Tanpa Yamal, Spanyol Temukan Cara Lain Mendominasi

Tanpa Lamine Yamal dan banyak pemain bintang lain, Spanyol masih salah satu tim paling menakutkan di Eropa. Khvicha Kvaratskhelia dan rekan-rekan menjadi saksinya.

12 Okt 2025 05:26 WIB · Olahraga

Oleh Kelvin Hianusa

ELCHE, SABTU — Tanpa sang bocah ajaib sekaligus pemain terbaik dalam skuad, Lamine Yamal, tim nasional Spanyol ternyata masih terlalu dominan untuk Georgia. Spanyol mempertontonkan dimensi serangan baru dari sisi sayap dan bola mati kepada tim tamu yang datang bersama pemain bintang Khvicha Kvaratskhelia.

Tuan rumah Spanyol seolah bermain sendirian dalam laga babak grup kualifikasi Piala Dunia 2026 di Stadion Martínez Valero, Elche, Minggu (12/10/2025) dini hari WIB. Walaupun hanya menang 2-0 atas Georgia, tim asuhan Pelatih Luis de la Fuente itu mendominasi mutlak pertandingan. Mereka layak menang besar.

Jika Pedri dan rekan-rekan sedikit lebih klinis dan kiper Giorgi Mamardashvili tidak menciptakan banyak penyelamatan brilian, Spanyol mungkin sudah berpesta gol. Mereka berhasil mendapatkan sepuluh peluang besar dari 24 tembakan, termasuk penalti Ferran Torres yang gagal. Adapun Georgia hanya mencatat satu tembakan.

”Itu benar, kami seharusnya bisa meraih kemenangan sangat besar. Kami bisa saja menang dengan skor telak 6-0, tetapi sulit menang dengan skor seperti itu di level internasional. Hal terpenting adalah apa yang telah kami lakukan dan yang harus diperbaiki. Georgia bertahan dengan baik dan punya kiper hebat,” ujar De la Fuente kepada AS.

Sepasang gol tuan rumah bermula dari skema bola mati. Gol pembuka pemain sayap Yeremy Pino di paruh pertama diawali dari tendangan sudut. Penyerang Mikel Oyarzabal menggandakan keunggulan lewat tendangan bebas langsung di pertengahan paruh kedua. Meskipun didominasi gol bola mati, Spanyol jauh lebih berbahaya dari permainan terbuka.

TOPSHOT - Spain's defender #12 Pedro Porro Sauceda and Georgia's defender #03 Lasha Dvali fight for the ball during the 2026 World Cup qualifier Europe zone group E football match between Spain and Georgia at Manuel Martinez Valero stadium in Elche on October 11, 2025. (Photo by Jose Jordan / AFP)

”Si Matador”, julukan Spanyol, hanya merasakan kehilangan Yamal selama lima menit awal. Tanpa pemain Barcelona yang absen akibat cedera itu, mereka tidak punya sosok yang bisa berkreasi dengan tusukan dari sisi sayap kanan. Penggantinya adalah Torres, rekan Yamal di Barca, yang merupakan sayap dengan tipe permainan berbeda.

De la Fuente menemukan ide lain untuk memaksimalkan lini serang. Torres tidak diberikan tugas beroperasi di sisi sayap. Dia lebih sering berlari tanpa bola ke kotak penalti untuk memancing umpan terobosan atau bersiap menyambut umpan silang. Alhasil, Spanyol memiliki tiga pemain sekaligus di kotak penalti lawan, termasuk Oyarzabal dan gelandang Mikel Merino.

Serangan di sisi kanan diserahkan sepenuhnya kepada bek sayap Pedro Porro. Alih-alih mengancam dengan penetrasi dari sisi sayap seperti biasa saat ada Yamal, Spanyol lebih sering mengirimkan umpan sayap lewat Porro. Cara itu ternyata efektif menciptakan kemelut yang berujung peluang di kotak penalti lawan.

Duet gelandang Martin Zubimendi dan Pedri juga berhasil mendominasi mutlak lini tengah. Mereka sangat sabar dalam mengatur tempo serangan dan membongkar pertahanan lawan. Georgia tidak diberikan kesempatan menyerang balik karena umpan-umpan lawan yang nyaris sempurna. Adapun Spanyol menguasai bola sebanyak 83 persen.

Di sisi lawan, Kvaratskhelia hanya mampu mencatat 19 sentuhan selama bermain 69 menit. Pemain andalan Paris Saint-Germain itu tidak banyak berkontribusi karena kekurangan suplai. Georgia nyaris hanya bertahan dengan blok rendah dalam formasi 5-3-2 dari sepak mulai sampai peluit akhir.

Georgia's defender  #04 Guram Kashia challenges Spain's midfielder #18 Martin Zubimendi during the 2026 World Cup qualifier Europe zone group E football match between Spain and Georgia at Manuel Martinez Valero stadium in Elche on October 11, 2025. (Photo by Jose Jordan / AFP)

Hasil itu sekaligus menegaskan dominasi Spanyol sebagai juara bertahan Piala Eropa. Mereka sudah 28 kali tidak terkalahkan dalam laga resmi. Istimewanya, kali ini mereka tetap mampu mendominasi tanpa banyak pemain andalan. Selain Yamal, Rodri, Fabian Ruiz, hingga Nico Williams juga absen di jeda internasional ini.

”Kami tahu akan menghadapi kehilangan banyak pemain dan itu pasti sulit. Namun, saya sangat senang dengan kinerja tim. Jelas bahwa para pemain yang absen itu penting, tetapi kami yang berada di sini juga sama pentingnya. Kekuatan utama kami adalah tim itu sendiri,” jelas Oyarzabal kepada RTVE.

Perjalanan Spanyol menuju Piala Dunia masih mulus tanpa hambatan. Sekarang mereka memuncaki klasemen Grup E dengan sembilan poin dari tiga pertandingan. Mereka menyapu bersih seluruh laga dan belum kemasukan sejauh ini. Menariknya, 11 gol yang dicetak mereka berasal dari enam pemain berbeda.

Itu semakin menunjukkan Si Matador tidak bergantung hanya pada satu pemain. ”Tim ini berisi para pemain hebat yang tidak pernah puas. Ketidakhadiran beberapa pemain juga membuka kesempatan bagi talenta-talenta hebat lain. Seperti diketahui, sepak bola Spanyol adalah pabrik bakat yang tak pernah habis,” ujar De la Fuente. (AP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Kelvin Hianusa
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan