Sudah enam kasus keracunan MBG di Bandung Barat dengan jumlah korban mencapai 1.868 pelajar dalam dua bulan terakhir.
24 Okt 2025 12:54 WIB · Kesehatan
Kompas/Fabio Maria Lopes Costa
BANDUNG, KOMPAS — Kasus keracunan dalam program Makan Bergizi Gratis atau MBG kembali terulang di Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, dengan korban puluhan pelajar SMP pada Kamis (23/10/2025). Total sudah enam kejadian dengan korban ribuan pelajar dalam dua bulan terakhir.
Berdasarkan data sementara yang dihimpun Kompas dari Dinas Kesehatan Bandung Barat hingga Jumat (24/10/2025), sebanyak 38 pelajar mengalami keracunan MBG. Para korban adalah siswa SMP Negeri 1 Lembang.
Para pelajar sebelumnya mengonsumsi menu MBG berupa nasi kukus, ayam betutu Bali, tahu krispi, tumis pakcoi, dan pisang. Selang beberapa jam kemudian mereka mengalami gejala keracunan. Sumber keracunan diduga berasal dari lauk ayam betutu yang telah berbau. Para korban mengeluhkan lauk tersebut diduga sudah basi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/24/d554e3695824ba59edb6b3416c3b2b17-IMG_20251023_WA0028.jpg)
”Para korban mengalami gejala keracunan mual, pusing, hingga muntah,” ujar Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Bandung Barat Lia N Sukandar.
Lia mengatakan, sebanyak 35 korban telah kembali ke rumahnya setelah dirawat di puskesmas hingga Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Lembang. Adapun 4 korban lainnya masih dirawat.
”Kami telah mengambil sampel makanan untuk diteliti sehingga dapat mengetahui pemicu terjadinya peristiwa ini. Sampel dikirim ke Laboratorium Kesehatan Masyarakat Bandung Barat,” ujarnya.
Total sudah terjadi enam kasus keracunan MBG sejak September hingga Oktober 2025. Lima kasus lainnya dialami para pelajar hingga guru di sejumlah kecamatan di wilayah Bandung Barat. Kasus pertama hingga ketiga terjadi di Kecamatan Cihampelas dan Cipongkor pada 22 September dan 24 September 2025. Jumlah korban dalam keracunan di dua kecamatan ini mencapai 1.315 pelajar.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/15/1f907e546c49eda5fa7faff6f655e3c8-IMG_20251015_094427.jpg)
Kasus keempat terjadi di Kecamatan Cisarua pada Selasa (14/10/2025). Jumlah korban pada kasus ketiga sudah mencapai 502 orang hingga saat ini. Para korban meliputi pelajar SMP Negeri 1 Cisarua, pelajar dan guru SD Garuda serta pelajar SMK Negeri 1 Cisarua.
Kasus kelima terjadi di Desa Jayamekar, Kecamatan Padalarang, dan Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, pada Rabu (15/10/2025). Jumlah korban di Jayamekar 6 pelajar, sedangkan di Pasirlangu ada 7 korban dari pelajar.
Mirisnya, sebanyak 107 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di daerah itu belum memiliki sertifikat laik higiene sanitasi (SLHS). Penyediaan makanan bagi para pelajar rentan bermasalah dan tidak higienis.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/14/b127ebf8148c5c9a840355b44fae5160-IMG_20251014_183021.jpg)
”Kami telah mewajibkan semua SPPG memiliki sertifikat higienitas paling lambat 30 Oktober 2025. Langkah ini dilakukan sebagai bentuk pengawasan keamanan pangan di lingkungan sekolah,” tegas Lia.
Anggota Komisi V DPRD Jabar, Zaini Shofari, mengecam kasus keracunan MBG yang berulang di Jabar. Dia menilai perlu ada moratorium sementara untuk mengevaluasi program MBG dan penegakan hukum bagi pengelola SPPG yang lalai.
Menurut dia, pemerintah perlu lebih selektif dalam menjalankan program MBG. Hal itu antara lain dengan menentukan penyelenggara dapur penyedia makanan agar memenuhi standar kebersihan, kelayakan menu, serta kualitas bahan yang benar-benar terjamin.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/13/6e8f9da1496e6b34725022b8f7d26e0c-1001101655.jpg)
”Saya sangat prihatin dengan nasib para pelajar yang terus menjadi korban. Jika tidak ada proses hukum bagi pihak yang lalai, kasus keracunan ini akan terus berulang,” ujar Zaini.
Agis Kurniawan (16), pelajar asal Cisarua yang menjadi korban pekan lalu, mengatakan, ia takut untuk kembali mengonsumsi makanan dari program tersebut. Dia berharap pemerintah dan pihak terkait dapat melakukan evaluasi menyeluruh terhadap program tersebut.
”Kami mau makanan yang bergizi, bukan yang malah bikin sakit. Bagaimana mau mencapai visi Indonesia Emas jika kami tidak diberikan makanan bergizi sejak dini,” katanya.
Penulis:
Fabio Maria Lopes CostaEditor:
Rini KustiasihPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan