Survei Litbang "Kompas" menghasilkan ketatnya persaingan antara pasangan Andika Perkasa - Hendrar Prihadi dan pasangan Ahmad Luthfi-Taj Yasin Maimoen.
04 Nov 2024 17:38 WIB · Politik & Hukum
Dalam artikel ini akan dibahas sejumlah hal berikut :
1. Bagaimana elektabilitas calon gubernur Jateng menurut Survei Litbang Kompas?
2. Siapa profil pemilih Andika-Hendi dan Luthfi-Yasin?
3. Seberapa banyak pemilih yang belum menentukan pilihan di Pilkada Jateng 2024?
4. Seperti apa pengaruh mantan Presiden Jokowi di Pilkada Jateng 2024?
Menjelang pemilihan kepala daerah serentak 27 November 2024, peta persaingan politik daerah ”kandang banteng” Jawa Tengah kian menghangat.
Elektabilitas dua pasang kandidat yang berkontestasi di Pilkada Jateng bersaing ketat dan meraih angka elektabilitas yang relatif sama kuat-dalam rentang margin of error.
Berdasarkan hasil survei Litbang Kompas, Oktober 2024, pasangan Andika Perkasa-Hendrar Prihadi meraih elektabilitas 28,8 persen. Sementara pasangan Ahmad Luthfi-Taj Yasin Maimoen meraih tingkat keterpilihan 28,1 persen.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/03/9f54b307-57cf-4c5d-88b4-8447ac9d8803_png.png)
Dibandingkan hasil Survei Pilkada Jateng, Juni 2024, kandidat Andika-Hendi mengalami kenaikan elektabilitas yang cukup besar.
Melejitnya elektabilitas mantan Panglima TNI Andika Perkasa dan mantan Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi tak lepas dari gambaran kekuatan sosok sebagaimana pandangan responden.
Dari bagian publik Jateng yang menyatakan mengenal pasangan tersebut, aspek karakter personal (37,3 persen) dan aspek kinerja-pengalaman (15,4 persen) dinyatakan sebagai kelebihan dari Andika-Hendi.
Dirunut dari latar belakang pemilih, semakin tinggi pendidikan cenderung lebih banyak memilih pasangan Andika-Hendi.
Sedangkan kelompok responden berlatar pendidikan rendah yang lebih banyak memilih Ahmad Luthfi-Taj Yasin (28,4 persen).
Sementara pada kelompok pendidikan menengah dan pendidikan tinggi cenderung lebih banyak memilih Andika-Hendi (32,4 persen).
Andika-Hendi juga tampak meraih simpati pemilih muda yang terlihat dari kecenderungan keunggulan paslon ini meraih elektabilitas dari kelompok generasi Z (di bawah 28 tahun) dan generasi Y (28 – 43 tahun).
Sebaliknya, Ahmad Luthfi-Taj Yasin cenderung meraih simpati lebih besar dari generasi X (usia 44 – 57 tahun).
Dari sisi status sosial ekonomi, terlihat pemihakan yang tidak terlalu linier.
Responden dari kelas sosial ekonomi bawah cenderung memilih Ahmad Luthfi-Taj Yasin (28,6 persen), sedangkan di kelas menengah bawah justru cenderung memilih Andika-Hendi (30,9 persen).
Namun di kelas menengah atas kembali lebih memilih Ahmad Luthfi-Taj Yasin (35 persen) dan di kelas ekonomi atas, didominasi pemilih Andika-Hendi (47,8 persen).
Hasil survei Litbang Kompas, Oktober 2024, menunjukkan masih terdapat undecided voters (pemilih bimbang) dengan angka relatif tinggi, yakni 43,1 persen.
Berdasarkan kelompok generasi responden, tampak bahwa semakin senior usia responden, proporsi pemilih bimbang semakin tinggi.
Dalam kelompok generasi baby boomers atau mereka yang berusia 58 tahun ke atas, terlihat angka pemilih bimbangnya mencapai 54,6 persen sekaligus menjadi yang paling tinggi di antara kelompok generasi yang lain.
Di kutub sebaliknya, terdapat 38,3 persen pemilih bimbang dalam kelompok generasi Z (17-27 tahun) sekaligus menjadi yang terendah. Untuk kelompok usia milenial dan generasi X angkanya berkisar antara 40 dan 44 persen.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/03/beb8e429-680a-42d8-a8de-847c07912cad_jpg.jpg)
Situasi yang mirip juga tampak dari latar belakang pendidikannya. Proporsi pemilih bimbang paling tinggi ditunjukkan oleh responden berpendidikan dasar dengan angka 45,3 persen. Angka ini cenderung menurun pada kelompok responden berlatar belakang pendidikan di atasnya.
Berdasarkan kelompok sosialnya. responden kelas bawah yang menunjukkan kebimbangan paling tinggi (45,1 persen).
Sebaliknya, terekam 30,5 persen angka pemilih bimbang dalam kelompok responden kelas atas. Sementara untuk kelas menengah atas, proporsi pemilih bimbang berada di angka 38,7 persen.
Dari latar belakang partai politik, pemilih Golkar menunjukkan proporsi pemilih bimbang paling tinggi (43,6 persen).
Kondisi ini berbeda dengan pemilih partai PDI-P, PKB, dan Gerindra yang masing-masing sudah lebih kuat dalam arah pilihan gubernurnya.
Keberadaan mantan presiden Joko Widodo tidak serta merta bisa memberikan dampak elektoral kepada pasangan calon tertentu yang berlaga di Pilkada Jateng 2024.
Jika melihat hasil survei, responden cenderung terbelah menyikapi dukungan mantan presiden Jokowi kepada salah satu pasangan calon.
Sebanyak 43,9 persen responden menyatakan akan mempertimbangkan dukungan mantan Presiden Jokowi.
Sikap ini dibayangi oleh sebanyak 42,4 persen responden lainnya yang menyatakan sebaliknya, mereka tidak akan mempertimbangkan dukungan Jokowi.
Jika dilihat dari latar belakang responden, kelompok pemilih Luthfi-Taj Yasin cenderung lebih banyak yang mempertimbangkan pengaruh Jokowi (50,7 persen) dibandingkan di kelompok pemilih Andika–Hendi (39,9 persen).
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/10/30/3c146e3e-109e-4298-be63-5e73b7726ee1_jpeg.jpg)
Pengaruh Jokowi bisa mendatangkan insentif elektoral pada pasangan calon tertentu, terutama kepada pasangan Luthfi-Taj Yasin, justru bisa saja didapatkan pada kelompok pemilih mengambang. Di kelompok pemilih ini, pengaruh Jokowi masih mereka pertimbangkan (42,1 persen).
Di luar terbelahnya penyikapan responden pada pengaruh Jokowi dalam memilih di pilkada Jateng, pengaruh orang terdekat seperti keluarga justru lebih banyak menjadi pertimbangan.
Hampir seperlima (18,7 persen) bagian dari total responden menjawab keluarga sebagai faktor yang paling banyak menjadi pertimbangan dalam menentukan pilihan di pilkada.
Selain keluarga, tokoh masyarakat dan teman juga menjadi referensi publik dalam menentukan pilihan di Pilkada Jateng 2024 mendatang. (LITBANG KOMPAS)
Penulis:
M Toto Suryaningtyas, Vincentius GitiyarkoEditor:
Yohan Wahyu