PIALA DUNIA 2026

Spirit Dima Maghreb Mengiringi Maroko

Maroko mencetak sejarah dengan lolos ke semifinal Piala Dunia 2022. Kini mereka bertekad mencapai final di Piala Dunia 2026 dalam balutan spirit Dima Maghreb.

09 Jun 2026 13:00 WIB · Olahraga

KOMPAS

Oleh Agung Setyahadi

Maroko membuat kejutan besar empat tahun lalu di Qatar, menyingkirkan Spanyol untuk melaju perempat final, kemudian menundukkan Portugal untuk masuk empat besar. Lalu, lahir mantra baru, kemustahilan bukan untuk Maroko, karena mereka membuat sejarah baru sebagai tim Afrika pertama yang lolos ke semifinal Piala Dunia.

Namun, langkah mereka dihentikan oleh ”Les Bleus” yang bermain bak ayam jantan Galia, berani, tajam, dan ganas. Kini, Maroko merunut jejak itu, dan bertekad mencapai laga kedelapan di Piala Dunia 2026.

Pencapaian di Qatar itu bukan hanya pertunjukan satu kali. Momentum Maroko terus bergulir hingga Piala Afrika 2025, di mana mereka mencapai final dan kemudian meraih gelar juara menyusul sanksi untuk Senegal.

Maroko terus melaju dan menjadi tim Afrika pertama yang lolos kualifikasi Piala Dunia 2026. Mereka memenangi semua laga Grup E kualifikasi zona Afrika melawan Nigeria, Tanzania, Zambia, dan Kongo. Dalam delapan kemenangan itu, Maroko mencetak 22 gol dan hanya kemasukan dua gol.

Pendulum momentum Maroko itu merupakan buah investasi besar pembinaan sepak bola yang dilakukan selama belasan tahun. Program pengembangan sepak bola ini diinisiasi langsung oleh Raja Mohammed VI yang kemudian melahirkan Akademi Mohammed VI, dengan investasi mencapai Rp 260 miliar.

Program besar ini bukan proyek instan dan asal jadi. Semua tahapan direcanakan dengan peta jalan yang detail, terukur, sistematis. Selama tiga tahun, 2007-2009, tim merancang jalur seleksi, kurikulum, hingga model pembinaan. Proses itu dipimpin oleh pelatih berkebangsaan Perancis-Maroko, Nasser Larguet.

Dalam wawancara dengan Konfederasi Sepak Bola Afrika, Larguet menguak program akademi itu bukan sekadar sekolah sepak bola. Atlet-atlet muda juga menjalani pendidikan kedisiplinan, menjalani struktur kehidupan harian, bahkan dididik untuk memiliki rasa hormat terhadap kehidupan kolektif.

Para pemain Maroko merayakan kegembiraan setelah mengalahkan Portugal 1-0 di babak perempat final Piala Dunia 2022 di Stadion Al Thumama, Qatar, Sabtu (10/12/2022). Kompas/Yuniadhi Agung (MYE) 10-12-2022

”Itu berarti sekolah terintegrasi ke dalam kehidupan sepak bola, menciptakan atlet yang siap menghadapi kesulitan­—tidak hanya secara profesional, tetapi juga secara pribadi,” tegas Larguet.

Seleksi awal dilakukan dengan mencari bakat ke seluruh pelosok Maroko. Larguet memiliki daftar 15.000 anak-anak potensial, tetapi hanya 37 yang lolos seleksi. Pada tahun kedua akademi bergulir, 2011, para pemain akademi mulai masuk ke skuad tim nasional U-17, U-20, dan Olimpiade.

Akademi kemudian melahirkan para pemain yang menjadi tulang punggung Maroko di Piala Dunia 2022, seperti penyerang Youssef En-Nesyri dan Azzedine Ounahi, serta bek Nayef Aguerd. Maroko juga bergerilya mengidentifikasi diaspora di Eropa, dan meyakinkan mereka untuk membela bangsa asal mereka. Proses itu berhasil meyakinkan Hakim Ziyech, Sofyan Amrabat, Nordin Amrabat, Achraf Hakimi, dan Noussair Mazraoui, untuk membela ”Singa Atlas”.

Para pemain diaspora dan lulusan Akademi Muhammed VI melebur dalam spirit Dima Maghreb, Maroko Selamanya. Ini bukan sekadar slogan, karena di dalamnya terkandung rasa bangga dan semangat persatuan.

Mereka disatukan oleh spirit yang mengakar kuat di hati masyarakat Maroko sehingga para pemain bisa meredam ego masing-masing demi meraih misi besar membawa Maroko ke panggung sepak bola dunia. Itu pula yang membuat para pemain cepat menyatu dengan filosofi pelatih Walid Regragui, yang bergabung hanya sekitar tiga bulan menjelang Piala Dunia 2022.

”Saya sangat dekat dengan mereka, lebih seperti kakak, ayah, dan kadang rekan setim juga. Saya sudah mengatakan kepada mereka sejak hari pertama, saya sangat keras dan tegas terkait apa yang kita lakukan di lapangan. Mereka harus sangat memperhatikan. Namun, di luar lapangan, kami seperti keluarga. Saya tahu saya memiliki skuad yang bagus. Kemudian saya harus menemukan cara bagaimana membuat mereka bermain bersama dan membuat mereka mau berjuang bersama,” ujar Regragui dalam dokumenter FIFA+ A Nation Story Morocco.

Pemain timnas Maroko tiba di Bandara Internasional Newark Liberty, New Jersey, AS, Rabu (3/6/2026).
Quote

Jelas bagi kami, bahwa kami datang bukan hanya untuk menjalani tiga laga. Kami datang untuk membuat sejarah. 

Regragui membawa Maroko mencetak sejarah di Qatar dan melanjutkan momentum itu dengan meraih gelar juara Piala Afrika 2025, serta meloloskan Maroko ke Piala Dunia 2026. Namun, Regragui tidak akan memimpin Maroko di Piala Dunia 2026 karena posisinya digantikan oleh Mohamed Ouahbi sejak Maret 2026. Ouahbi memiliki catatan solid dengan membawa Maroko U-20 meraih gelar juara Piala Dunia U-20 pada 2025.

Seperti Regragui, Ouahbi tidak memiliki waktu panjang untuk menyemai filosofi bermainnya. Namun, skuad Maroko memiliki spirit Dima Maghreb, dan itu akan membuat proses adaptasi filosofi bermain lebih mudah. Proses itu diakui oleh Kapten Maroko, Romain Saiss, di Piala Dunia 2022, di mana pendekatan psikologis yang membuat para pemain bisa melebur dan kompak.

”Dia ingin menerapkan pola pikir pemenang. Dia menginginkan kami tidak takut pada siapa pun. Secara keseluruhan, kami memang mengubah pola pikir kami. Dia tidak ingin kami puas dengan apa yang kami kerjakan,” ujar Saiss terkait pendekatan awal Regragui.

Saiss menjadi sosok sentral dalam menyatukan pemain, tetapi dia tidak akan tampil di Piala Dunia 2026 karena pensiun dari timnas pada Februari lalu. Namun, Maroko memiliki mentalitas yang sama dan itu akan dibawa ke Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Mentalitas yang menjadi fondasi untuk mencapai target melangkah hingga final, selangkah lebih jauh dari Qatar 2022.

”Jelas bagi kami, bahwa kami datang bukan hanya untuk menjalani tiga laga. Kami datang untuk membuat sejarah,” ujar Yassine Bounou, kiper Maroko.

Mereka sudah melangkah sangat jauh di Qatar, melampaui semua prediksi yang ditujukan kepada mereka. Itu jauh melampaui pencapaian mereka dalam lima edisi sebelumnya. Pada 1970, 1994,1998, dan 2018, Maroko selalu terhenti di fase grup. Sementara pada 1986 mereka berhasil mencapai babak 16 besar.

Pelatih timnas Maroko ,Mohamed Ouahbi, dalam konferensi pers tentang nama pemain yang masuk timnas untuk Piala Dunia 2026 di Sale, Maroko, Selasa (26/5/2026).

Dalam penampilan ketujuh ini, Maroko memiliki modal solid untuk melangkah jauh. Bahkan, pelatih tim nasional Perancis Didier Deschamps menilai, Maroko merupakan salah satu favorit, setara dengan ”Les Bleus” dan tim-tim kuat lain.

”Tidak ada masalah menjadi bagian dari tim favorit. Namun, apakah kita lebih difavoritkan daripada Spanyol, Portugal, Jerman, Inggris, Argentina, Brasil, Maroko? Anda pasti punya pendapat sendiri. Tapi saya tahu ada ekspektasi,” kata Deschamps.

Maroko menjadi salah satu tim sangat diperhitungkan oleh lawan karena memiliki permainan solid, terutama dalam bertahan dan menyerang balik. Pola itu akan menjadi pakem permainan Achraf Hakimi dan kawan-kawan saat bersaing di Grup C melawan juara lima kali Brasil, Haiti, dan Skotlandia. Skuad ”Singa Atlas” beruntung memiliki Hakimi, bek kanan yang bersinar terang di Paris Saint-Germain, juga gelandang serang Real Madrid Brahim Diaz. Mereka akan menjadi motor serangan balik Maroko.

Maroko juga memiliki striker senior Ayoub El Kaabi yang berkontribusi besar dalam kualifikasi Piala Dunia 2026 dengan mencetak empat gol, terbanyak di Grup E. Lini serang Maroko juga memiliki para pemain tajam, seperti Ismael Saibari, Youssef En-Nesyri, dan Hakim Ziyech.

Perjuangan Maroko di Piala Dunia 2026 akan diawali dengan laga besar Grup C melawan Brasil pada 13 Juni di Stadion Metlife, kemudian melawan Skotlandia padsa 19 Juni di Stadion Gillette, dan bertemu Haiti pada 24 Juni di Stadion Mercedes Benz.

This handout picture released by the Royal Moroccan Football Federation (FRMF) shows players of Morocco's national football team posing for a group photo before their departure for the US, ahead of the FIFA 2026 World Cup at Rabat-Sale International Airport in the capital Rabat on June 3, 2026. (Photo by Royal Moroccan Football Federation / AFP) / RESTRICTED TO EDITORIAL USE - MANDATORY CREDIT "AFP PHOTO /  Royal Moroccan Football Federation (FRMF) / HANDOUT /" - NO MARKETING NO ADVERTISING CAMPAIGNS - DISTRIBUTED AS A SERVICE TO CLIENTS

Laga melawan Brasil akan sangat krusial untuk mengawali persaingan. Jika Maroko bisa menang, atau minimal imbang, itu awal yang solid, karena mengawali dengan kekalahan akan membuat perjalanan sangat sulit. Ini seperti awal Piala Dunia 2022 di mana mereka menahan runner-up Piala Dunia 2018 Kroasia 0-0 pada laga pertama grup sehingga di laga berikutnya mereka menjadi lebih percaya diri.

Target awal adalah berada di posisi dua besar Grup C untuk lolos ke babak 32 besar. Peluang lolos grup akan semakin besar jika Singa Atlas mampu meredam tarian Samba Vinicius Junior dan kawan-kawan di laga perdana. Untuk mewujudkan itu, mereka perlu meleburkan diri dalam spirit Dima Maghreb.

Skuad Maroko

Kiper: Yassine Bounou (Al-Hilal), Munir El Kajoui (RS Berkane), Reda Tagnaouti (AS Far)

Bek: Noussair Mazraoui (Manchester United), Anass Salah-Eddine (PSV Eindhoven), Youssef Belammari (Al-Ahly), Achraf Hakimi (Paris Saint-Germain), Zakaria El Ouahdi (Racing Genk), Chadi Riad (Crystal Palace), Nayef Aguerd (Marseille), Redouane Halhal (KV Mechelen), Issa Diop (Fulham)

Gelandang: Samir El Mourabet (Strasbourg), Ayyoub Bouaddi (Lille), Neil El Aynaoui (AS Roma), Sofyan Amrabat (Real Betis), Azzedine Ounahi (Girona), Bilal El Khannouss (Stuttgart), Ismael Saibari (PSV Eindhoven)

Penyerang: Abde Ezzalzouli (Real Betis), Chemsdine Talbi (Sunderland), Soufiane Rahimi (Al-Ain), Ayoub El Kaabi (Olympiakos), Brahim Díaz (Real Madrid), Gessime Yassine (Strasbourg), Ayoube Amaimouni (Eintracht Frankfurt)

Pelatih: Mohamed Ouahbi


Kerabat Kerja

Penulis:

Agung Setyahadi
 | 

Editor:

Wisnu Aji Dewabrata
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase