Potret kehidupan para pekerja di pusat perbelanjaan seni terbesar di Istanbul, Turki.
24 Agt 2026 13:30 WIB · Internasional
AP/Francisco Seco
Sebuah jam dinding tergantung di dinding bengkel pemoles logam milik Mucel dan Murat Gur di kawasan Buyukhan di Istanbul, Turki, Kamis (6/8/2026). Persis di bawah jam dinding itu terdapat meja kecil berisi peralatan, kalkulator, dan alat timbang digital.
Siang itu adalah jam istirahat, biasanya digunakan para pekerja untuk makan siang, lantas beristirahat sejenak. Selain menikmati shisha, yakni tradisi merokok dengan menggunakan pipa tabung air, selang, dan arang, sebagian dari mereka tampak bermain backgamman, salah satu permainan papan tertua di dunia.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/08/24/2b4786eb-4948-4294-9da2-9f3ad3dde7c4_jpg.jpg)
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/08/24/eb06f3ec-110c-43f8-88a7-51a4f7445e8a_jpg.jpg)
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/08/24/8c6ba826-54e4-46a9-b909-e59d53df3803_jpg.jpg)
Setelah jam makan siang berakhir, kesibukan kembali berlanjut. Caster Mevlut dan Ahmet Yildirim tampak membuat cetakan untuk persiapan pengecoran logam cair di bengkel kerajinan mereka di Buyukhan. Perlahan dan sangat berhati-hati, Mevlut menuangkan logam cair yang membara ke cetakan yang telah dipersiapkan Yildirim.
Tak seberapa jauh, masih di kawasan yang sama, bunyi logam yang beradu dengan besi pahat terdengar nyaring. Tangan Nejat Kilic, seorang perajin spesialis relief logam, lincah bergerak di atas lembaran logam untuk membentuk relief. Bunyi keras dan tidaknya ketukan menandakan seberapa dalam relief itu harus terlihat.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/08/24/2ab18679-3f20-4a62-9954-deb0252e4990.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/08/24/39560218-fef0-49a8-9e2a-16b628d604b8.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/08/24/699c91de-f772-43ab-b86f-599d0b80bd53.jpg)
Tukang reparasi jam bekerja di bengkelnya di distrik komersial Sirkeci, Istanbul, Turki, Rabu (5/8/2026). (AP PHOTO/FRANCISCO SECO)
Ahli pemolesan Aydin Karaman merokok shisha saat istirahat di bengkelnya di kawasan perajin Buyukhan di Istanbul, Turki, Kamis (6/8/2026). (AP PHOTO/FRANCISCO SECO)
Perajin relief Sahin Karaman memegang salah satu karyanya, tongkat untuk berjalan yang didekorasi dengan hiasan, di bengkelnya di kuartal perajin Buyukhan di Istanbul, Turki, Kamis (6/8/2026). (AP PHOTO/FRANCISCO SECO)
Sementara di distrik Eminonu yang berjarak juga tak jauh dari Buyukhan, master perbaikan karpet Ahmet Bayrakdar tampak menjahit sebuah karpet dengan cara manual. Ia disebut master karena kepiawaiannya dikenal paling baik dalam menangani kerusakan karpet.
Seorang pelayan membawa segelas teh berjalan di antara kesibukan para perajin, mengantar pesanan satu demi satu. Ia berhenti di sebuah bengkel kecil milik Ibrahim Yildirim, seorang penjilid buku yang biasa menangani kerusakan buku-buku lama ataupun Al-Quran yang rusak.
Selama berabad-abad, Grand Bazaar Istanbul lebih dari sekadar pasar. Di balik lorong-lorongnya yang ramai, generasi perajin telah membuat, memperbaiki, dan memulihkan benda-benda yang akhirnya dijual.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/08/24/b0d01766-2273-4855-8cf7-6a4253f89583_jpg.jpg)
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/08/24/4691b01b-b540-4c5a-8017-ee52c73b57ae_jpg.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/08/24/dd730c52-0c1e-4c9b-8146-b884630dfa74.jpg)
Penjilid buku Ibrahim Yildirim memperbaiki Al-Quran lama di bengkelnya di Istanbul, Turki, Sabtu (8/8/2026). (AP PHOTO/FRANCISCO SECO)
Master inlay dan perajin relief Halit Cakar mengerjakan sepotong logam di bengkelnya di distrik komersial Eminonu, Istanbul, Turki, Kamis (6/8/2026). (AP PHOTO/FRANCISCO SECO)
Master pemulih karpet Ahmet Bayrakdar bekerja di bengkelnya di dekat Masjid Sultan Ahmed di Istanbul, Turki, Jumat (7/8/2026). (AP PHOTO/FRANCISCO SECO)
Di bengkel-bengkel dan di jalan-jalan sempit di sekitar pasar, para perajin logam membentuk logam cair di atas api. Para pengukir menambahkan detail. Para pemoles membuat barang jadi berkilau. Sebuah benda dapat melewati beberapa spesialis sebelum sampai ke meja pedagang.
Sebagian besar pekerjaan itu terjadi di tempat tersembunyi. Mereka berada di ruangan-ruangan yang penuh sesak dengan peralatan dan mesin, serta gelap karena debu, asap, dan panas selama bertahun-tahun.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/08/24/0afb7b25-1976-4fd9-bf2e-4f6646069d74.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/08/24/f662e4e8-95d3-4bfb-a73e-1bc9f1648186.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/08/24/9960a851-fef1-4758-a603-596bb4936a48.jpg)
Kawasan perajin juga merupakan sebuah komunitas. Teh beredar di halaman dan bengkel-bengkelnya. Para perajin berhenti untuk makan siang, berkumpul untuk bermain backgammon atau mengisap pipa air di antara pekerjaan mereka.
Namun, dunia itu sedang berubah. Sebagian produksi telah berpindah dari pusat bersejarah Istanbul ke bengkel-bengkel yang lebih besar dan modern. Teknologi telah mengubah cara dan tempat pembuatan barang.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/08/24/8ae8dd5a-a694-4448-9ccf-bb520bee040b_jpg.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/08/24/4d654390-4e56-4024-86c3-bd96548bcbd9.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/08/24/2dacd01a-021c-4448-b274-863f268810b9.jpg)
Seniman perbaikan kamera Ata Netinkaya bekerja di tokonya di distrik komersial Sirkeci, Istanbul, Turki, Sabtu (8/8/2026). (AP PHOTO/FRANCISCO SECO)
Seorang pria menarik troli yang sarat dengan barang melalui distrik komersial Eminonu, Istanbul, Turki, Selasa (11/8/2026). (AP PHOTO/FRANCISCO SECO)
Master restorasi dan konservasi Deniz Karacam mengerjakan jam meja keramik di bengkelnya di lingkungan Balat di Istanbul, Turki, Sabtu (8/8/2026). (AP PHOTO/FRANCISCO SECO)
Beberapa pedagang tradisional kesulitan menarik generasi muda yang bersedia menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mempelajari pekerjaan tersebut. Yang lain telah beradaptasi, bertahan melalui pekerjaan perbaikan, pariwisata, dan permintaan berkelanjutan untuk barang-barang yang dibuat atau diselesaikan dengan tangan.
Pun begitu, tangan-tangan terampil yang tersisa di balik Grand Bazaar akan terus berkarya dan terus berkarya sampai tangan itu tidak lagi bisa. (AFP)
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Iwan SetiyawanPenyelaras Bahasa:
Nur Adji