Houston Rockets datang dengan segudang asa bersama generasi baru hanya untuk dikecewakan lagi oleh Stephen Curry. Curry menepis banyak keraguan di gim satu.
21 Apr 2025 19:47 WIB · Olahraga
Petinju legendaris Mike Tyson pernah berkata, semua orang bisa berencana sampai ditinju di mulut. Ucapan tersebut agaknya cocok untuk mencerminkan situasi Houston Rockets. Tim berbakat itu punya segudang rencana untuk membungkam Stephen Curry, tetapi buyar seketika saat tembakan tiga angka mulai beterbangan.
Rockets, unggulan kedua, begitu percaya diri sebelum menghadapi Golden State Warriors pada gim satu babak pertama playoff. Optimisme itu sangat berdasar. Mereka merupakan salah satu tim dengan pertahanan terbaik di NBA dan baru mengalahkan Warriors 106-96 pada pengujung musim reguler, tepat dua minggu lalu.
Ketika itu, tim asuhan Pelatih Ime Udoka sukses membuat Curry tidak berkutik. Guard andalan Warriors itu hanya mencetak tiga poin, memasukkan satu dari sepuluh percobaan tembakan. Forward Rockets berusia 22 tahun, Amen Thompson, langsung dijuluki sebagai ”pawang” Curry karena begitu kokoh dalam bertahan.
Namun, sekali lagi, Curry menciptakan jalan cerita sendiri. Dia mengantar Warriors menang 95-85 dalam gim pembuka seri di kandang Rockets, Stadion Toyota Center, Senin (21/4/2025) pagi WIB. Curry tidak terbendung dengan sumbangan 31 poin, termasuk mencetak lima kali dari sembilan percobaan tembakan tiga angka.
”Batman muncul entah dari mana,” kata forward Warriors, Jimmy Butler, saat ditanya soal penampilan heroik Curry. ”Anda tidak pernah melihatnya datang, lalu dia jatuh dari langit, dari sebuah gedung, di balik pintu, dan melakukan hal-hal yang luar biasa. Dia akan menjadi alasan kami memenangi semuanya (juara),” lanjutnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/21/933150fadfc1fc940567914ad8492342-Golden_State_Warriors_v_Houston_Rockets_Game_One.jpeg)
Sebagai konteks, Butler belakangan ini mengibaratkan Curry seperti sosok Batman untuk Warriors. Curry dinilai selalu datang tepat waktu saat timnya butuh seorang penyelamat. Di gim satu tadi, hal tersebut benar terjadi. Pemain dengan koleksi empat cincin juara itu langsung unjuk gigi setelah Warriors kesulitan di awal laga.
Warriors sempat tertinggal 18-23. Lalu, Curry tiba-tiba mendadak panas di pertengahan laga. Dia memasukkan 11 dari 12 tembakan yang membuat Warriors berbalik unggul jauh 66-43. Salah satunya tembakan tiga angka dengan sudut lemparan sangat tinggi di tengah desakan sangat intens dari guard Rockets Jalen Green.
Lemparan itu ”mengguncang” Toyota Center. Semua orang di dalam stadion tercengang. Komentator laga, Kevin Harlan, sampai berkata, hal itu seharusnya tidak terjadi secara hitung-hitungan geometris. Namun, logika memang sering tidak bekerja di dunia seorang penembak terhebat sepanjang sejarah NBA tersebut.
Penampilan Curry semakin terasa spesial karena perlakuan yang dihadapi sepanjang laga. Dia tidak hanya dijaga ketat bergantian oleh para pemain muda Rockets yang sangat atletis, tetapi juga dijadikan target utama dalam rencana serangan lawan. Stamina pemain 37 tahun itu dikuras dalam situasi bertahan ataupun menyerang.
Keunggulan fisik adalah aspek terkuat Rockets. Saking kesulitan dalam duel fisik, Pelatih Kepala Warriors Steve Kerr sampai merasakan waktu seolah kembali ke 1997. NBA sangat ”keras” pada masa itu. ”Steph luar biasa. Dia masih bisa menghasilkan banyak permainan hebat di tengah tekanan Thompson dan yang lain,” ujarnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/21/9e1df0acbda09b400b75d5aa6d73dfcf-APTOPIX_Warriors_Rockets_Basketball.jpeg)
Ketenangan dan pengalaman saat bermain di ”playoff” membuat Anda tidak mudah panik.
Thompson yang semula diandalkan Rockets justru menjadi saksi kehebatan sang megabintang. Curry menciptakan tiga kali tembakan tiga angka tepat di depan wajahnya. Thompson memang diberkahi tubuh atletis setinggi 2,01 meter dengan lengan yang panjang, tetapi Curry punya jarak tembak dan imajinasi tanpa batas.
Curry berkata, keunggulan Warriors atas Rockets terdapat dari sisi pengalaman. Tim lawan baru kembali ke playoff setelah absen sejak 2021. ”Ketenangan dan pengalaman saat bermain di playoff membuat Anda tidak mudah panik. Jadi kami lebih mengandalkan itu daripada sejarah apa pun di sini,” ujarnya.
Sejarah yang dimaksud Curry adalah dominasi Warriors atas Rockets dalam satu dekade terakhir. Warriors selalu menyingkirkan Rockets dalam empat pertemuan di playoff dalam rentang 2015-2019. James Harden, mantan guard Rockets, turut mengakui, Warriors adalah penyebab utama dirinya belum juara sampai saat ini.
Jika Curry merupakan Batman bagi Warriors, maka hal sebaliknya berlaku untuk Rockets. Dia adalah musuh, tokoh antagonis, penjahat terbesar untuk kota Houston. Bagaimana tidak, setelah mengubur generasi emas Rockets, Curry masih menghantui tim rival yang mulai bangkit dengan generasi baru pada musim ini.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/21/85878f68780b5fa1d7aa2912605834e1-Warriors_Rockets_Basketball.jpeg)
Menariknya, Rockets dilatih oleh Udoka. Sang pelatih merupakan salah satu korban kehebatan Curry. Udoka gagal membawa Boston Celtis juara karena kalah dari Warriors di final pada 2022. Padahal, sama seperti di seri kali ini, Celtics juga diunggulkan karena punya skuad muda yang jauh lebih atletis.
Rockets patut khawatir. Curry tidak datang sendiri. Dia didampingi Butler yang juga sosok berpengalaman. Butler menyumbang 25 poin, 7 rebound, 6 asis, dan 5 steal dalam debut bersama Warriors di playoff, Senin pagi. Adapun pemain berusia 35 tahun menyebut dirinya sendiri sebagai sosok Robin, tandem dari Batman.
Dunia terbalik sudah menanti Rockets dalam seri kali ini. Batman, didampingi Robin, datang bukan sebagai pahlawan seperti cerita di komik, tetapi untuk mencuri sekali lagi di kota Houston. (AP)
Penulis:
Kelvin HianusaEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Didik Durianto