Kekalahan dari Lazio membuat Juventus alami periode terburuk sejak 2009. Tanpa gol di empat laga ialah performa ofensif tersuram ”Si Nyonya Besar” dalam 34 tahun.
27 Okt 2025 11:41 WIB · Olahraga
AFP/ALBERTO PIZZOLI
Juventus menelan tiga kekalahan beruntun dalam satu pekan terakhir. Catatan nirmenang itu secara total sudah berlangsung dalam delapan pertandingan. Sebelum tumbang dari Como, Real Madrid, dan Lazio, ”Si Nyonya Besar” sempat menelan lima hasil remis beruntun.
Pelatih Igor Tudor gagal membawa anak-anak asuhannya bangkit setelah kemasukan gol cepat gelandang Lazio, Tom’s Basic, pada menit ke+9 dalam laga pekan kedelapan Liga Italia 2025-2026, Senin (27/10/2025) WIB di Stadion Olympico. Usaha pemain Juve untuk mendominasi laga dengan 64 persen penguasaan bola dan menciptakan 14 tembakan sama sekali tidak berbuah gol.
Hasil pertandingan itu menenggelamkan Juve di peringkat kedelapan klasemen sementara Liga Italia. Juve sudah berjarak enam poin dari Napoli di puncak klasemen. Di sisi lain, Si Nyonya Besar berjarak delapan poin dari zona degradasi.
Nirmenang dalam delapan laga itu adalah catatan terburuk Juve sejak akhir musim 2008-2009, tepatnya periode April hingga Mei 2009. Kala itu, di bawah kendali Claudio Ranieri, Juve mengalami delapan pertandingan tanpa sekalipun menang.
Meskipun sama-sama buruk, pada musim 2008-2009 itu, Juve hanya dua kali menelan kekalahan. Lalu, enam laga lainnya berakhir imbang. Akibat hasil itu, Juve memecat Ranieri pada 18 Mei 2009 untuk digantikan pelatih sementara yang merupakan legenda Juve, Ciro Ferrara.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/10/27/59cd1508-4ea4-4e5b-af9d-2ba9662f3cfb_jpg.jpg)
Di sisi lain, terakhir kali Juve menelan tiga kekalahan beruntun di seluruh ajang tercipta pada pertengahan musim 2009-2010. Catatan buruk itu tercipta bersama Ferrara yang naik kelas menjadi pelatih tetap pada awal musim itu.
Ferrara, yang pernah bermain dengan Tudor pada periode 1998 hingga 2005 di Juve, mengalami dua kali catatan tiga kekalahan. Ia merasakan Juve kalah dari Bayern Muenchen di Liga Champions Eropa lalu dari Bari dan Catania di Serie A Italia pada 8 Desember hingga 20 Desember 2009.
Selanjutnya, Ferrara juga membuat Juve menelan tiga hasil negatif pada periode 17 Januari sampai 28 Januari 2010 saat berhadapan dengan Chievo Verona dan Roma di liga, kemudian disingkirkan Inter Milan di perempat final Piala Italia. Koleksi hasil minor itu membuat Ferrara diberhentikan oleh Si Nyonya Besar dari kursi pelatih per 29 Januari 2010.
Sulit untuk memahami mengapa segalanya tidak berjalan baik, tetapi saya yakin kami harus menaikkan level kami.
Pada musim 2008-2009, Juve nirgelar dengan finis di peringkat kedua dengan selisih 10 poin dari sang juara, Inter. Semusim berselang, Si Nyonya Besar mengakhiri kompetisi pada posisi ketujuh di Liga Italia.
Dengan membandingkan performa pada dua musim itu, catatan nirmenang yang dialami Juve bersama Tudor pada awal musim ini sudah lebih buruk dari Ranieri dan Ferrara. Pelatih asal Kroasia itu memimpin Juve dalam tiga laga terakhir dengan hasil kalah dan tanpa mampu mencetak sebuah gol ke gawang lawan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/10/27/e6e43866-088c-4143-9b19-1788a22f2908_jpg.jpg)
Namun, perjalanan Tudor, yang juga awalnya menjadi pengganti sementara untuk Thiago Motta pada musim lalu, dianggap belum sewajarnya kandas bersama Juve. Mantan ikon Juve, Alessandro Del Piero, menyebut Tudor bukan biang keladi tunggal buruknya performa Si Nyonya Besar setelah memenangkan derbi Italia kontra Inter, 13 September lalu.
”Dia (Tudor) belum memiliki 11 pilihan utama, tetapi itu bukan karena Tudor tidak menginginkan atau belum menemukannya. Itu lebih disebabkan masalah beberapa individu pemain. Mereka kesulitan menampilkan performa konsisten,” kata Del Piero kepada Sky Sport Italia.
”Jika Anda melihat tim-tim terbaik di Italia dan Eropa, mereka sudah memiliki gambaran 11 pemain inti reguler yang selalu tampil pada laga-laga besar. Tim ini tidak masuk dalam pesaing kandidat scudetto meski pelatih lain masuk untuk menggantikan Tudor,” ujarnya kemudian.
Sementara Tudor tidak memikirkan situasinya di kursi pelatih Juve yang kian memanas. Ia menegaskan fokus utamanya adalah membantu Juve segera mungkin keluar dari rentetan hasil buruk.
”Orang-orang bertanya kepada saya jika saya merasa aman atau khawatir, tetapi saya tidak memikirkan diri saya. Saya tidak peduli dengan masa depan saya. Satu hal saya pikirkan adalah mencoba keluar dari masalah dan berusaha meningkatnya tim,” tutur Tudor dilansir Tuttosport.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/10/27/650a8c7f-b2cf-4319-9872-3176d5eb6e64_jpg.jpg)
Selain rekor kekalahan terburuk selama 16 tahun, Tudor juga mencatatkan performa ofensif tersuram Juve dalam lebih dari tiga dekade. Untuk pertama kali sejak 1991, Juve gagal mencetak gol dalam empat pertandingan berturut-turut.
Pada akhir musim 1990-1991 di bawah asuhan Luigi ”Gigi” Maifredi, Juve menjalani empat laga tanpa mencetak gol ketika menghadapi Sampdoria, AS Roma, Lecce, dan Lazio pada periode Februari hingga Maret 1991. Akhir musim itu, Juve menutup perjalanan di posisi ketujuh.
Pada laga kontra Lazio, Tudor tidak memainkan Kena Yildiz sejak sepak mula. Dusan Vlahovic dan Jonathan David menjadi tandem penyerang. Namun, dua pemain itu gagal mencetak gol.
Masuknya Yildiz pada awal babak kedua, lalu disusul Lois Openda, sama sekali tidak mengubah keberuntungan Juve di kotak penalti Lazio. Menurut Tudor, segala usaha telah dilakukan untuk mencetak gol, tetapi masalah lini serang masih belum berakhir akibat performa individu yang tidak stabil.
”Kami semua bertanggung jawab. Kami harus melakukan lebih baik dan tetap bersatu. Masalah akan terus hadir jika seseorang selalu melakukan kesalahan walaupun terus diingatkan untuk tidak dilakukan,” katanya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/10/27/e9a18d10-937a-4c8a-ae8d-4c687dd061b4_jpg.jpg)
Mattia Perin, kiper Juve yang tampil sebagai pemain utama di Olympico, tidak menganggap Tudor gagal memberikan dampak positif bagi tim. Perin mengimbau rekan-rekan setimnya untuk segera berbenah secara individu untuk meningkatkan penampilan kolektif tim.
”Kami percaya dengan ide pelatih. Secara emosional, kami suka apa yang ia suntikkan kepada kami. Sulit untuk memahami mengapa segalanya tidak berjalan baik, tetapi saya yakin kami harus menaikkan level kami,” ujar Perin kepada DAZN.
”Kami berlatih dengan baik selama pekan ini, tetapi hal itu tidak terlihat di pertandingan. Sulit untuk mencari masalah tunggal dari rentetan hasil buruk ini,” katanya kemudian.
Semoga kesabaran Juve bisa segera dibalas Tudor dengan kembali ke jalur kemenangan. Jika tidak, Tudor bakal mengulang jejak Ferrara, alih-alih menduplikasi capaian cemerlang yang pernah ditulis eks rekan lainnya di Juve, Antonio Conte.
Penulis:
Muhammad Ikhsan MaharEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan