Ucapan terima kasih disampaikan anak-anak sekolah penerima makan bergizi gratis. Melalui program ini, informasi mengenai makanan bergizi lebih cepat tersampaikan.
07 Jan 2025 07:30 WIB · Investigasi
Suatu hari pada pertengahan November 2024, Eka (33), karyawan pembersihan alat makan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tanah Sareal, Kota Bogor, tidak menyangka akan menemukan sobekan kertas di dalam beberapa wadah makan stainless steel yang akan dicucinya.
Sobekan kertas yang berisi ucapan terima kasih, kritik, dan saran itu ditulis anak-anak sekolah yang menerima makanan bergizi dalam uji coba Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Sebelumnya, Dapur SPPG Tanah Sareal telah melaksanakan uji coba MBG selama 18 November hingga 20 Desember 2024 dengan 3.000 kemasan yang didistribusikan ke 15 sekolah di sekitar dapur.
”Dulu awal-awal suka nemu tulisan-tulisan tuh, kayak ucapan terima kasih sudah memberikan makan siang, kalau bisa lebih asin sedikit, kasih cabai,” kata Eka, Senin (30/12/2024).
Sobekan-sobekan kertas itu tidak hanya ditemukan Eka, tetapi juga karyawan pembersihan alat makan lainnya. Selanjutnya, sobekan kertas tersebut diserahkan kepada Ayu Pertiwi, Kepala dapur SPPG Tanah Sareal, dan Ayu pun mendokumentasikannya.
Dua di antaranya yang ditunjukkan Ayu ke Kompas tertulis, ”Enak makanannya, tapi kurang bumbu, kurang asin . Makasih atas makannya. Semangat masaknya. Saran menu besok: udang saus padang, sayur capcay, buah stroberi/anggur” dan ”Nanti masakannya tambah bumbu lagi ya. Tapi udah enak banget kok. Terima kasih Bapak/Ibu. Semangat masaknya”.
Cerita penemuan kertas pesan tersebut pun disampaikan Ayu kepada tim pengelola dapur SPPG lainnya, yakni Lena Tria Melati, Wakil Ketua SPPG, ahli gizi Countessha Nicola, dan Rio Andrian sebagai akuntan.
Bagi Ayu, Lena, Tessha, dan Rio, kertas-kertas pesan dari anak-anak sekolah tersebut memberikan kebahagiaan telah menjadi bagian dari program pemberian makan bergizi gratis pada anak-anak sekolah, anak balita, dan ibu hamil.
”Senang banget sih karena ternyata (usaha) kami diapresiasi, walaupun kami tidak menunjukkan keberadaan kami di depan mereka. Kami yang bikin ini, kami yang menjadi bagian ini. Anak-anak dengan kreativitasnya sendiri memberikan apresiasi kepada kami melalui surat cinta,” kata Tessha dengan wajah berbinar.
Menurut Ayu, sebagian besar siswa yang mendapat makanan bergizi dari dapur SPPG Tanah Sareal berasal dari keluarga menengah ke bawah. ”Sebelumnya anak-anak mungkin gak setiap hari minum susu, makan buah. Setelah dapat makanan ini, bisa setiap hari minum susu, makan buah. Itu salah satu yang bikin kita senang,” kata Ayu.
Enak makanannya, tapi kurang bumbu, kurang asin. Makasih atas makannya. Semangat masaknya. Saran menu besok: udang saus padang, sayur capcay, buah stroberi/anggur.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/05/f82a8012-8775-4883-84e3-66b0f8aa39bd_jpg.jpg)
Saran mengenai rasa dan usulan menu yang disampaikan anak-anak juga menjadi bahan evaluasi menu bagi Tessha setiap harinya.
”Kami memantau setiap hari, misal bagaimana distribusinya, apakah ada hambatan dan masalah, atau mungkin ada kritik dan saran dari anak-anak. Mungkin untuk sayurnya, anak-anak kurang suka, mungkin bisa disiasati bagaimana pengolahan labu siamnya. Saya terima kritik dan saran itu dan saya akan mengganti rencana menu, jika dari menu itu ada yang gak disukai anak-anak,” ujar Thessa.
Meski demikian Ayu dan Thessa tidak akan mengganti menu atau mengubah rasa jika tidak sesuai dengan makanan gizi berimbang. Misal, mereka tidak akan menambah rasa asin dengan penyedap rasa ataupun tidak akan menambah menu udang, ataupun buah stroberi/anggur karena faktor ketersediaan dan harga.
”Ini kan program makan bergizi, bukan makan kenyang. Jadi kita tetap harus memperhatikan gizi anak-anak. Jadi gak cuma mengikuti selera makan mereka atau yang penting mereka kenyang. Tapi bagaimana cara kita buat memberi mereka makanan bergizi,” kata Ayu yang berharap, pesan informasi makanan gizi berimbang tersampaikan kepada anak-anak dan orangtuanya dari sebuah ompreng makanan.
Sebagai gantinya, bagi anak-anak yang tidak menyukai sayuran, seperti kacang panjang, labu siam, dan sawi putih, mereka akan mengubah pengolahan masakannya. ”Saya bisa campur sawi putih dengan protein nabati atau hewani, atau mengombinasikan dengan sayur lain yang warnanya lebih menarik, seperti wortel,” kata Thessa.
Sebelum makanan MBG sampai ke tangan anak sekolah, Thessa harus merencanakan menu dan variasinya yang sudah disiapkan sekitar tiga minggu sebelumnya.
Menurut Thessa, merencanakan menu MBG di dapur Tanah Sareal ini tidaklah mudah dan harus mempertimbangkan banyak hal. Hal itu antara lain kebutuhan gizi per sasaran, yang dibedakan kelompok usia dan jenis kelamin, selera makan anak-anak, dan harga.
Ini kan program Makan Bergizi Gratis, bukan makan kenyang. Jadi kita tetap harus memperhatikan gizi anak-anak. Jadi gak cuma mengikuti selera makan mereka atau yang penting mereka kenyang. Tapi bagaimana cara kita buat memberi mereka makanan bergizi.
Untuk kebutuhan gizi, harus sesuai dengan prinsip gizi seimbang. Menurut pedoman angka kecukupan gizi yang dianjurkan pemerintah melalui Peraturan Menteri Kesehatan No 28 Tahun 2019, dalam sehari, makanan yang dikonsumsi harus mengandung karbohidrat, protein nabati dan hewani, lemak, serat, mineral dan air.
Perhitungan bahan makanan yang dibelanjakan, juga harus menghitung food cost. “Saat ini harga rata-rata bahan baku saja dan bumbu sekitar Rp 10.000, belum termasuk biaya operasional, seperti listrik, gas, dan bensin. Namun harga netto makanan rata -rata Rp 15.000, termasuk dengan bahan baku, gaji karyawan, dan biaya operasional lainnya,” ujar Ayu
Makanan yang telah selesai dimasak dimasukkan dalam wadah. Dalam satu wadah terdiri atas 5 tempat yang berisi nasi yang dicetak bulat, sayur, serta lauk yang bergantian antara ikan dori, ayam, telur, dan daging, susu, dan buah. Buah yang dibagikan seperti jeruk, pisang, pepaya, melon, dan salak. Adapun susu dengan rasa plain dan ukuran yang berbeda untuk anak PAUD hingga SD serta SMP dan SMA.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/06/c1ea4787-01f0-47c9-b568-1deeb9023a41_jpg.jpg)
Saat ini harga rata-rata bahan baku saja dan bumbu sekitar Rp 10.000, belum termasuk biaya operasional, seperti listrik, gas, dan bensin. Namun, harga neto makanan rata-rata Rp 15.000, termasuk dengan bahan baku, gaji karyawan, dan biaya operasional lainnya.
Sementara itu, Indra Purnama, pengusaha UMKM ”Eatbox” di Sentul, Bogor, merasa bersyukur makanan bikinannya dihabiskan anak-anak sekolah. ”Kalau makanan dihabiskan, kita juga puas dan merasa senang. Alhamdulillah, anak-anak menghabiskan,” kata Indra.
Indra Purnama juga turut serta menyediakan makanan bergizi dalam uji coba yang diselenggarakan perusahaan GoTo. Indra menjadi bagian dari 40 UMKM yang terlibat program CSR GoTo untuk mendukung program MBG. Selama tujuh bulan terakhir ini, UMKM Indra bertugas menyiapkan 300 wadah plastik yang didistribusikan ke tiga sekolah.
Indra tak perlu bingung menyiapkan menu makanan bergizi karena GoTo telah memberikan panduan 40 variasi menu. Satu paket makanan yang dihasilkan oleh UMKM Indra terdiri dari nasi, lauk, sayur, buah, dan susu.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/06/cc5bda72-3c5d-4d4c-9333-7d712f7dfbd5_png.png)
Lauknya ayam, ikan, atau telur yang dirotasi setiap hari dan dimasak dalam jenis masakan yang berbeda. Adapun tahu atau tempe tidak disiapkan sebagai lauk tersendiri, tapi ditambahkan dalam sayuran. Buah yang dominan digunakan adalah jeruk.
Selain UMKM milik Indra, UMKM Rumah Makan Kando Jaya di Sentul milik Romli juga turut menyediakan makanan bergizi dalam program CSR GoTo.
Menu yang disajikan dalam paket, terdiri dari nasi, lauk yang berganti setiap hari antara ikan, ayam, atau telur, sayur, dan buah. ”Kadang saya bikin ayam goreng, ayam serundeng, ayam bakar, dan ayam kecap. Setiap hari menunya berganti terus. Sayurnya juga kadang bikin sop atau capcay, dan harus bening semua, tanpa santan,” kata Romli.
Tak hanya anak-anak sekolah di kawasan Tanah Sareal yang senang mendapatkan makanan bergizi gratis. Beberapa murid sekolah di Pakansari, Bogor, dan Cideng, Jakarta Pusat, juga menyatakan kegembiraannya. Mereka antara lain Miracle (12), siswi SDN Pakansari 01, Cibinong, yang menyebut chicken katsu dan beef teriyaki sebagai lauk yang paling berkesan selama uji coba makan bergizi gratis. ”Untuk sayurnya, aku suka semua tapi paling suka sama capcay,” katanya.
Sementara itu, David (12), siswa SDN Pakansari 01, merasa senang dengan program makan bergizi gratis karena gizinya sudah diatur dalam porsi yang terukur. Dia menambahkan, ada sekotak susu dalam menunya dengan beragam rasa, seperti vanila, cokelat, dan stroberi.
Hana (9), siswi kelas 3 SDN Cideng 07, Jakarta Pusat, juga pernah mengikuti uji coba program MBG yang diselenggarakan Pemprov DKI Jakarta. Ia menceritakan menu makanan waktu itu antara lain nasi, daging sapi, telur, sayur sop, dan pisang. Hana pun senang dengan menu tersebut dan menyantapnya tanpa tersisa.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/05/4c588054-bc35-4cdd-841c-515f97c777dd_jpg.jpg)
Menentukan menu untuk anak-anak sekolah tak selalu mudah. Tantangan itu mengemuka dari pengalaman Ketua Umum DPP Asosiasi Pengusaha Jasa Boga Indonesia Tashya Megananda saat bermitra mengadakan uji coba makan bergizi gratis di Pulogadung, Jakarta, selama sehari pada November 2024.
Menurut dia, tidak semua anak-anak terbiasa makan dengan lauk banyak dalam sekali makan. Selain itu, tidak semua murid suka makan sayur. Dia pun mesti mengkreasikan menu agar sayur yang diolah menarik bagi mereka. Dalam menyusun menu, dia menilai variasinya mesti diterima anak-anak sehingga tidak menimbulkan sampah pangan.
Riani Witaningrum, dosen Departemen Gizi Kesehatan Fakultas Kedokteran, Keperawatan, dan Kesehatan Masyarakat UGM, menyarankan makanan dalam program MBG juga sebaiknya diolah dalam bentuk yang menarik perhatian anak sehingga bisa dikonsumsi semuanya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/06/983f7511-271c-440f-a937-6a15bff077da_jpg.jpg)
”Kuncinya di pengolahan makanan. Misal untuk anak kelas 1 atau 2 SD, nasinya dibuat bulat-bulat, biar terlihat lebih atraktif,” kata Witaningrum, akhir Desember lalu.
Melalui program MBG, informasi pemerintah mengenai makan bergizi seimbang akan lebih cepat tersampaikan dalam sebuah wadah makanan. Anak-anak, orangtua, ibu hamil, dan ibu menyusui pun bisa menerima manfaatnya.
=======================
Untuk mengikuti liputan tema ini selengkapnya, kami mengajak Anda bergabung dalam grup Whatsapp Pembaca Kompas ”Investigasi & Jurnalisme Data” dengan mengeklik tautan link ini.
Ikuti pembahasan lengkap seputar program Makan Bergizi Gratis dalam sesi diskusi eksklusif Kompas Editor’s Talks: Makan Bergizi Gratis Dilaksanakan, Sudahkah Tepat Sasaran? Daftar melalui https://komp.as/KET-MBG
Kami juga ingin mendengarkan pandangan Anda tentang artikel ini melalui survei lewat berikut ini.
Penulis:
Margaretha Puteri Rosalina, R Albertus Krisna Pratama P., Maria Paschalia Judith JustiariEditor:
Andy Riza HidayatPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari