Di Tengah Tekanan Tarif Trump, India Memotong Pajak bagi Warganya

Ini cara Pemerintah India mengatakan mereka bersama rakyat di tengah tekanan ekonomi. Pemotongan pajak resmi berlaku per April 2026.

26 Agt 2025 06:00 WIB · Internasional

Oleh Laraswati Ariadne Anwar

Pada saat negara-negara mitra dagang Amerika Serikat menggencarkan negosiasi demi meredakan dampak tarif impor balasan yang dijatuhkan oleh Presiden AS Donald Trump, India memilih langkah lain. India mengurangi pajak barang konsumsi di dalam negeri.

India yang kerap disebut sahabat AS di Asia Selatan dikenai tarif tambahan 25 persen oleh Trump. Walhasil, total tarif bea masuk untuk produk India ke pasar AS mencapai 50 persen. Sanksi berupa tarif tambahan itu karena India masih membeli minyak dari Rusia. Padahal, Rusia dikenai sanksi ekonomi oleh AS akibat menginvasi Ukraina sejak 2022.

Pada 22 Agustus 2025, Perdana Menteri India Narendra Modi menandatangani undang-undang pajak terbaru. Undang-undang itu menggantikan undang-undang pajak sebelumnya yang disahkan pada 1961. Undang-undang baru itu tembus di Lok Sabha atau majelis rendah India pada 11 Agustus 2025. Aturan baru ini disasar aktif per 1 April 2026.

TOPSHOT - Congress activists burn an effigy of US President Donald Trump and Indian Prime Minister Narendra Modi as they protest against the Indo-US trade deal, after the former imposed 25 percent tariffs on Indian goods, during a demonstration in Kolkata on August 1, 2025. President Trump labelled Russia and US ally India "dead economies," indicating that his threat to ramp up tariffs on New Delhi will now go ahead. India will face 25 percent tariffs while also announcing an unspecified "penalty" over New Delhi's purchases of Russian weapons and energy. (Photo by Dibyangshu SARKAR / AFP)

Saat ini, barang-barang konsumsi di India dikenai pajak dengan kisaran 5-28 persen, tergantung dari jenis komoditasnya. Aturan yang akan berlaku April tahun depan itu menggariskan, kisaran pajak barang konsumsi hanya 5-18 persen.

”Anggaplah ini hadiah Diwali yang datang lebih awal,” kata Modi dalam pidato yang dikutip berbagai media arus utama. Diwali adalah hari raya terbesar bagi umat Hindu di India.

Berbagai firma konsultasi ekonomi yang dikutip oleh International Business Times edisi 23 Agustus 2025 memperkirakan, pemotongan pajak itu bisa meningkatkan permintaan pasar dari 13 miliar dollar AS hingga 17 miliar dollar AS.

Hal itu akan sangat membantu perputaran roda perekonomian India. Industri rumah tangga hingga industri raksasa juga akan menuai manfaat dari aturan baru itu.

”Reformasi pajak ini akan memberi kelas menengah India kekuatan untuk berbelanja. Ini yang penting untuk meningkatkan perekonomian yang tertekan sejak pandemi Covid-19,” kata Direktur Keuangan Firma Godrej Consumer Products, Aasif Malbari, kepada harian Economic Times, 1 Februari 2025.

Pada Februari saja, kabar bahwa pemerintah akan segera mengesahkan undang-undang pajak baru memberi semangat di bursa pasar nasional. Saham industri otomotif secara umum naik 2,1 persen dan saham sektor properti naik 3 persen. Saham perusahaan aplikasi layanan pengantar makanan Zomato naik 7,8 persen.

Menenangkan masyarakat

Dosen Ekonomi Universitas Global OP Jindal, Deepanshu Mohan, menjelaskan, pemotongan pajak itu merupakan kebijakan Modi untuk menenangkan suasana hati masyarakat di tengah tekanan tarif Trump.

”Ini semacam cara Modi mengatakan bahwa pemerintah hadir di tengah rakyat. Walaupun ada kendala tarif dari luar negeri, pemerintah masih mengedepankan rakyat,” ujar Mohan.

Namun, pada saat yang sama, lanjut Mohan, pernyataan Modi itu menunjukkan pemerintah akhirnya mengakui bahwa perekonomian kalangan menengah selama ini tidak baik-baik saja. Sebagian masyarakat mendukung aturan baru dan sebagian lagi kesal karena keputusan baru diambil sekarang.

Seorang penjaga toko membentangkan kain sari tradisional Banarasi di sebuah toko di Varanasi, India, Sabtu (20/11/2021). Penenun tangan Varanasi telah mengembangkan reputasi keunggulan selama berabad-abad, mengkhususkan diri dalam pola rumit, desain bunga, dan brokat emas. Sari Banarasi banyak dicari oleh pengantin India dan sering diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya sebagai pusaka keluarga. AFP/Money SHARMA 20-11-2021 *** Local Caption *** In this photograph taken on November 20, 2021, a shopkeeper shows a traditional Banarasi sari at a store in Varanasi. - Varanasi's hand-weavers have cultivated a reputation for excellence over centuries, specializing in intricate patterns, floral designs, and golden brocades. The Banarasi saris -- so-called about the city's ancient name -- are widely sought after by Indian brides and are often passed on from one generation to the next as family heirlooms. (Photo by Money SHARMA / AFP) / To go with 'India-Economy-Textile', FEATURE by Abhaya SRIVASTAVA

Industri peralatan dan perkakas rumah tangga menyambut baik kebijakan pemerintah. Salah satunya ialah Blue Star, perusahaan yang membuat unit penyejuk ruangan (AC). Mereka memperkirakan, penjualan AC bisa naik 10-15 persen untuk periode Agustus 2025 sampai dengan Maret 2026.

”Pengurangan pajak untuk AC dari 28 persen ke kemungkinan 18 persen ini tidak terbayangkan oleh siapa pun sebelumnya. Ini langkah yang luar biasa dan akan mendongkrak penjualan,” kata Direktur Blue Star B Thiagarajan.

Minyak Rusia

Dari pihak pemerintah, India tetap mengatakan mereka terus membeli minyak dari Rusia. Tekanan tarif dari Trump dan tuduhan bahwa uang pembelian minyak ini dipakai Rusia untuk membiayai invasi di Ukraina ini dinilai tidak adil oleh India.

Duta Besar India untuk Rusia Vinay Kumar menuturkan kepada kantor berita TASS, India membeli minyak dari pihak mana pun yang menawarkan harga paling terjangkau. ”Bagi kami, prioritas adalah menyediakan energi yang murah bagi 1,4 miliar penduduk di India,” ucapnya.

(FILES) A train transports oil tankers in Ajmer on July 7, 2025. US President Donald Trump said on July 30 that imports from India will face 25 percent tariffs, while also announcing an unspecified "penalty" over New Delhi's purchases of Russian weapons and energy. (Photo by HIMANSHU SHARMA / AFP)

Delhi ketika dijatuhi sanksi total 50 persen oleh Trump mengatakan, AS dan Uni Eropa munafik. Minyak dari sumber-sumber tradisional dimonopoli pasarnya oleh negara-negara Barat. Ketika Rusia dipukul sanksi pada 2022, India tidak kebagian minyak dari sumber-sumber tradisional. Mau tidak mau, mereka membeli dari Rusia.

Pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri India mengatakan, perdagangan India dengan Rusia terbatas di komoditas yang menyokong hajat hidup orang banyak, contohnya minyak.

Sebaliknya, negara-negara Barat sejatinya juga masih berdagang dengan Rusia, bahkan untuk komoditas yang nonstrategis. Tidak adil jika hanya India yang terkena getahnya. (AFP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Laraswati Ariadne Anwar
 | 

Editor:

Nur Hidayati
 | 

Penyelaras Bahasa:

Priskilia Bintang Cornelia Sitompul