Taktik Liverpool Belanja Pemain Rp 9,3 Triliun

Liverpool mampu belanja pemain besar-besaran musim ini karena miliki kekuatan finansial yang dikelola dengan kecermatan akuntansi supaya selaras dengan FFP dan PSR.

02 Sep 2025 17:52 WIB · Olahraga

Oleh Agung Setyahadi

Liverpool menjadi pemain utama dalam bursa transfer musim panas 2025 ini, dengan total belanja Rp 9,3 triliun di luar nilai add-on. Nilai ini setara dengan tujuh kali valuasi seluruh klub BRI Liga Super Indonesia. Meskipun menggelontorkan dana fantastis, juara Liga Inggris musim lalu itu, bisa lepas dari jeratan Financial Fair Play (FFF) serta selaras dengan regulasi Profit and Sustainability Rules (PSR). Ini karena isi rekening ”The Reds”, serta kreativitas akuntansi, termasuk amortisasi (penghapusan) nilai transfer pemain. 

Dalam bursa transfer ini, Liverpool mendatangkan Jeremie Frimpong, Milos Kerkez, Hugo Ekitike, Florian Wirtz, dan Alexander Isak. Dua pemain terakhir bernilai 269 juta euro, sekitar Rp 5,1 triliun.

Isak yang resmi bergabung dengan Liverpool menjelang penutupan bursa transfer, 1 September 2025, menjadi pemain dengan transfer termahal di Liga Inggris, dengan nilai Rp 2,8 triliun. Isak memecahkan rekor yang sebelumnya dipegang oleh Wirtz di mana The Reds merogoh kantong Rp 2,4 triliun untuk Bayer Leverkusen. 

Langkah Liverpool belanja besar-besaran ini didorong oleh misi besar pemilik klub, Fenway Sport Group, untuk membangun dinasti di Liga Inggris dan Liga Champions. Mereka pun memutuskan saat ini waktu yang tepat untuk menggelontorkan uang ke dalam bursa tranfser.

Namun, belanja pemain besar-besaran ini telah melalui perhitungan matang, sehingga neraca keuangan klub tidak minus dan melanggar Financial Fair Play yang diterapkan oleh UEFA. Perhitungan ini rumit, karena ada dua regulasi yang perlu dipenuhi dalam menjaga pembukuan klub tetap sehat. Selain FFF, klub-klub Liga Inggris juga harus patuh dengan regulasi domestik Profit and Sustainability Rules.

PSR pada prinsipnya mengatur tentang kerugian maksimal yang boleh dialami oleh klub dalam periode tiga musim. Ini terkesan sederhana, tetapi banyak sekali pasal turunan yang rumit untuk mengatur tentang neraca keuangan. Secara sederhana, klub boleh mengalami kerugian maksimal 105 juta poundsterling, sekitar Rp 2,3 triliun, dalam periode tiga tahun pembukuan. Ini berarti, setiap klub boleh mengalami kerugian 35 juta poundsterling (Rp 771,7 miliar) setiap tahun pembukuan. Untuk tim yang baru promosi hanya boleh merugi 13 juta poundsterling, atau Rp 286,7 miliar per tahun.

Pemain anyar Liverpool, Alexander Isak, mengikuti sesi latihan bersama timnas Swedia di Boson, Lidingo, pinggiran Stockholm, Swedia, Selasa (2/9/2025).

Meskipun kerugian rata-rata per tahun boleh 35 juta poundsterling per tahun, klub bisa mengalami kerugian lebih besar dalam satu tahun, dengan mempertimbangkan neraca keuangan mereka dalam tiga musim sebelumnya. Misalnya, pada tahun pertama klub rugi 20 juta poundsterling, kemudian pada tahun kedua rugi 10 juta poundterling, pada tahun ketiga, mereka boleh mengalami kerugian hingga 75 juta poundsterling.

Perhitungan kerugian ini berlaku untuk pengeluaran seperti transfer, gaji para pemain, kompensasi pelatih yang dipecat. Neraca keuangan juga memasukkan pemasukan dari hak siar televisi, penjualan tiket pertandingan, sponsor, keuntungan penjualan pemain.

Keuntungan penjualan pemain ini cukup rumit, karena tidak selalu klub meraih untung langsung dari penjualan pemain tertentu. Ini terkait dengan pasal amortisasi dalam PSR, di mana nilai pembelian pemain bisa dibagi rata dalam durasi kontrak.

Misal, pemain A dibeli dengan harga 30 juta poundsterling dengan durasi tiga tahun, maka nilai transfer A akan dipecah menjadi 10 juta poundsterling dalam tiga tahun kontrak. Jika dalam periode transfer yang sama, klub terkait menjual pemain akademinya senilai 30 juta poundsterling, maka klub akan mendapat keuntungan 20 juta poundsterling dalam tahun pertama pembukuan. Jadi keuntungan ini buka tentang likuiditas, karena PSR lebih untuk mengetahui kesehatan finansial klub.

Amortisasi ini hanya boleh maksimal dalam rentang lima tahun mulai 2023 supaya persaingan fair. Dalam transfer Isak, yang dikontrak hingga 2031 atau enam musim, nilai transfernya dipecah dalam rentang lima musim, menjadi 560 miliar tiap tahun. Namun, perhitungan kesehatan keuangan klub jauh lebih rumit, karena Liverpool juga dibeban gaji Isak yang mencapai 300.000 poundsterling per pekan, sekitar Rp 6,5 miliar.

Seorang suporter berfoto di depan Dinding Juara, tak jauh dari Stadion Anfield, Liverpool, Senin (1/9/2025) tepat saat penyerang asal Swedia, Alexander Isak, tiba di Liverpool.

Beban gaji pemain Liverpool ini sangat besar. Berdasarkan laporan Deloitte dalam Annual Review of Football Finance 2025, rasio beban gaji dan pendapatan Liverpool dalam rentang 13 bulan hingga 30 Juni 2024 mencapai 63 persen. Beban gaji mencapai 386 juta poundsterling (Rp 8,5 triliun), dengan pendapatan 614 juta poundsterling (Rp 13,5 triliun).

Perhitungan keuangan yang ketat di Liga Inggris itu ternyata bukan halangan bagi Liverpool untuk belanja besar-besaran musim ini, karena isi rekening mereka besar, dan PSR mereka juga relatif tinggi. The Athletic menganalisis, Liverpool boleh merugi hingga 75 juta poundsterling dalam konteks PSR, mengingat performa di lapangan dan bisnis mereka musim lalu. Hal ini memberi ruang leluasa bagi Liverpool dalam merancang belanja pemain.

Faktor kunci lain bagi Liverpool untuk bisa belanja tanpa melanggar regulasi adalah pendapatkan mereka yang sangat besar dari penjualan pemain, hak siar televisi, bonus juara Liga Inggris dan tampil di Liga Champions, penjualan tiket pertandingan, penjualan cindera mata, dan sponsor.

Dalam bursa transfer musim panas ini, berdasar data Transfermarkt, Liverpool mendapatkan pemasukan hingga 219,5 juta euro, sekitar Rp 4,2 triliun, dari penjualan delapan pemain seperti Luis Diaz, Darwin Nunez, dan Jarell Quansah. Ini belum termasuk peminjaman empat pemain, termasuk gelandang serang Harvey Elliot yang dipinjam oleh Aston Villa, dengan kewajian membeli senilai Rp 770,3 miliar.  Dari hasil penjualan pemain ini, pengeluaran bersih Liverpool sudah turun signifikan, menjadi Rp 5,1 triliun.

Liverpool juga menerima transfer dana segar dari Liga Primer untuk hak siar dan komersiil musim 2024/2025 sebesar 174,9 juta poundsterling, sekitar Rp 3,9 triliun. Selain itu, kesepakatan sponsor baru Adidas juga diyakini mencapai 60 juta pounds per musim, sekitar Rp 1,3 triliun. Bahkan, The Athletic memperkirakan nilai kontrak dengan Adidas jauh lebih besar dari itu. Sumber pemasukan lain Liverpool adalah penjualan cindera mata yang mencapai mencapai 146 juta euro, setara Rp 3,2 triliun.

Pendapat Liverpool itu memperkuat kondisi finansial mereka setelah musim 2024/2025 hanya melakukan pembelian dua pemain, kiper Giorgi Mamardashvili yang baru bergabung musim panas ini, dan pemain sayap Federico Chiesa. Kedua pemain itu senilai 42 juta euro (Rp 802 miliar).

Suasana di depan Stadion Anfield, Liverpool, Inggris, Senin (1/9/2025) bersamaan dengan kedatangan penyerang asal Swedia, Alexander Isak, yang bergabung dengan Liverpool.

Kodisi keuangan Liverpool juga solid menyusul laporan resmi The Reds di mana mereka meraih pemasukan 614 juta poundsterling, sekitar Rp13,5 triliun, pada musim 2023-2024. Dalam periode musim itu, Liverpool memang mengalami kerugian sebelum pajak 57 juta poundtserling, tetapi performa mereka musim lalu diyakini membuat kondisi finansial mereka tetap sehat dalam konteks FFP dan PSR. Kondisi ini membuat Liverpool bisa bermanuver bebas dalam bursa transfer musim panas ini.

Kini bursa transfer telah berakhir dan tantangan Liverpool saat ini adalah memaksimalkan skuad bertabur bintang mereka untuk mempertahankan gelar juara Liga Inggris, serta memburu kejayaan di Liga Champions. Sorotan kini tertuju pada Arne Slot yang diharapkan oleh para penggemar Liverpool untuk menghadirkan kegembiraan di setiap akhir pekan.


Kerabat Kerja

Penulis:

Agung Setyahadi
 | 

Editor:

Wisnu Aji Dewabrata
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase