Saat ini dunia dihantui kecemasan akan perang dagang AS-China yang lebih sengit dari 2018.
19 Nov 2024 18:02 WIB · Internasional
CEBU, SELASA — Sejumlah organisasi keuangan internasional memperingatkan, perang dagang lewat saling balas penerapan tarif barang antarnegara akan membuat ekonomi dunia semakin suram.
Dana Moneter Internasional (IMF) mengatakan, perang dagang itu dapat merusak prospek ekonomi Asia, meningkatkan biaya, dan mengganggu rantai pasok.
”Saling balas menerapkan tarif akan mengganggu prospek pertumbuhan di seluruh kawasan, yang mengarah pada rantai pasok yang lebih panjang dan kurang efisien,” kata Direktur IMF Asia-Pasifik Krishna Srinivasan dalam sebuah forum tentang risiko sistemik di Cebu, Filipina, Selasa (19/11/2024).
Pernyataan Srinivasan muncul di tengah kekhawatiran atas rencana presiden terpilih AS Donald Trump untuk mengenakan tarif 60 persen pada barang-barang China dan setidaknya pungutan 10 persen pada semua impor lainnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2019/05/15/8a3005e6-e500-4208-be86-c93f2454de3e.jpg)
Trump yang akan resmi memimpin AS pada Januari 2025 juga mengancam akan mengenakan tarif sebesar 25 persen atau lebih pada barang-barang yang berasal dari Meksiko jika negara itu tak menghentikan serangan kejahatan dan narkoba lintas perbatasan.
Tarif dapat menghambat perdagangan global dan menghambat pertumbuhan di negara-negara pengekspor. Untuk AS, perang tarif dapat meningkatkan inflasi yang bisa memaksa Bank Sentral AS (Federal Reserve/The Fed) untuk memperketat kebijakan moneter.
Kondisi ini juga bakal berdampak buruk bagi ekonomi Asia. IMF memperkirakan Asia tetap menjadi mesin utama pertumbuhan ekonomi global kendati prospek pertumbuhan ekonomi global kurang menggembirakan.
Laporan Prospek Ekonomi Dunia terbaru IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi global sebesar 3,2 persen untuk tahun 2024 dan 2025. Sementara untuk kawasan Asia, IMF memperkirakan prospek ekonomi yang lebih optimistis, yaitu 4,6 persen untuk tahun 2024 dan 4,4 persen untuk 2025.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/04/19/95ffe8c5-6f84-49b7-80af-eca4c2162c9d_jpg.jpg)
Menurut Srinivasan, Asia tengah berada di periode transisi penting ekonomi. Transisi ini akan menciptakan ketidakpastian yang lebih besar dibanding tahun-tahun sebelumnya. Hal ini termasuk risiko akut akan meningkatnya ketegangan perdagangan di antara mitra dagang utama.
Ia menambahkan, ketidakpastian seputar kebijakan moneter di negara-negara maju dan ekspektasi pasar terkait dapat memengaruhi keputusan moneter di Asia. Kondisi itu pun memengaruhi arus modal global, nilai tukar, dan pasar keuangan lainnya.
Selain China dan AS, perang dagang dengan saling balas menerapkan tarif juga sudah terlihat semakin tajam di kawasan di luar dua negara. Pada Oktober 2024, Uni Eropa memutuskan untuk menaikkan tarif kendaraan listrik buatan China hingga 45,3 persen.
Saling balas menerapkan tarif mengancam akan mengganggu prospek pertumbuhan di seluruh kawasan, yang mengarah pada rantai pasokan yang lebih panjang dan kurang efisien.
Tak sampai sepekan kemudian, Beijing mengumumkan penerapan tarif sebesar 39 persen pada puluhan produk minuman beralkohol jenis brendi dari Uni Eropa.
Beijing menuding perusahaan-perusahaan produsen brendi itu melakukan dumping yang mengancam akan menimbulkan kerugian besar bagi produsen brendi dalam negeri China.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/10/06/36c2a612-1a3f-4665-a250-5243be6699f6_jpg.jpg)
Kebijakan sementara yang diterapkan pada pertengahan Oktober 2024 itu mewajibkan importir China untuk menyetor uang jaminan sejumlah tarif kepada badan bea cukai China. Beijing juga mempertimbangkan bea masuk atas daging babi dan produk susu Eropa serta mobil bertenaga bensin dengan mesin besar.
Beijing tak pernah tak secara langsung menghubungkan keputusan tersebut dengan kebijakan tarif dari Uni Eropa. Saat ini, aturan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) melarang pembalasan perdagangan tanpa terlebih dahulu memperoleh izin dari badan tersebut. Kendati demikian, banyak pihak menilai penerapan tarif China itu sebagai balasan terhadap Uni Eropa.
Perang dagang China dan AS pernah terjadi pada 2018 saat Trump menjadi presiden periode pertama. Dikutip dari media South China Morning Post, perang dagang AS-China yang dimulai pada Juli 2018 pada akhirnya membebani tarif pada barang-barang China senilai 550 miliar dollar AS dan barang-barang AS senilai 185 miliar dollar AS.
Perang dagang dimulai dengan AS yang mengenakan bea masuk sebesar 25 persen pada impor China senilai sekitar 34 miliar dollar AS. Sejumlah barang itu, antara lain, mobil, cakram padat (hard disk), dan suku cadang pesawat.
Hal ini diikuti China dengan mengenakan bea masuk sebesar 25 persen pada 545 barang yang berasal dari AS senilai 34 miliar dollar AS. Di antara barang itu adalah produk pertanian, mobil, dan produk akuatik.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/05/09/e359d115-7e76-4874-83e2-cb7f71908fe0_jpg.jpg)
Pada 2019, Washington menambahkan produk Huawei sebagai bagian dari perang dagang. Saat itu, Pemerintah AS melarang perusahaan AS menjual produk ke perusahaan teknologi terbesar China itu tanpa persetujuan pemerintah.
Sempat diwarnai jeda, saling balas tarif ini berlangsung beberapa gelombang selama 2018-2020. Perang dagang mulai mereda dengan disepakatinya perjanjian dagang AS-China.
Pada Januari 2020, China dan AS menandatangani perjanjian dagang tahap pertama, dengan ketentuan yang mencakup komitmen pembelian, akses pasar keuangan, perlindungan, dan penegakan hak kekayaan intelektual.
Perjanjian dagang tahap pertama ini difinalisasi oleh Trump dan kepala negosiator perdagangan China, Wakil Perdana Menteri Liu He. Namun, sejumlah tarif tetap dipertahankan hingga sekarang.
Saat ini dunia dihantui kecemasan akan perang dagang AS-China yang lebih sengit dibanding tahun 2018. Pada 12 November 2024, para pejabat Bank Sentral Eropa (ECB) memperingatkan, kebijakan proteksionis dengan penerapan tarif dari pemerintahan AS yang baru akan menghambat pertumbuhan global. Untuk itu, Eropa harus lebih siap menghadapinya dibandingkan pada tahun 2018.
Gubernur Bank Sentral Finlandia Olli Rehn mengatakan, bea masuk impor yang signifikan dapat memiliki konsekuensi merugikan bagi ekonomi dunia.
”Perang dagang baru adalah hal terakhir yang kita butuhkan di tengah persaingan geopolitik saat ini, terutama di antara sekutu,” katanya di London, Inggris.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2023/03/08/4e274b1c-560d-4561-97ed-6df1ad3b482c.jpg)
Menurut dia, ketegangan perdagangan antara AS dan Eropa mulai meningkat selama masa jabatan pertama Trump (2017-2021). Jika perang dagang dimulai lagi, Eropa tidak boleh tidak siap seperti pada tahun 2018.
”ECB harus, dalam mandatnya, bertindak sebagai jangkar bagi stabilitas ekonomi dan keuangan dalam lanskap tantangan besar ini. Tidak seorang pun boleh meragukan bahwa kami akan memikul tanggung jawab ini sepenuhnya,” kata Rehn.
Gubernur Bank Sentral Austria Robert Holzmann memperingatkan, jika diterapkan, perang dagang akan membuat suku bunga dan inflasi AS tetap tinggi. Hal ini akan berdampak sistemis pada lesunya ekonomi di seluruh dunia.
”Jika diterapkan, suku bunga akan tetap tinggi dan inflasi akan lebih tinggi,” kata Holzmann di Vienna. Ia menambahkan, hal itu akan memberikan tekanan pada dollar AS dan inflasi zona euro.
Holzmann berpendapat, menguatnya dollar AS akan berdampak pada naiknya biaya impor, terutama untuk energi. Kondisi ini akan membuat ECB sulit mencapai target inflasi 2 persen dan terpaksa menerapkan kebijakan suku bunga tinggi. (AFP/Reuters)
Penulis:
Irene SarwindaningrumEditor:
Fransisca Romana Ninik W