Siswa Sekolah Rakyat Dites ESQ Sebelum Masuk Sekolah

Tes ESQ akan memetakan talenta setiap siswa sekolah rakyat sehingga materi belajar yang diberikan di sekolah berasrama bisa berdiferensiasi.

09 Jul 2025 16:42 WIB · Pendidikan & Kebudayaan

Oleh Stephanus Aranditio

JAKARTA, KOMPAS — Para siswa sekolah rakyat mulai menjalani uji coba proses pembelajaran dan pendidikan karakter di sekolah berasrama itu pada Rabu (9/7/2025). Sebelum mulai belajar dan tinggal di asrama, mereka mengikuti serangkaian tes, mulai dari tes kesehatan hingga tes kecerdasan emosional dan spiritual, untuk pemetaan talenta siswa.

Tes kecerdasan emosional dan spiritual atau ESQ dengan metode Talent DNA untuk mengidentifikasi kecenderungan pola perilaku yang terus berulang di berbagai situasi secara alami, natural, dan spontan.

Pola perilaku tersebut menggambarkan apa yang dirasakan, dipikirkan, dan dilakukan seseorang sehingga memengaruhi bagaimana cara merespons dan mengambil keputusan dalam kehidupan.

Pendiri ESQ Corp, Ary Ginanjar Agustian, menuturkan, pendekatan pendidikan di Indonesia harus bergeser dari sekadar pengukuran IQ dan nilai akademis menuju pemahaman mendalam potensi unik tiap anak. Tes ESQ ini akan memberikan pemetaan talenta berbasis kecerdasan buatan.

”Jadi, selama ini, tes-tes sebelumnya telah membuat ada ranking satu sampai ranking paling bawah. Sementara di sekolah rakyat setiap anak ditemukan kegeniusannya masing-masing," kata Ary di sekolah rakyat di Sentra Handayani, Jakarta Timur, Rabu (9/7/2025).

Tes pemetaan talenta ini dilakukan para siswa dengan sederhana. Mereka hanya disuruh mengisi 90 pertanyaan melalui komputer jinjing atau laptop yang tersedia di ruang kelas. Lalu hasilnya akan menunjukkan potensi minat dan bakat yang bisa dikembangkan setiap siswa, termasuk hal-hal yang bisa menghambat perkembangannya.

Quote

Semoga nanti masih ada sekolah rakyat ini.

Dengan demikian, guru-guru di sekolah rakyat bisa mengajar sesuai hasil tes setiap siswa. Selain itu, tes ini dapat menjadi referensi dalam menentukan bidang studi serta karier siswa di masa depan.

”Jadi, guru itu akan tahu, misalnya kepada siswa ini mengajarnya seperti ini, ke sana memberikan tugasnya seperti apa. Pada dasarnya semua anak itu genius, tetapi sesuai bidangnya masing-masing,” tuturnya.

Selain menjalani tes ESQ, para siswa mengikuti pemeriksaan kesehatan, mulai dari pemeriksaan antropometri, kesehatan mata, tekanan darah, hingga gigi dan mulut. Mereka yang didiagnosis mengidap penyakit menular akan dirawat hingga sembuh sebelum masuk ke sekolah rakyat.

Siswa sekolah rakyat mengikuti pemeriksaan kesehatan mata sebelum memulai menjalani uji coba proses belajar mengajar sekaligus pendidikan karakter di Sekolah Rakyat di Sentra Handayani, Jakarta Timur, Rabu (9/8/2025).

Perlengkapan sekolah

Setelah mengikuti kedua tes tersebut, mereka langsung diberikan sebuah tas berisi perlengkapan sekolah, mulai dari buku, alat tulis, hingga seragam sekolah. Kemudian, mereka mulai mengikuti proses pembagian kamar. Satu kamar diisi oleh empat orang.

Di kamar siswa tersedia dua ranjang bertingkat, empat meja dan kursi belajar, serta dua lemari pakaian yang bisa digunakan. Bangunan asrama siswa perempuan dan laki-laki dipisahkan oleh lapangan olahraga di tengah sekolah.

Menteri Sosial Saifullah Yusuf mengatakan, sekolah rakyat akan dimulai pada 14 Juli 2025 di 63 lokasi di seluruh Indonesia. Sementara 37 lokasi lainnya sebagai bagian dari 100 lokasi sekolah rakyat tahap pertama masih dalam proses renovasi.

”Yang 37 titik lagi masih menunggu sarana prasarananya selesai, sekitar tanggal 25 atau 26 Juli. Setelah itu, mungkin perlu persiapan tahap akhir, dan akhir Juli yang 37 unit akan mulai beroperasi juga. Untuk kepala sekolah dan gurunya semua sudah siap,” papar Saifullah.

Siswa sekolah rakyat menikmati ranjang yang nantinya akan mereka tempati selama bersekolah di Sekolah Rakyat di Sentra Handayani, Jakarta Timur, Rabu (9/8/2025).

Sekolah rakyat tahap awal mencakup 395 rombongan belajar di berbagai jenjang (SD, SMP, dan SMA) dengan total 9.755 siswa serta 1.554 guru dan 3.390 tenaga pendidik di 100 lokasi.

Pulau Jawa menjadi wilayah terbanyak dengan 48 lokasi, diikuti dengan Sumatera (22), Sulawesi (15), Bali-Nusa Tenggara, Kalimantan, dan Maluku (masing-masing 4), serta Papua (3).

Semua lokasi itu menggunakan aset Kementerian Sosial (Kemensos) sehingga masih berstatus sekolah rakyat rintisan. Ke depan, sekolah rakyat akan dibangun secara permanen oleh Kementerian Pekerjaan Umum di lahan seluas minimal 8,5 hektar yang disiapkan pemerintah daerah.

Terkait penyediaan makanan, Saifullah mengatakan, pihaknya masih berkoordinasi dengan Badan Gizi Nasional (BGN) untuk menyediakan program Makan Bergizi Gratis. Kemensos berharap BGN bisa menyediakan makan tiga kali sehari untuk setiap siswa sekolah rakyat.

”Intinya ini semua masih awal dimulai. Kami sangat terbuka pada setiap masukan,” ucapnya.

Siswa sekolah rakyat mengikuti tes ESQ untuk pemetaan talenta sebelum memulai menjalani uji coba proses belajar mengajar sekaligus pendidikan karakter di Sekolah Rakyat di Sentra Handayani, Jakarta Timur, Rabu (9/8/2025).

Wakil Kepala Staf Kepresidenan Muhammad Qodari menjelaskan, pada akhir Juli 2025 nanti Presiden Prabowo Subianto baru akan membuka secara resmi 100 sekolah rakyat tahap awal. Hal ini disebabkan Presiden masih dalam agenda kunjungan kerja ke luar negeri.

Semoga berkelanjutan

Rohman (45), salah satu orangtua siswa yang memasukkan kedua anak kembarnya ke sekolah rakyat, mengaku sangat terbantu dengan adanya program ini. Dia berharap program ini bisa berkelanjutan meski nantinya presiden berganti.

”Dua anak saya sekarang masuk SMP (sekolah menengah pertama) di sekolah rakyat, nanti SMA (sekolah menengah atas) rencananya juga mau saya masukin sini lagi. Semoga nanti masih ada sekolah rakyat ini,” kata Rohman.

Pria yang bekerja sebagai sopir serabutan di kawasan Pasar Rebo, Jakarta Timur, ini juga berharap program pemberdayaan sosial kepada para orangtua siswa sekolah rakyat bisa segera dilaksanakan. Dia ingin kesejahteraan keluarganya jauh lebih baik dan mandiri.


Kerabat Kerja

Penulis:

Stephanus Aranditio
 | 

Editor:

Evy Rachmawati
 | 

Penyelaras Bahasa:

Amin Iskandar