Tanggul Laut Raksasa, Benarkah Jadi Solusi Atasi Rob di Pantura Jawa?

Tanggul laut raksasa atau giant seawall digadang-gadang akan jadi solusi mengatasi rob di pantura Jawa. Benarkah solusi itu efektif?

18 Jun 2025 07:00 WIB · Ekonomi & Bisnis

Oleh Kristi Dwi Utami

Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan pembangunan giant seawall atau tanggul laut raksasa dari Banten hingga Jawa Timur. Tujuannya, mengatasi persoalan banjir rob di pesisir pantura Jawa.

Proyek itu diperkirakan bakal membutuhkan anggaran yang sangat besar. Waktu pembangunannya pun disebut cukup lama, bahkan hingga tiga kali masa jabatan presiden. Lalu, apakah benar solusi itu bakal efektif?

Wacana pembangunan tanggul raksasa itu disebut Presiden dalam International Conference on Infrastructure di Jakarta, Kamis (12/6/2025).

Proyek pembangunan tanggul dengan panjang total lebih dari 500 kilometer itu disebut memerlukan biaya sekitar 80 miliar dollar AS. Jumlah itu setara Rp 1.280 triliun dengan asumsi nilai tukar 1 dollar AS sebesar Rp 16.000 (Kompas.id/13/6).

Dalam kunjungannya ke Demak, Jawa Tengah, Minggu (15/6/2025), Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo mengatakan, tanggul laut raksasa bakal menjadi solusi banjir rob pesisir Jawa. Namun, karena pembangunannya memerlukan waktu cukup panjang, masyarakat diminta bersabar.

Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo (memegang mikrofon) memberikan sambutan dalam istigasah atau doa bersama memohon dibebaskan dari rob yang digelar di Jalan Raya Pantura Demak, Jawa Tengah, Minggu (15/6/2025). Dalam kegiatan itu, ada ratusan warga nahdliyin dan warga terdampak banjir rob yang ikut serta.

”Tidak mungkin mengerjakan tanggul laut dari barat ke timur itu dalam waktu satu periode kepresidenan. Butuh dua sampai tiga (masa jabatan) presiden mungkin baru selesai,” kata Dody, Minggu.

Menurut Dody, pemerintah juga akan segera membentuk Badan Otorita Tanggul Laut Pantura Jawa. Lembaga itu akan memastikan pembangunan tanggul laut raksasa tetap berjalan, bahkan meski presidennya telah berganti.

Dalam mengerjakan proyek tanggul laut, pemerintah akan menggandeng swasta dan investor asing. Kerja sama itu dilakukan untuk memperkuat sektor pendanaan.

Selain itu, pemerintah juga akan meminta bantuan berupa teknologi dari negara-negara lain dalam mengerjakan proyek tersebut.

Potret permukiman warga pesisir utara yang bertahan di antara kepungan air laut di Desa Timbulsloko, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, Selasa (16/5/2023). Dalam sepekan ini musim pasang air laut kembali terjadi seiring dengan fenomena fase bulan baru. Pasang air laut atau rob tersebut menggenangi akses jalan pantura dan sejumlah wilayah permukiman warga. Rob yang terjadi beberapa tahun ini semakin meluas diperparah beberapa faktor antara lain penurunan permukaan tanah, abrasi, peralihan fungsi lahan dan perubahan iklim. KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA (WEN) 16-05-2023

Rencana pemerintah membangun tanggul laut raksasa itu mendapatkan reaksi beragam. Agus (50), warga Desa Sidogemah, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, mendukung wacana tersebut.

”Belum ada tanggul yang melindungi desa kami. Jadi, air laut gampang sekali masuk ke permukiman. Apalagi, tanah di sekitar Sayung itu menurun terus setiap tahun, jadi desa kami semakin terendam,” ujar Agus saat ditemui, Minggu.

Agus berharap, pembangunan tanggul laut, khususnya di Demak, bisa segera dilakukan. Warga disebut sudah tidak bisa lagi jika diminta untuk terus bersabar.

”Harta dan benda kami sudah habis semua karena rob ini. Setiap tahun harus keluar uang puluhan juta untuk meninggikan rumah. Belum lagi perabotan rumah tangga dan kendaraan jadi cepat rusak karena terkena air asin setiap hari,” ucapnya.

Pengendara motor melintasi banjir pasang air laut yang semakin meluas hingga di Jalan Pantura, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, Minggu (15/6/2025). Acara doa bersama warga Nahdlatul Ulama yang bertema Istigasah Kemanusiaan tersebut merupakan aksi keprihatinan dalam menyikapi keadaan lingkungan di pesisir utara yang saat ini terus menghadapi bencana pasang air laut. Dampak pasang air laut atau rob tersebut semakin meluas menenggelamkan permukiman, akses jalan, fasilitas publik, hingga jalan pantura. Persoalan lingkungan yang dihadapi pesisir utara jawa khususnya Demak ini disebabkan beberapa faktor yaitu penurunan permukaan tanah, abrasi pantai, alih fungsi lahan, dan perbuahan iklim.

Kompas/Raditya Mahendra Yasa
15-06-2025
 *** Local Caption ***

Dihubungi Selasa (17/6/2025), Ahmad (47), warga Kecamatan Kramat, Kabupaten Tegal, Jateng, justru khawatir dengan pembangunan tanggul laut raksasa tersebut. Pria yang sehari-hari bekerja sebagai nelayan itu takut tanggul laut hanya akan menutup akses para nelayan ke laut.

”Saya, kan, kerjanya setiap hari melaut. Kalau ada tanggul laut itu, nanti kira-kira kapal saya bisa keluar-masuk apa tidak? Kalau tidak, ya celaka saya, mau cari makan bagaimana? Semoga itu juga dipikirkan pemerintah,” katanya.

Dikritik

Pembangunan tanggul laut raksasa sepanjang 500 km itu juga dikritik Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara). Deputi Pengelolaan Program dan Jaringan Kiara Erwin Suryana mengatakan, proyek tanggul laut raksasa belum tentu efektif mengatasi persoalan rob di seluruh pantura Jawa.

Di samping itu, kata Erwin, tanggul justru berpotensi menimbulkan sejumlah persoalan baru. Salah satunya, kerusakan lingkungan di tempat lain.

Truk memuat tanah yang dikeruk dari kawasan tambang galian c di Sigarbencah, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, Jawa Tengah, Jumat (23/9/2022). Kawasan tersebut selama bertahun-tahun menjadi area penambangan tanah dengan mengeruk kawasan perbukitan. Tingginya kebutuhan tanah uruk untuk berbagai proyek infrastruktur membuat penambangan galian c terus terjadi dan meluas. Kompas/P Raditya Mahendra Yasa 23-09-2022

”Untuk bikin tanggul sepanjang 500 km itu pasti butuh banyak meterial berupa pasir dan batu. Itu materialnya dari mana? Kemungkinan ada dua. Kalau pakai dari daratan, artinya akan dihancurkan itu bukit-bukti ataupun gunung-gunung yang ada di Pulau Jawa. Kalau dari laut, pasti akan mengeruk sedimentasi di laut Jawa. Artinya, di situ akan ada kerusakan,” ujar Erwin.

Selain itu, tanggul laut juga dinilai Erwin bisa menghilangkan pantai-pantai berpasir yang umumnya dijadikan tempat bersandar kapal-kapal nelayan.

Nelayan-nelayan di pantura, disebut Erwin, biasa menambatkan kapalnya di pantai supaya dekat dengan tempat tinggal mereka. Dengan begitu, mereka bisa mengawasi kondisi kapalnya setiap saat, terutama saat terjadi angin kecang atau gelombang tinggi.

Nelayan juga dikhawatirkan harus mencari jalan memutar lebih jauh untuk masuk atau keluar dari perairan jika laut ditanggul. Artinya, perjalanan menuju wilayah penangkapan ikan lebih lama dan jumlah bahan bakar yang mesti dikeluarkan lebih banyak.

”Mau enggak mau, nelayan itu kalau mereka enggak terganggu, ya, tergusur. Mereka harus mencari tempat-tempat baru untuk bisa melakukan aktivitas melautnya dengan lebih lancar,” ucapnya.

Tiang pancang beton yang disiapkan untuk  proyek pembangunan tol Semarang-Demak 1B di Terboyo, Kota Semarang, Jawa Tengah, Selasa (27/5/2025). Pada proyek tol Semarang-Demak 1B tersebut nantinya juga berfungsi sebagai tanggul laut untuk mengurangi dampak pasang air laut. Jalan tol tanggul laut ini dibangun sepanjang 6.728 meter.

Kompas/Raditya Mahendra Yasa
27-05-2025
 *** Local Caption ***

Menurut Erwin, pemerintah harus berhati-hati. Tidak semua persoalan rob bisa selesai dengan tanggul laut.

Erwin mencontohkan, pembangunan Tol Tanggul Laut Semarang-Demak yang kini sedang berlangsung. Keberadaannya malah membuat rob berpindah ke wilayah lain di sekitar lokasi yang tidak terlindungi tanggul.

”Mungkin di beberapa daerah yang memang situasinya sudah sangat berat bisa diatasi dengan model-model pembangunan hard infrastructure seperti tanggul. Tetapi, jangan terus semuanya ditanggul,” kata Erwin.

Erwin menyarankan pemerintah terlebih dahulu melakukan kajian yang komprehensif, detail, dan mendalam terkait penyebab rob di setiap daerah.

Dari proses-proses tersebut, model penanganan terbaik dari tiap-tiap persoalan rob itu, selain pembangunan tanggul laut, diyakini Erwin akan ditemukan.

Banyak pilihan

Kepala Laboratorium Geodesi Institut Teknologi Bandung Heri Andreas mengatakan, ada banyak pilihan yang bisa diambil pemerintah untuk menyelesaikan persoalan banjir rob di pantura Jawa.

Selain tanggul pantai atau tanggul laut, ada pembuatan sistem polder, membenahi manajemen air, melakukan relokasi, serta membenahi tata ruang dari hulu ke hilir. Pilihan solusi itu bisa juga dikombinasikan, tergantung mana yang paling efektif dan efisien untuk dilakukan.

Pedagang menyusun bambu untuk lapak berjualan memanfaatkan tanggul laut yang sudah bediri di Pantai Ngebom, Pekalongan Utara, Jawa Tengah, Selasa (20/12/2022). Selain hujan intensitas tinggi dan rob, wilayah pesisir utara Jawa setiap tahun juga selalu terancam dengan semakin meningkatnya tinggi muka air laut. KOMPAS/AGUS SUSANTO (AGS) 20-12-2022

Heri menilai, pengendalian eksplotasi air tanah yang menjadi bagian dari pembenahan manajemen air merupakan langkah paling ideal mengatasi banjir rob akibat penurunan muka tanah dan fenomena terkait lainnya.

Sayangnya, upaya itu belum bisa sepenuhnya dilakukan karena kurangnya suplai dari sumber air baku lainnya. Hal itu, disebut Heri, terjadi karena banyak sumber air, terutama di permukaan, yang tercemar.

Terkait rencana pemerintah membangun giant seawall, dia menyebut hal itu tidak dapat terhindarkan di beberapa lokasi. Alasannya, banjir pesisir sudah di depan mata.

”Pertanyaannya, apakah cukup dengan tanggul pantai atau harus tanggul laut seperti disampaikan pemerintah?” ujar Heri.

Jika pembangunan tanggul dilakukan, menurut Heri, idealnya, posisinya dibuat lebih ke tengah laut.

Tujuannya, supaya efek penurunan muka tanah tidak mengenai tanggul. Di samping itu, posisi tanggul yang lebih ke tengah juga memungkinkan pembentukan inner lake yang bisa dijadikan kolam retensi.

Warga melintas diantara tanggul laut dan alat berat di Pekalongan Utara, Jawa Tengah, Selasa (20/12/2022). Selain hujan intensitas tinggi dan rob, wilayah pesisir utara Jawa setiap tahun juga selalu terancam dengan semakin meningkatnya tinggi muka air laut. KOMPAS/AGUS SUSANTO (AGS) 20-12-2022

Kolam berfungsi menampung air yang datang dari hulu, yang kemudian air tersebut bisa dimanfaatkan sebagai reservoir untuk menyuplai air baku ke masyarakat. Dengan demikian, penggunaan air tanah yang bisa memicu penurunan muka tanah bisa dikurangi, bahkan digantikan.

Tanggul laut juga disebut Heri harus dilengkapi stasiun pompa air untuk mengalirkan air di kolam retensi ke laut jika volumenya sudah berlebih.

Tanggul hendaknya tidak hanya dibangun berupa tembok menjulang di tengah laut saja, tetapi berupa livable dyke. Artinya, tanggul dapat dihuni serta digunakan untuk aktivitas lainnya, seperti industri atau pariwisata.

”Jika hanya tembok dengan biaya sangat besar, meski efektif untuk mitigasi banjir pesisir, hanya satu itu saja nilai tambahnya. Tidak ada nilai tambah lain. Keberadaan livable dyke juga akan menjawab kebutuhan ruang yang semakin sempit di pantura dan memberikan peluang ekonomi baru di pantura,” papar Heri.

Tanggul raksasa pengendali banjir dan rob sudah selesai dibangun oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Pembangunan tanggul raksasa ini ditargetkan mampu membebaskan 22.000 keluarga di Kota Pekalongan dan Kabupaten Pekalongan dari ancaman banjir.

Berdasarkan kajian yang dilakukan, Heri menyebut, pembangunan tanggul laut merupakan solusi visibel dan realistis. Alasannya, solusi penghentian eksploitasi air tanah belum bisa dilakukan. Namun, penanggulan itu tidak seharusnya dilakukan di sepanjang pantura Jawa.

Menurut dia, solusi berupa pembangunan tanggul laut bisa dilakukan untuk mengatasi rob di Jakarta, Cirebon, Brebes, Tegal, Pekalongan, Semarang, dan Surabaya.

Pertimbangannya, potensi kerugian yang sangat besar dengan jumlah penduduk terdampak rob sangat banyak. Pembangunan tanggul laut itu sekaligus bisa menjadi solusi atas kebutuhan ruang dan kebutuhan air baku di daerah-daerah tersebut.

Kemudian, untuk mengatasi rob di kawasan Muara Gembong, pesisir Karawang, dan Pondok Bali, relokasi menjadi salah satu solusi yang dinilai Heri paling tepat.

Dia menyebut, potensi kerugian di daerah-daerah itu tidak sebesar di tempat lain. Biaya untuk relokasi pun dinilai Heri lebih murah jika dibandingkan biaya pembuatan tanggul.

Sementara itu, untuk mengatasi rob di Tangerang, Pemalang, Kendal, dan Gresik, upaya paling ideal adalah peninggian infrastruktur pesisir. Adapun penanganan rob di Serang, Eretan Kulon, Demak, Pasuruan, dan Probolinggo bisa dilakukan kombinasi antara pembangunan tanggul dan relokasi.

”Sebab, ada sebagian wilayah di daerah-daerah itu yang lebih efektif dan efisien dengan tanggul serta ada wilayah yang lebih ideal jika direlokasi,” katanya.

Pilihan terakhir artinya tetap ada di tangan pemerintah. Namun, besar harapan banyak pihak, pilihan itu adalah yang terbaik untuk manusia dan alam sekitarnya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Kristi Dwi Utami
 | 

Editor:

Cornelius Helmy Herlambang
 | 

Penyelaras Bahasa:

Amin Iskandar