Survei Litbang "Kompas" : Membaca Arah Pemilih Bimbang di Pilkada Jateng

Pemilih bimbang akan menjadi medan pertempuran dua pasangan calon gubernur dan wakil gubernur di Jateng.

04 Nov 2024 02:00 WIB · Politik & Hukum

Oleh Vincentius Gitiyarko - [email protected]

Pasangan Andika Perkasa-Hendrar Prihadi dan pasangan Ahmad Luthfi-Taj Yasin Maimoen saat mengikuti sesi debat terbuka di Marina Convention Center, Kota Semarang, Jawa Tengah, Rabu (30/10/2024).

Mengapa jadi penentu kemenangan di Pilkada Jateng? sebab potensi pemilih yang belum menentukan pilihan atau undecided voters di Pilkada Jateng tahun ini relatif masih besar.

Kurang dari sebulan akan berlangsungnya Pilkada 2024, masih terdapat undecided voters (pemilih bimbang) dengan angka relatif tinggi.

Survei Pilkada Jateng yang diselenggarakan Litbang Kompas pada 15-20 Oktober 2024 menunjukkan masih ada 43,1 persen responden yang belum menentukan pilihannya.

Di tengah ketatnya angka elektabilitas antara pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Andika Perkasa—Hendrar Prihadi (28,8 persen) dan Ahmad Luthfi—Taj Yasin (28,1 persen), posisi pemilih bimbang sangat krusial dalam menentukan hasil Pilkada Jateng 27 November 2024 mendatang.

Melihat rekam jejak pemilu di Jateng, tingkat partisipasi pemilih Jateng pada Pilpres 2024 mencapai 83 persen. Sebelumnya, pada Pilpres 2019, tingkat partisipasi pemilih pun relatif tinggi dengan angka 80 persen.

Artinya, jika antusiasme pemilih Jateng dalam mencoblos terjaga tinggi dalam pilkada nanti, peluang kandidat untuk mendapatkan suara dari ceruk pemilih bimbang masih terbuka lebar.

Fakta di atas juga mengindikasikan, dalam sisa waktu kurang lebih tiga minggu menjelang hari pemungutan suara, akan terjadi persaingan yang ketat antara kedua paslon untuk menarik hati para pemilih bimbang di Jateng.

Lantas, siapa saja calon pemilih yang masih berada dalam ceruk undecided voters ini dan faktor apa saja memengaruhi preferensi politik mereka?

 

Potret pemilih bimbang Jateng

Berdasarkan kelompok generasi responden, tampak bahwa semakin senior usia responden, proporsi pemilih bimbang semakin tinggi pula tingkat undecided voters.

Dalam kelompok generasi baby boomers atau mereka yang berusia 58 tahun ke atas,  terlihat angka pemilih bimbangnya mencapai 54,6 persen sekaligus menjadi yang paling tinggi di antara kelompok generasi yang lain.

Di kutub sebaliknya, terdapat 38,3 persen pemilih bimbang dalam kelompok generasi Z (17-27 tahun) sekaligus menjadi yang terendah. Untuk kelompok usia milenial dan generasi X angkanya berkisar antara 40 dan 44 persen.

Data ini dapat dimaknai adanya antusiasme tinggi yang ditunjukkan calon pemilih muda yang tampak tidak terlepas dari euforia menggunakan hak politiknya. Di sisi yang lain, pemilih senior masih memilih menunggu untuk benar-benar menjatuhkan pilihannya kepada calon gubernur yang ada.

Berikutnya, tak kalah menarik mengamati potret pemilih bimbang di Jateng berdasarkan kelompok sosialnya. Dari sudut pandang ini, kelompok responden kelas bawah yang menunjukkan kebimbangan paling tinggi. Proporsi undecided voters di kelompok ini berada di angka 45,1 persen.

Sementara di sisi sebaliknya, terekam 30,5 persen angka pemilih bimbang dalam kelompok responden kelas atas. Sementara untuk kelas menengah atas, proporsi pemilih bimbang berada di angka 38,7 persen dan 42,5 persen dalam kelompok responden kelas menengah bawah.

Tingkat Elektabilitas Calon Gubernur dan Calon Wakil Gubernur Jawa Tengah di Pilkada 2024

Data di atas menunjukkan, kecenderungan pemilih bimbang membesar pada kelompok responden kelas bawah. Ini mengindikasikan, salah satunya, soal sosialisasi dan kampanye tim pasangan calon yang belum menyentuh masyarakat kelas bawah.

Apalagi akses informasi digital, sebagai salah satu metode kampanye terkini, cenderung terbatas pada masyarakat kelas bawah.

Situasi yang mirip juga tampak apabila pemilih bimbang dilihat dari latar belakang pendidikannya. Proporsi pemilih bimbang paling tinggi ditunjukkan oleh responden berpendidikan dasar dengan angka 45,3 persen. Angka ini cenderung menurun pada kelompok responden berlatar belakang pendidikan di atasnya.

Dalam kelompok responden berpendidikan menengah, proporsi pemilih bimbang sebesar 39,0 persen. Sementara pada kelompok responden berpendidikan tinggi, angka pemilih bimbangnya paling kecil, yakni 37,9 persen.

Data ini makin menguatkan bahwa gerak paslon dalam menarik simpati calon pemilihnya cenderung belum menyentuh atau setidaknya belum meyakinkan lapisan masyarakat kelas sosial bawah.

 

Pemilih parpol dan alasan belum memilih

Selain latar belakang sosial responden, menarik pula mengamati pola undecided voters berdasarkan pilihan partai politik.

Berdasarkan hasil pemilu legislatif  DPRD 2024, empat partai terkuat di Jateng berurutan adalah PDI-P, Golkar, PKB, dan Gerindra. Dari empat partai politik tersebut, pemilih Golkar menunjukkan proporsi pemilih bimbang paling tinggi.

Terdapat 43,6 persen pemilih Golkar di Jateng yang masih belum menentukan pilihannya. Dalam proses pencalonan, Golkar menjadi partai pengusung pasangan Luthfi-Taj Yasin.

Namun, ketika pemilih Golkar menunjukkan tingkat kebimbangan paling tinggi, setidaknya dapat dimaknai masih kurang solidnya infrastruktur partai ini dalam mengarahkan preferensi politik calon pemilih di tataran akar rumput.

Kondisi ini berbeda dengan pemilih partai PDI-P, PKB, dan Gerindra yang masing-masing sudah lebih kuat dalam arah pilihan gubernurnya. Pemilih bimbang yang berasal dari pemilih ketiga partai tersebut berada di kisaran 30 persen alias sudah berada di batas umum pemilih bimbang secara keseluruhan.

Variabel lain yang dapat digali untuk melihat posisi pemilih bimbang adalah alasan belum menentukan. Dua alasan paling tinggi penyebab responden belum memilih, yakni masih menunggu proses kampanye serta menanti rekomendasi dari pihak yang dipercaya.

Infografik Apa Persoalan Utama Jawa Tengah?

Tak kurang dari 42,9 persen responden yang belum memilih beralasan masih menunggu proses kampanye dan debat berlangsung.

Dapat dibaca, mungkin saja sebenarnya para calon pemilih sudah memiliki pilihan calon gubernur dalam hatinya, tetapi masih menunggu proses politik berjalan untuk menebalkan keyakinan atas pilihan tersebut.

Selanjutnya, terdapat 11,6 persen responden yang menyatakan masih menunggu saran dari pihak yang dipercaya sebagai alasan belum memilih.

Artinya, selain kemampuan para kandidat menarik simpati selama sisa waktu kampanye, pemilih bimbang pun mempertimbangkan rekomendasi yang diberikan oleh pihak yang dipercaya.

Soal pihak yang dipercaya, selain orang terdekat, faktor sosok mantan Presiden Joko Widodo tidak dapat dilepaskan dari penghitungan. Dari hasil survei, terdapat 43,9 persen responden yang akan mempertimbangkan kandidat yang didukung Jokowi.

 

Bersaing ketat

Ketatnya persaingan menuju hari pencoblosan Pilkada Jateng nanti bakal ditentukan secara krusial oleh pergeseran para pemilih bimbang.

Dalam penghitungan sederhana, menggunakan tingkat partisipasi pemilih sebesar 80 persen, asumsinya hanya 20 persen saja pemilih yang tidak akan menggunakan hak suaranya.

Dengan angka undecided voters sebesar 43,1 persen dikurangi 20 persen pemilih yang diasumsikan tidak menggunakan hak suaranya, artinya masih ada sedikitnya 23 persen suara pemilih bimbang yang akan diperebutkan oleh pasangan Andika-Hendi dan Luthfi-Taj Yasin.

Proporsi pemilih bimbang tersebut berpotensi menambah suara hingga 25 persen dalam hasil akhir pilkada. Pertanyaannya, siapa yang akan mampu menarik suara lebih dari ceruk ini?

Jawabannya ditentukan dari keberhasilan kandidat meyakinkan keberpihakannya kepada masyarakat kelompok sosial bawah. Selain itu, konsolidasi partai dan dukungan sosok sentral juga menentukan persaingan politik di sisa waktu yang ada. (LITBANG KOMPAS)

 

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Group - Politik & Hukum ”Survei Pilkada Serentak 2024”. Melalui grup tersebut, Kompas akan mengirimkan rekomendasi bacaan terkait Survei Pilkada Serentak 2024. Klik di sini untuk mendaftar dan bergabung.


Kerabat Kerja

Penulis:

Vincentius Gitiyarko
 | 

Editor:

Yohan Wahyu