Fajar/Fikri membungkam atlet dan penonton China di Changzhou. Pasangan dadakan itu menembus final China Terbuka dengan mengalahkan atlet tuan rumah.
26 Jul 2025 21:32 WIB · Olahraga
CHANGZHOU, SABTU — Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri, duta Indonesia, lolos ke final ganda putra turnamen bulu tangkis China Terbuka 2025. Indonesia memiliki peluang memecah kebuntuan dalam menjuarai turnamen besar pada 2025 melalui pasangan sementara itu.
Setelah atmosfer di Changzhou Olympics Sports Centre meriah dengan sorakan penonton yang melihat atlet kebanggaan mereka memenangi semifinal pertama hingga ketujuh, Sabtu (26/7/2025), suasana berubah pada semifinal kedelapan. Fajar/Fikri menghentikan keceriaan itu dengan mengalahkan ganda putra nomor satu China, Liang Wei Keng/Wang Chang, 21-19, 21-17.
Pada tujuh pertandingan sebelumnya, lima pada sesi pertama dan dua di sesi kedua, pemain-pemain China tak terbendung atlet-atlet lainnya. Satu-satunya wakil yang bisa memaksa pemain rumah bermain tiga gim adalah ganda Indonesia, Jafar Hidayatullah/Felisha Alberta Nathaniel Pasaribu. Mereka membuat lawan terkejut meskipun akhirnya kalah dari ganda campuran peringkat kedua dunia, Jiang Zhen Bang/Wei Ya Xin (2/China) 21-16, 15-21, 16-21.
Atlet-atlet top dunia pada nomor lain, seperti Anders Antonsen, Akane Yamaguchi, dan Pearly Tan/Thinaah Muralitharan, kalah dalam dua gim. An Se-young, yang mendominasi persaingan tunggal putri, bahkan tidak bisa menyelesaikan pertandingan saat melawan Han Yue karena cedera. An akhirnya gagal menjuarai semua turnamen level Super 1000 setelah meraih gelar di Malaysia Terbuka, All England, dan Indonesia Terbuka.
Kekalahan pemain-pemain itu membuat akan terjadinya final sesama pemain China pada empat nomor, kecuali di ganda putra. Gelar juara nomor ini akan diperebutkan Fajar/Fikri dan pemain Malaysia, Aaron Chia/Soh Wooi Yik. Di semifinal, Chia/Soh mengalahkan Satwiksairaj Rankireddy/Chirag Shetty (India) 21-13, 21-17.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/07/26/e382df3d-87ee-4b7d-9e69-b3fbdb9b8ff1_jpg.jpg)
Chia/Soh mencapai final kelima dari tujuh turnamen sejak didampingi Herry Iman Pierngadi, mantan pelatih ganda putra Indonesia. Dari lima final itu, mereka tiga kali juara.
Namun, dari empat gelar yang didapat dari BWF World Tour, Chia/Soh belum pernah menjuarai level Super 1000. Padahal, mereka adalah peraih perunggu Olimpiade Tokyo 2020 dan Paris 2024 serta menjadi juara dunia pada 2022. Motivasi ganda putra peringkat kedua dunia itu untuk meraih gelar pertama di Super 1000 harus diwaspadai Fajar/Fikri.
Selain itu, Chia/Soh memiliki faktor yang bisa menjadi keuntungan di final, yaitu unggul dalam pertemuan dengan Fajar dan Fikri bersama partner tetap mereka. Chia/Soh unggul 6-4 (termasuk menang dalam dua pertemuan terakhir) dengan Fajar/Muhammad Rian Ardianto dan menang dalam satu-satunya pertemuan dengan Fikri/Daniel Marthin.
Meski demikian, Fajar/Fikri bisa memanfaatkan status mereka sebagai ”underdog” untuk bermain tanpa beban seperti yang ditampilkan pada empat pertandingan dari babak pertama hingga semifinal. Mereka bisa melakukan rotasi di lapangan dengan baik walaupun sama-sama berstatus sebagai pemain depan (pengatur serangan) bersama pasangan masing-masing.
Kami bisa menikmati pertandingan dan tak punya beban karena bukan pasangan asli.
Peran itu menjadi keunggulan Fajar/Fikri dalam bermain taktis ketika mengalahkan Liang/Wang dan ganda putra nomor satu dunia, Seo Seung-jae/Kim Won-ho (Korea Selatan), di perempat final. Ketika sulit beradu kekuatan smes dengan lawan, Fajar/Fikri tampil cerdik dengan mengontrol permainan dari lapangan depan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/07/26/da45e65e-26f0-48fd-8ddb-3101f1d41b95_jpg.jpg)
Selain variasi arah servis yang sulit diantisipasi lawan, poin cepat didapat dari pengembalian servis. Setelah servis, Fikri pun selalu sigap di depan net untuk memotong pukulan lawan hingga Liang/Wang kesulitan mengembangkan permainan.
Performa itu dicapai berkat pola pikir tanpa beban pada setiap pertandingan. Meskipun berpengalaman tampil dalam turnamen BWF World Tour, Fajar/Fikri berada di bawah bayang-bayang ganda putra top dunia di China Terbuka.
”Kami bisa menikmati pertandingan dan tak punya beban karena bukan pasangan asli. Semifinal tadi tidak mudah karena selain melawan Liang/Wang, kami juga harus melawan satu stadion yang antusiasmenya luar biasa dalam mendukung pemain tuan rumah. Kami mencoba rileks dan mencoba lebih fokus saja,” ujar Fajar.
Fajar dan Fikri bekerja sama karena pasangan masing-masing beristirahat dari turnamen. Rian absen karena mendampingi istrinya yang melahirkan anak pertama mereka, sementara Daniel dalam pemulihan cedera lutut kiri. Di samping itu, sebagai pemain peringkat sepuluh besar pada akhir 2024, Fajar memang memiliki kewajiban mengikuti turnamen Super 750 dan 1000 agar tak didenda BWF.
Sebelum China Terbuka, Fajar/Fikri tampil di Jepang Terbuka, tetapi kalah di perempat final dalam laga ketat melawan pasangan nomor satu dunia saat itu, Goh Sze Fei/Nur Izuddin.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/07/26/f4cfb3d4-b3df-4e0e-8879-32fb9ea6b652_jpg.jpg)
Jika bisa memenangi tantangan terakhir di China Terbuka, Fajar/Fikri akan menjadi wakil pertama Indonesia yang menjuarai turnamen BWF World Tour level tinggi pada 2025. Pada level Super 750 dan 1000, hasil terbaik Indonesia adalah final Leo Rolly Carnando/Bagas Maulana di All England dan Sabar Karyaman Gutama/Mohammad Reza Pahlevi Isfahani (Indonesia Terbuka).
Gelar juara bagi Indonesia baru didapat dari Super 300, yaitu melalui Siti Fadia Silva Ramadhanti di Thailand Masters dan Jafar/Felisha (Taiwan Terbuka).
Adapun bagi Jafar/Felisha, perjalanan pada empat babak di China Terbuka menjadi bahan pelajaran dan evaluasi untuk tampil pada ajang yang lebih besar, Kejuaraan Dunia. Turnamen berkategori ajang mayor dalam struktur kejuaraan BWF itu akan diselenggarakan di Paris, Perancis, 25-31 Agustus. Untuk pertama kalinya, Jafar/Felisha masuk dalam daftar undangan dari BWF untuk mengikuti Kejuaraan Dunia.
”Kami akan evaluasi, hal yang besar atau kecil dari turnamen di sini, untuk lebih baik lagi. Kami cukup senang dengan dengan penampilan di sini karena bisa mengimbangi pasangan-pasangan top. Rasanya, level kami tidak jauh dari mereka. Hanya saja, kami perlu lebih konsisten di lapangan,” tutur Felisha.
Jafar menyebutkan beberapa faktor yang harus diperbaiki untuk Kejuaraan Dunia, salah satunya adalah meningkatkan ketenangan. Melalui raut wajahnya, Jafar terlihat tegang sebelum interval gim ketiga di semifinal sehingga berkali-kali membuat unforced error. Felisha pun berusaha menenangkannya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/07/26/59f31657-480e-4cfe-8d27-7c73400187c3_jpg.jpg)
Setelah interval, barulah atlet berusia 22 tahun itu bisa melepas ketegangan hingga mengimbangi lawan pada posisi 14-14 dari tertinggal 6-11. Namun, bertanding melawan pemain top dunia membutuhkan konsistensi penampilan, salah satunya dengan mengurangi kesalahan. Hal ini menjadi faktor lain yang menjadi kekurangan Jafar/Felisha.
Setiap kali membutuhkan satu angka untuk menyamakan skor, mereka kembali tertinggal karena membuat kesalahan. Saat tertinggal 16-17, misalnya, Jafar gagal melakukan servis hingga kok membentur net dan jatuh di lapangan sendiri.
”Kami harus mengurangi kesalahan pada poin-poin krusial. Pada pertandingan tadi, lawan sebenarnya membuat kesalahan, tetapi yang kami buat lebih banyak. Saya harus bisa mengontrol diri saya sendiri terutama ketika permainannya sedang tidak sesuai harapan,” tutur Jafar mengevaluasi dirinya sendiri.
Semifinal China Terbuka itu menjadi pencapaian tertinggi Jafar/Felisha sejak berpasangan pada Agustus 2024. Kemampuan mereka ditempa melalui latihan dan turnamen, mulai dari level International Challenge, Super 100, lalu naik ke BWF World Tour yang terdiri atas Super 300, 500, 750, dan 1000.
Ketika posisi dalam daftar peringkat dunia mulai memasuki 30 besar pada 2025—saat ini di posisi ke-14—Jafar/Felisha berhak tampil pada turnamen Super 750 dan 1000 yang diselenggarakan tanpa babak kualifikasi. Dalam ajang ini, tempaan teknis, fisik, dan mental didapat ketika menghadapi pasangan top dunia.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/07/26/a7a3a9d9-3202-4dc8-ad3a-681bae50dce0_jpg.jpg)
Di China Terbuka, mereka mengalahkan dua pasangan peringkat sepuluh besar dunia sebelum dihentikan Jiang/Wei, ganda campuran peringkat kedua. Jafar/Felisha mengalahkan pasangan peringkat keenam, Goh Soon Huat/Lai Shevon Jemie (Malaysia), pada babak pertama dan Tang Chun Man/Tse Ying Tsuet (Hong Kong/5) di perempat final.
Dari Kejuaraan Asia Yunior di Surakarta, Jawa Tengah, peluang juara bagi Indonesia ada pada nomor tunggal putra dan ganda campuran. Tunggal putra peringkat teratas dunia yunior, Mohammad Zaki Ubaidillah, akan berhadapan dengan Liu Yang Ming Yu setelah mengalahkan sesama pemain Indonesia, Fardhan Rainanda Joe, 21-16, 21-17.
Final sesama pemain Indonesia pada tunggal putra tak terjadi karena Richie Duta Ricardo kalah dari Liu di semifinal, 12-21, 8-21. Di ganda campuran, Ikhsan Lintang Pramudya/Rinjani Kwinara Nastine mengalahkan unggulan teratas dari Korea Selatan, Lee Hyeong-woo Lee/Cheon Hye-in, 21-14, 22-20. Mereka juga akan berebut gelar juara dengan peman China, Chen Jun Ting/Cao Zi Han.
Rinjani akhirnya hanya lolos ke final di ganda campuran karena kalah di semifinal pada ganda putri. Rinjani/Riska Anggraini disingkirkan pasangan Thailand, Hathaithip Mijad/Napapakorn Tungkasatan, 14-21, 19-21.
Penulis:
Yulia SapthianiEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan