SEPAK BOLA

Bola Mati, ”Seni Hitam” Perusak Keindahan Liga Inggris

Kontroversi tentang penggunaan bola mati di Liga Inggris semakin kencang belakangan ini. Apakah bola mati benar-benar merusak esensi dari keindahan sepak bola?

03 Mar 2026 16:37 WIB · Olahraga

AP Photo/Jon Super

Oleh Kelvin Hianusa

Sepak bola lama-lama semakin mirip dengan american football. Laga bukan lagi tentang permainan mengalir penuh kreativitas yang dipenuhi kombinasi umpan apik dan gol-gol indah. Sekarang, semua lebih soal adu fisik. Para pemain saling menarik baju dan mendorong satu sama lain demi mendapatkan hadiah lewat situasi bola mati.

Gol dari permainan terbuka biasanya lahir dari proses panjang, sentuhan belasan kali hingga puluhan kali sampai bola masuk ke gawang. Di bola mati, seperti skema tendangan sudut, hanya butuh dua sentuhan untuk melukai lawan. Waktu untuk mengatur dan memperebutkan posisi bahkan lebih lama dari proses gol itu sendiri.

Itulah realitas yang terjadi di Liga Inggris saat ini, tim-tim mulai ketergantungan bola mati. Laga level tinggi seperti derbi London saja, antara Arsenal dan Chelsea, harus ditentukan lewat tiga gol dari tendangan sudut. Padahal, duel yang melibatkan segudang pemain kelas dunia itu biasanya menjadi panggung adu teknik dan kreativitas.

Tiga gol dari derbi pada akhir pekan lalu itu juga memberikan fakta lain. Menurut Sky Sports, jumlah gol dari tendangan sudut di Liga Inggris musim ini (138) resmi melampaui musim lalu (135). Padahal, liga masih menyisakan 99 laga yang belum dimainkan. Data tersebut memperlihatkan perubahan tren yang signifikan.

West Ham's goalkeeper Mads Hermansen fails to save header by Liverpool's Virgil van Dijk during the Premier League soccer match between Liverpool and West Ham United in Liverpool, England, Saturday, Feb. 28, 2026. (AP Photo/Jon Super)

”Anda harus menerima fakta itu,” kata Pelatih Liverpool Arne Slot. ”Bola mati menjadi bagian utama di Liga Inggris. Jika menonton liga lain, saya rasa tidak ada banyak penekanan pada bola mati. Apakah saya menyukainya? Hati saya sebagai pencinta sepak bola berkata tidak,” lanjutnya.

Referensi Slot soal sepak bola indah adalah Barcelona pada 10-15 tahun yang lalu. Tim raksasa Spanyol itu memainkan gaya elegan ”tiki-taka” yang mengutamakan kombinasi umpan pendek dari lini belakang sampai ke kotak penalti. Bahkan, ketika mendapatkan peluang dari situasi bola mati, mereka kerap kali hanya mengumpan pendek.

Slot merupakan sosok paling tepat untuk membicarakan bola mati. Dia sudah menjadi penikmat sekaligus korban dari situasi tersebut. Sejak Januari, tidak ada tim yang lebih produktif dari bola mati dibandingkan dengan Liverpool (9 gol). Namun, margin mereka masih defisit tiga gol sejauh ini karena kesalahan strategi di paruh awal musim.

Pengaruh bola mati bisa tecermin dari klasemen liga. Pemuncak klasemen saat ini adalah Arsenal. Bukan kebetulan, mereka juga berstatus tim yang paling efektif dari bola mati, terutama tendangan sudut. Margin gol ”Si Meriam” merupakan yang terbaik di liga (+12) berasal dari memasukkan 19 gol dan kemasukan hanya 7 gol.

bola mati liga inggris

Sebanyak 16 gol di antaranya dihasilkan tim asuhan manajer Mikel Arteta itu dari tendangan sudut. Jumlah tersebut sudah menyamai rekor gol tendangan sudut terbanyak selama satu musim dalam sejarah liga. Wajar saja jika Arsenal mulai dijuluki sebagai ”raja bola mati”.

Meskipun begitu, bukan hanya Arsenal yang mengandalkan bola mati, melainkan seisi liga. Itu terlihat dari dari data BBC Sports. Sebanyak 215 dari 783 gol di liga hingga pekan ke-28 tercipta dari situasi bola mati di luar penalti. Porsi itu mencapai 27,6 persen dari keseluruhan gol dan merupakan yang tertinggi dalam 15 tahun terakhir.

Bukan Arsenal juga, tim yang paling bergantung dari bola mati, tetapi tim promosi Leeds United. Sebanyak 13 dari 37 gol Leeds atau 35,1 persen berasal dari bola mati di luar penalti. Arsenal memang paling produktif dan efektif, tetapi mereka hanya menempati peringkat keenam dalam porsi gol bola mati (32,8 persen).

”Seni hitam”

Perspektif unik disampaikan oleh Pelatih Chelsea Liam Rosenior. Sosok yang merupakan mantan pemain Liga Inggris itu berupaya memahami konteks dari sudut berbeda. Baginya, bola mati adalah senjata sah yang bisa dimaksimalkan setiap tim. Itu termasuk bagian penting yang tidak bisa dipisahkan dari sepak bola.

”Itulah keindahan sepak bola. Semua tim bisa melakukan dengan cara berbeda. Tidak ada benar dan salah. Saat kami mencetak gol (dari bola mati ke gawang Arsenal), para pendukung tidak peduli seperti apa cara gol itu terjadi. Begitu pun suporter Arsenal dengan gol mereka. Permainan ini adalah tentang kemenanganan,” kata Rosenior.

Semakin banyak senjata yang bisa digunakan setiap tim, liga pun akan semakin kompetitif. Terbukti, tim-tim medioker lebih berpeluang membuat kejutan pada musim ini. Brentford, contohnya. Mereka bisa menahan imbang ”raja bola mati” Arsenal berkat gol unik dari skema lemparan ke dalam. Kurang kreatif apa cara itu?

Setiap laga di Liga Inggris menjadi lebih sengit berkat faktor baru tersebut. Slot yang tidak menyukai bola mati, tidak menampik hal itu. ”Kebanyakan laga tidak menyenangkan ditonton, tetapi itu selalu menarik karena sangat kompetitif. Itulah yang membuat liga ini hebat, semua tim bisa mengalahkan siapa pun,” ujar Slot.

Lantas, mengapa begitu banyak yang membenci bola mati belakangan ini, sampai disebut sebagai ”seni hitam” atau cara kotor? Padahal, skema itu sudah diandalkan sejak lama. Bahkan, di musim 2009-10, porsi gol dari bola mati (28,5 persen) masih menjadi yang tertinggi dalam sejarah liga hingga saat ini.

Arsenal's Jurrien Timber, third left, scores during the Premier League soccer match between Chelsea Arsenal in London Sunday, March 1, 2026. (AP Photo/Alastair Grant)

Jawaban paling logis adalah karena ambiguitas. Tidak ada aturan yang jelas ataupun ketegasan untuk menertibkan situasi. Seperti di situasi tendangan sudut, para pemain menarik jersei dan menahan badan satu sama lain. Kiper yang semestinya bersih dari kontak fisik signifikan, juga menjadi sasaran gangguan pemain lawan.

Para wasit semakin sering membiarkan pertarungan fisik ala american football itu terjadi. Alhasil, banyak perbedabatan kontroversial yang muncul setiap pekan. Pemain tim A dianggap melanggar pemain tim ”B”. Padahal, kedua kubu melakukan hal-hal serupa. ”(Aturan) itu yang perlu ditinjau lagi pada akhir musim nanti,” jelas Rosenior.

Belum lagi, proses pengambilan bola mati memakan waktu cukup lama, bisa sampai 1 menit. Lemparan ke dalam yang semula hanya beberapa detik, bisa berkali-kali lipat lebih lama jika sang eksekutor berniat mengambil lemparan jauh. Itu sangat berpengaruh terhadap waktu efektif dalam permainan terbuka.

Karena itu, tidak tepat jika memvonis bola mati sebagai ”seni hitam” yang merusak keindahan Liga Inggris. Bola mati adalah bagian dari keindahan itu. Faktor yang merusak keindahan tersebut justru adalah para pengadil yang memunculkan ambiguitas, itu yang mesti dibenahi. (AP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Kelvin Hianusa
 | 

Editor:

Emilius Caesar Alexey
 | 

Penyelaras Bahasa:

FX Sukoto