Momen perayaan Marco Tardelli di Piala Dunia 1982 tidak bisa dilupakan. Salah satu gol di final Piala Dunia itu abadi disebut sebagai ”Teriakan Tardelli”.
21 Jun 2026 17:40 WIB · Olahraga
AP
Marco Tardelli menunjukkan bukti sebesar apa pun bintang sepak bola, ia tetap manusia biasa saat mencetak satu gol ke gawang Jerman Barat pada final Piala Dunia 1982. Momen itu kemudian dikenal dunia dengan sebutan ”L’urlo di Tardelli” atau Teriakan Tardelli.
Tardelli merayakannya dengan histeris. Seluruh emosinya tumpah. Gol itu turut membantu Italia meraih gelar Piala Dunia ketiganya.
Gelar ketiga itu seakan jatuh tanpa aba-aba. Italia tidak diperhitungkan di Piala Dunia 1982. Ajang itu berselang 44 tahun semenjak ”Azzurri” terakhir kali juara dunia pada 1938.
Selain itu, sepak bola Italia tengah ternoda. Penyebabnya, skandal pengaturan pertandingan besar yang mengguncang Serie A.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2020/12/29/PAOLO-ROSSI1-04_1609213479_jpg.jpg)
Hasil pada fase grup pertama pun seperti membenarkan status underdog Italia. Mereka terseok-seok meraih tiga hasil imbang beruntun melawan Polandia, Peru, dan Kamerun.
Italia bahkan terbilang ”cukup beruntung” bisa lolos dari fase grup hanya karena berhasil mencetak satu gol lebih banyak daripada Kamerun.
Pada fase grup kedua, Italia baru menampilkan keajaiban dengan menjungkalkan Argentina. ”Tim Tango” saat itu datang bersama Diego Maradona, yang menjalani Piala Dunia perdana.
Setelah Argentina, giliran favorit juara lainnya, Brasil, yang dikalahkan, 3-2.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2020/12/29/PAOLO-ROSSI1-02_1609210985.jpg)
Puncak kejutan Italia terjadi pada final melawan Jerman Barat. Sejak dimulai, tensi laga berlangsung tinggi. Italia dan Jerman Barat saling serang dan menciptakan peluang. Tekel-tekel keras pun tidak terhindarkan.
Italia sukses unggul lebih dulu lewat gol penyerang Paulo Rossi. Namun, bukan gol Rossi yang akhirnya dikenang dari laga final itu, tetapi gol kedua Italia yang dilesakkan Tardelli.
Dalam situasi unggul satu gol, Italia justru tertekan akibat mesti mempertahankan keunggulan. Namun, satu momen serangan balik memberikan keuntungan pada Italia.
Menerima umpan silang, Tardelli mengarahkan bola dari kaki kanan ke kiri. Posisi Tardelli sebelum mulai menembak kurang ideal karena tidak bisa menjaga keseimbangan tubuh.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2020/12/29/PAOLO-ROSSI-1-02_1609210965.jpg)
Saat hampir terjatuh, Tardelli mengambil keputusan menembak dengan kaki kirinya. Dari situasi kacau itu justru tercipta gol lewat tendangan setengah voli.
Keputusan Tardelli segera menembak terbukti benar karena dua bek Jerman Barat segera menghampirinya untuk melakukan blok. Telat mengambil keputusan sepersekian detik saja, Tardelli mungkin tidak akan mencetak gol.
Namun, lagi-lagi bukan proses gol yang membuatnya jadi buah bibir. Ekspresi Tardelli saat merayakan gol itu menyita perhatian. Dia berlari kencang sambil menggeleng-gelengkan kepalanya seakan tidak percaya dengan apa yang terjadi.
Tardelli menangis sejadi-jadinya dengan tangan mengepal.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/21/eeb5dea6e353c65b555bf3efe64bc44d-20260621_H02_KID_ARS_Tardelli_Italia_Jerman_mumed.jpg)
Itulah tangisan yang hingga kini abadi, dikenang sebagai ekspresi paling murni dari seorang bintang sepak bola. Penderitaan Italia yang gagal menjuarai Piala Dunia selama 44 tahun meleleh bersama dengan air mata Tardelli.
“Saya terlahir bersama dengan teriakan itu di dalam diri saya. Saya kembali melihat kehidupan saya ketika mulai bermain sepak bola sebagai seorang anak. Kegembiraan mencetak gol di final Piala Dunia sangat besar, sesuatu yang saya impikan sejak kecil. Selebrasi saya adalah pelepasan setelah mewujudkan mimpi itu,” kata Tardelli dalam wawancara bersama FIFA.
Gol Tardelli pada akhirnya memberikan kelegaan pada Italia. Mereka mampu mencetak gol ketiga lewat Alessandro Altobelli. Adapun Jerman Barat hanya bisa mencetak gol hiburan lewat Paul Breitner.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/04/24/4cbbe288-a422-44c7-aeff-d03384741a33.jpg)
Lebih dari sekadar gol, bagi Tardelli, momen itu adalah puncak dari dedikasi seumur hidupnya terhadap sepak bola. Setiap pesepak bola muda bermimpi mencetak gol di laga puncak Piala Dunia, yang kerap disebut final dari segala final.
Hanya segelintir pemain yang pernah mencapai puncak tertinggi turnamen empat tahunan itu. Bahkan, lebih sedikit lagi yang mampu menyampaikan emosinya kepada dunia. Emosi yang lahir dari mimpi yang menjadi kenyataan.
Emosi murni dari selebrasi Tardelli memberikan sentuhan sisi manusiawi pada momen abadi itu yang dapat dirasakan oleh jutaan orang. Di masa depan, barangkali akan ada lagi selebrasi meledak-ledak ala Tardelli, bukan untuk merayakan gol di final. Namun, memperingati kembalinya Italia setelah absen tiga edisi beruntun Piala Dunia.
Penulis:
I Gusti Agung Bagus Angga PutraEditor:
Cornelius Helmy HerlambangPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase