak terkalahkan dalam 23 laga. Sejak takluk 1-2 dari Cremonese pada pekan perdana, Milan belum tersentuh kekalahan lagi.
Dengan 15 kemenangan, 8 seri di Serie A musim ini, Milan menyamai rekor tak terkalahkan terpanjang ketiga mereka dalam satu musim (23 pertandingan berturut-turut, antara September 1992 dan Maret 1993. I Rossoneri juga memegang rekor tak terkalahkan terpanjang yang masih berlangsung di antara lima liga top Eropa saat ini.
”Si Merah Hitam” pun tetap menempel ketat Inter di posisi kedua klasemen dengan selisih lima poin. Inter baru akan berlaga pada Minggu (15/2/2026) dini hari dalam derby d’Italia melawan Juventus.
Penulis:
Rebiyyah SalasahEditor:
Emilius Caesar AlexeyPenyelaras Bahasa:
Priskilia Bintang Cornelia Sitompul