Tottenham belum mampu menang di 2026 dan terjebak tiga kekalahan beruntun di era Tudor. Begitu banyak alasan yang bisa menjerumuskan mereka ke jurang degradasi.
06 Mar 2026 07:20 WIB · Olahraga
AP
LONDON, KAMIS — Tottenham Hotspur semakin memperlihatkan diri mereka sebagai tim terburuk di Liga Inggris saat ini. Manajer interim Tottenham, Igor Tudor, gagal mengatasi masalah performa dan mengangkat moral tim itu. Sulit melihat ”Si Lili Putih” bertahan di divisi tertinggi jika tidak ada keajaiban.
Kekecewaan terhadap tim asuhan Tudor terpampang jelas di Stadion Tottenham Hotspur, London, Inggris, Jumat (6/3/2026) dini hari WIB. Banyak pendukung tuan rumah memutuskan pulang saat turun minum. Tottenham yang bermain dengan sepuluh orang tertinggal 1-3 dari Crystal Palace.
Hanya lima menit kebahagiaan yang diberikan Tottenham kepada para suporter. Gol pembuka Palace dianulir asisten wasit video (VAR) pada menit ke-33 karena offside beberapa sentimeter. Semenit berselang, tuan rumah berhasil membuka keunggulan lewat striker Dominic Solanke.
Atmosfer stadion terasa berapi-api, sampai akhirnya kapten Tottenham, Micky van de Ven, melanggar gelandang lawan, Ismaila Sarr, di kotak penalti. Van de Ven diganjar kartu merah langsung, sementara Palace mendapatkan penalti. Sarr menyamakan kedudukan lewat hadiah penalti.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/06/ac1048b0af7f05aceb2959c3136cc1a0-wires_photo_2026_03_06T055316.483.jpg)
Sisanya, setelah itu, adalah penderitaan bagi Si Lili Putih. Tim tamu berbalik unggul dengan dua gol sekaligus di injury time paruh pertama lewat penyerang Jorgen Strand-Larsen dan Sarr. Tottenham pun harus menerima kenyataan kalah tiga kali beruntun di era Tudor dan belum menang di liga selama 2026.
”Kami kecewa karena kalah. Kartu merah mengubah jalannya pertandingan. Kemudian, kami kebobolan dua gol cepat. Di babak kedua, kami berusaha. Kami menginginkan energi yang baik. Saya melihat sesuatu yang membuat saya percaya bahwa kami bisa melakukannya,” ujar Tudor.
Kekalahan itu kembali menunjukkan buruknya kualitas Tottenham di dua sisi lapangan sekaligus. Mereka sangat minim kreativitas di lini serang dan berlubang di lini belakang. Masalah tersebut bertambah parah dengan pendekatan strategi sang manajer yang serba tanggung.
Kebingungan Tudor sudah tecermin dari pergantian formasi. Setelah menggunakan formasi tiga bek dalam debutnya, lalu berubah ke empat bek di laga terakhir, ia kembali ke skema tiga bek. Tottenham menampilkan 3-4-2-1 dengan bek sayap Pedro Porro bertugas sebagai bek tengah darurat.
Akibat hasil itu, Tottenham—yang berada di peringkat ke-16 dengan 29 poin—hanya terpaut satu poin dari zona degradasi.
Tudor tidak berani langsung tampil agresif. Alih-alih menekan tinggi dengan bantuan dukungan suporter tuan rumah, dia hanya memainkan pertahanan blok tengah. Masalahnya, blok itu sangat mudah ditembus karena jarak antara lini belakang dan lini tengah Tottenham yang kurang rapat.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/06/796d489127087ea82439a1e5507b8ce2-Tottenham_Hotspur_v_Crystal_Palace_Premier_League_Tottenham_Hotspur_Stadium_2_.jpg)
Gol Sarr yang dianulir merupakan pertanda bencana bagi Si Lili Putih. Palace mampu mengeksploitasi lubang di pertahanan Tottenham dengan kecepatan Sarr dan kekuatan Strand-Larsen. Kombinasi dari duet tim tamu itu pula yang terlibat dalam proses untuk mendapatkan penalti.
Saat tampil dengan sepuluh pemain dan harus lebih defensif, Tudor justru mengganti bek sayap Souza. Penyerang sayap Mathys Tel mengisi posisi itu. Hasilnya fatal. Tel membuat kesalahan umpan di pertahanan sendiri, lalu berujung gol kedua Palace yang dicetak Strand-Larsen.
Tanpa bek terbaiknya, pertahanan Tottenham semakin terekspos. Sarr menciptakan gol kedua dengan memanfaatkan lubang besar di lini belakang tuan rumah. ”Kami semestinya unggul lebih dulu, tetapi gagal hanya karena hidung (offside). Itu keputusan yang sangat tipis, tetapi hari ini tidak jadi masalah,” kata Manajer Palace Oliver Glasner.
Akibat hasil itu, Tottenham—yang berada di peringkat ke-16 dengan 29 poin—hanya terpaut satu poin dari zona degradasi. Mereka terus dikejar oleh tim peringkat ke-17, Nottingham Forest (28 poin), dan tim peringkat ke-18, West Ham (28 poin). Dengan tren belakangan ini, Tottenham berpotensi besar turun divisi.
”Kami tahu posisi kami saat ini. Jadi, kami harus segera menemukan solusi secepat mungkin. Bukan waktu yang tepat bagi kami untuk beralasan. Kami harus melakukan tugas di lapangan. Kami harus bertarung di sisa laga, setiap menit, memastikan terus berkembang,” kata Solanke.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/06/fe4ccefe36262a0750bbe9e511ad16b7-wires_photo_2026_03_06T060234.699.jpg)
Tottenham merupakan satu-satunya tim yang belum pernah menang sejak pergantian tahun. Mereka juga menjadi tim dengan jumlah poin terendah selama 2026 (4 poin). Jumlah itu bahkan lebih rendah dibandingkan dua tim terbawah klasemen, yaitu Burnley (7 poin) dan Wolverhampton Wanderers (13 poin).
Momentum Si Lili Putih diharapkan bisa berbalik dengan pergantian manajer, yaitu dari Thomas Frank. Namun, efek psikologis kedatangan juru taktik baru ternyata tidak membantu. Tottenham kalah tiga kali dari tiga laga di era Tudor dan sudah kemasukan sembilan gol. Tren itu mengkhawatirkan.
Posisi Tottenham semakin terdesak karena Forest dan West Ham mulai bangkit. Moral skuad Forest pasti melonjak seusai mampu menahan tim kandidat juara Manchester City pada laga sebelumnya. Sementara West Ham hanya kalah sekali dari lima laga terakhir.
Belum lagi, Tottenham masih dibayangi badai cedera. Tudor akan semakin kesulitan mencari solusi dengan pemain yang terbatas. Mereka menghadapi Palace dengan sembilan pemain yang absen, termasuk bek Cristian Romero yang menjalani hukuman kartu merah. Saat Romero sudah bisa tampil di laga selanjutnya, giliran Van de Ven yang absen.
Tottenham pun perlu berharap ada keajaiban yang terjadi dalam kubu mereka di sembilan pekan tersisa. Jika tidak, mereka harus mengharapkan tim-tim papan bawah lain ikut terpuruk. Kedua skenario itu agaknya akan sulit terjadi. (AP/REUTERS)
Penulis:
Kelvin HianusaEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti