Soal Ukraina, Jurang Menganga antara Eropa dan AS

Perbedaan pendapat negara-negara Eropa dan AS semakin dalam. Ukraina tidak mau AS berunding dengan Rusia jika dirinya dan Eropa dipinggirkan.

16 Feb 2025 09:42 WIB · Internasional

Oleh Mahdi Muhammad

MUENCHEN, MINGGU — Perbedaan pendapat antara negara-negara Uni Eropa dan Amerika Serikat semakin dalam. Perbedaan itu terutama dipicu oleh keinginan Presiden Amerika Serikat Donald Trump merundingkan kesepakatan damai Ukraina dengan Rusia. Terkait dengan hal itu, sejauh ini Washington tidak berencana mengikutsertakan UE dalam proses perundingan meski menuntut dukungan atas upayanya tersebut.

Ukraina juga tidak mau ikut serta jika dirinya dan mitra strategisnya tidak diajak dalam pembicaraan.

Sikap Ukraina itu disampaikan langsung oleh Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy saat bertemu dengan Wakil Presiden AS JD Vance di Konferensi Keamanan Muenchen, Jerman, Jumat (14/2/2025). Sikap itu muncul karena Ukraina tidak diundang dalam pembicaraan antara AS dan Rusia yang direncanakan berlangsung di Arab Saudi.

(COMBO) This combination of pictures created on February 10, 2025 shows, L-R, US Vice President JD Vance in East Palestine, Ohio, on February 3, 2025 and Ukraine's President Volodymyr Zelensky in Brussels on December 19, 2024. Ukrainian President Volodymyr Zelensky will meet US Vice President JD Vance on February 14, 2025, at the Munich Security Conference, where they are set to discuss Washington's push for an end to the three-year war with Russia. (Photo by Rebecca DROKE and JOHN THYS / AFP)

Michael McCaul, politisi dari Partai Republik asal Texas yang juga merupakan Ketua Komite Hubungan Luar Negeri Senat AS, di sela-sela konferensi, mengakui, perwakilan Pemerintah AS akan melakukan pembicaraan dengan wakil Pemerintah Rusia dalam waktu dekat. Washington akan diwakili oleh Menteri Luar Negeri Marco Rubio, Penasihat Keamanan Nasional Mike Waltz, dan Utusan AS untuk Timur Tengah Steve Witkoff.

Dia mengatakan bahwa materi pembicaraan itu adalah persiapan awal dan pengaturan pertemuan tripartit antara Trump, Presiden Rusia Vladimir Putin, dan Zelenskyy yang diharapkan akan berujung pada upaya damai sekaligus mengakhiri perang Rusia-Ukraina.

Sumber yang mengetahui rencana tersebut mengonfirmasi rencana pembicaraan antara AS-Rusia di Arab Saudi tersebut. Departemen Luar Negeri AS tidak segera menanggapi permintaan komentar.

Sikap Ukraina

Sejak muncul wacana dari Trump bahwa AS akan mendorong proses pembicaraan damai Ukraina-Rusia, Zelenskyy sudah mengingatkan bahwa mereka tidak bersedia melakukan perundingan apa pun jika tidak melibatkan secara langsung negaranya dan juga Eropa. Keamanan Ukraina dipandang adalah keamanan bersama negara-negara Benua Biru secara keseluruhan.

Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance (satu dari kanan) dan delegasi Pemerintah AS bertemu dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy  (dua dari kiri) dan delegasi Ukraina bertemu di sela-sela Konferensi Keamanan Muenchen di Jerman, Jumat (14/2/2025), membahas rencana AS memediasi perundingan damai Ukraina-Rusia.

Kekhawatiran terpinggirkannya Eropa dan Ukraina pun sebagian besar terkonfirmasi, Sabtu (15/2/2025). Saat itu, utusan Trump untuk Ukraina dan Rusia, Keith Kellog, menyatakan bahwa Eropa tidak akan memiliki tempat di dalam proses perundingan.

”Anda dapat melibatkan Ukraina, Rusia, dan tentu saja Amerika di meja perundingan,” kata Keith Kellogg dalam sebuah acara yang diselenggarakan oleh seorang taipan Ukraina. Ketika ditanya apakah itu berarti orang Eropa tidak akan diikutsertakan, ia berkata: ”Saya menganut paham realisme. Saya rasa itu tidak akan terjadi.”

Akan tetapi, Kellog mengakui Uni Eropa bisa berperan untuk memastikan kedaulatan Ukraina. ”Kita perlu memastikan kedaulatan Ukraina,” katanya sebelum menambahkan bahwa aliansi Eropa akan sangat penting dalam hal ini.

Potensi terpinggirkannya Ukraina dalam proses perundingan memaksa Zelenskyy bersikap. ”Ukraina tidak akan pernah menerima kesepakatan yang dibuat di belakang kami tanpa melibatkan kami,” kata Zelensky dalam pidatonya di Muenchen.

Foto yang dirilis oleh Layanan Media Brigade Mekanis ke-24 Angkatan Bersenjata Ukraina, 8 Februari 2025 memperlihatkan beberapa anggotanya tengah menembakkan mortar 120 mm ke arah posisi tentara Rusia di dekat Chasiv Yar, Donets, Ukraina.

Zelenskyy juga menyatakan keputusan soal Ukraina harus mengikutsertakan negara-negara Eropa. ”Tidak ada keputusan tentang Ukraina tanpa Ukraina. Tidak ada keputusan tentang Eropa tanpa Eropa,” tegasnya.

Mantan komedian ini tidak main-main. Dia juga menyatakan, Ukraina tidak akan memberikan janji apa pun terkait dengan pemanfaatan mineral tanah jarang kepada AS sebagai imbal balik niat baik AS membantu Ukraina dan mendorong perdamaian Ukraina-Rusia. Tiga sumber mengatakan, AS mengusulkan mengambil alih kepemilikan 50 persen sumber mineral penting Ukraina. Meski begitu, Zelenskyy menyebut, perjanjian itu tidak memuat ketentuan keamanan yang diinginkan Kyiv.

”Menurut pendapat saya, kesepakatan itu tidak melindungi kami dan kepentingan kami,” kata Zelenskyy.

Keamanan Eropa

Keinginan Trump mendorong perundingan Ukraina-Rusia telah membuat banyak pihak bertanya-tanya kemana arah kebijakan Trump? Dalam beberapa pernyataannya, Trump telah membuat Eropa dan Ukraina kebingungan, terutama ketika dia menyatakan memahami alasan keputusan Putin menginvasi Ukraina. Pernyataan itu dipandang mengecilkan keamanan Eropa secara keseluruhan.

Perubahan sikap AS, yang kini dipimpin seorang Republikan, membuat hubungan Eropa dan AS menjadi tegang. Annalena Baerbock, Menteri Luar Negeri Jerman, menyebut sikap baru AS itu sebagai momen kebenaran dan seharusnya mendorong para pemimpin Eropa bersatu sambil mengatasi perbedaan di antara mereka sendiri.

”Ini adalah momen eksistensial. Ini adalah momen di mana Eropa harus bangkit,” katanya. ”Tidak akan ada perdamaian abadi jika bukan perdamaian yang disetujui Eropa.”

Sementara itu, Perdana Menteri Islandia Kristrún Frostadóttir menyesalkan kurang jelasnya Washington. ”Orang-orang masih belum yakin apa yang ingin dilakukan AS. Saya pikir akan lebih baik jika kita keluar dari konferensi ini jika mereka memiliki gambaran yang jelas tentang hal itu,” katanya di Muenchen.

Perbedaan yang besar antara Eropa dan AS itu mendorong Zelenskyy untuk kembali mengumandangkan kembali idenya agar UE membentuk apa yang disebut sebagai angkatan bersenjata Eropa, terutama setelah AS dipandang tidak lagi bisa diandalkan untuk mendukung keamanan Benua Biru.

Menteri Luar Negeri Jerman Annalena Baerbock (kanan) bersalaman dengan Menlu AS Marco Rubio saat bertemu di Konferensi Keamanan Muenchen, Sabtu (15/2/2025).

”Saya benar-benar percaya bahwa waktunya telah tiba,” katanya. ”Angkatan bersenjata Eropa harus diciptakan.”

Zelenskyy mengatakan bahwa idenya bukan tentang menggantikan NATO. ”Ini tentang menjadikan kontribusi Eropa bagi kemitraan kita setara dengan kontribusi Amerika,” katanya.

Perdana Menteri Inggris Keir Starmer berupaya menjadi jembatan mengatasi perbedaan antara Eropa dan AS. Dia menyatakan negaranya akan berupaya memastikan agar AS dan Eropa tetap bersatu dan fokus pada musuh eksternal.

”Ini adalah momen sekali seumur hidup bagi keamanan nasional kita, di mana kita terlibat dengan realitas dunia saat ini dan ancaman yang kita hadapi dari Rusia,” kata Starmer, dilansir oleh BBC. ”Jelas Eropa harus mengambil peran yang lebih besar di NATO saat kita bekerja sama dengan AS untuk mengamankan masa depan Ukraina dan menghadapi ancaman yang kita hadapi dari Rusia.”

Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte berbicara dalam diskusi panel pada Konferensi Keamanan Muenchen, Sabtu (15/2/2025).

Menurut BBC, Starmer menginginkan agar Kyiv menjadi pusat pembicaraan gencatan senjata alih-alih pihak lain. Starmer juga disebut-sebut akan membahas pandangan para pemimpin Eropa ketika bertemu dengan Trump di Washington dalam beberapa minggu mendatang.

Mark Rutte, Sekretaris Jenderal NATO atau Pakta Pertahananan Atlantik Utara, mengatakan, negara-negara Eropa harus mengajukan proposal yang bagus untuk menjamin keamanan masa depan, tidak hanya bagi Ukraina, tetapi juga untuk Eropa secara keseluruhan.

”Jika orang Eropa ingin bersuara, buatlah diri Anda relevan,” kata Rutte. (AP/AFP/Reuters)


Kerabat Kerja

Penulis:

Mahdi Muhammad
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .