Strategi Investasi ”Barbel” untuk Hadapi Ketidakpastian Ekonomi

Menempatkan dana di beragam kelas aset investasi dinilai lebih tahan terhadap efek perlambatan ekonomi.

13 Apr 2025 18:24 WIB · Ekonomi

Oleh Erika Kurnia

Sebagian masyarakat akhir-akhir ini terlihat beramai-ramai membeli emas. Pusat-pusat penjualan emas batangan, termasuk Butik Emas milik PT Aneka Tambang (Persero) Tbk, dikerubungi masyarakat lebih dari biasanya. Permintaan emas per kapita di Indonesia tahun ini bisa jadi meningkat lebih dari 0,17 gram sepanjang tahun 2024 lalu, menurut data World Gold Council.

Maraknya pembelian emas di seluruh dunia yang telah menaikkan harga emas sekitar 14 persen sejak awal tahun dan 35 persen setahun terakhir hingga kini ke level 3.200 dollar AS per troy ons. Sayangnya, kondisi ini tidak berarti daya beli masyarakat sedang baik, melainkan adanya kepanikan pada kondisi ekonomi belakangan.

Ekonomi dunia dan dalam negeri memang belum dinyatakan mengalami krisis karena penurunan berbagai indikator perekonomian secara signifikan. Namun, kekhawatiran masyarakat, termasuk investor, pada kondisi ekonomi saat ini semakin meningkat.

Hal ini terlihat dari keluarnya investor dari pasar saham yang berisiko tinggi dan sensitif pada gejolak politik dan ekonomi. Kondisi tersebut mendorong banyak indeks saham di banyak bursa dunia, termasuk Indonesia, turun signifikan.

Setidaknya sampai 10 April 2025, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Tanah Air sudah terkoreksi 11,67 persen sejak awal tahun. Demikian juga dengan indeks komposit saham di Jepang yang turun 13,25 persen, Taiwan anjlok 17,52 persen, Singapura turun 5,54 persen, Australia turun 6,02 persen, Indeks Nasdaq longsor 15,14 persen, serta Shanghai terkoreksi 3,82 persen.

Layar elektronik menampilkan pergerakan indeks saham di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (10/4/2025). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat ke level 6.254,02 pada Kamis (10/4) sore. IHSG naik 286,03 poin atau 4,79 persen dari perdagangan hari sebelumnya. KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA (YGA) 10-04-2025

Berawal dari kekhawatiran krisis

Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, dalam diskusi daring bertajuk ”Trump Trade War: Menyelamatkan Pasar Modal, Menyehatkan Ekonomi Indonesia”, Jumat (11/4/2025), menilai, kondisi ekonomi saat ini tidak seperti krisis saat pandemi Covid-19 merajalela di 2020 lalu. Saat itu, menurut dia, situasinya lebih menantang karena adanya keterbatasan orang untuk saling bertemu. Akibatnya, pertumbuhan ekonomi terpangkas setengahnya menjadi sekitar 2 persen.

Saat ini, gangguan ekonomi juga belum seperti masa krisis keuangan global 2008 akibat subprime mortgage crisis atau krisis hipotek subprima di Amerika Serikat. Di masa itu, ia mencatat, ekonomi Indonesia masih positif dengan inflasi dan nilai tukar rupiah terjaga meskipun pertumbuhan ekonomi relatif melambat menjadi 4,5 persen.

Wijayanto juga menepis pandangan bahwa situasi ekonomi saat ini sama seperti yang dihadapi Indonesia di era krisis moneter 1998. Melemahnya rupiah 4,3 persen sejak awal tahun ke level Rp 16.795 per dollar AS pada Jumat (11/4/2025) lalu tidak separah kejadian 27 tahun silam yang mencapai 400 persen. Saat itu, pendapatan domestik bruto (PDB) negara juga anjlok 13 persen.

”Saya lebih meyakini bahwa skenario krisis yang akan terjadi di Indonesia adalah skenario krisis subprime mortgage, di mana ekonomi Indonesia masih tumbuh, tapi di tingkat yang lebih lambat, bukan 5 koma, tetapi 4 koma,” ujarnya.

Krisis Ekonomi

Proyeksi ini memperhitungkan berbagai faktor. Saat ini, menurut dia, ekonomi domestik sudah melambat. Dilihat dari pola ekonomi di masa Lebaran 2025 ini, Wijayanto mencatat, sudah ada beberapa indikasi penurunan indikator, dari turunnya jumlah pemudik, kasus pemutusan hubungan kerja (PHK) yang meningkat, jumlah tabungan yang menurun, hingga data utang masyarakat di platform pinjaman daring yang meroket.

Di sisi lain, faktor eksternal, seperti perang dagang dan ketidakpastian kebijakan Presiden AS Donald Trump, menjadi faktor terbesar perlambatan ekonomi belakangan. Ketidakpastian ekonomi bahkan diyakini akan berlangsung hingga empat tahun ke depan bersamaan dengan masa jabatan Trump sebagai presiden untuk kedua kalinya.

Hal ini juga disoroti Chief Investment Officer Bank DBS Hou Wey Fook dalam diskusi daring pekan lalu. Ia mengakui, tidak ada yang tahu kapan ketegangan dunia akibat gaya kepemimpinan Trump yang naik dan turun ini. Penerapan tarif pada ratusan negara mitra dagang AS, pada awal April ini, telah mengejutkan dunia. Namun, dalam hitungan hari, Trump merevisi kebijakannya dengan menunda pelaksanaannya, kecuali dengan China.

”Jadi sejujurnya, tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, apakah perang dagang ini akan mereda atau justru meningkat menjadi perang dagang global yang berpotensi menjadi resesi global. Atau dalam skenario terburuk, depresi ekonomi seperti pada 1920-an ketika tarif menjadi isu yang menonjol,” tuturnya.

Penyelenggaraan bursa kerja selalu menarik minat para lulusan perguruan tinggi yang baru selesai diwisuda untuk melangkah masuk ke dunia kerja seperti mereka mendatangi Undip Job Fair di Gedung Prof Sudarto, Universitas Diponegoro, Kota Semarang, Jawa Tengah, Kamis (8/8/2024). Para pelamar dengan berbagai latar belakang pendidikan dan keahlian berburu lowongan pekerjaaan yang mereka anggap sesuai dari pertimbangan perusahaan, posisi jabatan, hingga faktor gaji. Pada kondisi saat ini para pencari kerja harus bersaing ketat dengan tuntutan kompetensi tinggi di tengah situasi ekonomi yang sedang lesu hingga banyak perusahaan melakukan pemutusan hubungan kerja. Kompas/P Raditya Mahendra Yasa 08-08-2024

Portofolio investasi ”barbel”

Namun, kondisi ini bisa dimitigasi para investor dengan menerapkan strategi ketahanan portofolio. Hal ini untuk melindungi aset keuangan mereka sebelum krisis yang dikhawatirkan terjadi.

Hou Wey Fook mengingatkan agar masyarakat menerapkan diversifikasi atau pemisahan aset pada beragam kelas aset investasi, seperti saham, obligasi, investasi alternatif termasuk emas. Dengan ini, investor dapat secara bersamaan mengambil keuntungan jangka pendek dan jangka panjang.

”Beberapa tahun terakhir, kami menyarankan strategi barbel yang mencerminkan semua prinsip ini,” katanya.

Strategi yang dimaksud adalah dengan menaruh 40 persen dana investasi di aset saham, lalu 30 persen pada obligasi, dan 30 persen di aset alternatif. Porsi ini, menurut data DBS, hanya mengalami volatilitas tahunan 9 persen, lebih rendah dibanding dengan portofolio 60/40 yang mencapai lebih dari 11 persen pada saat ekonomi mengalami tekanan, bahkan sebelum adanya perang tarif.

Untuk saham, DBS mencatat, harga saham-saham di negara Asia dalam setahun terakhir cenderung overweight atau merefleksikan potensi pertumbuhan positif ke depan karena ditopang fundamental yang baik. Saham di AS cenderung netral, tetapi saham Eropa relatif overweight dalam tiga bulan terakhir dibandingkan dengan saham di AS.

Tren kualitas berbagai kelas aset investasi dalam 12 bulan terakhir hingga triwulan pertama 2025.

Untuk obligasi, pada Januari 2025, DBS menilai ada potensi positif di tengah perang tarif Trump yang berulang. Perang tarif yang akan memperlambat pertumbuhan berpotensi mendorong bang sentral, termasuk Federal Reserve di AS, untuk memangkas suku bunga.

”Kami percaya, dengan latar belakang ekonomi yang melemah meskipun ada lonjakan inflasi, The Fed akan terus memangkas suku bunga. Ini akan menjadi angin penopang bagi obligasi untuk sisa tiga kuartal tahun ini,” ucap Hou Wey Fook.

Ia pun menyarankan investor untuk memanfaatkan obligasi bertenor pendek, seperti 1 hingga 3 tahun untuk mengunci imbal hasil. Namun, memiliki obligasi jangka panjang 8 hingga 10 tahun juga tetap disarankan untuk mendapatkan imbal hasil yang lebih tinggi.

Investor juga bisa melirik emas sebagai aset investasi alternatif tahun karena emas telah mencatatkan kenaikan sekitar 15 persen sejak awal tahun. ”Kami percaya emas tetap menjadi lindung nilai terbaik terhadap ketidakpastian global, termasuk resesi global dan devaluasi mata uang. Emas juga bukan sekadar instrumen untuk perlindungan nilai, tetapi juga bisa menghasilkan keuntungan yang besar,” ujarnya.

Kamera merekam layar elektronik yang menampilkan pergerakan indeks saham di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (10/4/2025). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat ke level 6.254,02 pada Kamis (10/4) sore. IHSG naik 286,03 poin atau 4,79 persen dari perdagangan hari sebelumnya. KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA (YGA) 10-04-2025

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Dimas Krisna Ramadhani, dalam keterangan tertulisnya belum lama ini, mengingatkan para investor untuk tetap disiplin dalam menjalankan rencana perdagangan aset jangka pendek, melakukan evaluasi portofolio, menjaga kesehatan keuangan, serta menghindari keputusan emosional yang dapat merugikan.

”Jangan lihat floating loss terus. Sebaiknya fokus pada evaluasi kesalahan dan pastikan sudah menjalankan trading plan dengan disiplin. Lalu, review dan evaluasi portfolio dengan memisahkan saham yang masih sejalan dengan trading plan dan yang perlu dijual rugi,” tutur Dimas.

Selain itu, ia mengingatkan agar investor tetap memastikan keuangan mereka sehat dengan fokus pada memperbaiki arus kas terlebih dahulu. Menambah ilmu mengenai analisis teknikal dan siklus pasar di tengah situasi saat ini, menurut dia, juga akan bermanfaat. Kemudian, tetap sabar dalam menghadapi pasar yang fluktuatif sehingga tidak perlu terjebak dalam ketakutan akan kehilangan momentum berinvestasi.


Kerabat Kerja

Penulis:

Erika Kurnia
 | 

Editor:

Aris Prasetyo
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .